FATWA-FATWA PARA ULAMA TENTANG SAYYID QUTHB

Oleh
Andy Abu Thalib Al-Atsary

Penulis buku “Al-Ikhwan Al-Muslimun : Anugrah Allah Yang Terzalimi berkata
di halam 50 paragraf 4.

“Dr. Rabi’ bin Hadi –wafaqahullah- berkata tentang Sayyid Quthb, “Menurut
kami, diamnya Sayyid Quthb terhadap bid’ah dan kesesatan karena dua hal.
Pertama, ia banyak terlibat di sebagian besar bid’ah itu. Kedua, ia tidak
peduli dengan masalah itu asalkan dia sendiri tidak terjerumus di dalamnya”.
Itulah perkataan yang dibuat-buat yang sebagiannya telah dibantah masyayikh
mereka sendiri”.

Jawaban.
Saya berkata : Perkataan penulis diatas adalah dusta. Saya tidak menemukan
satupun perkataan masyayikh Ahlus Sunnah yang membantah perkataan Syaikh
Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah. Sebaliknya yang saya temukan
adalah pujian dari para ulama kepada Syaikh Rabi’ atas apa yang telah
dilakukannya –yakni mengungkap kebatilan pemikiran Sayyid Quthb- dalam
buku-buku beliau.

Berikut saya kutipkan fatwa-fatwa para ulama tentang Sayyid Quthub [1], yang
membuktikan bahwa tidak ada satupun ulama Ahlus Sunnah yang membantah Syaikh
Rabi, bahkan mereka semua –semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan mereka
semua- membenarkan apa yang telah ditulis oleh Syaikh Rabi’ dan mereka
semuanya turut membuka kedok Sayyid Quthb.

Berkata Al-Muhadits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam
ta’liq beliau atas khatimah dari kitab Syaikh Rabi hafzhahullah yang
berjudul Al-Awashim Mimma fii Kutubi Sayyid Quthb minal Qawashim[2].

Segala hal yang telah disampaikannya (Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali)
tentang Sayyid Quthb benar dan tepat. Dan diantaranya menunjukkan pada semua
pembaca tentang pengetahuan ke Islaman, bahwasanya Sayyid Quthb tidak
mengetahui tentang Islam baik secara Ushul (dasar) maupun Furu’ (cabang).
Maka saya berterima kasih kepada Al-Akh (Syaikh Rabi bin Hadi) atas
ditegakkannya kewajiban untuk menjelaskan dan menyingkap akan kejahilan dan
penyimpangan (Sayyid Quthub) dari Islam

Berkata Fadhilatusy Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
dalam sebuah rekaman di Jeddah tertanggal 23/31421H : Pertanyaan :
“Sesungguhnya kami sedikit banyak mengetahui tentang Sayyid Quthb, akan
tetapi ada satu hal yang kami belum dengar tentangnya. Kami mendengar dari
salah seorang thalabul ilmi yang mengatakan : Bahwasanya Sayyid Quthb
berbicara tentang wihdatul wujud? Kami mengharap kesediaan Syaikh untuk
menjawabnya, terima kasih”.

Berkata Syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, “Saya sedikit menelaah
kitab-kitab Sayyid Quthb dan saya tidak mengetahui tentang orang ini (Sayyid
Quthb). Akan tetapi beberapa ulama telah menulis tentang koreksian atas
tulisan-tulisan (Sayyid Quthb) dalam Fii Zhilalil Qur’an, dan beberapa
tulisan lain tentang hal itu, seperti yang ditulis oleh Syaikh Abdullah
Ad-Duwais rahimahullah dan tulisan saudara kami, Syaikh Rabi’ Al-Madkhali,
tentang tafsir Sayyid Quthb dan lain-lainnya. Maka barangsiapa yang
menghendaki merujunya silahkan”.

Ditanyakan kepada Syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, “Bagaimana menurut
pandangan Anda tentang orang yang menganjurkan para pemuda Sunni untuk
membaca buku-buku Sayyid Quthb, diantaranya Fii Zhilalil Qur’an, Ma’alim ala
Thariq, dan Limadza A’dzamuni, tanpa menerangkan kesalahan-kesalahan dan
kesesatan-kesesatan yang ada di dalamnya?”

Berkata Syaikh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, “Saya berkata –semoga Allah
memberikan barokah kepadamu- bahwasanya nasehat itu bagi Allah dan RasulNya,
dan bagi saudaranya muslim. Bahwasanya saya sangat berharap kepada seluruh
orang untuk membaca kitab-kitab mutaqadimin dalam masalah tafsir, dan
selainnya, karena itu lebih membawa barokah, lebih bermanfaat, dan lebih
dari kitab-kitab muta’akahirin. Dan bahwasanya tafsir Sayyid Quthb –semoga
Allah merahmatinya- didalamnya terdapat kesalahan –dan saya mengharap Allah
akan mengampuninya- : Misalnya tafsirnya tentang Istiwa, tafsir surat (Qul
huwallahu ahad), dan juga pensifatannya terhadap para Nabi yang seharusnya
pensifatan tersebut tidak dilakukannya” [3]

Berkata Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika
ditanyakan tentang pengkafiran orang yang meninggalkan shalat oleh Imam
Ahmad dan pengkafiran masyarakat oleh Sayyid Quthb, mengapa keduanya tidak
diperlakukan sama ? (Ahlus Sunnah memperlakukan beda antara Imam Ahmad dan
Sayyid Quthb?).

Syaikh Al-Fauzan menjawab, “Imam Ahmad adalah seorang alim, masyhur,
mengetahui dalil-dalil dan jalan untuk beristidlal (berdalil), sedangkan
Sayyid Quthb adalah jahil, tidak ada padanya ilmu dan pengetahuan, dan dia
tidak memiliki dalil dalam perkataannya. Melakukan perbandingan antara Imam
Ahmad dan Sayyid Quthb adalah kezhaliman. Bahwasanya pada Imam Ahmad banyak
sekali dalil dari Kitab dan Sunnah tentang pengkafiran bagi orang yang
meninggalkan shalat secara sengaja, dan pada Sayyid Quthb tidak ada dalil
satupun yang mendasari pengkafiran terhadap masyarakat muslimin secara
menyeluruh, bahkan yang ada ada adalah sebaliknya”.

Ketika Syaikh Al-Fauzan hafizhahullah ditanyakan apakah Sayyid Quthb
termasuk dalam golongan mujtahid? Maka beliau menjawab, “Bahwasanya dia
(Sayyid Quthb) adalah jahil dan diberi udzur karena kejahilannya. Lalu juga
bahwasanya masalah akidah bukanlah majal (bidang)nya ijtihad, tetapi
(akidah) adalah majalnya taufiqiyah (berdalil dengan nash)”.

Berkata Fadhilatush Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr hafizhahullah
ketika ditanyakan perihal membaca buku-buku tulisan Sayyid Quthb, beliau
menjawab, “Bahwasanya Sayyid Quthb bukan termasuk ulama yang dapat diikuti
perkataannya dalam masalah-masalah ilmiyah …” [4]

Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr ketika ditanya tentang kitab
Fii Zhilalil Qur’an, “Kitab Zhilalil Qur’an atau Fii Zhilalil Qur’an yang
ditulis oleh Syaikh Sayyid Quthb –semoga Allah merahmatinya- adalah sebuah
tafsir baru yang didasarkan atas ra’yu (akal semata), bukan berdasar atas
naql (dalil syar’i), dan tidak juga berdasar atas Atsar. Dan sebagaimana
telah diketahui bahwa orang-orang rasionalis (ashabu ra’yi), yang mana
mereka itu berkata-kata dengan berdasar akal saja akan menghasilkan
kesalahan-kesalahan dan keburukan …” [5]

Berkata Syaikh Hammad Al-Anshary –rahimahullah- ketika ditanya tentang
perkataan Sayyid Quthb yang ada di kitabnya Mu’arakah Al-Ra’samaliyah
Al-Islamiyah. Syaikh berkata, “Apabila orang ini (Sayyid Quthb) masih hidup
maka hendaknya ia bertaubat, maka apabila tidak, dapat dihukumi mati sebagai
orang murtad. (Karena) ia telah meninggal maka dijelaskan (pada umat) bahwa
perkataannya itu bathil dan kita tidak mengkafirkannya karena kita belum
menegakkan hujjah atasnya” [6]

Berkata Fadhilatu Al-Imam Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika
ditanya tentang perkataan Sayyid Quthb –semoga Allah mengampuninya- dalam
Fii Zhlialil Qur’an ketika Sayyid Quthb menafsirkan ayat (Ar-Rahmanu ala
arsy istawa).

Beliau (Sayyid Quthb) mengatakan, “Dalam hal istiwa di atas Arsy maka
hendaknya kita mengatakan : Bahwasanya istiwa’ itu artinya penguasaan
(Allah) atas makhluknya” [7]

Berkata Syaikh Bin Baz rahimahullah, “Semua perkataan di atas adalah
perkataan yang fasid. Maksud dari pemaknaan ‘penguasaan’ di sini (pada
hakikatnya) mengingkari istiwa’ yang maknanya sudah jelas : Tinggi di atas
Arsy. Apa yang dikatakannya (Sayyid Quthb) adalah bathil dan ini menunjukkan
bahwa dia miskin dalam (ilmu) tasfir” [8]

Dan masih banyak lagi fatwa yang sebenarnya bisa saya turunkan di sini, akan
tetapi mengingat keterbatasan tempat, saya cukupkan pada fatwa para ulama
mu’tabar.

Hal ini semua membuktikan bahwa apa yang didakwakan oleh penulis bahwa
Syaikh Rabi Al-Madkhali hafizhahullah telah dibantah oleh para masyayikh
tidak terbukti. Maka wajib bagi penulis untuk mendatangkan bukti yang lebih
rajih dan qawwi untuk membantah ini semua.

Bahkan ada pada saya fatwa-fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh
Muhamamd Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Shalih
Fauzan, Syaikh Abdullah Al-Ghadyan, Syaikh Muhsin Al-Abbad, Syaikh Hammad
Al-Anshari, Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz
Alu Syaikh, Syaikh Ubiad Al-Jabiri, Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhali,
Syaikh Muhamamd bin Jamil Zainu dan masih banyak lagi fatwa para ulama Ahlus
Sunnah yang memberikan bantahan dan juga Jahr wa Ta’dil pada buku-buku
Sayyid Quthb.


[Disalin dari buku Menyingkap Syubhat Dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin
Catatan Dan Bantahan Atas Buku Al-Ikhwan Al-Muslimun : Anugerah Allah Yang
Terzalimi, Penulis Andy Abu Thalib Al-Atsary, Penerbit Darul Qalam]
_________
Foote Note
[1]. Seluruh fatwa berikut dinukil dari kumpulan fatwa : Bara’atul Ulama
Al-Ummah Fii Tazkiyati Ahli Bid’ah wal Madzmummah, disusun oleh Asham bin
Abdullah Al-Sanany, Maktabah Al-Furqon Riyadh 2001
[2]. Fatwa ini berdasar atas tulisan tangan yang ditulis oleh Syaikh
Al-Albani di akhir hayat beliau. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajatnya,
memuliakannya dan membalas kebiakannya.
[3]. Majalah Al-Da’wah no. 1591/9 Muharram 1418H dan juga dalam rekaman
tertanggal 23/2/1421H
[4]. Rekaman tertanggal 9/6/1421H
[5]. Rekaman tertanggal 7/11/1414H
[6]. Dimuat di Al-Qawashim oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali (hlm, 24)
atas rekaman tertanggal 3/1/1415H
[7]. Lihat Fii Zhilalil Qur’an IV/2328, VI/3408
[8]. Rekaman tahun 1413H




Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more
<http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1099&bagian=0>
&article_id=1099&bagian=0

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of shaqeel_muhannad
Sent: Wednesday, March 07, 2007 12:26 PM
To: assunnah milis
Subject: [assunnah] >>Fatwa Ulama- ->Re : Liqo'<<

 

Assalamu'alaikum warakhmatullah

bismillah, wal hamdu lillah, was sholaatu wassalaamu 'ala rasuulillah, amma
ba'd

Seseorang muslim yang tidak saya kenal mengirimkan email di bawah via japri,
saya rasa karena tulisan saya tentang liqa' di milis assunnah ini. Sering
kali para hizbiyyun menggunakan senjata fatwa beberapa ulama yang
seolah-olah mendukung mereka, tapi mereka berpaling dari fatwa lain yang
jelas-jelas memperingatkan mereka. Tapi mereka tetap berpaling, padahal para
ulama tersebut -wa laa nuzakki 'alallahi ahadan- hanya ingin menunaikan
kewajiban mereka, menjelaskan kepada ummat kitabullah dan sunnah, sebagai
nasehat untuk kita semua.

Kadang mereka menyebutkan masalah risalah yang ditulis Syaikh Bakr Abu Zaid
untuk Syaikh Rabi' al-Madkhaly -hafidhahumallah- tentang Sayyid Quthb. Perlu
anda semua ketahui, risalah Syaikh Bakr ini disebarkan tanpa izin dari
beliau (sebagaimana lazimnya risalah para Ulama). Bahkan Syaikh Hushoin Aalu
al-Syaikh menulis risalah dengan judul "Fikrah Sayyid Quthb Baina Ra'yain",
disitu beliau menyebutkan "istinkar" Syaikh Bakr Abu Zaid terhadap
penyebaran risalah beliau. Kalo kita mau inshaf juga, kenapa para hizbiyyun
itu hanya menggembar-gemborkan soal risalah tersebut? Kenapa mereka tidak
membaca risalah Syaikh Bakr Abu Zaid yang lain, misalnya seperti "Hukm
al-Intimaa' Ilaa al-Jama'aat wa al-Ahzaab" yang telak "memukul" mereka. 

Berikut ini beberapa fatwa Syaikh Ibn Baz yang mungkin berguna untuk
menjawab mereka jika mereka menyalahgunakan beberapa fatwa beliau untuk
kepentingan mereka. Fatwa-fatwa ini saya nukil dari http://www.sahab.
<http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=326048,>
net/forums/showthread.php?t=326048, karena saya sedang terburu-buru sehingga
tidak sempat menerjemahkannya kecuali satu saja, adapun yang lainnya saya
nukil saja. Bagi ikhwah yang PC nya mendukung untuk membaca arab Insya Allah
bisa terbaca. Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum warakhmatullah
====================================================

Tambahan :
Di situs almanhaj ada penjelasan mengenai pujian Syaikh Ibnu Jibrin Kepada
Hasan Al-Banna Dan Sayyid Quthb :

Latar Belakang Pujian Syaikh Ibnu Jibrin Kepada Hasan Al-Banna Dan Sayyid
Quthb
http://www.almanhaj
<http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1131&bagian=0>
.or.id/index.php?action=more&article_id=1131&bagian=0

S: Apa hukum multi jama'at atau partai, dan apa hukum mengikutinya?

J: Kaum muslimin tidak boleh berpecah belah dalam agamanya menjadi partai
dan golongan-golongan, karena hal itu dilarang oleh Allah. Allah telah
mencela orang yang menimbulkannya dan orang yang mengikutinya, serta
mengancam pelakunya dengan adzab yang pedih. Allah berfirman: "WA'TASHIMUU
BIHABLILLAHI JAMII'AN WALAA TAFARRAQUU .... WALAA TAKUUNUU KALLADZIINA
TAFARRAQUU WAKHTALAFUU MIN BA'DI MAA JAA'AHUMUL BAYYINAAT, WA ULAA'IKA LAHUM
'ADZAABUN 'ADHIIM".

Allah juga telah berfirman: "INNALLADZIINA FARRAQUU DIINAHUM WA KAANUU
SYIYA'AN LASTA MINHUM FII SYAI' ".

Adapun jika ulil amri yang mengatur hidup (rakyatnya) dengan membagi
tugas-tugas mereka dalam urusan agama dan keduniaan, maka hal ini adalah
masyru' (disyari'atkan).

Ketua: Abdul Aziz Ibn Abdillah Ibn Baz
Wakil: Abdurrazzaq 'Afifi
Anggota: Abdullah Ibn Ghudyan
Anggota: Abdullah Ibn Hasan Ibn Qu'ud

[Nomor Fatwa: 1674, Tanggal: 7/10/1397]

===============================================================
(ÝÊæì ÔíÎ ÇáÅÓáÇã ÚÈÏ ÇáÚÒíÒ Èä ÈÇÒ ÑÍãå Çááå)

ÇáÓÄÇá: ÇáØáÇÈ íÑÌÚæä Ýí Ðáß Åáíßã æÅáì ÇáÚáãÇÁ ÇáßÈÇÑ íÓÃáæäåã¡ ÝÈãÇÐÇ
ÊäÕÍæäåã¡ åá ÊÞÑæä ÇáÏÎæá Ýí åÐå ÇáÌãÇÚÇÊ "ÌãÇÚÉ ÇáÅÎæÇä" æ"ÌãÇÚÉ ÇáÊÈáíÛ"
æ"ÌãÇÚÉ ÇáÌåÇÏ" ÌãÇÚÉ ßÐÇ¡ Ãæ ÊäÕÍæäåã ÈÇáÈÞÇÁ Ýí ØáÈ ÇáÚáã ãÚ ØáÇÈ ÇáÚáã ãä
ÇáÏÚæÉ ÇáÓáÝíÉ ¿

ÇáÌæÇÈ: (ÈÓã Çááå ÇáÑÍãä ÇáÑÍíã¡ æÕáì Çááå æÓáã Úáì ÑÓæá Çááå: 
ääÕÍåã ÌãíÚðÇ ÈÇáÇÌÊãÇÚ Úáì ßáãÉ æÇÍÏÉ¡ æÅáì ØáÈ ÇáÚáã¡ æÇáÊÝÞå ÈÇáßÊÇÈ
æÇáÓäÉ¡ æÇáÓíÑ Úáì ãäåÌ Ãåá ÇáÓäÉ æÇáÌãÇÚÉ ÌãíÚðÇ¡ ääÕÍåã ÌãíÚðÇ ÈÃä íßæä
åÏÝåã åæ ÇÊÈÇÚ ÇáßÊÇÈ æÇáÓäÉ æÇáÓíÑ Úáì ãäåÌ Ãåá ÇáÓäÉ æÇáÌãÇÚÉ¡ æÃä íßæäæÇ
ÌãíÚðÇ íÓãæä ÃäÝÓåã Ãåá ÇáÓäÉ Ãæ ÃÊÈÇÚ ÇáÓáÝ ÇáÕÇáÍ¡ ÃãÇ ÇáÊÍÒÈ ááÅÎæÇä
ÇáãÓáãíä Ãæ ÌãÇÚÉ ÇáÊÈáíÛ Ãæ ßÐÇ Ãæ ßÐÇ áÇ ääÕÍ Èå åÐÇ ÛáØ¡ æáßä ääÕÍåã ÈÃä
íßæäæÇ ßÊáÉ æÇÍÏÉ æÌãÇÚÉ æÇÍÏÉ íÊæÇÕæÇ ÈÇáÍÞ æÇáÕÈÑ Úáíå æíäÊÓÈæä áÃåá ÇáÓäÉ
æÇáÌãÇÚÉ¡ åÐÇ åæ ÇáØÑíÞ ÇáÓáíã ÇáÐí [ÛíÑ æÇÖÍ] ÃãÇ ÅÐÇ ßÇäæÇ ÌãÇÚÇÊ Úáì åÐÇ
ÇáØÑíÞ ãÇ íÖÑ¡ ÌãÇÚÉ Ýí (ÅÈ) æÌãÇÚÉ Ýí - ãËáÇð – (ÕäÚÇÁ) áßä ßáåã Úáì
ÇáØÑíÞÉ ÇáÓáÝíÉ¡ ÇÊÈÇÚ ÇáßÊÇÈ æÇáÓäÉ¡ íÏÚæä Åáì Çááå æíäÊÓÈæä áÃåá ÇáÓäÉ
æÇáÌãÇÚÉ ãä ÛíÑ ÊÍÒÈ æáÇ ÊÚÕÈ¡ åÐÇ áÇ ÈÃÓ Èå æÅä ÊÚÏÏÊ ÇáÌãÇÚÇÊ¡ áßä íßæä
åÏÝåã æÇÍÏ æØÑíÞåã æÇÍÏÉ) ÇåÜ

[ãä ÔÑíØ "ÃÓÆáÉ ÃÈí ÇáÍÓä ÇáãÕÑí ááÔíÎíä ÇÈä ÈÇÒ æÇÈä ÚËíãíä"]
================================================
ÇáÓÄÇá: ãÇ åæ ãæÞÝ ÇáãÓáã ãä ÇáÎáÇÝÇÊ ÇáãÐåÈíÉ ÇáãäÊÔÑÉ Èíä ÇáÃÍÒÇÈ
æÇáÌãÇÚÇÊ ¿ 

ÇáÌæÇÈ: (ÇáæÇÌÈ Úáíå Ãä íáÒã ÇáÍÞ ÇáÐí íÏá Úáíå ßÊÇÈ Çááå æÓäå ÑÓæáå Õáì
Çááå Úáíå æÓáã¡ æÃä íæÇáí Úáì Ðáß æíÚÇÏí Úáì Ðáß¡ æßá ÍÒÈ Ãæ ãÐåÈ íÎÇáÝ ÇáÍÞ
íÌÈ Úáíå ÇáÈÑÇÁÉ ãäå æÚÏã ÇáãæÇÝÞÉ Úáíå . 
ÝÏíä Çááå æÇÍÏ¡ æåæ ÇáÕÑÇØ ÇáãÓÊÞíã¡ æåæ ÚÈÇÏÉ Çááå æÍÏå æÇÊÈÇÚ ÑÓæáå ãÍãÏ
Úáíå ÇáÕáÇÉ æÇáÓáÇã . 
ÝÇáæÇÌÈ Úáì ßá ãÓáã Ãä íáÒã åÐÇ ÇáÍÞ æÃä íÓÊÞíã Úáíå¡ æåæ ØÇÚÉ Çááå æÇÊÈÇÚ
ÔÑíÚÊå ÇáÊí ÌÇÁ ÈåÇ äÈíå ãÍãÏ Úáíå ÇáÕáÇÉ æÇáÓáÇã¡ ãÚ ÇáÅÎáÇÕ ááå Ýí Ðáß¡
æÚÏã ÕÑÝ ÔíÁ ãä ÇáÚÈÇÏÉ áÛíÑÉ ÓÈÍÇäå æÊÚÇáì¡ Ýßá ãÐåÈ íÎÇáÝ Ðáß æßá ÍÒÈ áÇ
íÏíä ÈåÐå ÇáÚÞíÏÉ íÌÈ Ãä íÈÊÚÏ Úäå æÃä íÊÈÑà ãäå¡ æÃä íÏÚæ Ãåáå Åáì ÇáÍÞ
ÈÇáÃÏáÉ ÇáÔÑÚíÉ¡ ãÚ ÇáÑÝÞ æÊÍÑí ÇáÃÓáæÈ ÇáãÝíÏ æíÈÕÑåã ÈÇáÍÞ) ÇåÜ

[ãÌãæÚÉ ÝÊÇæì æãÞÇáÇÊ ãÊäæÚÉ 5/157]
=============================================

ÇáÓÄÇá: ÃÍÓä Çááå Åáíß¡ ÍÏíË ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå æÓáã Ýí ÇÝÊÑÇÞ ÇáÃãã¡ Þæáå:
((ÓÊÝÊÑÞ ÃãÊí Úáì ËáÇË æÓÈÚíä ÝÑÞÉ ÅáÇ æÇÍÏÉ)) Ýåá ÌãÇÚÉ ÇáÊÈáíÛ Úáì ãÇ
ÚäÏåã ãä ÔÑßíÇÊ æÈÏÚ¡ æÌãÇÚÉ ÇáÅÎæÇä ÇáãÓáãíä Úáì ãÇ ÚäÏåã ãä ÊÍÒÈ æÔÞ ÇáÚÕÇ
Úáì æáÇÉ ÇáÃãæÑ æÚÏã ÇáÓãÚ æÇáØÇÚÉ¡ åá åÇÊíä ÇáÝÑÞÊíä ÊÏÎá Ýí ÇáÝÑÞ ÇáåÇáßÉ
¿
ÇáÌæÇÈ: (ÊÏÎá Ýí ÇáËäÊíä æÇáÓÈÚíä¡ ãä ÎÇáÝ ÚÞíÏÉ Ãåá ÇáÓäÉ ÏÎá Ýí ÇáËäÊíä
æÇáÓÈÚíä¡ ÇáãÑÇÏ ÈÞæáå (ÃãÊí) Ãí: ÃãÉ ÇáÅÌÇÈÉ¡ Ãí: ÇÓÊÌÇ龂 áå æÃÙåÑæÇ
ÇÊÈÇÚåã áå¡ ËáÇË æÓÈÚíä ÝÑÞÉ: ÇáäÇÌíÉ¡ ÇáÓáíãÉ ÇáÊí ÇÊÈÚÊå æÇÓÊÞÇãÊ Úáì
Ïíäå¡ æÇËäÊÇä æÓÈÚæä ÝÑÞÉ Ýíåã ÇáßÇÝÑ æÝíåã ÇáÚÇÕí æÝíåã ÇáãÈÊÏÚ¡ ÃÞÓÇã)
ÝÞÇá ÇáÓÇÆá: - íÚäí - åÇÊíä ÇáÝÑÞÊíä ãä Öãä ÇáËäÊíä æÇáÓÈÚíä ¿

ÝÃÌÇÈ: (äÚã¡ ãä Öãä ÇáËäÊíä æÇáÓÈÚíä¡ æÇáãÑÌÆÉ æÛíÑåã¡ ÇáãÑÌÆÉ¡ æÇáÎæÇÑÌ ÈÚÖ
Ãåá ÇáÚáã íÑì ÇáÎæÇÑÌ ãä ÇáßÝÇÑ ÎÇÑÌíä¡ áßä ÏÇÎáíä Ýí Úãæã ÇáËäÊíä æÇáÓÈÚíä)
ÇåÜ

[Öãä ÏÑæÓå Ýí ÔÑÍ ÇáãäÊÞì Ýí ÇáØÇÆÝ¡ æåí Ýí ÔÑíØ ãÓÌøá]
======================================================

ÇáÓÄÇá: ÓãÇÍÉ ÇáÔíÎ: ÍÑßÉ ÇáÅÎæÇä ÇáãÓáãíä ÏÎáÊ ÇáããáßÉ ãäÐ ÝÊÑÉ¡ æÃÕÈÍ áåÇ
äÔÇØ Èíä ØáÈÉ ÇáÚáã¡ ãÇ ÑÃíßã Ýí åÐå ÇáÍÑßÉ ¿ æãÇ ãÏì ÊæÇÝÞåÇ ãÚ ãäåÌ ÇáÓõäÉ
æÇáÌãÇÚÉ ¿

ÇáÌæÇÈ: (ÍÑßÉ ÇáÅÎæÇä ÇáãÓáãíä íäÊÞÏåÇ ÎæÇÕ Ãåá ÇáÚáã º áÃäå áíÓ ÚäÏåã äÔÇØ
Ýí ÇáÏÚæÉ Åáì ÊæÍíÏ Çááå æÅäßÇÑ ÇáÔÑß æÅäßÇÑ ÇáÈÏÚ¡ áåã ÃÓÇáíÈ ÎÇÕÉ íäÞÕåÇ
ÚÏã ÇáäÔÇØ Ýí ÇáÏÚæÉ Åáì Çááå¡ æÚÏã ÇáÊæÌå Åáì ÇáÚÞíÏÉ ÇáÕÍíÍÉ ÇáÊí ÚáíåÇ
Ãåá ÇáÓõäÉ æÇáÌãÇÚÉ¡ ÝíäÈÛí ááÅÎæÇä ÇáãÓáãíä Ãä Êßæä ÚäÏåã ÚäÇíÉ ÈÇáÏÚæÉ
ÇáÓóáÝíÉ¡ ÇáÏÚæÉ Åáì ÊæÍíÏ Çááå¡ æÅäßÇÑ ÚÈÇÏÉ ÇáÞÈæÑ¡ æÇáÊÚáÞ ÈÇáÃãæÇÊ¡
æÇáÇÓÊÛÇËÉ ÈÃåá ÇáÞ龄 ßÇáÍÓíä Ãæ ÇáÍÓä Ãæ ÇáÈÏæí¡ Ãæ ãÇ ÃÔÈå Ðáß¡ íÌÈ Ãä
íßæä ÚäÏåã ÚäÇíÉ ÈåÐÇ ÇáÃÕá ÇáÃÕíá¡ ÈãÚäì áÇ Åáå ÅáÇ Çááå ÇáÊí åí ÃÕá ÇáÏíä¡
æÃæá ãÇ ÏÚÇ Åáíå ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå æÓáã Ýí ãßÉ ÏÚÇ Åáì ÊæÍíÏ Çááå¡ Åáì
ãÚäì áÇ Åáå ÅáÇ Çááå¡ ÝßËíÑ ãä Ãåá ÇáÚáã íäÊÞÏæä Úáì ÇáÅÎæÇä ÇáãÓáãíä åÐÇ
ÇáÃãÑ¡ Ãí: ÚÏã ÇáäÔÇØ Ýí ÇáÏÚæÉ Åáì ÊæÍíÏ Çááå¡ æÇáÅÎáÇÕ áå¡ æÅäßÇÑ ãÇ ÃÍÏËå
ÇáÌåÇá ãä ÇáÊÚáÞ ÈÇáÃãæÇÊ æÇáÇÓÊÛÇËÉ Èåã æÇáäÐÑ áåã æÇáÐÈÍ áåã¡ ÇáÐí åæ
ÇáÔÑß ÇáÃßÈÑ¡ æßÐáß íäÊÞÏæä Úáíåã ÚÏã ÇáÚäÇíÉ ÈÇáÓõäÉ: ÊÊÈÚ ÇáÓõäÉ¡ æÇáÚäÇíÉ
ÈÇáÍÏíË ÇáÔÑíÝ¡ æãÇ ßÇä Úáíå ÓáÝ ÇáÃãÉ Ýí ÃÍßÇãåã ÇáÔÑÚíÉ¡ æåäÇß ÃÔíÇÁ ßËíÑÉ
ÃÓãÚ ÇáßËíÑ ãä
ÇáÅÎæÇä íäÊÞÏæäåã ÝíåÇ¡ æäÓÃá Çááå Ãä íæÝÞåã æíÚíäåã æíÕáÍ ÃÍæÇáåã) ÇåÜ

[äÞáÇð ãä ãÌáÉ (ÇáãÌáÉ) ÚÏÏ806]
======================================================


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/4It09A/fOaOAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke