MAYORITAS KAUM MUSLIMIN SEKARANG INI TIDAK MEMAHAMI MAKNA LAA ILAAHA 
ILLALLAH DENGAN PEMAHAMAN YANG BAIK

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=713&bagian=0

Mayoritas kaum muslimin sekarang ini yang telah bersaksi Laa Ilaaha Illallah 
(Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) tidak memahami 
makna Laa Ilaaha Illallah dengan baik, bahkan barangkali mereka memahami 
maknanya dengan pemahaman yang terbalik sama sekali. Saya akan memberikan 
suatu contoh untuk hal itu : Sebagian di antara mereka (Dia adalah Syaikh 
Muhammad Al-Hasyimi, salah seorang tokoh sufi dari thariqah Asy-Syadziliyyah 
di Suriah kira-kira 50 tahun yang lalu) menulis suatu risalah tentang makna 
Laa Ilaaha Illallah, dan menafsirkan dengan "Tidak ada Rabb (pencipta dan 
pengatur) kecuali Allah" !! Orang-orang musyrik pun memahami makna seperti 
itu, tetapi keimanan mereka terhadap makna tersebut tidaklah bermanfaat bagi 
mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Artinya : Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : 'Siapakah 
yang menciptakan langit dan bumi ?' Tentu mereka akan menjawab : 'Allah'. " 
[Luqman : 25].

Orang-orang musyrik itu beriman bahwa alam semesta ini memiliki Pencipta 
yang tidak ada sekutu bagi-Nya, tetapi mereka menjadikan tandingan-tandingan 
bersama Allah dan sekutu-sekutu dalam beribadah kepada-Nya. Mereka beriman 
bahwa Rabb (pengatur dan pencipta) adalah satu (esa), tetapi mereka meyakini 
bahwa sesembahan itu banyak. Oleh karena itu, Allah membantah keyakinan ini 
yang disebut dengan ibadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada 
Allah melalui firman-Nya :

"Artinya :Dan orang-orang yang mengambil perlindungan selain Allah (berkata) 
: 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami 
kepada Allah dengan sedekat-dekatnya'". [Az-Zumar : 3].

Kaum musyrikin dahulu mengetahui bahwa ucapan Laa Ilaaha Illallah 
mengharuskannya untuk berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah 
Azza wa Jalla. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, menafsirkan 
kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah ini dengan : "Tidak ada Rabb (pencipta 
dan pengatur) kecuali Allah". Padahal apabila seorang muslim mengucapkan Laa 
Ilaaha Illallah dan dia beribadah kepada selain Allah disamping beribadah 
kepada Allah, maka dia dan orang-orang musyrik adalah sama secara aqidah, 
meskipun secara lahiriah adalah Islam, karena dia mengucapkan lafazh Laa 
Ilaaha Illallah, sehingga dengan ungkapan ini dia adalah seorang muslim 
secara lafazh dan secara lahir.

Dan ini termasuk kewajiban kita semua sebagai da'i Islam untuk menda'wahkan 
tauhid dan menegakkan hujjah kepada orang-orang yang tidak mengetahui makna 
Laa Ilaaha Illallah dimana mereka terjerumus kepada apa-apa yang menyalahi 
Laa Ilaaha Illallah. Berbeda dengan orang-orang musyrik, karena dia enggan 
mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, sehingga dia bukanlah seorang muslim secara 
lahir maupun batin. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, mereka 
orang-orang muslim, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda 
:

"Artinya : Apabila mereka mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah), maka kehormatan 
dan harta mereka terjaga dariku kecuali dengan haknya, dan perhitungan 
mereka atas Allah Subhanahu wa Ta'ala". ]Hadits Shahih diriwayatkan oleh 
Al-Bukhari (25) dan pada tempat lainnya, dan Muslim (22), dan selainnya, 
dari hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhum]

Oleh karena itu, saya mengatakan suatu ucapan yang jarang terlontar dariku, 
yaitu : Sesungguhnya kenyataan mayoritas kaum muslimin sekarang ini adalah 
lebih buruk daripada keadaan orang Arab secara umum pada masa jahiliyah yang 
pertama, dari sisi kesalahpahaman terhadap makna kalimat tahyyibah ini, 
karena orang-orang musyrik Arab dahulu memahami makna Laa Ilaaha Illallah, 
tetapi mereka tidak mengimaninya. Sedangkan mayoritas kaum muslimin sekarang 
ini mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka yakini, mereka mengucapkan : 
'Laa Ilaaha Illallah' tetapi mereka tidak mengimani -dengan sebenarnya- 
maknanya. (Mereka menyembah kubur, menyembelih kurban untuk selain Allah, 
berdo'a kepada orang-orang yang telah mati, ini adalah kenyataan dan hakikat 
dari apa-apa yang diyakini oleh orang-orang syi'ah rafidhah, shufiyah, dan 
para pengikut thariqah lainnya, berhaji ke tempat pekuburan dan tempat 
kesyirikan dan thawaf di sekitarnya serta beristighatsah (meminta tolong) 
kepada orang-orang shalih dan bersumpah dengan (nama) orang-orang shalih 
adalah merupakan keyakinan-keyakinan yang mereka pegang dengan kuat).

Oleh karena itu, saya meyakini bahwa kewajiban pertama atas da'i kaum 
muslimin yang sebenarnya adalah agar mereka menyeru seputar kalimat tauhid 
ini dan menjelaskan maknanya secara ringkas. Kemudian dengan merinci 
konsekuensi-kosekuensi kalimat thayyibah ini dengan mengikhlaskan ibadah dan 
semua macamnya untuk Allah, karena ketika Allah Azza wa Jalla menceritakan 
perkataan kaum musyrikin, yaitu :

"Artinya : Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan 
kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". [Az-Zumar : 3]

Allah menjadikan setiap ibadah yang ditujukan bagi selain Allah sebagai 
kekufuran terhadap kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah.

Oleh karena itu, pada hari ini saya berkata bahwa tidak ada faedahnya sama 
sekali upaya mengumpulkan dan menyatukan kaum muslimin dalam satu wadah, 
kemudian membiarkan mereka dalam kesesatan mereka tanpa memahami kalimat 
thayyibah ini, yang demikian ini tidak bermanfaat bagi mereka di dunia 
apalagi di akhirat !.

Kami mengetahui sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

"Artinya : Barangsiapa mati dan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang 
berhak diibadahi kecuali Allah dengan ikhlas dari hatinya, maka Allah 
mengharamkan badannya dari Neraka" dalam riwayat lain : "Maka dia akan masuk 
Surga". [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (5/236), Ibnu Hibban (4) 
dalam Zawa'id dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3355)].

Maka mungkin saja orang yang mengucapkan kalimat thayyibah dengan ikhlas 
dijamin masuk Surga. meskipun setelah mengucapkannya menerima adzab terlebih 
dahulu. Orang yang meyakini keyakinan yang benar terhadap kalimat thayyibah 
ini, maka mungkin saja dia diadzab berdasarkan perbuatan maksiat dan dosa 
yang dilakukannya, tetapi pada akhirnya tempat kembalinya adalah Surga.

Dan sebaliknya barangsiapa mengucapkan kalimat tauhid ini dengan lisannya, 
sehingga iman belum masuk kedalam hatinya, maka hal itu tidak memberinya 
manfaat apapun di akhirat, meskipun kadang-kadang memberinya manfaat di 
dunia berupa kesalamatan dari diperangi dan dibunuh, apabila dia hidup di 
bawah naungan orang-orang muslim yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. 
Adapun di akhirat, maka tidaklah memberinya manfaat sedikitpun kecuali 
apabila :

[1] Dia mengucapkan dan memahami maknanya.
[2] Dia meyakini makna tersebut, karena pemahaman semata tidaklah cukup 
kecuali harus dibarengi keimanan terhadap apa yang dipahaminya.

Saya menduga bahwa kebanyakan manusia lalai dari masalah ini ! Yaitu mereka 
menduga bahwa pemahaman tidak harus diiringi dengan keimanan. Padahal 
sebenarnya masing-masing dari dua hal tersebut (yaitu pemahaman dan 
keimanan) harus beriringan satu sama lainnya sehingga dia menjadi seorang 
mukmin. Hal itu karena kebanyakan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan 
Nashrani mengetahui bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah 
seorang rasul yang benar dalam pengakuannya sebagai seorang rasul dan nabi, 
tetapi pengetahuan mereka tersebut yang Allah Azza wa Jalla telah 
mepersaksikannya dalam firman-Nya.

"Artinya : Mereka (ahlul kitab dari kalangan Yahudi dan Nashara) mengenalnya 
(Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri ...." [Al-Baqarah : 
146 & Al-An'am : 20]

Walaupun begitu, pengetahuan itu tidak bermanfaat bagi mereka sedikitpun ! 
Mengapa ? Karena mereka tidak membenarkan apa-apa yang diakui oleh beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa nubuwah (kenabian) dan risalah 
(kerasulan). Oleh karena itu keimanan harus didahului dengan ma'rifah 
(pengetahuan). Dan tidaklah cukup pengetahuan semata-mata, tanpa diiringi 
dengan keimanan dan ketundukan, karena Al-Maula Jalla Wa' ala berfirman 
dalam Al-Qur'an :

"Artinya : Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi 
kecuali Allah dan mohon ampunlah atas dosa mu ......." [Muhammad : 19].

Berdasarkan hal itu, apabila seorang muslim mengucapkan Laa Ilaaha Illallah 
dengan lisannya, maka dia harus menyertakannya dengan pengetahuan terhadap 
kalimat thayyibah tersebut secara ringkas kemudian secara rinci. Sehingga 
apabila dia mengetahui, membenarkan dan beriman, maka dia layak untuk 
mendapatkan keutamaan-keutamaan sebagaimana yang dimaksud dalam 
hadits-hadits yang telah saya sebutkan tadi, diantaranya adalah sabda 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai isyarat secara rinci :

"Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka bermanfaat 
baginya meskipun satu hari dari masanya". [Hadits Shahih. Dishahihkan oleh 
Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1932) dan beliau menyandarkan 
kepada Sa'id Al-A'rabi dalam Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim dalam Al-Hidayah 
(5/46) dan Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath (6533), dan daia dari Hadits Abu 
Hurairah Radhiyallahu 'Anhu]

Yaitu : Kalimat thayyibah ini -setelah mengetahui maknanya- akan menjadi 
penyelamat baginya dari kekekalan di Neraka. Hal ini saya ulang-ulang agar 
tertancap kokoh di benak kita.

Bisa jadi, dari tidak melakukan konsekuensi-konsekuensi kalimat thayyibah 
ini berupa penyempurnaan dangan amal shalih dan meninggalkan segala maksiat, 
akan tetapi dia selamat dari syirik besar dan dia telah menunaikan apa-apa 
yang dituntut dan diharuskan oleh syarat-syarat iman berupa amal-amal hati 
-dan amal-amal zhahir/lahir, menurut ijtihad sebagian ahli ilmu, dalam hal 
ini terdapat perincian yang bukan disini tempat untuk membahasnya- (Ini 
adalah aqidah Salafus Shalih, dan ini merupakan batas pemisah kita dengan 
khawarij dan murji'ah). Da dia berada dibawah kehendak Allah, bisa jadi dia 
masuk ke Neraka terlebih dahulu sebagai balasan dari kemaksiatan-kemaksiatan 
yang dia lakukan atau kewajiban-kewajiban yang ia lalaikan, kemudian kalimat 
thayyibah ini menyelamtkan dia atau Allah memaafkannya dengan karunia dan 
kemuliaan-Nya. Inilah makna sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
yaitu :

Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka ucapannya ini 
akan memberi manfaat baginya meskipun satu hari dari masanya". [Hadits 
Shahih. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1932) dan 
beliau menyandarkan kepada Sa'id Al-A'rabi dalam Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim 
dalam Al-Hidayah (5/46) dan Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath (6533), dan daia 
dari Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu]

Adapun orang yang mengucapkan dengan lisannya tetapi tidak memahami 
maknanya, atau memahami maknanya tetapi tidak mengimani makna tersebut, maka 
ucapan Laa Ilaaha Illaallah-nya tidak memberinya manfaat di akhirat, 
meskipun di dunia ucapan tersebut masih bermanfaat apabila ia hidup di bawah 
naungan hukum Islam.

Oleh karena itu, harus ada upaya untuk memfokuskan da'wah tauhid kepada 
semua lapisan masyarakat atau kelompok Islam yang sedang berusaha secara 
hakiki dan bersungguh-sungguh untuk mencapai apa yang diserukan oleh seluruh 
atau kebanyakan kelompok-kelompok Islam, yaitu merealisasikan masyarakat 
yang Islami dan mendirikan negara Islam yang menegakkan hukum Islam di 
seluruh pelosok bumi manapun yang tidak berhukum dengan hukum yang Allah 
turunkan.

Kelompok-kelompok tersebut tidak mungkin merealisasikan tujuan yang telah 
mereka sepakati dan mereka usahakan dengan sungguh-sungguh, kecuali 
memulainya dengan apa-apa yang telah dimulai oleh Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam, agar tujuan tersebut bisa menjadi kenyataan.

[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia 
TAUHID, Prioritas Pertama dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin 
Al-Albani, hal 16-26, terbitan Darul Haq, penerjemah Fariq Gasim Anuz]

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/4It09A/fOaOAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke