'Alaikumus salam warokhmatullohi wabarokatuh.
Barakallahu fiyk. Semoga kita semua ditetapkan Allah selalu berada pada manhaj 
yang haq.
Akhi berkenaan dengan permasalahan yang akhi hadapi, mari kita ulangi dan kita 
perhatikan kembali sebuah kalimat peringatan yang sering dilontarkan di milis 
ini juga, dan Asatidz kita berkenaan dengan bid'ah. Kata yang ana jadikan 
pegangan setiap dihadapan pada permasalahan yang ragu (syubhat) apalagi jika 
yang demikian itu nyata-nyata bida'ahnya.

"Hati itu Lemah sementara syubhat itu menyambar-nyambar bagaikan petir."

akhi mari kita perhatikan ucapan seorang ulama:

Imam Al-Barbahari berkata dalam kitabnya "Syarhus Sunnah" hal. 68-69 bahwa:

"Waspadailah olehmu perkara baru (bid'ah). Karena bid'ah yang awalnya kecil, 
lambat laun akan terbiasa dan menjadi besar. Demikian pula setiap bid'ah pada 
ummat ini, AWALNYA HANYA KECIL MIRIP DENGAN KEBENARAN, HINGGA PELAKUNYA TERTIPU 
DAN SUDAH TIDAK MAMPU LAGI KELUAR DARINYA...."

Akhi. Insya Allah beberapa kutipan ini bisa antum jadikan tambahan pertimbangan 
dari akibat ber-lemah lembut dengan ahlul bid'ah

Ibnu Baththah Al-'Ukbary berkata:

"Saya pernah melihat sekelompok manusia yang dahulunya melaknat dan mencaci 
ahli bid'ah, lalu mereka duduk bersama ahli bid'ah untuk mengingkari dan 
membantah meraka dan terus menerus orang-orang itu bermudah-mudahan, sedangkan 
tipu daya itu sangat halus (tersamar) dan kekafiran sangat lembut (merambat) 
dan akhirnya tercurah kepada mereka" (Al-Ibanah 2/470 dalam kilauan mutiara 
hikmah p.77)

Muhammad bin Al-'Ala' Abu Bakr menceritakan kepada kami dari Mughirah ia 
berkata:

"Muhammad bin As-Saib keluar -dan ia bukan ahli bid'ah-, ia berkata: 'pergilah 
bersama kami sampai kita mendengar ucapan mereka (ahli bid'ah), maka ia tidak 
kembali sampai akhirnya ia menerima kebid'ahan itu dan hatinya terikat dengan 
ucapan mereka'." (Al-Ibanah 2/470 no 476-477, tahdzibut tahdzib 8/113 dalam 
kilauan mutiara hikmah p.77)

Abu Hatim berkata:

"Diceritakan kepadaku dari Abu Bakr bin 'Ayyasy, ia berkata: "Mughirah 
mengatakan bahwa Muhammad bin As-Saib berkata: "Marilah kita menuju ke tempat 
orang murji'ah agar mendengar ucapan mereka." (Kata Mughirah) akhirnya ia tidak 
kembali sampai hatinya terpaut dengan ucapan itu."" (Al-Ibanah 2/462-471 
no.449, 480 dalam kilauan mutiara hikmah p.78)

Ahmad bin Hanbal berkata:

"Jika melihat seorang pemuda tumbuh bersama ahli sunnah wal jama'ah maka 
harapkanlah (kebaikannya) dan jika kamu lihat dia tumbuh bersama ahli bid'ah 
maka berputusasalah kamu dari (mengharap kebaikan)nya. Karena sesungguhnya 
pemuda itu tergantung di atas apa ia pertama kali tumbuh." (Al-Adabus Syari'ah 
ibnu Muflih 3/77 dalam kilauan mutiara hikmah p.61)

Tidak ada kata penutup yang pantas ana taruh pada akhir email ini, kecuali ana 
menasehati diri ana sendiri dan bagi kita semua (Insya Allah). Yang dapat 
melihat faedah dari kutipan-kutipan di atas, kecuali kita berhati-hati kepada 
setiap syubhat yang akan menggelincirkan kita kepada penyimpangan, dari 
alih-alih kita ingin berdakwah.

Dan menjauhi sesuatu yang kita tidak meng-ilmui-nya (syubhat) lebih utama. Dari 
yang kita sangkakan bahwa kita sedang berbuat kebaikan. Insya Allah bermanfaat 
jika kita perhatikan Q.S Al-kahfi ayat 103-104. Allohu ta'ala a'lam.

Wassalamu'alaikum warokhmatullohi wabarokatuh.
Abu Hilmy.



Abu Salman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh.
Ikhwan fillaah, ana ada sedikit 'permasalahan'.
Saat ini ana tercatat sebagai salah satu pengurus DKM. Dalam aktivitasnya DKM 
kami masih banyak melakukan bid'ah-bid'ah, bahkan fitnah-fitnah pun mudah 
terlontar, tanpa disadari sedikitpun bahwa itu fitnah. Pengurus teras tidak 
peduli, sekurang-kurangnya tidak mempermasalahkannya. Kebanyakan pengurus dan 
jama'ah malah bertindak sebagai pengusungnya. Mereka adalah kaum awam tapi 
tidak mau menuntut ilmu, sebagai bukti: ana fasilitasi beberapa forum kajian 
ilmu tetapi mereka tidak mau ikut.
Tadinya ana juga ikut tidak begitu mempermasalahkannya, dengan prinsip asal ana 
tidak terlibat.
Namun setelah ana 'menemukan' manhaj yang haq ini (kira-kira 3 bulan yang lalu, 
dan insya-Allah akan ana pegang seterusnya), sepertinya prinsip ana tadi kurang 
tepat, tapi ana juga bingung.
Yang menjadi pertanyaan ana, sikap yang bagaimana yang harus ana ambil,
1. Tetap duduk sebagai pengurus walaupun tidak mampu merubah bid'ah-bid'ah dan 
menangkal fitnah-fitnah, dan tetap berprinsip asal tidak terlibat? -Maksudnya 
jika mundur, ana khawatir nanti di yaumil akhir akan dimintai 
pertanggungjawaban atas dakwah yang sudah ana dilakukan, dan mundur berarti ana 
sendiri yang menghentikan dakwah. Benarkah begitu?
2. Mundur sebagai pengurus DKM (hijrah?) untuk lebih memperkuat diri (menuntut 
ilmu) sehingga suatu saat mampu berdakwah langsung di hadapan mereka.

Kepada ikhwan semua yang berilmu, mohon saran dan masukan buat ana yang awam 
ini.
Jazakumullaahu khoiron katsiiro. Semoga kita semua dirahmati Allah Subhanahu 
wata 'aala dalam mendakwahkan yang haq.

Wassalaamu 'alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh.

Abu Salman,


---------------------------------
Looking for earth-friendly autos?
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke