Jika Mereka Meneladani Imam Syafi’i rahimahullah
   
  Imam Syafi’i rahimahullah dilahirkan pada tahun 150 H di Ghuzzah, ada yang 
mengatakan di ‘Asqalan dan ada pula yang mengatakan di Yaman.  Beliau adalah 
seseorang yang berparas tampan, berkulit putih, berperawakan tinggi besar dan 
berwibawa.  Beliau dikenal dengan kedermawanan, kebaikan niat dan keikhlasan.
   
  Ketika Imam Syafi’i masih kecil, ayahandanya meninggal dunia, kemudian dibawa 
ibunya ke Mekkah dan tumbuh di Mekkah, kemudian di masa dewasanya beliau 
menuntut ilmu hingga ke Madinah, Yaman dan Irak. Beliau telah menghafal al 
Qur’an ketika berusia tujuh tahun dan hafal Kitab al Muwaththa’ ketika berusia 
10 tahun.
   
  Diantara guru-guru beliau adalah Sufyan bin ‘Uyainah, Fudhail bin ‘Iyadh, dan 
Malik bin Anas.  Sedangkan salah seorang murid beliau yang terkenal adalah Imam 
Ahmad bin Hambal rahimahullah.  Dan sang murid (Imam Ahmad) pernah mengatakan, 
“Umar bin Abdul Aziz (mujaddid) pada awal seratus tahun pertama dan asy Syafi’i 
pada permulaan seratus tahun yang kedua”.
   
  Imam Syafi’i rahimahullah adalah termasuk barisan ulama pembela sunnah, 
imamnya para ulama, lautan ilmu, mujtahid mutlak dan penghancur bid’ah.  Beliau 
rahimahullah pernah berkata,
   
  “Sungguh, jika seorang hamba menemui Allah dengan semua dosa kecuali dosa 
syirik, (maka) itu lebih baik baginya daripada bertemu dengan-Nya dengan suatu 
kebid’ahan” (Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyyah, hal. 14)
   
  Pandangan fiqh beliau dan madzhabnya banyak diikuti oleh kaum muslimin 
terutama di Mesir, Kurdistan, Yaman, Aden, Hadramaut, Mekkah, Pakistan, 
Malaysia dan Indonesia.  Awalnya pandangan fiqh beliau disebut disebut qadim 
(pendapat beliau yang pertama) ketika beliau berguru dan bersahabat dengan para 
ulama madzhab Hanafi, namun pada tahun 198 H beliau hijrah ke Mesir dan disana 
beliau menyusun pendapat beliau yang baru (qaulul jadid).
   
  Al Imam asy Syafi’i  rahimahullah wafat di Mesir pada akhir Rajab tahun 204 H 
dalam usia 54 tahun.  Semoga Allah Ta’ala meridhai dan menempatkan beliau dalam 
keluasan Jannah-Nya.
   
  Sikap Imam Syafi’i  terhadap tahlilan.
   
  Jika memang kaum muslimin terutama di Indonesia yang mayoritas bermadzhab 
Syafi’i meneladani dan mencintai Imam Syafi’i rahimahullah maka tentunya mereka 
tidak akan mengadakan acara tahlilan, karena Imam Syafi’i mengatakan,
   
  “Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul – kumpul di rumah ahli mayit meskipun 
tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui 
kesedihan”  (al Umm I/318)
   
  Ucapan beliau itu selaras dengan atsar sahabat.  Dari Jabir bin Abdullah Al 
Bajalii, ia berkata, “Kami (para sahabat Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa 
sallam) menganggap bahwa berkumpul – kumpul di tempat ahli mayit dan membuat 
makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap (niyahah)” (HR. 
Ibnu Majah no. 1612 dan ini adalah lafazhnya serta Imam Ahmad dalam Musnadnya 
2/204)
   
  Al Imam an Nawawi rahimahullah di kitabnya al Majmu’ Syarah Muhadzdzab 
(5/319-320) telah menjelaskan tentang bid’ahnya berkumpul-kumpul dan 
makan-makan di rumah ahli mayit dengan membawakan perkatan penulis Kitab asy 
Syaamil dan ulama yang lain serta beliau menyetujuinya dengan hadits Jarir yang 
beliau tegaskan sanadnya shahih.
   
  Sikap Imam Syafi’i  terhadap dzikir jama’i 
   
  Mereka tentu juga tidak melakukan dzikir jama’i baik dengan suara keras 
ataupun tidak, serta melazimkannya kecuali hanya untuk memberikan pengajaran 
dzikir dan doa.  Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan,
   
  “Dan aku lebih memilih bagi para imam dan makmum untuk berdzikir setelah 
shalat dengan cara menyembunyikannya, kecuali bila imam harus mengajarkannya 
kepada makmum, maka ia boleh mengeraskannya sampai mereka bisa mengikutinya, 
tetapi kemudian ia (imam) kembali menyembunyikannya, karena sesungguhnya Allah 
telah berfirman,
   
  ‘Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula 
merendahkannya’” (al Umm I/127)
   
  Al Imam an Nawawi rahimahullah, seorang imam dan ulama yang meneladani Imam 
Syafi’i  rahimahullah mengatakan,
   
  “Dan telah disunnahkan untuk berdzikir dan berdoa setiap setelah selesai dari 
salam, dengan cara menyembunyikan bacaan, terkecuali bila seorang imam yang 
hendak mengajarkan bacaan-bacaan dzikir tersebut, maka dia boleh mengeraskan 
bacaannya.  Namun, bila dia melihat bahwa orang-orang telah belajar darinya 
bacaan-bacaan tersebut, maka hendaklah dia kembali untuk menyembunyikannya” (at 
Tahqiq hal. 219)
   
  Sikap Imam Syafi’i terhadap yasinan 
   
  Demikian pula mereka tidak akan mengadakan acara yasinan setiap malam Jum’at 
atau pada waktu dan tempat yang dikhususkan lainnya.  Karena Imam Syafi’i 
rahimahullah mengatakan,
   
  “Idzaa shah-hal hadiitsu faHuwa madzHabii” yang artinya “Apabila suatu hadits 
telah jelas shahih, maka itulah madzhabku” (Syaikh al Albani mengatakan dalam 
Sifat Shalat Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam hal. 65, “Imam an Nawawi dalam 
referensi tersebut di atas dan asy Sya’rani I/57 lalu beliau menyandarkannya 
kepada al Hakim dan al Baihaqi”)
   
  Dan diketahui bahwa tidak ada hadits-hadits yang shahih yang berkaitan dengan 
mengkhususkan membaca surat yasin bersama-sama atau pun sendirian di malam 
jum’at ataupun di hari lainnya, kemudian mendapatkan ganjaran pahala seperti 
ini atau seperti itu.  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
   
  “Abdullah bin Mubarak mengatakan, ‘Semua hadits yang mengatakan, ‘Barangsiapa 
yang membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini begitu, (maka) semua 
hadits tentang itu palsu.  Mereka (pemalsu hadits) mengatasnamakan sabda 
Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam.  Sesungguhnya orang-orang yang 
membuat hadits-hadits itu telah mengakui mereka memalsukannya’’” (Periksa al 
Manarul Munif fis Shahih wadh Dha’if, hal. 113-115, tahqiq : Abdul Fatah Abu 
Ghudah)
   
  Khatimah
   
  Demikianlah sikap Imam Syafi’i rahimahullah terhadap permasalahan tahlilan, 
dzikir jama’i dan yasinan, yang kesemuanya itu merupakan perkara-perkara yang 
baru (muhdats) dalam agama. Dan jika perkara-perkara yang baru dalam agama 
diamalkan maka tertolaklah ia, sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi 
wa sallam,
   
  “Man ‘amila ‘amalan laysa ‘alaiHi amrunaa faHuwa raddu” yang artinya 
“Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkah maka ia 
tertolak” (HR. Muslim no. 1718 dan al yang Bukhari meriwayatkannya secara 
mu’allaq dalam Al Buyu’ dan Al I’tisham) 
   
  Maka dari itu hendaklah kaum muslimin, khususnya kaum muslimin yang berada di 
Indonesia yang mengaku mengikuti, meneladani dan mencintai Imam Syafi’i 
rahimahullah,  untuk mengikuti jejak dan napak tilas beliau dalam beragama 
yaitu memahami agama ini sebagaimana pemahamannya para salafus shalih.
   
  Semoga pengakuan itu, tidak hanya sebatas pengakuan,
   
  “Berapa banyak orang yang mengaku cinta pada laila,
  tetapi laila memungkiri cinta mereka semua”
   
  Maraji’ :
   
  1.      Al Masaa-il Jilid 2, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darus Sunnah 
Press, Jakarta, Cetakan Ketiga, 1426 H/2005 M.
  2.      Apa Kata Imam Syafi’i tentang Dzikir Berjama’ah, Ustadz Ibnu Saini 
bin Muhammad bin Musa, Pustaka al Ilmu, Cetakan Pertama, 1428 H/2007 M.
  3.      Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyyah, Ustadz Abu Aisyah Arif 
Fathul Ulum, Media Tarbiyah, Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1426 H/Januari 
2006 M.
  4.      Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasjid, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 
Cetakan ke Tiga puluh Delapan, 2005 M.
  5.      Sifat Shalat Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, Syaikh Muhammad 
Nashiruddin al Albani, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Shafar 1427 
H/Maret 2006 H.
  6.      Yasinan, Ustadz Abdul Qadir Jawas, Pustaka Abdullah, Jakarta, Cetakan 
Ketiga, 27 Jumadil Awal 1426 H/4 Juli 2005 M.
   
  Semoga Bermanfaat.
   
   
   
   
   


        Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa 
syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang 
dikehendaki-Nya.  Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah 
berbuat dosa yang besar" (QS. An Nisaa' : 48)
   
  Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jibril 
berkata kepadaku, 'Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam 
keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk 
surga'" (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]





       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke