irfan bahiuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaikum
saya mendapatkan bahwa di dalam seni teater banyak sekali hal-hal yang 
mendekati hal-hal yang dilarang oleh syariah seperti menyerupai 
lelaki/sebaliknya, juga tentang perempuan yang maju ke depan umum lalu 
memperdendangkan suara yang notabenenya menggoda iman.
oleh karena di sekolah saya, saya masih mendapatkan pelajaran tersebut, saya 
ingin mengetahui hukumnya berdasar syariat Islam yang telah di ajarkan oleh 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

saya mohon jawabannya dari saudaraku yang lebih tahu dan tolong ditunjukkan 
untuk sumbernya (kalau hadis tolong disebutkan dari kitab mana, kalau fatwa 
tolong dicantumkamkan sumbernya) sebelumnya terima kasih atas jawabannya

syukron jazakillah
wassalmu'alaikum



HUKUM SANDIWARA ISLAMI DAN NASYID ISLAMI

Minggu, 11 Maret 2007 00:13:54 WIB
Kategori : Gambar, Lagu, Mainan

... halaman ke-1
HUKUM SANDIWARA ISLAMI DAN NASYID ISLAMI

Oleh
Syaikh DR Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Pertanyaan.
Syaikh DR Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apa hukum 
sandiwara Islami, dan nasyid-nasyid yangdinamakn nasyid Islmi, yang hal ini 
dilakukan oleh sebagian pemuda di pusat-pusat hiburan selama musim panas ?

Jawaban
Sandiwara [1], saya katakan tidak boleh karena.

Pertama: Di dalamnya melalaikan orang yang hadir [2] sebab mereka memperhatikan 
gerakan-gerakan pemain sandiwara dan mereka senang (tertawa) [3]. Sandiwara itu 
biasanya dimaksudkan untuk hiburan, sehingga melalaikan orang yang menyaksikan. 
Ini dari satu sisi.

Kedua: Individu-individu yang ditiru, kadang-kadang berasal dari tokoh Islam, 
seperti sahabat. Hal ini dianggap sebagai sikap meremehkan mereka[4] , baik si 
pemain merasa atau tidak. Contoh: anak kecil atau seseorang yang sangat tidak 
pantas, menirukan ulama atau sahabat. Ini tidak boleh. Kalau ada seseorang 
datang menirukan kamu, berjalan seperti jalanmu, apakah engkau ridha dengan hal 
ini? Bukankah sikap ini digolongkan sebagai sikap merendahkan terhadap kamu? 
Walaupun orang yang meniru tersebut bermaksud baik menurut sangkaannya. Tetapi 
setiap individu tidak akan rela terhadap seseorang yang merendahkan dirinya.

Ketiga: Yang ini sangat berbahaya, sebagian mereka menirukan pribadi kafir 
seperti Abu Jahal atau Fir'aun dan selain mereka. Dia berbicara dengan 
pembicaraan yang kufur yang menurut dugaannya dia hendak membantah 
kekufurannya, atau ingin menjelaskan bagaimana keadaan jahiliyah. Ini adalah 
tasyabuh (meniru). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang tasyabuh 
dengan orang-orang musyrik dan kufur [5] baik meniru (menyerupai) kepribadian 
maupun perkataannya. Dakwah dengan cara ini dilarang karena tidak ada petunjuk 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta bukan dari salafu ash shalih 
maupun petunjuk kaum muslimin. Model-model sandiwara ini tidak dikenal kecuali 
dari luar Islam. Masuk kepada kita dengan nama dakwah Islam, dan dianggap 
sebagai sarana-sarana dakwah. Ini tidak benar karena sarana dakwah adalah 
tauqifiyah (ittiba'). Cukup dengan yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa sallam dan tidak butuh jalan seperti ini.[6]. Bahwasanya dakwah akan tetap 
menang dalam kurun waktu yang berbeda-beda. Tanpa adanya model-model sandiwara 
ini. Tatkala cara ini (sandiwara) datang tidaklah menampakkan kebaikan kepada 
manusia sedikitpun, dan tidak bisa mempengaruhinya. Hal itu menunjukkan bahwa 
cara ini (sandiwara) adalah perkara negatif dan tidak ada faedahnya sedikitpun. 
Bahkan di dalamnya terdapat hal-hal yang membahayakan.

Lalu jika ada orang yang berkata,'Sesungguhnya Malaikat itu menyerupai bentuk 
anak Adam.

Kami jawab, 'Malaikat-malaikat itu datang dalam bentuk anak Adam, karena 
manusia tidak mampu melihat dalam bentuknya yang asli. Ini merupakan kebaikan 
bagi manusia. Sebab jika malaikat datang dengan bentuk mereka yang sebenarnya, 
maka manusia tidak akan mampu berbicara dengan mereka dan tidak bisa melihat 
kepada mereka.[7] Para malaikat tatkala menyerupai bentuk manusia tidak 
bermaksud bermain sandiwara sebagaimana yang mereka inginkan. Malaikat itu 
menyerupai manusia dalam rangka memperbaiki. Karena malaikat mempunyai bentuk 
sendiri yang berbeda dari manusia. Adapun manusia maka bagaimana bentuk 
seseorang itu berubah kepada bentuk manusia yang lain. Apa yang mendorong 
kepada perubahan ini?

[Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufidah An-As'illah Al-Manahij Al-Jadidah, 
Edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, Pengumpul Risalah Abu 
Abdillah Jamal bin Farihah Al-Haritsi, Penerbit Yayasan Al-Madinah, Penerjemah 
Muhaimin]
Foote Note
[1]. Syaikh Bakar Abu Zaid berkata dalam kitabnya At-Tamtsil,'Keberadaan 
sandiwara awalnya adalah bentuk peribadahan non-Islam. Sebagian ahlu ilmi 
menguatkan, bahwa inti sandiwara itu adalah bagian dari syiar-syiar peribadahan 
penyembah berhala di Yunani.(Hal 18).

Syaikh Al-Islam berkata dalam kitabnya Iqtidha Sirath Al-Mustaqim (191/ cet. 
Darul Hadits) tentang apa yang dikerjakan kaum Nashara pada hari raya mereka 
yang disebut 'Hari rayanya orang-orang yang berkepala udang" (id asy-Sya'anin): 
"Mereka keluar pada hari raya dengan membawa daun zaitun dan sejenisnya, dan 
mereka menyangka sikapdemikian itu menyerupai apa yang ada pada Al-Masih 
'Alaiahis Sallam. Hal ini telah dinukil oleh Syaikh Bakar Abu Zaid dalam 
At-Tamtsil. Syaikh Bakar mengisyaratkan tentang hal itu dalam kitabnya hal. 
27-28 : "Engkau telah mengetahui bahwa sandiwara itu tak ada hubungannya dengan 
sejarah kaum muslimin pada generasi yang pertama(utama). Kedatangannya tak 
disangka-sangka pada masa sedikitnya orang yang berilmu, yakni pada abad 14H. 
Kemudian disambut dengan mendirikan rumah-rumah hiburan dan gedung-gedung 
sandiwara, serta merta berpindahlah dari tempat-tempat peribadahan kaum Nashara 
kepada sekelompok pelaku sandiwara Islami di sekolah-sekolah daripada sebagian 
jamaah Islam.bf

[Saya (Abu Abdillah) berkata : Contohnya Ikhwanul Muslimin"]

Apabila engkau memaklumi hal ini, maka ketahuilah bahwa kaidah-kaidah dan 
prinsip-prinsip Islam yang mengangkat ahlinya kepada derajat mulia dan sempurna 
tentu menuntut penolakan dengan cara itu. Sebagaimana diketahui, bahwa suatu 
amal mungkin termasuk sebagai ibadah, atau bisa jadi termasuk sebagai adat. 
Maka asal ibadah, tidaklah disyariatkan kecuali apa yang disyariatkan oleh 
Allah dan asal adat adalah tidak dilarang kecuali apa yang telah Allah larang. 
Oleh karena itu sandiwara Islami itu tidak boleh diadakan sebagai jalan ibadah, 
atau pun sebagai bagian dari kebiasaan atau adat yang mengandung unsur 
permainan dan hiburan.

Sandiwara Islami tidak ditetapkan dalam syariat, dia jalan yang baru. Sebagian 
dari keseluruhan ajaran Islam adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam ,'Barangsiapa yang membikin perkara-perkara baru 
dalam urusan kami(Islam), yang perkara itu buka dari Islam maka tertolak'. 
Karena itu, apa yang telah dilihat pada beberapa sekolahan atau kampus-kampus, 
yakni adanya permainan sandiwara Islami maka sesungguhnya itu adalah sandiwara 
bid'ah, karena telah diketahui asalnya. amalan tersebut bagi kaum muslimin 
adalah perkara yang keluar dari daerah yang ditentukan berdasarkan dalil syar'i.

Karena amalan tersebut merupakan peribadahan penyembah berhala dari Yunani dan 
ahlu bid'ah Nashara, maka tak ada dasarnya dalam Islam secara mutlak. Jadi 
amalan itu adalah perkara baru dalam Islam dan setiap perkara baru dalam Islam 
adalah bid'ah yang menyerupai syariah. Nama yang pas untuk istilah itu berdasar 
syariat Islam adalah 'Sandiwara Bid'ah'.

Apabila sandiwara ini dimasukkan sebagai adat, maka hal itu menyerupai 
musuh-musuh Allah (kafir). Sedangkan kita telah dilarang menyerupai mereka. 
Sementara perkara itu tidak dikenal kecuali dari mereka.

Saya (Abu Abdillah) berkata, "Sesungguhnya ; 'Sandiwara Islami', sebagaimana 
yang mereka namakan –hanya terdapat di pusat hiburan selama musim panas dan 
sekolah-skolah, dianggap sebagai salah satu metode dakwan dan cara mempengaruhi 
para pemuda. Ini merupakan akal-akalan mereka, yang secara syara tertolak. 
Padahal cara dan metode dakwah kepada Allah tauqifiyah (ittiba), maka tidak ada 
hak bagi seseorang untuk membikin sesuatu (untuk peribadahan) dari dirinya. 
Saya tidak akan membicarakan masalah sarana dakwah secara panjang lebar.

Jika ada orang yang berkata,'Sesungguhnya sarana-sarana berdakwah merupakan 
bagian dari mashalihul Mursalah'. Kami jawab,'Apakah syariah meremehkan segala 
kebaikan bagi hamba-hambanya?

Jawabannya terdapat dalam keterangan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, sebagai 
berikut, 'Secara singkat bahwa syariah tidak meremehkan kebaikan (maslahah) 
sama sekali, bahkan Allah Ta'ala telah menyempurnakan dien nikmatNya bagi kita. 
Jadi tidak ada yang mendekatkan diri ke surga kecuali kita telah diperintahkan 
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengerjakannya. Beliau telah 
meninggalkan kita di atas lembaran yang putih bersih. Malamnya seprti siangnya, 
tidak menyimpang daripadanya melainkan orang yang binasa.[Dinukil dari kitab : 
Hujaju Al-Qawiyyah Ala Anna Wasa'ila ad-Da'wah Tauqifiyah karya Syaikh 
Abdussallam bin Barjas hal. 40]

Hukum Sandiwara Islami Dan Nasyid Islami

Minggu, 11 Maret 2007 00:13:54 WIB
Kategori : Gambar, Lagu, Mainan



... halaman ke-2

Saya (Abu Abdillah) berkata, 'Apabila sejumlah besar dari berbagai kekufuran, 
kefasikan dan kemaksiatan bertaubat kepada al-haq dengan jalan yang syar'i dan 
memang harus demikian. Maka mengapa seorang da'i mencari jalan yang tidak 
terdapat di dalam syara' ? Lagipula bahwa sesungguhnya apa yang terdapat dalam 
syara' sungguh telah mencukupi untuk memperoleh tujuan dakwah kepada Allah. 
Yakni menjadikan ahlu maksiat bertaubat dan orang-orang yang tersesat mendapat 
petunjuk. Hendaklah para da'i melapangkan dirinya tatkala berdakwah kepada 
Allah dengan sarana yang para sahabat melapangkan diri mereka di atasnya. 
Sesungguhnya mereka kembali menuju kepada ilmu. Ibnu Mas'ud 
berkata,'Sesungguhnya kalian akan menciptakan perkara yang baru dan akan 
diciptakan perkara baru untuk kalian, Maka, apabila kalian melihat perkara yang 
baru, wajib atas kalian berpegang dengan perkara yang pertama (Rasulullah dan 
para sahabat)'. Ibnu Mas'ud berkata pula,'Hati-hati kalian terhadap bid'ah, 
hati-hati kalian terhadap berlebih-lebihan, hati-hati kalian terhadap 
berdalam-dalaman dan wajib kalian berpegang teguh dengan generasi yang 
dahulu'.[ Dinukil dari kitab : Hujaju Al-Qawiyyah Ala Anna Wasa'ila ad-Da'wah 
Tauqifiyah karya Syaikh Abdussallam bin Barjas hal. 43]

Syaikh Abdussalam berkata,'Sesungguhnya menentukan kebaikan dalam suatu perkara 
adalah sulit sekali. Kadang-kadang seorang pengamat menyengka bahwa ini adalah 
maslahah, padahal ini, sesungguhnya yang berkuasa menentukan kemaslahatan 
adalah ahlu ilmi. Merekalah yang dipenuhi keadilan dan bashirah, yang 
senantiasa mewujudkan hukum-hukum syariah serta kebaikan-kebaikan. Oleh karena 
itu suatu masalah butuh sikap hati-hati yang besar dan sangat waspada dari 
penguasaan hawa nafsu jika menghendaki sesuatu yang baik. Hawa nafsu sering 
menghiasi sesuatu yang rusak menjadi tampak baik, sehingga banyak orang 
tertipu. Padahal bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Lalu bagaimana para 
muqallid(orang yang taklid) itu bisa dikuasai dengan persangkaan kemudian 
menentukan bahwa ini adalah maslahah ? Bukankah ini merupakan sikap lancang 
terhadap dien dan sikap nakal terhadap hukum syar'i dengan tanpa keyakinan ? 
(hal 45)

Dia Abdussalam menukil juga dari Syaikh Hamud bin Abdullah At-Tuwajiri 
rahimaullah, katanya : Sesungguhnya memasukkan sandiwara dalam berdakwah kepada 
Allah Ta'ala bukanlah dari sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan 
bukan dari sunnah Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin. Melainkan termasuk perkara 
baru pada zaman kita. Dan sungguh Rasulullah telah memperingatkan dari 
perkara-perkara yang baru, memerintahkan untuk menolaknya, serta mengabarkannya 
bahwa perkara baru itu adalah buruk dan sesat" (hal. 45)

[2]. Di dalamnya mengandung unsur menyia-nyiakan waktu. Orang Islam akan 
dimintai pertanggungjawabannya terhadap waktunya. Dia dituntut untuk memelihara 
dan mengambil faedah dari waktunya, untuk mengamalkan apa-apa yang diridhai 
oleh Allah Ta'ala, sehingga manfaatnya kembali kepadanya baik di dunia maupun 
di akhirat. Sebagaimana hadits Abu Barzah Al-Aslamy, dia berkata,'Telah 
bersabda Rasulullah,

"Artinya : Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga 
ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan. tentang hartanya darimana dia 
dapatkan, dan untuk apa dia infakkan. tentang badannya untuk apa dia kerahkan. 
[ Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi 2417 dan dia menshahihkannya]

[3]. Umumnya sandiwara itu dusta. Bisa jadi memberi pengaruh bagi orang yang 
hadir dan menyaksikan atau memikat perhatian mereka atau bahkan membuat mereka 
tertawa. Itu bagian dari cerita-cerita khayalan. Sungguh telah ada ancaman dari 
Rasulullah bagi orang yang berdusta untuk menertawakan manusia dengan ancaman 
yang keras. Yakni dari Muawiyah bin Haidah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya 
Rasulullah bersabda,

"Artinya : Celaka bagi orang-orang yang berbicara (mengabarkan) sedangkan dia 
dusta (dalam pembicaraannya) supaya suatu kaum tertawa maka celakalah bagi dia, 
celakalah bagi dia".[Hadits Hasan, dikeluarkan oleh Hakim (I/46), Ahmad (V/3-5) 
dan At-Tirmidzi (2315)]

Mengiringi hadits ini Syaikh Islam berkata,'Dan sungguh Ibnu Mas'ud berkata : 
"Sesungguhnya dusta itu tidak benar baik sungguh-sungguh maupun bercanda"
Adapun apabila dusta itu menimbulkan permusuhan atas kaum muslimin dan 
membahayakan atas dien tentu lebih keras lagi larangannya. Bagaimanapun 
pelakunya yang menertawakan suatu kaum dengan kedustaan berhak mendapat hukuman 
secara syar'i yang bisa menghalangi dari perbuatannya itu.[Majmu Fatawa 
(32/256)]

Tentang cerita-cerita, sungguh ulama' salaf membenci cerita-cerita dan 
majelis-majelis cerita. Mereka memperingatkan segala peringatan dan memerangi 
para narator (pencerita) dengan berbagai sarana. Dari kitab Al-Mudzakir wa 
At-Tadzkin wa Adz-Dzikr karya Ibnu Abi Ashim, tahqiq Khlaid Al-Ridadi (hal. 26) 
. Ibnu Ashim telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih, bahwa Ali 
Radhiyallahu ;anhu melihat seseorang bercerita, maka dia berkata, Apakah engkau 
tahu tentang naskh (ayat yang menghapus) dan mansukh(yang dihapus)? Maka dia 
(pencerita itu) menjawab,Tidak. Ali berkata,Binasa engkau dan engkau telah 
membinasakan mereka. [Al-Mudzakir wa At-Tadzkir hal. 82]

Imam Malik berkata, Sungguh saya benci cerita-cerita di masjid. Saya memandang 
berbahaya ikut bermajelis dengan mereka. Sesungguhnya cerita-cerita itu bid'ah.

Dari Salim berkata, "Bahwa Ibnu Umar bertemu dengan orang yang keluar dari 
masjid, maka dia berkata , 'Tidak ada factor yang menyebabkan aku keluar (dari 
masjid) kecuali suara narrator kalian ini". Imam Ahmad berkata,Manusia yang 
paling dusta adalah para narator dan orang yang paling banyak bertanya (dengan 
pertanyaan yang tidak ada faedahnya). Kemudian ditanyakan padanya (Imam 
Ahmad),Apakah Anda menghadiri majelis mereka ? Dia menjawab, Tidak.[Dinukil 
dari kitab Al-Bida wa Al-Hawadits karya At-Turtusyi, hal 109-112]

[4]. Salah satu nama sandiwara yaitu : Al-Muhakkah, yakni menirukan seseorang 
dalam gerakan-gerakannya. Telah datang hadits shahih yang mencela orang yang 
menirukan gerakan seseorang, dan larangan dari yang demikian itu, dari Aisyah 
bahwa Rasulullah bersabda, 'Sungguh saya tidak suka menirukan seseorang dan 
sungguh bagi saya seperti ini dan seperti ini'. Shahih dikeluarkan oleh Imam 
Ahmad (6/136-206), At-Tirmidzi(2503).

[5] Hadits yang melarang menyerupai orang-orang musyrik dan kafir telah 
tersebar, diantaranya sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, 
'Selisihilah orang-orang Yahudi dan Nashara..'[Taqrib Ibnu Hibban (2186)], 
'Berbedalah dengan orang-orang musyrik...' [Muslim(259)], 'Berbedalah dengan 
orang-orang Majusi..' [Muslim(260)]

[6]. Telah terbit sebuah kitab dengan judul Al-Hujaj Al-Qawiyyah 'Ala Anna 
Wasa'ilah Da'wah Taufiqiyyah karya Syaikh Abdussallam bin Barjas bin 
Abdulkarim. Sebuah kitab yang bagus pembahasannya, kami nasehatkan supaya 
membaca kitab tersebt.

[7]. Kemudian sungguh malaikat itu tidak menirukan perkataan seseorang yang 
diserupai bentuknya, dan tidak berjalan seperti jalannya atau gerakan-gerakan 
lain yang dilakukan orang yang diseruapinya.

sumber: http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=2071&bagian=0


...ma'at taufik...
~hirooka~


---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke