Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi.
1. Perkataan Anda: "Biasanya setelah pembawa acara menyampaikan kata pembuka, kemudian dilanjutkan dengan mengajak hadirin membaca Surat Al Faatihah. Dan setelah acara selesai, pembawa acara menyampaikan kata penutup dan diakhiri dengan mengajak hadirin membaca 'hamdalah'". Ritual semacam ini adalah bid'ah yang tidak ada asal-usulnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. 2. Permasalahan jenis acara. Apakah acara yang diselenggarakan termasuk ke dalam kategori acara yang maksiat atau tidak. Karena saya menangkap perkataan Anda (...sering diminta jadi pembawa acara pada acara-acara keluarga dan acara-acara lainnya...), bahwa perkataan ini agak samar dan terlalu global (tidak spesifik), karena untuk mendudukkan suatu masalah pada sebuah timbangan syar'i, tidak bisa sembarangan dan perlu dilakukan sebuah penelitian yang akurat tentang permasalahan tersebut terlebih dahulu. 3.Mengenai bacaan-bacaan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah keperluan (hajat) maka di bawah ini saya ringkas tulisan dari Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam Al-Masaa-il jild 1 masalah no 1 (KHUTBAH HAJAT). a. Pengertian Khutbah Hajat Khutbah artinya berpidato atau berceramah atau muhaadlarah. Sedangkan hajat artinya keperluan. Menurut Syara' (Agama) yang dimaksud dengan khutbatul hajat ialah; "Pembukaan atau awal pembicaraan dengan lisan atau tulisan yang dimulai dengan puji-pujian dan sanjungan kepada Allah serta membaca tasyahhud (dua kalimat syahadat). Untuk keperluan (hajat) seperti berkuthbah Jum'at, khutbah nikah, bertabligh, muhaadlarah, mengajar, memberikan kuliah dan menulis dan lain-lain." b. Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam berkhutbah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selalu memulai khutbahnya dengan mengucapkan puji-pujian dan sanjungan kepada Allah serta ber-tasyahhud sebagaimana telah diriwayatkan oleh jamaah para shahabat. Juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan puji-pujian dan sanjungan kepada Allah ketika mengakhiri sebuah majelis. c. Hadits-hadits tentang khutbah hajat dan bacaan di akhir majelis. Dibawah ini saya bawakan dua buah haditsnya saja, untuk selengkapnya antum bisa merujuk langsung ke bukunya. Dari Abdullah Ibnu Mas'ud radiallahu 'anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kami tasyahhud di dalam shalat dan tasyahhud di dalam hajat (di dalam riwayat yang lain ditereangkan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kami khutbah hajat). Beliau bersabda "Tasyahhud di dalam shalat: Attahiyyaatu lillahi... (yakni tahiyyat di dalam shalat seperti yang biasa kita baca sampai syahadatain), sedangkan tasyahhud di dalam hajat ialah: Innal hamda lillahi... (di dalam riwayat yang lain lafadznya "Alhamdulillahi...," dan di dalam riwayat yang lain lagi lafadznya Anilhamdu lillahi...) nahmaduhu wanastaghfiruhu wa na'udzubillahi minsyuruuri anfusinaa wa min sayyiati a'malina, ma yahdillahi fala mudhillalahu wa may yudhlil fala haadiyallah, wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalahu wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluhu. (Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan kami memohon pertolongan kepada-Nya. Dan ami berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kami dan dari kesalahan-kesalahan perbuatan kami. barang siapa yang Alla pimpin dia, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang Allah sesatkan dia, maka tidak ada yang dapat memimpinnya. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada satu pun tuhan kecuali Allah sendiri yang tiada satupun sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya)." Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam membaca tiga ayat (Al Qur'an): 1. Surat Ali Imran : 102 2. Surat An Nisaa : 1 3. Surat Al Ahzab : 70-71. (Hadits Shahih riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad, Ad Daarimi, Ath Thahawi, Hakim, Baihaqiy, Abdurrazaq dan Ibnu Abi 'Ashim). Dari Abi Barzah, dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengucapkan di akhir urusannya apabila beliau shallallahu 'alaihi wa sallam hendak berdiri dari majelis; "Subhanakallahuma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik (Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagiMu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan melainkan Engkau. Aku memohon ampun kepadaMu dan aku bertobat kepadaMu)." lalu seseorang bertanya; "Ya Rasulullah! Sesungguhnya engkau tadi mengucapkan satu perkataan yang belum pernah engkau ucapkan sebelumnya!?" Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab; "Bacaan itu sebagai penebus dosa/kesalahan yang terjadi di dalam majelis tadi." (Hadits shahih riwayat Abu Dawud no. 4859) Demikian dari ana, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh melda syl wrote: Assalamu'alaikum warahmatullah wabaraktuh, Ada titipan pertanyaan dari seorang yang sering diminta jadi pembawa acara pada acara-acara keluarga dan acara-acara lainnya ... Beliau bertanya, apakah ada tuntunannya dari Rasulullah Sholallahuallaihi wassalam: sebelum suatu acara dimulai perlu dibacakan doa? Misalnya doa agar acara tersebut berjalan lancar? Biasanya setelah pembawa acara menyampaikan kata pembuka, kemudian dilanjutkan dengan mengajak hadirin membaca Surat Al Faatihah. Dan setelah acara selesai, pembawa acara menyampaikan kata penutup dan diakhiri dengan mengajak hadirin membaca 'hamdalah'. Mohon bantuan ikhwah fillah atas pertanyaan ini. Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, Melda
