Bid'ah hasanah..? itulah BId'ah

Sebagian muslimin ketika dinasihati untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan
bid'ah mereka, tidak jarang diantara mereka berdalih bahwa yang mereka
lakukan adalah bid'ah hasanah, sehingga mereka berkeras bahwa yang mereka
lakukan adalah kebaikan. Artikel ini menjelaskan bahwa semua bid'ah adalah
sesat dan dijelaskan syubhat-syubhat yang biasanya digunakan sebagai alasan
pembenaran bid'ah mereka.

Telah disebutkan oleh Rasulullah bahwa:
"Berhati-hatilah dari hal yang baru, karena setiap yang baru itu bid'ah dan
setiap kebid'ahan itu sesat.(HR. Tirmidji dan Ibnu Majah).
"Barangsiapa yang membuat-buat dalam perkaraku(agamaku) ini, sesuatu yang
bukan darinya maka dia tertolak."(HR. Bukhari Muslim).
"Barangsiapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku padanya,
maka dia tertolak."(HR. Muslim).

Bid'ah adalah setiap hal yang tidak mempunyai dasar dalam agama yang
dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah , seperti:
1. Upacara maulid Nabi, isra mi'raj, malam nisfu sya'ban dan sebagainya.
2. Berdzikir dengan tarian, tepuk tangan dan pukulan terbang begitu juga
meninggikan suara dan mengganti nama-nama Allah seperti dengan ah, ih, aah,
hua, hia.
3. Mengadakan acara selamatan dan mengundang para kyai untuk membaca
Al-Quran setelah wafatnya seseorang dan lain sebagainya.
Hal ini merupakan kebid'ahan dalam hal agama yang ditolak oleh Islam dan
hukumnya sesat. Adapun bid'ah duniawi ada dua macam yaitu bid'ah negatif
seperti bioskop, TV, video dan sejenisnya yang dapat merusak akhlak dan
membahayakan masyarakat karena film-film yang ditampilkan tidak sesuai
dengan syari'at Islam sehingga berbahaya terhadap akidah dan akhlak kita.
Sedangkan yang positif diantaranya adalah kapal terbang, mobil, telepon dan
yang lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat dan mempermudah urusannya.

Rasulullah sebagai pembawa risalah kebenaran dan sebaik-baik teladan umat
telah melaksanakan tugasnya dengan amat sempurna. Tiada satupun dari perkara
agama yang luput beliau sampaikan, hingga Allah berfirman ketika haji wada'
yang menjelaskan bahwa tugas kerasulan beliau telah selesai, yaitu: "Pada
hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, kucukupkan nikmatku atasmu
serta kuridhoi Islam sebagai agamamu.(QS. Al-Maidah: 3).

Imam Malik rahimahullah berkata," Siapapun yang membuat bid'ah dalam Islam
dan menganggapnya hasanah(baik), maka sungguh ia telah menyangka bahwa Nabi
Muhammad telah mengkhianati misi kerasulan, berdasarkan firman Allah ta'ala
diatas, maka yang tidak dijadikan-Nya agama pada saat itu begitupun pada
saat ini."(Al-I'tishom I/64).

Asy-Syaukani berkata," Maka jika Allah telah menyempurnakan agama-Nya
sebelum mewafatkan Nabi-Nya, disebut apalagi pendapat orang setelah Allah
menyempurnaknnya?!? Jika mereka berkeyakinan itu termasuk dalam perkara
agama, berarti belumlah sempurna kecuali denagn disertakannya pendapat
mereka dan itu adalah penolakan terhadap Al-Quran. Adapun jika mereka tidak
berkeyakinan bahwa itu bukan termasuk agama, lalu untuk apa menyibukkan diri
dengan sesuatu yang bukan agama???"
Ini merupakan pukulan telak serta dalil yang agung tak mungkin terelakkan,
dari itu jadikanlah ayat yang mulia ini sebagai senjata pertama untuk
melumpuhkan para ahli bid'ah.

Asy-Syaukani kembali berkata," Hadist-hadist di awal pembahasan ini termasuk
kaidah-kaidah dasar agama yang mencakup berbagai hukum secara tak terbatas,
betapa sangat tepat dan lantangnya dalil, ini dalam mematahkan pendapat di
antara ahli fiqih yang membagi bid'ah ke dalam berbagai kategori dan
menjadikan indikasi ketertolakan bid'ah pada sebagiannya tanpa menyertakan
dalil yang mengkhususkan baik 'aqli maupun naqli."(Nailul author 2/69).

Sabda Rasulullah yang berbunyi," Setiap kebid'ahan adalah sesat" telah
dijelaskan oleh para ulama dengan sangat gamblang, diantaranya yaitu:
1. Ibnu Rajab berkata," Kalimat ini simple dan sederhana namun memiliki
cakupan makna yang luas tanpa kecuali serta merupakan kaidah dasar yang
agung di antara sekian kaidah-kaidah agama."(Jami'ul 'Ulum 28).
2. Ibnu Hajar berkata," Sabda beliau tersebut adalah kaidah agama yang
global baik secara tersurat (manthuq) maupun secar tersirat (mafhum)nya.
Secara aplikatif dapat dikatakan sebagai berikut," Hukum hal ini adalh
bid'ah dan setiap kebid'ahan adalah kesesatan. Maka tidak termasuk dalam
syari'ah karena semua syari'ah adalah petunjuk, sehingga jika kedua premis
tersebut benar maka benarlah hasilnya."(Fathul Baary 13/254).
3. Syaikh Al-Utsaimin berkata," Sabda beliau di atas berindikasi global,
umum serta menyeluruh, diperkuat pula dengan indikator keumuman kata yang
terkuat yaitu "Kullu(setiap)". Beliau melanjutkan," Dengan demikian yang
disebut sebagai bid'ah hasanah terbantah dengan hujjah ini, tidak ada lagi
jalan yang dapat dilalui oleh orang-orang yang berkeinginan untuk menjadikan
bid'ah-bid'ahnya sebagai bid'ah hasana.

Inilah pedang kita untuk membantah mereka, karena hujjah ini dibuat dalam
ruang produksi kenabian dan kerasulan, bukan dalam pabrik kerancuan dan
kekacauan. Ia didesign oleh Baginda Rasulullah dengan amat sempurna dan
layak guna di setiap zaman. Mungkinkah orang yang bersenjatakan pedang
semacam ini mampu dilawan dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan bid'ah
lalu mengklaimnya sebagai bid'ah hasanah??? Sementara di sisi lain kita
mendapati bahwa amat sangat jelas Rasulullah bersabda,"Setiap bid'ah adalah
sesat."

Telah kita ketahui bersama bahwa Rasulullah dengan tegas menyatakan bahwa,"
Semua bid'ah adalah sesat." Akan tetapi diantara para pelaku bid'ah dengan
berbagai cara telah melontarkan subhat-subhat untuk mendukung kebid'ahan
mereka. Diantara beberapa subhat tersebut bisa anda baca pada uraian
berikut. Semoga kita bisa mengambil manfaatnya. Wallahu waliyut taufiq.

1. Pemahaman mereka terhadap hadits," Barang siapa yang memberi contoh yang
baik di dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang
melakukannya setelah itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan
barang siapa memberi contoh yang buruk dalam Islam maka dia akan mendapatkan
beban dosanya serta dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi
beban mereka sedikitpun."(HR. Muslim no: 1017).
Bantahan:
· Bahwa ma'na barang siapa dalam hadits tersebut adalah barang siapa yang
memberi contoh aplikatif bukan inovatif. Maka yang dimaksud dengan hadits
tersebut adalah mengamalkan sesuatu yang telah ada dalam sunnah
nabawiyah(bukan yang diada-adakan).
· Yang menyatakan ,"Barang siapa yang memberi contoh yang baik dalam Islam"
adalah yang menyatakan," Setiap bid'ah adalah sesat."Dan mustahil beliau
mengatakan sesuatau yang mendustakan pernyataannya sendiri sehingga
informasi Islam ini berbenturan.(Al-Ibda' Ibnu Utsaimin hal:19).
· Belum pernah ada keterangan dari seorangpun diantara salafus sholeh bahwa
beliau menafsirkan "sunnah hasanah" dengan bid'ah yang mereka ada-adakan
dalam masalah agama semau mereka.

2. Pemahaman mereka terhadap ucapan Umar Bin Al-Khattab yang mengatakan,"
Sebaik-baik bid'ah adalah ini."(HR. Bukhari no 2010).
Bantahan:
· Seandainya kita terima apa yang mereka dakwahkan bahwa ini merupakan
indikasi adanya bid'ah hasanah(meskipun bukan begitu adanya), maka sudah
jelas bahwa perkataan Rasulullah tidak mungkin dibatalkan oleh perkataan
siapapun diantara manusia, Abu Bakar sekalipun yang merupakan orang termulia
diantara umat ini setelah Rasulullah , atau Umar sebagai yang kedua dan
lain-lainnya. Imam Ahmad Bin Hambali berkata," Barang siapa yang menolak
hadits Nabi, maka sesungguhnya dia berada di tepi jurang
kehancuran."(Thabaqal Al-Hanabilah 2/15 dan Al-Ibanah 1/260).
· Bahwa beliau mengatakan hal itu pada saat menyatukan orang dalam sholat
tarawih, sementara sholat tarawih bukanlah bid'ah melainkan sejatinya sunnah
berdasarkan hadits yang disampaikan oleh Aisyah Bahwa Rasulullah pada suatu
malam sholat di dalam masjid, maka dimakmumi oleh orang-orang begitupula
pada malam berikutnya bahkan bertambah banyak. Lalu tatkala mereka telah
berkumpul pada malam ketiga atau keempat beliau tidak keluar, seusai sholat
shubuh beliau berkata: "Aku tahu apa yang kalian lakukan dan tidak ada
alasan yang menghalangiku melainkan kekhawatiranku akan diwajibkannya(sholat
malam ini) atas kalian."Dan ini terjadi di bulan Ramadhan.(HR. Bukhary no
1129). Dari sini jelas sebab ditinggalkannya berjama'ah dalam syari'ah
sholat tarawih. Maka tatkala sebab tersebut telah tiada Umarpun
menghidupkannya kembali. Jadi apa yang dilakukannya memiliki dasar dari
perbuatan Rasulullah .
· Jika yang telah beliau lakukan itu bukan bid'ah, lalu apakah ma'na bid'ah
yang beliau maksudkan? Maksud beliau tentang bid'ah tersebut adalah secara
bahasa bukan dalam konteks syar'iy. Bid'ah secara bahasa berarti sesuatu
yang dilakukan tanpa didahului contoh sebelumnya, maka tatkala itu tidak
dilakukan di zaman Abu Bakar dan tidak pula di awal zaman Umar, jadilah dia
bid'ah dalam pengertian bahasa karena tidak dicontohkan sebelumnya. Adapun
dalam konteks syar'iy maka tidak termasuk bid'ah karena ada contoh dari
Rasulullah.

3. Pemahaman mereka terhadap atsar," Apapun yang dianggap baik oleh kaum
muslimin, maka hal itu baik menurut Allah ."(Musnad Ahmad 1/39).
Bantahan:
· Periwayatan atsar tersebut hanya sampai pada Abdullah Ibnu Mas'ud dan
tidak sampai pada Rasulullah . Ibnul Qoyyim berkata," Atsar ini bukan
perkataan Rasulullah dan tak seorangpun menisbatkannya kepada beliau kecuali
ia tidak mengerti tentang hadits. Ini hanyalah dari Ibnu
Mas'ud."(Al-Furuusiyyah, Ibnul Qoyyim hal:167). Komentar Az-Zaila'iy:"
Gharib secara marfu' dan tidak aku dapatkan kecuali terhenti pada Ibnu
Mas'ud."(Nashburrayah 4/133).
· Fungsi alif lam dalam kata "almuslimun"(pada atsar di atas) adalah untuk
menyatakan sesuatu yang telah diketahui yaitu para shahabah sebagaimana yang
ditunjukkan oleh alur kalimat dalam atsar tersebut dimana dikatakan di
situ," Sesungguhnya Allah melihat hati-hati para hambaNya, maka Allah
dapatkan hati Muhammad sebaik-baiknya lalu Allah pilih beliau untuk diri-Nya
dan mengutusnya untuk mengemban misi-Nya, di mana hati para shahabah adalah
yang terbaik lalu Allah jadikan mereka para pendukungnya. Mereka berperang
demi membela agamanya, maka apapun yang dianggap baik para muslimun tersebut
baik pulalah dalam pandangan Allah. Sebaliknya apapun yang dianggap buruk
oleh mereka, maka buruk pulalah dalam pandangan Allah ."
· Bagaimana mungkin berdalih untuk menganggap baiknya sebuah bid'ah dengan
perkataan seorang shahabah yang merupakan orang yang paling keras dalam
melarang daqn mengecam bid'ah. Bukankah telah kita baca bersama beliau
mengatakan:"Ikutilah dan jangan membuat bid'ah, karena sesungguhnya kalian
telah dicukupkan dan setiap bid'ah adalah kesesatan." Dan banyak lagi
ucapan-ucapan beliau yang lain dalam hal ini.

4. Perkataan Imam Syafi'iy (semoga Allah merahmatinya)," Bid'ah itu ada dua
macam, bid'ah terpuji dan bid'ah tercela."(Hilyatul aulia 9/113). " Yang
diada-adakan dalam agama itu ada dua macam, yang diada-adakan menyelisihi
Al-Quran atau sunnah, atsar atau ijma' maka itulah bid'ah kesesatan.
Sementara yang diadakan dari kebaikan yang tidak bertentangan dengan itu
semua, maka itu adalah muhdash yang tidak tercela."(Manaaqib Asy-Syafi'iy,
Albaihaqy 1/469 dan Al-Baaits Abii Syaamah hal 94).
Bantahan:
· Perkataan Rasulullah merupakan hujjah atas siapapun, tidak boleh
dikalahkan dengan perkataan siapapun. Tidak berlaku sebaliknya.
· Bila kita cermati perkataan beliau, tidak ragu lagi bahwa yang beliau
maksudkan dengan bid'ah terpuji adalah bid'ah secara bahasa, sebab semua
bid'ah dalam syari'ah yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, sedangkan
beliau mendefinisikan bid'ah terpuji dengan batasan bahwa hal itu tidak
bertentangan dengan al-Kitab dan As-Sunnah dan setiap bid'ah dalam syaria'h
pasti menyelisihi firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3.
· Beliau(Imam Syafi'iy) terkenal dengan antusiasmenya yang tinggi dalam
mengikuti jejak Rasulullah serta sangat murka terhadap orang yang menolak
hadits Rasulullah . Beliau berkata," Jika telah kau dapatkan dalam kitabku
sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah , maka ambillah sunnah itu dan
tinggalkan fatwaku."(Siyar 10/43).

5. Pernyataan Al 'Izz Ibnu Abdissalam:" Bahwa bid'ah terbagi kedalam
kategori wajib, haram, sunnah dan mubah. Dan cara mengetahuinya adalah
dengan menimbang bid'ah tersebut di atas kaidah-kaidah syar'iyyah. Jika
masuk dalam kaidah yang menghasilkan hukum wajib, maka keberadaan bid'ah
tersebut menjadi wajib begitupula jika haram."(Qowa'idul Ahkam 2/173).
Bantahan:
· Tidak boleh membantah hadits Rasulullah dengan perkataan siapapun.
· Asy-Syathibi berkata:" Pembagian ini adalah rekayasa tak berdalilkan
syar'iy dan kontradiktif dengan sendirinya. Karena hakekat bid'ah adalah
kehampaannya dari dalil syar'iy baik secara nash maupun kaidah-kaidah yang
terintisarikan daripadanya karena seandainya ada dalil syar'iy atas
pembagian itu niscaya tidak ada istilah bid'ah dan berarti pula merupakan
usaha korelasi antara dua hal yang selalu kontradiktif (Jam'un baina
mutanafiyaini)."(Al-I'tishom 1/246).
· Bahwa bid'ah yang dimaksud beliau adalah bid'ah secara bahasa, bukan
syar'iy berdasarkan contoh-contoh yang beliau berikan dalam hal itu.
· Al'Izz adalah sosok ulama yang terkenal dengan sikap penyerangan serta
pelarangannya yang keras terhadap bid'ah. Bahkan beliau sendiri yang
melarang orang melakukan hal-hal yang mereka namakan dengan bid'ah hasanah..


Dari uraian di atas dapat kita ambil suatu hikmah yang besar yaitu
bahwasanya perkataan Rasulullah tidak terbantahkan dengan hujjah-hujjah dari
para pembela bid'ah bahkan oleh perkataan shabat beliau sendiri karena semua
apa yang beliau katakan tidak berdasarkan nafsu melainkan karena bimbingan
Allah azza wajalla yaitu wahyu. Sehingga bagaimana mungkin sesuatu yang
sesuai dengan sunnah dikatakan sebagai bid'ah???Pencampuradukan antara ma'na
bahasa dengan ma'na terminologi syar'iy telah membuat ahli bid'ah tersesat
dari rahmat Allah padahal rahmat-Nya amatlah luas kepada orang-orang yang
dapat membedakan antara keduanya karena taufiq dari Allah . Semoga kita
termasuk di dalam golongan ini. Allah musta'an.


"Dirangkum dari makalah Ust Syaikh Mudrik Ilyas dalam acara Daurah Dirosah
Islamiyah pada tanggal 15, 16, 17 Maret 2002 di Masjid Abu Bakar shiddiq
oleh Lajnah dakwah Yayasan Qolbun Salim Malang."


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke