On 5/10/07, D 14 N <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>Ada yang tau Ga pengertian qada Dan qadar itu apa?
>Terus contohnya masing-masing tuh apa?

PERBEDAAN QADHA' DAN QADAR

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=191&bagian=0

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Apakah perbedaan antara
Qadha' dan Qadar?"

Jawaban.
Para ulama' berbeda pendapat tentang perbedaan antara kedua istilah
tersebut. Sebagian mengatakan bahwa Qadar adalah kententaun Allah sejak
zaman azali (zaman yang tak ada awalnya), sedangkan Qadha' adalah ketetapan
Allah terhadap sesuatu pada waktu terjadi.

Maka ketika Allah menetapkan sesuatu akan terjadi pada waktunya, ketentuan
ini disebut Qadar. Kemudian ketika telah tiba waktu yang telah ditetapkan
pada sesuatu tersebut, ketentuan tersebut disebut Qadha'. Masalah ini
(Qadha') banyak sekali disebut dalam Al-Qur'an, seperti firman Allah.

"Artinya : Sesuatu itu telah diqadha" [Yusuf : 41]

Dan firman-Nya.

"Artinya : Allah mengqadha' dengan benar" [Ghafir : 20]

Dan ayat-ayat lain yang serupa. Maka Qadar adalah ketentuan Allah terhadap
segala sesuatu sejak zaman azali, sedangkan Qadha' merupakan pelaksanaan
Qadar ketika terjadi. Sebagian Ulama' mengatakan bahwa kedua istilah
tersebut mempunyai satu makna.

Pendapat yang dianggap rajih (unggul/kuat) adalah bahwa kedua istilah
tersebut bila dikumpulkan (Qadar-Qadha'), maka mempunyai makna berbeda, tapi
bila dipisahkan antara satu dengan yang lain maka mempunyai makna yang sama.
Wallahu 'alam.

[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha
dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka
At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

APAKAH REZKI DAN JODOH TELAH DI TULIS DI LAUH MAHFUDZ

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Apakah rezqi dan jodoh
juga telah tertulis di Lauh Mahfudz ?".

Jawaban.
Segala sesuatu sejak awal terciptanya Qalam sampai tiba hari Qiyamat telah
tertulis di Lauh Mahfudz, karena sejak permulaan menciptakan Qalam Allah
telah berfirman kepadanya : "Tulislah", Dia (Qalam) bertanya : "Wahai
Rabb-ku, apa yang harus aku tulis?" Allah berfirman : "Tulislah segala
sesuatu yang terjadi". Kemudian dia (Qalam) menulis segala sesuatu yang
terjadi sampai hari kiamat. Juga diriwayatkan dari Nabi :

"Artinya : Sesungguhnya janin yang ada dalam kandungan ibunya ketika telah
melewati umur empat bulan, maka Allah mengutus Malaikat kepadanya yang
meniupkan roh dan menulis rizqi, ajal, amal dan apakah dia celaka atau
bahagia".

Rezqi juga telah tertulis dan ditakdirkan beserta sebab-sebabnya, tidak
bertambah dan tidak berkurang. Sebagian dari sebab-sebab (rezqi) adalah
pekerjaan manusia untuk mencari rezqi, sebagaimana firman Allah :

"Artinya : Dia (Allah) adalah Tuhan yang telah menjadikan bumi tunduk
(kepadamu), maka berjalanlah dia atas pundaknya dan makanlah sebagian
rezqi-Nya dan kepada-nyalah tempat kembali" [Al-Maidah : 15]

Sebagian dari sebab-sebab rezqi lagi adalah menyambung persaudaraan
(sillaturrahim), termasuk berbuat baik kepada kedua orang tua dan menyambung
hubungan keluarga, karena Nabi telah bersabda.

"Artinya : Barangsiapa ingin dilapangkan rezqinya dan dipanjangkan umurnya,
maka hendaklah dia menyambung persaudaraan (sillaturrahim).

Sebagian sebab-sebab rezqi lagi adalah bertaqwa kepada Allah, sebagaimana
firman Allah.

"Artinya : Barangsiapa bertaqwa, maka Dia akan menjadikan baginya jalan
keluar dan memberinya rezqi dengan tanpa disangka-sangka" [Ath-Thalaq : 2-3]

Janganlah anda mengatakan : "rezqi telah tertulis dan terbatasi dan aku
tidak akan melakukan sebab-sebab untuk mencapainya". Karena pernyataan
tersebut adalah suatu kelemahan. Sedangkan yang disebut kepandaian adalah
kamu tetap berupaya mencari rezqi dan sesuatu yang bermanfaat bagimu, baik
untuk agamamu maupun untuk duniamu. Nabi bersabda.

"Artinya : Seorang yang pandai adalah orang yang mengoreksi dirinya dan
beramal untuk bekal setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang
hanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan"

Sebagaiamana rezqi telah tertulis dan ditaqdirkan bersama sebab-sebabnya,
maka jodoh juga telah tertulis (beserta sebab-sebabnya). Masing-masing dari
suami istri telah tertulis untuk menjadi jodoh bagi yang lain. Bagi Allah
tidak rahasia lagi segala sesuatu, baik yang ada di bumi maupun di langit.

[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha
dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka
At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=325&bagian=0

SEGALA SESUATU TELAH DITENTUKAN DAN MANUSIA DIBERI PILIHAN

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Tentang Qadar ; apakah
pokok perbuatan telah di takdirkan, sementara manusia diberi kebebasan
memilih (punya kebebasan) cara pelaksanaannya ? Sebagai contoh apabila Allah
telah mentakdirkan seorang hamba untuk membangun masjid, maka dia pasti
membangun masjid, akan tetapi Dia (Allah) membiarkan akalnya untuk memilih
cara membangun. Begitu juga, apabila Allah telah mentakdirkan kema'syiatan,
maka manusia sudah barang tentu melakukannya, akan tetapi Dia membiarkan
akalnya untuk memilih cara melaksanakannya. Ringkasnya manusia itu diberi
kebebasan memilih cara melaksanakan sesuatu yang telah ditakdirkan
kepadanya. Apakah itu benar ?"

Jawaban
Masalah ini (Qadar) memang menjadi pusat perdebatan di kalangan umat manusia
sejak zaman dahulu. Oleh karena itu, dalam hal ini mereka dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu dua kelompok saling
kontroversial dan satu kelompok sebagai penengah.

Kelompok Pertama.
Memandang pada keumuman Qadar Allah, sehingga dia buta tentang kebebasan
memilih hamba. Dia mengatakan : "Sesungguhnya dia dipaksa dalam segala
perbuatannya dan tidak mempunyai kebebasan memilih jalannya sendiri. Maka
jatuhnya seseorang dari atap bersama angin dan sebagainya sama dengan turun
dari atap tersebut dengan tangga sesuai dengan pilihannya sendiri.

Kelompok Kedua.
Memandang bahwa seorang hamba melakukan dan meninggalkan sesuatu dengan
pilihannya sendiri, sehingga dia buta dari Qadar Allah. Dia mengatakan bahwa
seorang hamba bebas memilih semua perbuatannya dan tidak ada hubungannya
dengan Qadar Allah.

Kelompok Penengah.
Maka mereka melihat dua sebab. Mereka memandang pada keumuman Qadar Allah
dan sekaligus kebebasan memilih hamba-Nya. Maka mereka mengatakan :
"Sesungguhnya perbuatan hamba terjadi karena Qadar Allah dan dengan pilihan
hamba itu sendiri. Dia tentu tahu perbedaan antara jatuhnya seseorang dari
atap karena angin dan semisalnya dengan turun melalui tangga atas pilihannya
sendiri. Yang pertama adalah orang yang melakukannya diluar pilihannya dan
yang kedua dengan pilihannya sendiri. Masing-masing dari keduanya terjadi
karena Qadha' dan Qadar Allah yang tidak akan terjadi dalam kerajaan-Nya apa
yang tidak Dia kehendaki, akan tetapi sesuatu yang terjadi dengan pilihan
seorang berhubungan dengan taklif (pembebanan/hukum) dan dia tidak punya
alasan Qadar dalam melanggar apa yang telah dibebankan kepadanya, baik
berupa perintah maupun larangan. Karena dia melakukan sesuatu yang menyalahi
(hukum Allah) dan ketika melakukannya dia belum tahu apa yang ditakdirkan
kepadanya. Maka perlakuan tersebut menjadi sebab siksaan, baik di dunia
maupun di akhirat. Oleh karena itu, ketika dia dipaksa oleh seseorang untuk
melakukan sesuatu yang menyalahi (hukum Allah), maka tidak ada hukum dan
siksaan atas perbuatan tersebut karena keterpaksaannya, Apabila manusia
mengetahui bahwa melarikan diri dari api ke tempat yang lebih aman adalah
pilihannya sendiri dan bahwa kedatangan ke rumah bagus, luas dan layak
tinggal juga merupakan pilihannya, di sisi lain dia juga meyakini bahwa
melarikan diri dan kedatangan tersebut terjadi karena Qadha' dan Qadar
Allah. Sedangkan tetap tinggal (di rumah tersebut) sehingga ditelan api dan
ketelatannya untuk menempati rumah dapat dikatakan menyia-nyiakan kesempatan
yang berakibat penyesalan. Maka kenapa dia tidak memahami ini dalam hal
kecerobohannya dengan meninggalkan sebab-sebab yang bisa menyelamatkan
dirinya dari neraka akhirat dan menggiringnya untuk masuk jannah.?

Adapun gambaran bahwa ketika Allah telah mentakdirkan seorang hamba untuk
membangun masjid, maka dia pasti akan membangun masjid, akan tetapi Dia
(Allah) membiarkan akalnya dalam menentukan cara membangun, adalah gambaran
yang kurang tepat. Karena gambaran tersebut mengindikasikan bahwa cara
membangun adalah kebebasan akal dan tidak terkait dengan Qadar Allah di
dalamnya dan sumber pikiran (untuk membangun) semata-mata karena kekuasaan
Qadar dan tidak ada kaitannya pilihan (hamba) di dalamnya. Hal yang benar
adalah sumber pikiran membangun merupakan bagian dari pilihan manusia karena
dia tidak dipaksakan, sebagaimana dia tidak dipaksa untuk merenovasi
rumahnya atau membongkarnya, Akan tetapi munculnya pikiran tersebut,
sebenarnya telah ditakdirkan oleh Allah tanpa ia sadari, karena dia belum
tahu bahwa Allah telah mentakdirkan apapun kecuali setelah terjadinya,
karena Qadar itu rahasia dan tertutup yang tak dapat diketahui kecuali
melalui petunjuk Allah dalam bentuk wahyu atau kejadian nyata. Begitu juga
cara membangun tetap dalam Qadar Allah, karena Allah telah menetapkan segala
sesuatu, baik secara global maupun rinci dan tidak mungkin menusia bisa
memilih sesuatu yang tidak dikehendaki dan ditetapkan Allah, akan tetapi
bila seseorang memilih sesuatu dan melakukannnya maka dia baru tahu dengan
yakin bahwa hal tersebut telah ditetapkan Allah. Dengan demikian, manusia
diberi kebebasan memilih berbagai sebab nyata yang telah ditetapkan Allah
sebagai sebab terjadinya perbuatan dan ketika melakukannya manusia tidak
merasa dipaksa oleh siapapun. Akan tetapi, bila dia telah melakukan
perbuatan tersebut berdasarkan sebab-sebab yang telah dijadikan Allah
sebagai sebab, maka kita baru tahu dengan yakin bahwa Allah telah
menetapkannya (mentadkdirkan), baik secara global maupun rinci.

Demikian juga, kami bisa berbicara tentang perbuatan ma'siyat manusia,
dimana kamu mengatakan : "Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan kepadanya
perbuatan ma'siyat, sehingga dia pasti melakukannya. Akan tetapi Dia (Allah)
membiarkan (menyerahkan) kepada akalnya tentang cara pelaksanaannya".

Maka dalam hal ini, kami katakan sebagaimana yang telah kami sampaiakan
dalam hal pembangunan masjid di atas ; Sesungguhnya Qadar Allah kepadanya
untuk melakukan ma'siyat tidak berarti menghilangkan kebebasan (memilih)nya.
Karena ketika dia memilih perbuatan tersebut (ma'siyat) dia belum tahu apa
yang ditakdirkan Allah kepadanya, lalu dia melakukan perbuatan tersebut
sesuai dengan pilihannya dan tidak merasa dipaksa oleh siapapun. Akan tetapi
ketika dia telah melakukannya, maka kita baru mengetahui bahwa Allah telah
mentakdirkan perbuatan tersebut kepadanya. begitu juga, cara pelaksanaan
mas'iyat dan proses menuju ke sana yang terjadi dengan pilihan manusia tidak
berarti menghilangkan Qadar Allah. Karena Allah telah mentakdirkan segala
sesuatu, baik secara global maupun rinci dan telah menetapkan sebab-sebab
menuju ke sana dan seluruh perbuatan-Nya tidak terlepas dari Qadar-Nya dan
begitu juga perbuatan hamba-Nya, baik yang bersifat ikhtiyari (sesuai
pilihan) maupun idhthirari (terpaksa),

Allah berfirman.

"Artinya : Apakah kamu belum tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di
langit dan bumi, sesungguhnya hal itu telah ada dalam Kitab, sesungguhnya
itu bagi Allah sangat mudah" [Al-Hajj : 70]

Allah juga berfirman.

"Artinya : Begitu juga Aku telah menjadikan bagi setiap nabi musuh yang
berupa syetan-syetan dari bangsa Manusia dan Jin yang sebagian menyampaikan
kepada sebagian lain ucapan palsu. Dan apabila Rabb-mu menghendaki, maka
mereka tidak melakukannya (kebohongan). Maka tinggalkanlah mereka dan
kebohongannya" [Al-An'am : 12]

Allah juga berfirman.

"Artinya : Begitu juga Allah telah menghiasi kebanyakan orang-orang musyrik
dengan pembunuhan anak-anak mereka kepada teman-teman mereka untuk menarik
mereka dan meremangkan agama mereka. Apabila Allah menghendaki, maka mereka
tidak melakukannya. Maka tinggalkanlah mereka dan kebohongan mereka"
[Al-An'am : 137]

Dia juga berfirman.

"Artinya : Kalau Allah menghendaki, maka tidaklah saling membunuh
orang-orang setelah mereka setelah datang penjelasan kepada mereka. Akan
tetapi mereka saling berselisih, sehingga sebagian mereka ada yang beriman
dan sebagian ada yang kafir. Kalau Allah menghendaki, maka mereka tidak
saling membunuh" [Al-Baqarah : 253]

Setelah itu, maka sebaiknya seseorang tidak membicarakan dengan diri sendiri
atau dengan orang lain tentang persoalan seperti ini yang akan berakibat
gangguan dan menimbulkan prasangka adanya pertentangan antara Syari'ah
dengan Qadar. Karena hal itu bukanlah merupakan kebiasaan sahabat, padahal
mereka orang yang paling semangat untuk mengetahui berbagai kebenaran dan
lebih dekat dengan nara sumber dan pemecahan kesedihan. Disebutkan dalam
Shahihul Bukhari dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.

"Artinya : Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di
surga atau tempatnya di neraka" Kemudian (sahabat) bertanya : "Ya
Rasulullah, apakah kita tidak menyerah saja" (Dalam suatu riwayat disebutkan
:'Apakah kita tidak menyerah saja pada catatan kita dan meninggalkan amal).
Beliau menjawab : "Jangan, beramallah, setiap orang dipermudah (menuju
takdirnya)". (Dalam suatu riwayat disebutkan : "Beramallah, karena setiap
orang dipermudah menuju sesuatu yang telah diciptakan untuknya"). Orang yang
termasuk ahli kebahagian, maka dia dipermudah menuju perbuatan ahli
kebahagiaan. Adapun orang yang termasuk ahli celaka, maka dia dipermudah
menuju perbuatan ahli celaka". Kemudian beliau membaca ayat : "Adapun orang
yang memberi dan bertaqwa dan membenarkan kebaikan, maka Aku akan
mempermudahnya menuju kemudahan. Adapun orang yang bakhil dan menumpuk
kekayaan dan mebohongkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju
kesulitan".

Dari hadits di atas, jelaslah bahwa Nabi melarang sikap menyerah pada
catatan (takdir) dan meninggalkan beramal, karena tak ada peluang untuk
mengetahuinya dan beliau menyuruh hamba untuk berbuat semampu mungkin, yang
berupa amal. Beliau mengambil dalil dengan ayat yang menunjukkan bahwa orang
yang beramal shalih dan beriman, amal dia akan dipermudah menuju kemudahan.
Ini merupakan obat yang berharga dan mujarab, di mana seorang hamba akan
mendapatkan puncak kesejahteraan dan kebahagiaannya dengan mendorong untuk
beramal shalih yang dibangun di atas landasan iman dan dia akan bergembira
dengannya karena ia akan didekatkan dengan taufiq menuju kemudahan di dunia
dan akhirat.

Saya memohon kepada Allah agar memberikan taufiq kepada kita semua untuk
melakukan amal shalih dan mempermudah kita menuju kemudahan dan menajauhkan
kita dari kesulitan dan mengampuni dia akhirat dan dunia. Sesungguhnya Dia
Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha
dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka
At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=236&bagian=0


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke