Wa'alaykum salam wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Maha Suci Allaah Subhanahu wa Ta'aala yang telah memberikan kita
kesempatan untuk menuntut ilmu. Shalawat akan selalu tercurah kepada
Rasulullaah sallallaahu 'alayhi wa sallam. Salam kepada seluruh
saudaraku hingga akhir zaman. Semoga keselamatan bagi mereka yang
mengikuti petunjuk.

Mohon maaf saudaraku Abu Fawry jika aku tidak dapat memberikan jawaban
karena minimnya ilmu yang aku miliki. Namun aku akan berusaha untuk
membantu. Berikut aku tayangkan artikel yang berkenaan dengan puasa
bulan Rajab. Untuk lebih lanjutnya saudaraku Abu Fawry dapat masuk ke
http://salafidb.googlepages.com untuk mendownload program SalafiDB.
Semoga berkenan.

Aku berlindung kepada Allaah Azza wa Jalla dari kesalahan akibat
kebodohan dan kejahilanku, karena kebenaran hanya milik Allaah semata.

Wassalaamu'alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

-----------------------------------------
El Harun Affandy


Hadits-Hadits Palsu Tentang Keutamaan Shalat Dan Puasa Di Bulan Rajab

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://www.almanhaj.or.id/content/1523/slash/0

Apabila kita memperhatikan hari-hari, pekan-pekan, bulan-bulan,
sepanjang tahun serta malam dan siangnya, niscaya kita akan
mendapatkan bahwa Allah Yang Maha Bijaksana mengistimewakan sebagian
dari sebagian lainnya dengan keistimewaan dan keutamaan tertentu. Ada
bulan yang dipandang lebih utama dari bulan lainnya, misalnya bulan
Ramadhan dengan kewajiban puasa pada siangnya dan sunnah menambah
ibadah pada malamnya. Di antara bulan-bulan itu ada pula yang dipilih
sebagai bulan haram atau bulan yang dihormati, dan diharamkan
berperang pada bulan-bulan itu.

Allah juga mengkhususkan hari Jum'at dalam sepekan untuk berkumpul
shalat Jum'at dan mendengarkan khutbah yang berisi peringatan dan
nasehat.

Ibnul Qayyim menerangkan dalam kitabnya, Zaadul Ma'aad,[1] bahwa
Jum'at mempunyai lebih dari tiga puluh keutamaan, kendatipun demikian
Rasulullah r melarang mengkhususkan ibadah pada malam Jum'at atau
puasa pada hari Jum'at, sebagaimana sabda beliau r.

"Artinya : Dari Abu Hurairah t, dari Nabi r, beliau r bersabda:
Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum'at untuk beribadah dari
malam-malam yang lain dan jangan pula kalian mengkhususkan puasa pada
hari Jum'at dari hari-hari yang lainnya, kecuali bila bertepatan (hari
Jum'at itu) dengan puasa yang biasa kalian berpuasa padanya." [HR.
Muslim (no. 1144 (148)) dan Ibnu Hibban (no. 3603), lihat Silsilatul
Ahaadits ash-Shahihah (no. 980)]

Allah Yang Mahabijaksana telah mengutamakan sebagian waktu malam dan
siang dengan menjanjikan terkabulnya do'a dan terpenuhinya permintaan.
Demikian Allah mengutamakan tiga generasi pertama sesudah diutusnya
Nabi Muhammad r dan mereka dianggap sebagai generasi terbaik apabila
dibandingkan dengan generasi berikutnya sampai hari Kiamat. Ada
beberapa tempat dan masjid yang diutamakan oleh Allah dibandingkan
tempat dan masjid lainnya. Semua hal tersebut kita ketahui berdasarkan
hadits-hadits yang shahih dan contoh yang benar.

Adapun tentang bulan Rajab, keutamaannya dalam masalah shalat dan
puasa padanya dibanding dengan bulan-bulan yang lainnya, semua
haditsnya sangat lemah dan palsu. Oleh karena itu tidak boleh seorang
Muslim mengutamakan dan melakukan ibadah yang khusus pada bulan Rajab.

Di bawah ini akan saya berikan contoh hadits-hadits palsu tentang
keutamaan shalat dan puasa di bulan Rajab.

HADITS PERTAMA
"Artinya : Rajab bulan Allah, Sya'ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku?

Keterangan: HADITS INI ? MAUDHU?

Kata Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H): "Hadits ini maudhu?."
[Lihat Maudhu'atush Shaghani (I/61, no. 129)]

Hadits tersebut mempunyai matan yang panjang, lanjutan hadits itu ada lafazh:

"Artinya : Janganlah kalian lalai dari (beribadah) pada malam Jum'at
pertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat menamakannya
Raghaaib..."

Keterangan: HADITS INI MAUDHU?

Kata Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H): "Hadits ini diriwayatkan oleh
'Abdur Rahman bin Mandah dari Ibnu Jahdham, telah menceritakan kepada
kami 'Ali bin Muhammad bin Sa'id al-Bashry, telah menceritakan kepada
kami Khalaf bin 'Abdullah as-Shan'any, dari Humaid Ath-Thawil dari
Anas, secara marfu?. [Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha'if (no.
168-169)]

Kata Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H): "Hadits ini palsu dan yang
tertuduh memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh sebagai
pendusta. Aku telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata:
"Rawi-rawi hadits tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak
dikenal), aku sudah periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati
biografi hidup mereka." [Al-Maudhu'at (II/125), oleh Ibnul Jauzy]

Imam adz-Dzahaby berkata: " 'Ali bin 'Abdullah bin Jahdham az-Zahudi,
Abul Hasan Syaikhush Shuufiyyah pengarang kitab Bahjatul Asraar
dituduh memalsukan hadits."

Kata para ulama lainnya: "Dia dituduh membuat hadits palsu tentang
shalat ar-Raghaa'ib." [Periksa: Mizaanul I'tidal (III/142-143, no.
5879)]

HADITS KEDUA
"Artinya : Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti
keutamaan al-Qur'an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya'ban
seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan
seperti keutamaan Allah atas semua hamba."

Keterangan: HADITS INI MAUDHU?

Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalany: "Hadits ini palsu." [Lihat
al-Mashnu? fii Ma'rifatil Haditsil Maudhu? (no. 206, hal. 128), oleh
Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th. 1014 H)]

HADITS KETIGA:
"Artinya : Barangsiapa shalat Maghrib di malam pertama bulan Rajab,
kemudian shalat sesudahnya dua puluh raka'at, setiap raka'at membaca
al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu
ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian." Kami
berkata: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata:
'Allah akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta
diselamatkan dari adzab Qubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti
kilat tanpa dihisab, dan tidak disiksa.'"

Keterangan: HADITS MAUDHU?

Kata Ibnul Jauzi: "Hadits ini palsu dan kebanyakan rawi-rawinya adalah
majhul (tidak dikenal biografinya)." [Lihat al-Maudhu'at Ibnul Jauzy
(II/123), al-Fawaa'idul Majmu'ah fil Ahaadits Maudhu'at oleh
as-Syaukany (no. 144) dan Tanziihus Syari'ah al-Marfu'ah 'anil
Akhbaaris Syanii'ah al-Maudhu'at (II/89), oleh Abul Hasan 'Ali bin
Muhammad bin 'Araaq al-Kinani (wafat th. 963 H).]

HADITS KEEMPAT
"Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat
raka'at, di raka'at pertama baca 'ayat Kursiy? seratus kali dan di
raka'at kedua baca 'surat al-Ikhlas? seratus kali, maka dia tidak mati
hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan kepadanya
(sebelum ia mati)?

Keterangan: HADITS INI MAUDHU?

Kata Ibnul Jauzy: "Hadits ini palsu, dan rawi-rawinya majhul serta
seorang perawi yang bernama 'Utsman bin 'Atha? adalah perawi matruk
menurut para Ahli Hadits." [Al-Maudhu'at (II/123-124).]

Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalany, 'Utsman bin 'Atha? adalah
rawi yang lemah. [Lihat Taqriibut Tahdziib (I/663 no. 4518)]

HADITS KELIMA
"Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab (ganjarannya)
sama dengan berpuasa satu bulan."

Keterangan: HADITS INI SANGAT LEMAH

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh dari Abu Dzarr secara marfu?.

Dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama al-Furaat bin
as-Saa'ib, dia adalah seorang rawi yang matruk. [Lihat al-Fawaa-id
al-Majmu'ah (no. 290)]
Kata Imam an-Nasa'i: "Furaat bin as-Saa'ib Matrukul hadits." Dan kata
Imam al-Bukhari dalam Tarikhul Kabir: "Para Ahli Hadits
meninggalkannya, karena dia seorang rawi munkarul hadits, serta dia
termasuk rawi yang matruk kata Imam ad-Daraquthni." [Lihat adh-Dhu'afa
wa Matrukin oleh Imam an-Nasa'i (no. 512), al-Jarh wat Ta'dil
(VII/80), Mizaanul I'tidal (III/341) dan Lisaanul Mizaan (IV/430).]

HADITS KEENAM
"Artinya : Sesungguhnya di Surga ada sungai yang dinamakan 'Rajab?
airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa
yang puasa satu hari pada bulan Rajab maka Allah akan memberikan minum
kepadanya dari air sungai itu."

Keterangan: HADITS INI BATHIL

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailamy (I/2/281) dan al-Ashbahany di
dalam kitab at-Targhib (I-II/224) dari jalan Mansyur bin Yazid
al-Asadiy telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Imran, ia berkata:
"Aku mendengar Anas bin Malik berkata, ..."

Imam adz-Dzahaby berkata: "Mansyur bin Yazid al-Asadiy meriwayatkan
darinya, Muhammad al-Mughirah tentang keutamaan bulan Rajab. Mansyur
bin Yazid adalah rawi yang tidak dikenal dan khabar (hadits) ini
adalah bathil." [Lihat Mizaanul I'tidal (IV/ 189)]

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: "Musa bin 'Imraan
adalah majhul dan aku tidak mengenalnya." [Lihat Silsilah Ahaadits
adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah (no. 1898)]


HADITS KETUJUH.
"Artinya : Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, dituliskan
baginya (ganjaran) puasa satu bulan, barangsiapa berpuasa tujuh hari
pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api
Neraka, barangsiapa yang berpuasa delapan hari pada bulan Rajab, maka
Allah membukakan baginya delapan buah pintu dari pintu-pintu Surga.
Dan barang siapa puasa nishfu (setengah bulan) Rajab, maka Allah akan
menghisabnya dengan hisab yang mudah."

Keterangan: HADITS INI PALSU

Hadits ini termaktub dalam kitab al-Fawaa'idul Majmu'ah fil Ahaadits
al-Maudhu'ah (no. 288). Setelah membawakan hadits ini asy-Syaukani
berkata: "Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya, al-Laaliy
al-Mashnu'ah, ia berkata: 'Hadits ini diriwayatkan dari jalan Amr bin
al-Azhar dari Abaan dari Anas secara marfu?.'"

Dalam sanad hadits tersebut ada dua perawi yang sangat lemah:

[1]. 'Amr bin al-Azhar al-'Ataky.
Imam an-Nasa-i berkata: "Dia Matrukul Hadits." Sedangkan kata Imam
al-Bukhari: "Dia dituduh sebagai pendusta." Kata Imam Ahmad: "Dia
sering memalsukan hadits." [Periksa, adh-Dhu'afa wal Matrukin (no.
478) oleh Imam an-Nasa-i, Mizaanul I'tidal (III/245-246), al-Jarh wat
Ta'dil (VI/221) dan Lisaanul Mizaan (IV/353)]

[2]. Abaan bin Abi 'Ayyasy, seorang Tabi'in shaghiir.
Imam Ahmad dan an-Nasa-i berkata: "Dia Matrukul Hadits (ditinggalkan
haditsnya)." Kata Yahya bin Ma'in: "Dia matruk." Dan beliau pernah
berkata: "Dia rawi yang lemah." [Periksa: Adh Dhu'afa wal Matrukin
(no. 21), Mizaanul I'tidal (I/10), al-Jarh wat Ta'dil (II/295),
Taqriibut Tahdzib (I/51, no. 142)]

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Syaikh dari jalan Ibnu 'Ulwan
dari Abaan. Kata Imam as-Suyuthi: "Ibnu 'Ulwan adalah pemalsu hadits."
[Lihat al-Fawaaidul Majmu'ah (hal. 102, no. 288).

Sebenarnya masih banyak lagi hadits-hadits tentang keutamaan Rajab,
shalat Raghaa'ib dan puasa Rajab, akan tetapi karena semuanya sangat
lemah dan palsu, penulis mencukupkan tujuh hadits saja.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir
Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan
1425H/Oktober 2004M]
_________
Foote Note
[1]. Zaadul Ma'aad (I/375) cet. Muassasah ar-Risalah

Penjelasan Para Ulama Tentang Masalah Rajab

-Bagian Terkahir dari Dua Tulisan 2/2-

Yazid bin Abdul Qadir Jawas

PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG MASALAH RAJAB

[1]. Imam Ibnul Jauzy menerangkan bahwa hadits-hadits tentang Rajab,
Raghaa'ib adalah palsu dan rawi-rawi majhul. [Lihat al-Maudhu'at
(II/123-126)]

[2]. Kata Imam an-Nawawy:
"Shalat Raghaa-ib ini adalah satu bid'ah yang tercela, munkar dan
jelek." [Lihat as-Sunan wal Mubtada'at (hal. 140)]

Kemudian Syaikh Muhammad Abdus Salam Khilidhir, penulis kitab as-Sunan
wal Mubtada'at berkata: "Ketahuilah setiap hadits yang menerangkan
shalat di awal Rajab, pertengahan atau di akhir Rajab, semuanya tidak
bisa diterima dan tidak boleh diamalkan." [ Lihat as-Sunan wal
Mubtada'at (hal. 141)]

[3]. Kata Syaikh Muhammad Darwiisy al-Huut: "Tidak satupun hadits yang
sah tentang bulan Rajab sebagaimana kata Imam Ibnu Rajab." [Lihat
Asnal Mathaalib (hal. 157)]

[4]. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H): "Adapun
shalat Raghaa'ib, tidak ada asalnya (dari Nabi r), bahkan termasuk
bid'ah.... Atsar yang menyatakan (tentang shalat itu) dusta dan palsu
menurut kesepakatan para ulama dan tidak pernah sama sekali disebutkan
(dikerjakan) oleh seorang ulama Salaf dan para Imam..."

Selanjutnya beliau berkata lagi: "Shalat Raghaa'ib adalah BID'AH
menurut kesepakatan para Imam, tidak pernah Rasulullah r menyu-ruh
melaksanakan shalat itu, tidak pula disunnahkan oleh para khalifah
sesudah beliau r dan tidak pula seorang Imam pun yang menyunnahkan
shalat ini, seperti Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Abu
Hanifah, Imam ats-Tsaury, Imam al-Auzaiy, Imam Laits dan selain
mereka.

Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang itu adalah dusta menurut Ijma?
para Ahli Hadits. Demikian juga shalat malam pertama bulan Rajab,
malam Isra?, Alfiah nishfu Sya'ban, shalat Ahad, Senin dan shalat
hari-hari tertentu dalam satu pekan, meskipun disebutkan oleh sebagian
penulis, tapi tidak diragukan lagi oleh orang yang mengerti
hadits-hadits tentang hal tersebut, semuanya adalah hadits palsu dan
tidak ada seorang Imam pun (yang terkemuka) menyunnahkan shalat ini...
Wallahu a'lam." [Lihat majmu' Fataawa (XXIII/132, 134)]

[5]. Kata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah:
"Semua hadits tentang shalat Raghaa'ib pada malam Jum'at pertama di
bulan Rajab adalah dusta yang diada-adakan atas nama Rasulullah r. Dan
semua hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat pada beberapa
malamnya semuanya adalah dusta (palsu) yang diada-adakan." [Lihat
al-Manaarul Muniif fish Shahiih wadh Dha'iif (hal. 95-97, no. 167-172)
oleh Ibnul Qayyim, tahqiq: 'Abdul Fattah Abu Ghaddah]

[6]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan dalam kitabnya,
Tabyiinul 'Ajab bima Warada fii Fadhli Rajab:
"Tidak ada riwayat yang sah yang menerangkan tentang keutamaan bulan
Rajab dan tidak pula tentang puasa khusus di bulan Rajab, serta tidak
ada pula hadits yang shahih yang dapat dipegang sebagai hujjah tentang
shalat malam khusus di bulan Rajab."

[7]. Imam al-'Iraqy yang mengoreksi hadits-hadits yang terdapat dalam
kitab Ihya? 'Uluumuddin, menerangkan bahwa hadits tentang puasa dan
shalat Raghaa'ib adalah hadits maudhu? (palsu). [Lihat Ihya?
'Uluumuddin (I/202)]

[8]. Imam asy-Syaukani menukil perkataan 'Ali bin Ibra-him
al-'Aththaar, ia berkata dalam risalahnya: "Sesungguhnya riwayat
tentang keutamaan puasa Rajab, semuanya adalah palsu dan lemah, tidak
ada asalnya (dari Nabi r)." [Lihat al-Fawaa-idul Majmu'ah fil
Ahaaditsil Maudhu'ah (hal. 381)]

[9]. Syaikh Abdus Salam, penulis kitab as-Sunan wal Mubtada'at
menyatakan: "Bahwa membaca kisah tentang Isra? dan Mi'raj dan
merayakannya pada malam tang-gal dua puluh tujuh Rajab adalah BID'AH.
Berdzikir dan mengadakan peribadahan tertentu untuk merayakan Isra?
dan Mi'raj adalah BID'AH, do'a-do'a yang khusus dibaca pada bulan
Rajab dan Sya'ban semuanya tidak ada sumber (asal pengambilannya) dan
BID'AH, sekiranya yang demikian itu perbuatan baik, niscaya para
Salafush Shalih sudah melaksanakannya." [Lihat as-Sunan wal Mubtada'at
(hal. 143)]

[10]. Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baaz, ketua Dewan Buhuts
'Ilmiyyah, Fatwa, Da'wah dan Irsyad, Saudi Arabia, beliau berkata
dalam kitabnya, at-Tahdzir minal Bida? (hal. 8): "Rasulullah r dan
para Shahabatnya tidak pernah mengadakan upacara Isra? dan Mi'raj dan
tidak pula mengkhususkan suatu ibadah apapun pada malam tersebut. Jika
peringatan malam tersebut disyar'iatkan, pasti Rasulullah r telah
menjelaskan kepada ummat, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Jika
pernah dilakukan beliau r, pasti diketahui dan masyhur, dan ten-tunya
akan disampaikan oleh para Shahabat kepada kita...

Nabi Muhammad r adalah orang yang paling banyak memberi nasihat kepada
manusia, beliau telah menyampaikan risalah kerasulannya sebaik-baik
penyampaian dan telah menjalankan amanah Allah dengan sempurna.

Oleh karena itu, jika upacara peringatan malam Isra? dan Mi'raj dan
merayakan itu dari agama Allah, ten-tunya tidak akan dilupakan dan
disembunyikan oleh Rasulullah r, tetapi karena hal itu tidak ada, maka
jelaslah bahwa upacara tersebut bukan dari ajaran Islam sama sekali.
Allah telah menyempurnakan agama-Nya bagi ummat ini, mencukupkan
nikmat-Nya dan Allah mengingkari siapa saja yang berani mengada-adakan
sesuatu yang baru dalam agama, karena cara tersebut tidak dibenarkan
oleh Allah:

"Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan
telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam jadi
agama bagimu." [Al-Maa-idah: 3]

KHATIMAH

Orang yang mempunyai bashirah dan mau mendengarkan nasehat yang baik,
dia akan berusaha meninggalkan segala bentuk bid'ah, karena setiap
bid'ah adalah sesat, sebagaimana sabda Rasulullah r:

"Artinya : Tiap-tiap bid'ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan di Neraka."
[HSR. An-Nasa'i (III/189) dari Jabir t dalam Shahih Sunan an-Nasa'i
(I/346 no. 1487) dan Misykatul Mashaabih (I/51)]

Para ulama, ustadz, kyai yang masih membawakan hadits-hadits yang
lemah dan palsu, maka mereka digo-longkan sebagai pendusta.

Sebagaimana Rasulullah r bersabda:

Dari Samurah bin Jundub dari Nabi r, beliau r bersabda: "Barang-siapa
yang menceritakan satu hadits dariku, padahal dia tahu bahwa hadits
itu dusta, maka dia termasuk salah seorang dari dua pendusta." [HSR.
Ahmad (V/20), Muslim (I/7) dan Ibnu Majah (no. 39)]

MARAJI?
[1]. Shahih al-Bukhari.
[2]. Shahih Muslim.
[3]. Sunan an-Nasaa-i.
[4]. Sunan Ibni Majah.
[5]. Musnad Imam Ahmad.
[6]. Shahih Ibni Hibban.
[7]. Zaadul Ma'aad fii Hadyi Khairil 'Ibaad, oleh Syaikhul Islam Ibnu
Qayyim al-Jauziyyah, cet. Mu-assasah ar-Risalah, th. 1412 H.
[8]. Maudhu'atush Shaghani.
[9]. Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha'if, oleh Syaikhul Islam
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
[10]. Al-Maudhu'at, oleh Imam Ibnul Jauzy, cet. Daarul Fikr, th. 1403 H.
[11]. Mizaanul I'tidal, oleh Imam adz-Dzahaby, tahqiq: 'Ali Muhammad
al-Bajaawy, cet. Daarul Fikr.
[12]. Al-Mashnu? fii Ma'rifatil Haditsil Maudhu?, oleh Syaikh Ali
al-Qary al-Makky.
[13]. Al-Fawaa-idul Majmu'ah fil Ahaadits Maudhu'at oleh asy-Syaukany,
tahqiq: Syaikh 'Abdurrahman al-Ma'allimy, cet. Al-Maktab al-Islamy,
th. 1407 H.
[14]. Tanziihus Syari'ah al-Marfu'ah 'anil Akhbaaris Syanii'ah
al-Maudhu'at, oleh Abul Hasan 'Ali bin Muhammad bin 'Araaq al-Kinani.
[15]. Taqriibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqa-lany,
cet. Daarul Kutub al-'Ilmiyyah.
[16]. Adh-Dhu'afa wa Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i.
[17]. At-Taghib wat Tarhib, oleh Imam al-Mundziri.
[18]. Silsilah Ahaadits adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah, oleh Imam Muhammad
Nashiruddin al-Albany.
[19]. Al-Laali al-Mashnu'ah, oleh al-Hafizh as-Suyuthy.
[20]. Adh-Dhu'afa wal Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i.
[21]. Al-Jarhu wat Ta'dil, oleh Imam Ibnu Abi Hatim ar-Razy.
[22]. As-Sunan wal Mubtada'at, oleh Muhammad Abdus Salam Khilidhir.
[23]. Asnal Mathaalib fii Ahaadits Mukhtalifatil Maraatib, oleh
Muhammad Darwisy al-Huut.
[24]. majmu' Fataawa, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[25]. Al-Manaarul Muniif fis Shahih wadh Dha'if, oleh Syaikhul Islam
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
[26]. Tabyiinul 'Ajab bimaa Warada fiii Fadhli Rajab, oleh al-Hafizh
Ibnu Hajar al-'Asqalany.
[27]. Ihya? 'Uluumuddin, oleh Imam al-Ghazzaly.
[28]. At-Tahdziir minal Bida?, oleh Imam 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baaz.
[29]. Misykaatul Mashaabih, oleh Imam at-Tibrizy, takhrij: Imam
Muhammad Nashiruddin al-Albany.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir
Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan
1425H/Oktober 2004M]


Kategori: Ar-Rasaa-il
Sumber: http://www.almanhaj.or.id
Tanggal: Selasa, 9 Agustus 2005 07:26:52 WIB


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke