Seruan Jahiliyah
Imam al Bukhari rahimahullaH membuat suatu bab dalam kitab Shahih-nya yaitu
bab maa yunHaa min dawatil jaaHiliyyah (bab apa yang dilarang dari seruan
jahiliyah), kemudian beliau membawakan hadits berikut ini (hadits no. 3518),
Dari Jabir radhiyallaHu anHu, dia berkata,
Kami berperang bersama Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam, dan orang-orang
dari kalangan Muhajirin telah berkerumun padanya hingga menjadi banyak.
Diantara kaum Muhajirin terdapat seorang laki-laki yang ahli bermain senjata,
lalu ia memukul (pantat) seorang laki-laki Anshar.
Maka laki-laki Anshar tersebut sangat marah hingga mereka saling meminta
bantuan. Laki-laki Anshar berkata, Wahai kaum Anshar. Sementara laki-laki
Muhajirin berkata, Wahai kaum Muhajirin. Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam
berkata, Apa urusan seruan-seruan jahiliyah ini ?, kemudian beliau berkata,
Apa urusan mereka ?.
Maka dikabarkan kepadanya tentang perbuatan laki-laki Muhajirin yang memukul
pantat laki-laki Anshar. Maka beliau ShallallaHu alaiHi wa sallam berkata,
DauuHaa fainnaHaa khabiitsatun (Tinggalkanlah ia-seruan itu-, karena
sesungguhnya ia adalah sesuatu yang buruk)
Imam Ibnu Hajar al Asqalani mengatakan tentang hadits di atas, Semboyan
jahiliyah (Seruan jahiliyah) adalah seruan untuk meminta pertolongan saat ingin
mengadakan peperangan. Mereka biasa mengatakan, Wahai keluarga fulan, maka
mereka pun berkumpul dan memberi pertolongan kepada orang yang memanggil,
meskipun ia berada di pihak yang salah. Maka Islam datang melarang perbuatan
itu (Fathul Baari Jilid 18, hal. 69)
Namun demikian yang dilarang bukanlah seruan untuk meminta pertolongannya,
namun seruan kepada kelompoknya atau golongannya-lah yang dilarang, sebagaimana
perkataan Imam Ibnu Hajar rahimahullaH, Berdasarkan keterangan ini diketahui
bahwa meminta pertolongan bukanlah hal yang diharamkan, yang diharamkan adalah
akibatnya, yaitu berupa semboyan-semboyan jahiliyah (seruan-seruan jahiliyah)
(Fathul Baari Jilid 18, hal. 69-70)
Sumber Bacaan :
Fathul Baari Jilid 18, Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Pustaka Azzam, Jakarta,
Cetakan Pertama, September 2006.
Tarjamah Shahih Bukhari Jilid 4, Achmad Sunarto dkk, CV asy Syifa, Semarang,
Cetakan Pertama, Maret 1993.
Mudah-mudahan dapat Bermanfaat.
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar" (QS. An Nisaa' : 48)
Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jibril
berkata kepadaku, 'Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam
keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk
surga'" (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]
---------------------------------
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.