MEMANJANGKAN KHUTBAH DAN MEMENDEKKAN SHALAT

Oleh
Wahid bin ‘Abdis Salam Baali.
http://www.almanhaj.or.id/content/2195/slash/0

Sebagian khatib ada yang memanjangkan khutbahnya sampai terasa membosankan 
sehingga bagian terakhir lupa pada bagian awalnya. Dan dengan demikian, 
akhirnya dia memendekkan shalat. Padahal jika melakukan sebaliknya, maka hal 
itu telah sesuai dengan Sunnah Nabi.

Muslim telah meriwayatkan:

Úóäú æóÇÕöáö Èúäö ÍóíøóÇäó ÞóÇáó: ÞóÇáó ÃóÈõæ æóÇÆöáò: ÎóØóÈóäóÇ ÚóãøóÇÑñ 
ÝóÃóæúÌóÒó æóÃóÈúáóÛó ÝóáóãøóÇ äóÒóáó ÞõáúäóÇ íóÇ ÃóÈóÇ ÇáúíóÞúÙóÇäö áóÞóÏú 
ÃóÈúáóÛúÊó æóÃóæúÌóÒúÊó Ýóáóæú ßõäúÊó ÊóäóÝøóÓúÊó ÝóÞóÇáó: Åöäøöí ÓóãöÚúÊõ 
ÑóÓõÜæáó Çááåö J íóÞõæáõ Åöäøó Øõæáó ÕóáÇóÉö ÇáÑøóÌõáö æóÞöÕóÜÑó ÎõØúÈóÊöåö 
ãóÆöäøóÉñ ãöäú ÝöÞúåöåö ÝóÃóØöíáõæÇ ÇáÕøóáÇóÉó æóÇÞúÕõÑõæÇ ÇáúÎõØúÈóÉó 
æóÅöäøó ãöäó ÇáúÈóíóÇäö áóÓöÍúÑðÇ.

“Dari Washil bin Hayyan, dia berkata, Abu Wa’il berkata, ‘Ammar pernah 
memberi khutbah kepada kami dengan singkat dan padat isinya. Dan ketika 
turun, kami katakan kepadanya, ‘Wahai Abu Yaqzhan, sesungguhnya engkau telah 
menyampaikan dan menyingkat khutbah, kalau saja engkau memanjangkannya.’”

Maka dia menjawab, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan 
pendek khutbahnya menjadi ciri pemahaman yang baik dalam agama. Oleh karena 
itu, perpanjanglah shalat dan perpendeklah khutbah, dan sesungguhnya di 
antara bagian dari penjelasan itu mengandung daya tarik.” [1]

Dan dalam riwayat Ahmad disebutkan.

ÎóØóÈóäóÇ ÚóãøóÇÑõ Èúäö íóÇÓöÑò ÝóÊóÌóæøóÒó Ýöí ÎõØúÈóÊöåö ÝóÞóÇáó áóåõ 
ÑóÌõáñ ãöäú ÞõÑóíúÔò: áóÞóÏú ÞõáúÊó ÞóæúáÇð ÔöÝóÇÁð Ýóáóæú Ãóäøóßó ÃóØóáúÊó 
ÝóÞóÇáó: Åöäøó ÑóÓõæáó Çááåö J äóåóì Ãóäú äõØöíáó ÇáúÎõØúÈóÉó.

‘Ammar bin Yasir pernah memberi khutbah kepada kami, lalu dia 
menyampaikannya secara singkat, maka ada seseorang dari kaum Quraisy yang 
berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau telah menyampaikan ungkapan yang 
singkat lagi padat, kalau saja engkau memanjangkannya.”

Lalu dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
telah melarang kami untuk memanjangkan khutbah.” [2]

An-Nawawi rahimahullahu mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits di atas 
adalah bahwa shalat yang lebih dipanjangkan daripada khutbah, bukan panjang 
yang dapat menyusahkan para makmum.” [3]

KHATIB TIDAK TERPENGARUH OLEH KHUTBAHNYA PADA SAAT MENYAMPAIKAN KHUTBAH
Sebagian khatib ada yang menyampaikan khutbahnya dengan sangat lambat 
sehingga suaranya pun tidak terdengar keras serta tidak terpengaruh oleh apa 
yang disampaikannya, tidak juga bersemangat dalam menyampaikannya. Semuanya 
itu bertentangan dengan petunjuk Muhammad, sebaik-baik hamba Shallallahu 
‘alaihi wa sallam.

Telah diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahiihnya:

Úóäú ÌóÇÈöÑö Èúäö ÚóÈúÏö Çááåö z ÞóÇáó ßóÇäó ÑóÓõæáõ Çááåö J ÅöÐóÇ ÎóØóÈó 
ÇÍúãóÑøóÊú ÚóíúäóÇåõ æóÚóáÇó ÕóæúÊõåõ æóÇÔúÊóÏøó ÛóÖóÈõåõ.

"Dari Jabir bin ‘Abdullah z, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam terbiasa dalam berkhutbah dengan keadaan kedua mata beliau tampak 
merah, suaranya sangat lantang, dan amarah-nya memuncak…” [4]

KHATIB MEMEGANG PEDANG ATAU TONGKAT
Di antara khatib ada juga yang bersandar pada pedang atau tongkat saat 
menyampaikan khutbah Jum’at dengan anggapan bahwa hal tersebut me-rupakan 
Sunnah, atau bahwa Islam itu tersebar dengan menggunakan pedang. Secara 
keseluruhan hal tersebut adalah salah.

Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
tidak pernah mengambil pedang atau yang lain-nya, hanya saja beliau 
bersandar pada busur atau tongkat sebelum beliau mempunyai mimbar.” [5]

KHATIB MENYAMPAIKAN HADITS-HADITS DHA’IF (LEMAH) DAN MAUDHU’ (PALSU)
Sebagian khatib ada yang tidak bisa membedakan hadits shahih dan hadits 
dha’if. Dia mengira semua hadits yang didapatkannya tertulis di dalam kitab 
yang boleh untuk disampaikan atau dijadikan landasan. Dan ini jelas salah. 
Sebab, terdapat banyak hadits-hadits dusta yang dipalsukan atas nama Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, seorang khatib harus 
berhati-hati agar tidak termasuk orang-orang yang berbohong atas Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau telah bersabda seperti yang 
diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim:

ãóäú ßóÐóÈó Úóáóíøó ãõÊóÚóãøöÏðÇ ÝóáúíóÊóÈóæøóÃú ãóÞúÚóÏóåõ ãöäó ÇáäøóÇÑö.

“Barangsiapa berdusta atas diriku dengan sengaja, maka hendaklah dia 
bersiap-siap menempati tempat duduknya di Neraka.” [6]

Menyebarluaskan hadits-hadits dha’if dan maudhu’ merupakan upaya 
menyebarluaskan bid’ah dan khurafat di kalangan masyarakat, karenanya aku 
nasihatkan kepada saudara-saudaraku para khatib melalui beberapa hal berikut 
ini:

Pertama: Pelajarilah beberapa buku yang menjelaskan hadits-hadits dha’if 
agar dia berhati-hati terhadapnya sekaligus memperingatkan orang-orang agar 
tidak menjalankannya. Di antara buku-buku tersebut adalah sebagai berikut.

[a]. Al-Fawaa-id al-Majmuu’ah fil Ahaadiits al-Baathilah wal Maudhuu’ah, 
karya asy-Syaukani.
[b]. Dha’iiful Jaami’, karya al-Albani.
[c]. Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah wal Maudhuu-’ah, karya al-Albani.
[d]. Mausuu’ah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah, karya Syaikh Ali al-Halabi.
[e]. Tamyiizuth Thayyib minal Khabiits fiimaa Yaduuru ‘alaa Alsinatin Naas 
minal Hadiits, karya Ibnu ad-Daibi’ asy-Syaibani.
[f]. Al-Jiddul Hatsiits fii Bayaani maa Laisa bi Hadiits, Ahmad bin ‘Abdul 
Kariim al-Gazi.
[g]. Al-Kasyaful Ilahii ‘an Syadiid adh-Dha’f wal Waahii, Muhammad bin 
Muhammad al-Husaini as-Sandarusi.

Kedua: Gigih untuk menelaah naskah-naskah yang telah ditahqiq (diteliti) 
dari buku-buku yang dijadikan sandaran dalam memberikan khutbah, karena hal 
itu akan dapat membantu membedakan yang shahih dari yang dha’if.
Ketiga, mempersiapkan khutbah dengan sebaik-baiknya, menghafal hadits-hadits 
yang akan dijadikan landasan di dalam khutbahnya sekaligus menyebutkan 
sumber-sumbernya.

KETIDAKTAHUAN BANYAK KHATIB TERHADAP KAIDAH-KAIDAH BA-HASA ARAB
Sekarang ini kita melihat adanya kelemahan yang bersifat umum mengenai 
bahasa Arab, baik dalam tatanan individu maupun umat secara keseluruhan. 
Sebab, sedikit sekali orang yang mau memberi perhatian terhadap pelajaran 
bahasa Arab serta menggunakannya dalam perbincangan secara baik.

Dan ini merupakan program terencana dari musuh-musuh Islam untuk menjauhkan 
umat dari bahasa dan peninggalan serta keislamannya.

Bertolak dari hal tersebut, para khatib, da’i, dan ulama secara khusus harus 
benar-benar mem-beri perhatian terhadap pelajaran bahasa Arab agar mereka 
bisa memahami nash-nash syari’at dengan baik dan agar mereka bisa 
menyampai-kan berbagai informasi dan hukum-hukum ke-pada kaum muslimin 
melalui bahasa Arab yang shahih. Dan cukup bagi seorang khatib misalnya 
mempelajari satu buku saja tentang kaidah bahasa seperti, Syudzuur 
adz-Dzahab, atau kaidah-kaidah dasar, dan berbagai macam buku bahasa yang 
mudah untuk memperbaiki bahasanya.

KHATIB MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT BERDO’A [7]
Sebagian khatib ada yang mengangkat kedua tangannya di atas mimbar pada saat 
berdo’a. Dan ini jelas salah, karena yang benar adalah tidak mengangkat 
kedua tangan. Dan jika harus meng-angkat, maka hendaklah dia mengangkat jari 
telunjuk saja.

Telah diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahiihnya bahwa ‘Ammarah bin 
Ruwaibah Radhiyallahu ‘anhu pernah melihat Bisyir bin Marwan di atas mimbar 
tengah mengangkat kedua tangannya, maka dia berkata, “Semoga Allah 
memperburuk kedua tangan ini, karena sesungguhnya aku pernah menyaksikan 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih berdo’a dengan 
mengisyaratkan tangannya seperti ini. Dan dia menunjukkan jari telunjuknya.” 
[8]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dimakruhkan bagi imam untuk 
mengangkat kedua tangannya saat berdo’a dalam khutbah, karena Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan jari telunjuknya jika 
berdo’a. Sedangkan di dalam do’a Istisqa’ (minta hujan), maka beliau 
mengangkat kedua tangannya ketika beliau memohon hujan dari atas mimbar.” 
[9]

Di dalam kitab, al-Muharrar dia mengatakan, “Mengangkat kedua tangan saat 
berdo’a di atas mimbar oleh khatib adalah bid’ah, sesuai dengan madzhab 
Maliki dan Syafi’i.” [10]

MENGANGKAT KEDUA TANGAN YANG DILAKUKAN OLEH JAMA’AH SAAT KHATIB BERDO’A
Sebagian kaum muslimin ada yang mengangkat tangan mereka saat khatib mulai 
memanjatkan do’a di atas mimbar. Dan ini jelas sebagai kesalahan. Dan yang 
benar adalah tidak mengangkat kedua tangan pada saat itu.

Ibnu ‘Abidin rahimahullahu mengatakan, al-Baqqaliyyu mengatakan, “Jika 
seorang khatib mulai berdo’a, maka tidak diperbolehkan bagi jama’ah untuk 
mengangkat kedua tangannya.” [11]

[Disalin dari kitab kitab al-Kalimaatun Naafi’ah fil Akhthaa' asy-Syaai’ah, 
Bab “75 Khatha'an fii Shalaatil Jumu’ah.” Edisi Indonesia 75 Kesalahan 
Seputar Hari dan Shalat Jum’at, Karya Wahid bin ‘Abdis Salam Baali. Penerbit 
Pustaka Ibnu Katsir]
__________
Foote Note
[1]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 869).
[2]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 18410).
[3]. Syarh Muslim Kitab al-Jumu’ah, bab Takhfiifish Shalaah wal Khutbah.
[4]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 867).
[5]. Zaadul Ma’aad (I/429).
[6]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 110) dan Muslim (no. 3).
[7]. Al-Baa’its, karya Abu Syamah (no. 263), Haasyiyah Ibnu ‘Abidin (I/768), 
Badzlul Majhuud (VI/105), al-Amr bil Itbaa’ (no. 247), serta Ishlaahul 
Masaajid (no. 49).
[8]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 874).
[9]. Al-Ikhtiyaaraat al-Fiqhiyyah (no. 80).
[10]. Dinukil dari al-Furuu’, karya Ibnu Muflih, bab Shalaatil Jumu’ah, 
fashl maa yusannu lil khutbah. Dan penulis kitab al-Muharrar ini adalah 
Majduddin Ibnu Taimiyyah, kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang cukup 
ternama.
[11]. Haasyiyah Ibnu ‘Abidin, bab al-Jumu’ah at-Tasbiih wa Nah-wuhu. Dan 
lihat pula kitab al-Qaulul Mubiin (no. 380), serta al-Ajwibatun Naafi’ah 
(no. 73).

_________________________________________________________________
Call friends with PC-to-PC calling – FREE  
http://get.live.com/messenger/overview



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke