Wa'alaykumus salaam warahmatullaHi wabarakatuh
Tahlilan yang seperti Ibu sebutkan merupakan sesuatu yang baru dalam dinul
Islam dan perbuatan tersebut dibenci oleh para Sahabat dan Imam. Saya kutipkan
ya Bu perkataan mereka,
Dari Jabir bin Abdullah Al Bajalii, ia berkata, Kami (para sahabat
Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam) menganggap bahwa berkumpul kumpul
di tempat ahli mayit dan membuat makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari
bagian meratap (niyahah) (HR. Ibnu Majah no. 1612 dan ini adalah lafazhnya
serta Imam Ahmad dalam Musnadnya 2/204)
Imam asy Syafi'i rahimahullaH mengatakan,
Aku benci al matam yaitu berkumpul kumpul di rumah ahli mayit meskipun
tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui
kesedihan (al Umm I/318)
Al Imam an Nawawi rahimahullah di kitabnya al Majmu Syarah Muhadzdzab
(5/319-320) telah menjelaskan tentang bidahnya berkumpul-kumpul dan
makan-makan di rumah ahli mayit dengan membawakan perkatan penulis Kitab asy
Syaamil dan ulama yang lain serta beliau menyetujuinya dengan hadits Jarir yang
beliau tegaskan sanadnya shahih.
Lalu berkaitan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang sering kali melakukan
tahlilan, maka kita wajib mengingatkan saudara-saudara kita yang sering
melakukannya dan tentu saja dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Atau
minimal kita menolak perbuatan tersebut di dalam hati kita jika kita tidak
mempunyai kemampuan untuk menasehatinya.
Untuk pertanyaan Ibu yang terakhir, jika tidak mengetahui suatu hukum tentang
suatu amalan yang mana kita dilarang melakukannya, maka hal tersebut tidak
mengapa.
Semoga sedikit penjelasan ini dapat bermanfaat.
Abu Hasan
SUHARNI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saya mohon bantuan rekan-rekan mengenai acara tahlilan yg biasa kita kenal 7
harian,40 harian
sampe 1000 harian dari orang yg telah meninggal.
1. Apakah dalam islam itu ada atau di benarkan acara tersebut kita lakukan
2. Dan kalau hal itu merupakan bid'ah sedangkan acara itu sudah menjadi
hal yang biasa dilakukan
di masyarakat kita ini. lalu bagaimana cara menyikapinya setidaknya
menolak secara baik -baik.
3. jika sebelumnya tidak tahu akan hukumnya dan pernah mengadakan acara
tersebut apakah ada
dampaknya kepada si almarhum /almarhumah.
saya yang miskin ilmu ini sangat mengharapkan bantuan dari rekan-rekan agar
saya dapat menjalankan
semua ini sesuai dengan ilmunya
terimakasih
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar" (QS. An Nisaa' : 48)
Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jibril
berkata kepadaku, 'Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam
keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk
surga'" (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.