ADAKAH NASH DARI AL-QURAN DAN AS-SUNNAH YANG MENUJUKAN KEBOLEHAN BERBILANGNYA JAMAAH DAN PARTAI
Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin http://www.almanhaj.or.id/content/2164/slash/0 Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah ada nash-nash dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan kebolehan berbilangnya jamaah-jamaah Islamiyah ? Jawaban Tidak ada di dalam Al-Quran dan tidak pula dalam As-Sunnah yang membolehkan berbilangnya jamaah-jamaah dan partai-partai. Bahkan sesungguhnya yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah adalah sesuatu yang mencela hal tersebut. Allah Subhanahu wa Taala berfirman. Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabnya terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat [Al-Anam : 159] Dan Allah Subhanahu wa Taala berfirman. Artinya : Yaitu orang-orang yang memecah belah agamanya mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka [Ar-Rum : 32] Dan tidak diragukan lagi bahwa partai-partai ini menafikan apa yang diperintahkan Allah, bahkan (menyelisihi) apa yang dianjurkan Allah Subhanahu wa Taala dalam firmanNya. Artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku [Al-Muminun : 52] Apalagi ketika kita melihat kepada akibat-akibat perpecahan dan berpartai-partai ini, setiap partai dan setiap kelompok menuduh yang lain dengan menjelek-jelekan, mencela dan menuduh fasik, dan boleh jadi akan menuduh dengan sesuatu yang lebih besar dari itu. Oleh karena itu maka saya melihat bahwa berkelompok-kleompok ini adalah suatu kesalahan. Dan perkataan sebagian orang bahwa tidak mungkin berdakwah akan kuat dan tersebar kecuali jika berada di bawah sebuah partai ? Maka kami katakan : Perkataan ini tidaklah benar, bahkan dakwah itu akan semakin kuat dan tersebar jika seseorang semakin kuat berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, dan semakin ittiba (mengikuti) jejak-jejak Nabi Shallallahu alaihi wa sallam serta para Khulafa beliau yang Rasyidun. MUNGKINKAH PERSATUAN (AKAN TERWUJUD) BERSAMAAN DENGAN BERKELOMPOK-KELOMPOK DAN BERGOLONG-GOLONGNYA (UMAT) ? DAN MANHAJ YANG MANA YANG (UMAT) HARUS BERSATU PADANYA? Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan http://www.almanhaj.or.id/content/1836/slash/0 Pertanyaan Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Mungkinkah persatuan (akan terwujud) bersamaan dengan berkelompok-kelompok dan bergolong-golongan (umat)? Dan manhaj yang mana yang (umat) harus bersatu padanya ? Jawaban Persatuan tidak mungkin (akan terjadi) bersamaan dengan berkelompok dan bergolong-golongnya (umat). Karena sesungguhnya golongan-golongan itu saling berlawanan antara satu dengan yang lainnya, sedangkan mengumpulkan dua hal yang berlawanan adalah hal yang mustahil. Allah Ta'ala berfirman: "Artinya : Berpeganglah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai." [Ali 'Imran: 103] Kemudian Allah Ta'ala melarang perpecahan dan memerintahkan untuk bersatu dalam satu golongan, yaitu 'Hizbullah' (golongan Allah). "Artinya : Ketahuilah sesungguhnya golongan Allah itu adalah yang beruntung." [Al-Mujadilah: 22] Dan firman-Nya: "Artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu." [Al-Mukminun: 52] Golongan-golongan, kelompok-kelompok dan jama'ah-jama'ah yang bermacam-macam bukanlah dari Islam sedikitpun. Allah Ta'ala berfirman: "Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak sedikit pun kamu termasuk dari mereka." [Al-An'aam: 159] Dan setelah Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam memberitahukan tentang perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga golongan, beliau shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Artinya : Semuanya di neraka kecuali satu." Maka para shahabat radhiyallahu 'anhum bertanya kepada beliau, "Siapa yang satu ini, ya Rasulullah?" Beliau menjawab: "Artinya : (Yaitu) orang yang menempuh jalan seperti yang telah aku tempuh dan para shahabatku hari ini." [Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi: 2641, Al-Hakim 1/29, Al-Laalikai I/100, Asy-Syariah: 26 tahqiq Al-Faqi, As-Sunnah oleh Al-Marqaz: 23] Maka tidak ada firqah najiyah (kelompok yang selamat), kecuali yang satu ini, yang manhajnya ialah: Apa yang telah ditempuh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya. Inilah manhaj yang (umat) harus bergabung/bersatu dengannya. Adapun manhaj-manhaj yang menyelisihinya, maka akan memecah belah dan tidak akan menyatukan (umat) ini. Allah Ta'ala berfirman: "Artinya : Dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu)." [Al-Baqarah: 137] Imam Malik berkata: "Akhir umat ini tidak akan bisa diperbaiki, kecuali dengan apa yang telah mampu memperbaiki (generasi) awalnya (sunnah -pent)." Allah Ta'ala berfirman: "Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islah) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga...." [At-Taubah: 100] Maka tidak ada (pilihan) lain bagi kita, kecuali bersatu di atas manhaj salaf ash-shalih. BERBILANGNYA JAMA'AH MERUPAKAN FENOMENA PENYAKIT Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin http://www.almanhaj.or.id/content/1475/slash/0 Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah berbilangnya jama'ah Islamiyah di lapangan (dakwah) mempunyai dampak negative atau ia justru merupakan fenomena yang baik ? Jawaban Berbilangnya jama'ah adalah merupakan fenomena yang tidak sehat dan bukan sebuah fenomena yang baik. Dan saya memandang adalah hendaknya umat Islam ini menjadi satu kelompok, yang menyandarkan loyalitas kepada Kitabullah dan Sunnah RasulNya. Dan dengan perkataan ini saya tidak bermaksud untuk memaksa manusia untuk bersatu dalam satu pendapat, karena hal ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Dan khilaf dalam pendapat tetap ada walaupun di zaman para sahabat Ridhwanullah Alaihim- , dan bahkan di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka para sahabat yang dilarang Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam. "Artinya : Janganlah salah seorang dari kalian mengerjakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah" Lalu keluar dari kota Madinah dan waktu shalat pun mendapati mereka sehingga mereka berbeda faham dalam memahami nash ini. Maka diantara mereka ada yang memandang untuk mengakhirkan shalat hingga mereka tiba di Bani Quraizhah walaupun waktunya telah keluar. Dan diantara mereka ada yang memandang untuk mengerjakan shalat pada waktunya walaupun belum tiba di Bani Quraizhah. Dan hal inipun sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam namun beliau tidak menyalahkan seorangpun dari mereka. Yang penting adalah bahwa khilaf dalam pendapat akan ada namun khilaf dalam arah (pemikiran)lah yang dikhawtirkan. Dengan arti bahwa setiap orang dari kita meyakini bahwa ia berada di atas manhaj yang menyelisihi manhaj saudaranya, dimana ia kemudian membicarakan dan mencela dan bahkan boleh jadi mengeluarkannya dari Islam ; karena ia tidak berada di atas metodenya. Inilah yang dikhawatirkan sebagaimana yang terjadi dari sebagian orang hari ini. Anda menemukan jika ia diselisihi oleh seseorang dalam pendapatnya dan boleh jadi pendapat yang benar bersama dengan orang yang menyelisihinya- maka ia akan menyerang dan mencelanya pada setiap kesempatan yang memungkinkannya untuk mencela dan menyerangnya. Ini tidak diragukan lagi menyelisihi jalan orang-orang yang beriman, sebab orang-orang beriman adalah bersaudara yang saling menyayangi walaupun mereka berbeda dalam pendapat. Bahkan sesungguhnya saya mengatakan : Perbedaan dalam pendapat jika didasari oleh dalil maka ia hakikatnya bukanlah ikhtilaf ; karena kedua orang yang berbeda tidak lain ingin mengamalkan dalil. Maka dalam kenyataannya, mereka bersepakat akan tetapi berbeda dalam memahami dalil. Perbedaan dalam pemahaman ini adalah perkara yang selalu ada pada bani Adam, dan tidak akan membawa mudharat dan tidak akan mengakibatkan perbedaan hati jika disertai niat yang baik. [Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq] _________________________________________________________________ Try it! Live Search: New search found. http://get.live.com/search/overview Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/mlbios.php/aturanmilis/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
