From: abu_zaid_02 <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, 10 November 2007 10:44:12

bagaimana cara membedakan antara hizbi atau bukan ?

abu zaid
=========
Menerusi pengalaman dan pelajaran yang saya dapat ialah, untuk mengenal hizbi 
atau bukan adalah cara mereka berakidah, kerana akidah adalah garisan 
sempadannya. Semoga dapat difaham.

Tambahan:
Silakan baca salah satu artikel dari almanhaj.or.id

BELENGGU-BELENGGU HIZBIYAH

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Atsari
http://www.almanhaj.or.id/content/786/slash/0
http://www.almanhaj.or.id/content/786/slash/1

Seorang Imam tsiqah, Ayub As-Sakhtiyaniy pernah berkata : "Jika engkau ingin 
mengerti kesalahan gurumu, maka duduklah engkau untuk belajar kepada orang 
lain" [1]

Justru karena inilah, maka kaum hizbiyun (aktifis fanatik terhadap golongan) 
melarang pengikut-pengikutnya untuk menimba ilmu dari orang-orang selain 
golongan atau simpatisannya. 

Kalaupun sikap mereka menjadi lunak, namun mereka akan memberikan kelonggaran 
dengan banyak syarat serta ikatan-ikatan yang njelimet, supaya akal-akal 
pikiran para pengikutnya tetap tertutup bila mendengar hal-hal yang 
bertentangan dengan jalan mereka atau mendengar bantahan terhadap bid'ah mereka.

Dengan cara ini, sesungguhnya mereka telah mengambil uswah kaum tarekat sufi 
dan mengambil qudwah pada khurafatnya hubungan antara seorang "syaikh (sufi) 
dengan pengikutnya". Manakala persyaratan seorang syaikh atas pengikutnya yang 
pernah di contohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang 
wajibnya taat melaksanakan "Baiat Islamiyyah yang menjadi keharusan ?" [2]

Imam As-Suyuthi rahimahullah [3] pernah di tanya tentang seorang sufi yang 
telah berba'iat kepada seorang syaikh, tetapi kemudian ia memilih syaikh lain 
untuk diba'iatnya : "Adakah kewajiban yang mengikat itu, bai'at yang pertama 
atau yang kedua..?.

Maka beliau -rahimahullah- menjawab : "Tidak ada yang mengikatnya, baik bai'at 
yang pertama [4] maupun bai'at yang kedua dan yang demikian itu tidak ada 
asal-usulnya. [5]

Semua ikatan-ikatan dan persyaratan-persyaratan itu adalah bathil, tidak ada 
asal-usulnya sama sekali dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah. "Setiap persyaratan 
yang tidak ada terdapat dalam kitabullah, maka persyaratan itu bathil, 
sekalipun berjumlah seratus persyaratan" [6]

Belengu-belengu Hizbiyah yang memprihatinkan di antaranya ialah :

"Sikap memperkecil arti pentingnya ilmu Syar'i"

Ilmu adalah sesuatu, sedangkan kalam adalah sesuatu yang lain. As-Salafushalih 
adalah ahli ilmu yang bermanfa'at, sedangkan "Al-Khalaf" adalah ahli kalam yang 
kalamnya berhamburan.

Ilmu salaf sedikit bilangannya, tapi berkah dan pekat, sedangkan ilmu kaum 
"khalaf", banyak jumlah kata-katanya tetapi sedikit faedahnya.

Umat Islam adalah umat ilmu dan amal, maka ilmunya adalah dalil, petunjuk dan 
akar. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

" Artinya : Dan katakanlah : "Wahai Rabbku, tambahkanlah padaku ilmu" [Thaha : 
114]

"Artinya : Dan tidaklah memahaminya melainkan orang-orang yang berilmu" 
[Al-Ankabut : 43]

"Artinya : Katakanlah : "Apakah sama orang yang berilmu dengan orang-orang yang 
tidak berilmu". [Az-Zummar : 9]

"Artinya : Allah mengangkat orang-orang yang beriman diantara kamu dan 
orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat". [Al-Mujadalah : 11].

Anda tidak bisa mengingkari adanya orang yang meremehkan persoalan mencari 
ilmu, dengan alasan : yang penting memahami realitas, da'wah ilallah (da'wah 
kepada Allah) dan bergerak menerjuni medan ..... tapi ingat, dengan apakah ia 
memahi realitas.... untuk maksud apakah ia berda'wah ...? dan dengan apakah ia 
bergerak...?

Suatu teori memang mempunyai kedudukan tersendiri... tetapi teori itu bukanlah 
ilmu. Pidato berapi-api terkadang memang membangkitkan... tetapi itu tidak 
membentuk bangunan. Dan daya khayal yang cepat memang mengagumkan... tetapi ia 
akan cepat pula hilang. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Atinya : Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, 
adapun yang memberi manfa'at kepada manusia, maka ia tetap di bumi". [Ar-Ra'du 
:17] [7]

Belengu-belengu (Hizbiyah) ini sebagaimana telah dijelaskan di muka, mempunyai 
tokoh-tokoh pendahulunya, dan alangkah buruknya tokoh pendahulu itu, yaitu kaum 
sufi.

Ibnul Jauzi dalam "Talbisu Iblis" [8] telah meriwayatkan tentang perkataan Abu 
Abdillah bin Khafif sebagai berikut :

"Bersibuk dirilah kamu mempelajari ilmu dan jangan terperdaya oleh omongan 
orang-orang sufi. Sesungguhnya aku dulu pernah menyembunyikan tintaku di saku 
bajuku, dan pernah menyembunyikan kertas dilipatan celanaku. Dulu aku pernah 
secara sembunyi-sembunyi pergi menuju ahlul ilmi, tetapi jika mereka (kaum sufi 
-pen) memergokiku, mereka akan menentangku[9], seraya berkata : "Kamu tidak 
akan beruntung".

Kemudian berkembanglah belengu semacam ini, hingga di zaman sekarang bentuk 
yang ditonjolkan dan dibuahkan oleh kelompok-kelompok hizbiyah menjadi beraneka 
ragam.

Diantara beberapa perkara yang paling berbahaya yang ditonjolkan oleh para 
penyeru hizbiyah ialah adanya istilah baru (seperti) : Ulama Harakah, Ulama 
Al-Waqi' (Ulama yang paham realitas) Mufakkir (pemikir), manusia haraki dan ... 
hingga mereka menghempaskan dan mengisolir umat ini dari para ulamanya yang 
hakiki yaitu Ulama Syari'ah.

Peristilahan ini mirip sekali dengan peristilahan kaum sufi, yaitu ada 'Alim 
terhadap Syari'at dan ada 'Alim terhadap Hakikat.

Kemiripan itu dilihat dari beberapa segi, diantaranya :

[a] Pengisolasian manusia dari para ulama syari'ah (ulama hakiki -pen).
[b] Klaim bahwa ada ilmu yang tidak bisa dicapai serta dipahami oleh para ulama 
syari'at.

Padahal, peristilahan baru tersebut hanyalah hasil rekaan para kaum haraki, 
perasaan- perasaan dan segala apa yang tercetus dari benak-benak mereka berupa 
teori-teori, gambaran-gambaran serta pandangan-pandangan tentang masa depan, 
yang menyebabkan akal pikiran para pengikutnya menjadi bingung, tanpa pernah 
bisa sampai memahaminya, hingga bagi mereka tidak ada jalan lain kecuali 
menerima.

Mereka (orang-orang hizbiyah) mengatakan : ada orang 'alim terhadap Harakah, 
dan ada orang 'alim terhadap Syari'ah.

Maka para ulama harakah bangkit menerjuni medan amal Islami, tetapi dengan 
menjauhkan para Ulama Syari'ah, seperti Al-'Alamah Abdul Aziz bin Baz, Syaikh 
Muhaddist Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih 
Al-Utsaimin, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i dan seluruh ulama syariah yang 
adil lainnya, dengan dalih bahwa para ulama tersebut tidak mengerti Realitas, 
dan alasan-alasan lain berupa syubhat yang mereka tanamkan kepada benak para 
pemuda.

Itulah kejahatan besar, memisahkan da'wah dari para ulamanya yang hakiki, ulama 
pembawa Al-Kitab was Sunnah. Mereka lenyapkan keagungan ilmu dan keagungan 
ulama pembawa syari'at. Mereka letakkan lingkaran-lingkaran syetan di atas 
harakah, di atas aktifis harakah dan di atas barang-barang dagangan (ilmu-ilmu 
bawaan) mereka yang terbentuk dari susunan angan-angan, perasaan dan 
teori-teori mereka.

Oleh karena itu jika anda katakan kepada mereka (bahwa) Al-'Alamah Bin Baz 
berkata : ........., maka mereka akan menjawab : "Dia tidak tahu Realitas". 
Juga jika anda katakan (bahwa) As-Syaikh Al Muhaddist Nashiruddin Al-Albani 
berkata : ......., mereka pun akan menjawab : "Dia tidak tahu Politik".

Sampai akhirnya terjadi bahwa apa yang disebut ulama harakah dan aktifis 
harakah itulah yang dinamakan tokoh-tokoh da'wah dan penanggung jawab 
pelaksananya. Sedangakan para ulama syari'ah hanya berfungsi sebagai pengikut 
yang tidak perlu didengar (kata-katanya).

Anda hampir-hampir tidak akan menemukan satu kelompok hizbi pun melainkan ia 
pasti telah menetapkan satu manhaj haraki tersendiri baginya. Dan hampir tidak 
ada satu masalahpun baik itu masalah i'tiqadiyah maupun masalah amaliyah, akan 
diputuskan sebelum masalah tersebut dinyatakan sejalan dengan "Realitas Haraki" 
yang dipaparkannya sesuai dengan alur pemikiran tentang masa depan. Akhirnya 
muncullah masalah-masalah tersebut ke permukaan dengan terpolesi hiasan 
angan-angan, sangkaan-sangkaan (zhan), dan gambaran-gambaran mereka belaka.

Selanjutnya seorang anggota hizbiyah yang telah mengental akan segera 
menyambutnya, kemudian melontarkannya dengan kekuatan dan tekanan ke dalam 
benak serta otak para pengikutnya.[10]

Celakalah orang yang sampai berani menuntut dalil atau memberikan kritik dengan 
ayat dan hadits, dalam upaya memulai hidup baru berdasarkan pemahaman 
salaf....., tak pelak ia dihadapan teman-temannya akan menjadi seperti seekor 
unta yang terserang borok.

[Disalin dari kitab Ad-Da'wah Ilallah Baina At-Tajammu' Al-Hizbi Wa Ta'awun 
As-Syar'i, Sub Judul Quyud Hizbiyah oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid 
Al-Halabi Al-Atsari, dan diketik ulang dari Majalah As-Sunnah Edisi 
07/1/1414-1993 diterjemahkan oleh Ahmaz Faiz]
_________
Foote Note
[1]. Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunannya (1/153
[2]. Al-Muntaqa An-Nafis min Tablis Iblis, hal 250. Di sana ada ta'liq sebagai 
berikut : "Persis seperti itulah, dengan segala bentuk dan bentukannya apa yang 
diperbuat oleh kaum Hizbiyun (aktifis golongan yang fanatik) pada abad sekarang 
ini berupa pengambilan ikrar, ikatan janji (bai'at-pen) dan lain-lain yang itu 
jelas-jelas merupakan hal batil
[3]. Di dalam kitab Al-Hawiy Lil Fatwa (1/253
[4]. Di dalam kitab Al-Minhah Al-Muhammadiyah Fi Bayan Al-Aqaid As-Salafiyyah 
Lis Syuqairi, terdapat penjelasan panjang lebar tentang penetapan-penetapan 
bid'ah dan bathilnya bai'at-bai'at semacam ini
[5]. Jadi pernyataan sebagian tentang apa yang menjadikan mereka terhimpun 
dalam sebuah tandzim hizbi bahwa sesungguhnya itu adalah : "Ikrar atau bai'at 
khusus dan lain-lain adalah hal-hal yang tidak ada asal-usulnya dan tidak ada 
benarnya sama sekali
[6]. Seperti telah shahih dari Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan 
Muslim dan lain-lain, sedang lafadz diatas adalah lafadz Ibnu Majah (2521) dari 
"Aisyah radhiyallu 'anha.
[7]. Al-Harakah Al-Islamiyah Al-Mu'ashirah hal : 16, Lis Syaikh 'A-idl Al-Qorny]
[8]. Dalam Al-Muntaqa An-Nafis Min Tablis Iblis, ada komentar sebagai berikut : 
Betapa persisnya hari ini dan hari kemarin, ternyata banyak dikalangan aktifis 
hizbiyah dewasa ini yang melakukan tindakan yang lebih fatal dari tindakan ini 
(kaum sufi) -naudzubillah-. sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah 
melakukan suatu kebaikan
[10]. Jadi mereka taqlid terahadap syaikh-syaikh mereka tanpa ber-itiba' kepada 
dalil atau yang semisalnya, maka mereka melaksanakan apa-apa yang diperintahkan 
oleh syaikhnya...... Hal ini dikatakan oleh Ibnul Jauzi dalam Tablis Iblis hal 
: 495


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/mlbios.php/aturanmilis/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke