KETAHUILAH HUKUM-HUKUM AGAMA-MU

Oleh
Majdi As-Sayyid Ibrahim
http://www.almanhaj.or.id/content/1858/slash/0

"Artinya : Dari Ummu Salamah, dia berkata.'Ummu Sulaim pernah datang kepada 
Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam seraya berkata. 'Wahai Rasulullah 
sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran. Lalu apakah seorang 
wanita itu harus mandi jika dia bermimpi ?. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa 
sallam menjawab.'Jika dia melihat air (mani)'. Lalu Ummu Salamah menutup 
wajahnya, dan berkata.'Wahai Rasulullah, apakah wanita itu juga bisa 
bermimpi .?.'Beliau menjawab.'Ya, bisa'. Maka sesuatu yang menyerupai 
dirinya adalah anaknya". [1]

Wahai Ukhti Muslimah !
Diantara kebaikan ke-Islaman seorang wanita adalah jika dia mengetahui 
agamanya. Maka Islam mewajibkan para wanita mencari ilmu sebagaimana yang 
diwajibkan terhadap kaum laki-laki. Perhatikanlah firman Allah ini.

"Artinya :Katakanlah. Adakah sama orang-orang yang mengetahui dan 
orang-orang yang tidak mengetahui.?".[Az-Zumar : 9]

Bahkan perhatikan pula firman Allah yang secara khusus ditujukan kepada 
Ummahatul-Mukminin, yang menganjurkan mereka agar mempelajari kandungan 
Al-Qur'an dan hadits Nabawi yang dibacakan dirumah-rumah mereka. Firman-Nya.

"Artinya :Dan, ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah 
dan hikmah".[Al-Ahzab : 34]

Karena perintah Allah inilah para wanita merasakan keutamaan ilmu. Maka 
mereka pun pergi menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menuntut 
suatu majlis bagi mereka dari beliau, agar di situ mereka bisa belajar.

Dari Abu Sa'id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. "Para wanita 
berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. 'Kaum laki-laki telah 
mengalahkan kami atas diri engkau. Maka buatlah bagi kami dari waktu 
engkau'. Maka beliau menjanjikan suatu hari kepada mereka, yang pada saat 
itu beliau akan menemui mereka dan memberi wasiat serta perintah kepada 
mereka. Di antara yang beliau katakan kepada mereka adalah :'Tidaklah ada di 
antara kamu sekalian seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, 
melainkan anak-anaknya itu menjadi penghalang dari neraka baginya'. Lalu ada 
seorang wanita yang bertanya. 'Bagaimana dengan dua anak ?' Maka beliau 
menjawab.'Begitu pula dua anak'.[2]

Begitulah Islam menyeru agar para wanita diajari dan diberi bimbingan 
tentang hal-hal yang harus mereka biasakan, untuk kebaikan di dunia dan 
akhirat.

Wahai Ukhti Muslimah !
Perhatikanlah di dalam wasiat Nabawi ini, bahwa Ummu Salamah datang untuk 
mempelajari apa-apa yang tidak diketahuinya, sehingga akhirnya dia bisa 
mengetahui secara komplit. Begitulah seharusnya yang dilakukan seorang 
wanita muslimah. Dia bisa bertanya tentang hukum-hukum agamanya. Karena yang 
tahu hukum-hukum tersebut diantara mereka hanya sedikit sekali. Marilah kita 
simak wasiat ini.

Wahai Ukhti Muslimah !
Perhatikanlah bagaimana adab Ummu Sulaim yang memulai ucapannya dengan 
berkata."Sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran". Maksudnya, 
tidak ada halangan untuk menjelaskan yang benar. Sehingga Allah membuat 
perumpamaan dengan seekor nyamuk dan yang serupa lainnya sebagaimana 
firman-Nya. "Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa 
nyamuk atau yang lebih rendah dari itu".[Al-Baqarah : 26]

Begitu pula Ummu Sulaim. Tidak ada halangan baginya untuk bertanya kepada 
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang apa-apa yang mestinya dia ketahui 
dan dia pelajari, meskipun mungkin hal itu dianggap aneh. Sungguh benar 
Ummul Mukminin, Aisyah yang berkata."Sebaik-baik wanita adalah wanita 
Anshar. Tidak ada rasa malu yang menghalangi mereka untuk memahami agama". 
[3]

Selagi engkau dikungkung rasa malu dan tidak mau mengetahui hukum-hukum 
agamamu, maka ini merupakan kesalahan yang amat besar, bahkan bisa 
berbahaya. Ada baiknya engkau membiasakan dirimu untuk tidak merasa malu 
dalam mempelajari hukum-hukum agama, baik hukum itu kecil maupun besar. 
Sebab jika seorang wanita lebih banyak dikungkung rasa malu, maka dia sama 
sekali tidak akan mengetahui sesuatu pun. Perhatikanlah perkataan Mujahid 
Rahimahullah. "Orang yang malu dan sombong tidak akan mau mempelajari ilmu". 
Seakan akan dia menganjurkan orang-orang yang mencari ilmu agar tidak merasa 
lemah dan takkabur, sebab hal itu akan mempengaruhi usaha mereka dalam 
mencari ilmu.

Ada suatu pertanyaan dari Ummu Sulaim, dia bertanya. "Apakah seorang wanita 
itu harus mandi jika dia bermimpi ?". Maksudnya, jika dia bermimpi bahwa dia 
disetubuhi. Jawaban Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :"Jika dia melihat 
air". Makna jawaban ini, bahwa jika seorang wanita benar-benar bermimpi dan 
ada petunjuk atau bukti terjadinya hal itu, yaitu dia melihat adanya bekas 
air mani di pakaian, maka ini merupakan syarat mandinya. Namun jika dia 
bermimpi dan tidak melihat bekas air mani, maka dia tidak perlu mandi. 
Setelah diberi jawaban yang singkat dan padat ini, Ummu Salamah langsung 
menutupi wajahnya seraya bertanya. "Apakah wanita itu juga bermimpi ?".

Wahai Ukhti Muslimah !
Rasa herannya Ummu Salamah itu bukanlah sesuatu yang aneh. Pernah terjadi 
pada diri Aisyah, sementaranya ilmunya lebih komplit, sebagaimana yang 
disebutkan dalam suatu riwayat, dia berkata."Kecelakaan bagimu. Apakah 
wanita akan mengalami seperti itu ?". Dia berkata seperti itu dengan maksud 
untuk mengingkari bahwa wanita juga bisa bermimpi.

Jika permasalahan-permasalahannya yang hakiki tidaklah seperti yang 
disangkakan bahwa setiap wanita bisa bermimpi. Mimpi itu hanya terjadi pada 
sebagian wanita, sedangkan yang lain tidak. Maka inilah sebab pengingkaran 
dan keheranan yang muncul dari Ummu Salamah dan Aisyah. Namun keheranan ini 
bisa dituntaskan oleh jawaban Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :'Na'am, 
taribat yaminuki', maksudnya : Benar, seorang wanita bisa bermimpi. 
Perkataan beliau :"Taribat yaminuki". maksudnya, dia menjadi rendah dan 
berada di atas tanah. Ini merupakan lafazh yang diucapkan saat menghardik, 
dan tidak dimaksudkan menurut zhahirnya.

Kemudian di akhir ucapan beliau ada salah satu bukti nubuwah, yaitu 
perkataan beliau :"Sesuatu yang bisa menyerupai dirinya adalah anaknya".

Wahai Ukhti Muslimah !
Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa laki-laki dan wanita saling 
bersekutu dalam pembentukan janin. Sebab jenis hewan yang berkembang biak, 
benih datang dari pasangan laki-laki ke indung telur yang ada di dalam tubuh 
yang perempuan, lalu sperma yang satu bercampur dengan yang lain. Dengan 
pengertian, bahwa separo sifat-sifat yang diwariskan kira-kira berseumber 
dari yang laki-laki dan yang separonya lagi kira-kira berasal dari 
perempuan. Kemudian bisa juga terjadi pertukaran dan kesesuaian, sehingga 
ada sifat-sifat yang lebih menonjol daripada yang lain. Maka dari sinilah 
terjadi penyerupaan.

Jadi sebagaimana yang engkau ketahui wahai Ukhti Muslimah, seperti apapun 
keadaannya, tidak mungkin bagi jenis hewan yang berkembang biak, yakni hanya 
laki-laki saja yang bisa membuahi suatu mahluk hidup, tanpa bersekutu dengan 
indung telur pada jenis perempuan.

Perhatikanlah bagaimana keindahan pengabaran Nabawi ini. Karena sejak beliau 
di utus sebagai rasul, jauh sebelum masa Aristoteles, ada kepercayaan bahwa 
wanita tidak mempunyai campur tangan dalam pembentukan dan keberadaan anak. 
Hanya air mani sajalah yang terepenting. Mereka tidak yakin bahwa air mani 
seorang laki-laki akan sampai ke rahim perempuan, lalu berkembang menjadi 
janin, sedikit demi sedikit janin membesar sehingga menjadi bayi dan 
akhirnya benar-benar sempurna menjadi sosok manusia di dalam rahim. Lalu 
Muhammad bin Abdullah datang mengabarkan kepada kita tentang apa yang bakal 
disibak oleh ilmu pengetahuan modern. Benar, ini merupakan wahyu yang 
diwahyukan, dan beliau sama sekali tidak berkata dari kemauan dirinya 
sendiri, tetapi beliau berkata menurut apa yang diajarkan Allah kepada 
beliau.

Begitulah wahai Ukhti Muslimah apa yang bisa kita pelajari dari wasiat 
Nabawi ini, semoga Allah memberi manfaat kepada kita semua.

[Disalin dari kitab Al-Khamsuna Wasyiyyah Min Washaya Ar-Rasul Shallallahu 
'Alaihi Wa Sallam Lin Nisa, Edisi Indonesia Lima Puluh Wasiat Rasulullah 
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bagi Wanita, Pengarang Majdi As-Sayyid 
Ibrahim, Penerjemah Kathur Suhardi, Terbitan Pustaka Al-Kautsar]
_________
Foote Note
[1]. Hadits shahih, ditakhrij Ahmad 6/306, Al-Bukhari 1/44, Muslim 3/223, 
At-Tirmidzi, hadits nomor 122, An-Nasa'i 1/114, Ibnu Majah hadits nomor 600, 
Ad-Darimi 1/195, Al-Baihaqi 1/168-169
[2]. Diriwayatkan Al-Bukhari, 1/36 dan Muslim 16/181
[3]. Diriwayatkan Al-Bukhari 1/44

_________________________________________________________________
Try it! Live Search: New search found. http://get.live.com/search/overview



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/mlbios.php/aturanmilis/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke