NASEHAT BAGI PARA DA’I SALAFIOlehSyaikh Muhammad bin Shalih 
Al-Utsaiminhttp://www.almanhaj.or.id/content/2316/slash/0Diantara adab para 
da’i yang wajib untuk mereka jalankan, adalah tolong menolong diantara mereka. 
Dan tidak selayaknya mereka berkeinginan agar ucapannya saja yang diterima dan 
harus didahulukan dari pada orang lain. Tapi semestinya keinginan seorang da’i 
adalah agar dakwah (kebenaran), diterima baik lewat dirinya atau orang lain. 
Selama keinginan anda adalah tegaknya agama (di muka bumi) maka jangan anda 
perdulikan darimana kebenaran itu akan menyebar, apakah dari anda atau yang 
lain.Memang benar bahwa seseorang berkeinginan agar kebaikan itu berada 
ditangannya, tapi tidak boleh dia membenci kalau seandainya kebaikan itu juga 
ada ditangan orang lain. Yang wajib baginya adalah agar agama Allah tegak 
darimana saja datangnya. Jika seorang dai telah membangun pemikirannya diatas 
kaidah ini, maka dia akan membantu saudaranya dalam berdakwah di jalan Allah 
meskipun manusia lebih banyak condong kepada orang lain dari pada dirinya.Yang 
wajib bagi para da’i adalah bergotong royong diantara mereka dan saling 
bermusyawarah, berpijak di atas satu pijakan dan berjuang karena Allah, baik 
berdua-dua, atau bertiga atau berempat [Saba : 46]Jika kita telah melihat bahwa 
para da’i penyesat bisa bersatu dan bahu-membahu, maka mengapa da’i kebenaran 
tidak mengamalkan hal ini? Agar mereka bisa nasehat-menasehati kalau ada yang 
salah, baik dalam keilmuan maupun metode dakwah atau yang lainnya.Seandainya 
kita mau memperhatikan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah maka kita akan menghadapi 
bahwasanya Allah Ta’ala telah mensifati orang-orang mukmin dengan saifat-sifat 
yang menunjukkan bahwa mereka itu saling bersatu dan tolong menolong. Allah 
Ta’ala berfirman.“Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, 
sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka 
menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan 
shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Raul-Nya. Mereka itu 
akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha 
Bijaksana” [At-Taubah : 71]Dan Allah juga berfirman.“Artinya : Dan hendaklah 
ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh 
kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang 
beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan 
berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka, mereka itulah 
orang-orang yang mendapat siksa yang berat” [Ali-Imran : 104-105]Sesungguhnya 
setan merasukkan kedalam hati seorang da’i, kebencian terhadap da’i semisalnya 
jika sukses dalam berdakwah. Dia tidak senang jika ada yang berhasil sepertinya 
dalam berdakwah, bahkan dia amat benci jika orang lain lebih maju dan lebih 
diterima oleh manusia. Oleh karena inilah Syaikhul Islam rahimahullah berkata 
tentang definisi hasad : “Hasad adalah kebencian seseorang terhadap nikmat 
Allah yang dianugerahkan kepada orang lain. Meskipun yang masyhur dikalangan 
para ulama bahwa hasad adalah keinginan seseorang akan hilangnya nikmat dari 
orang lain. Kita katakan sekali lagi bahwa hasad adalah kebencian (seseorang) 
akan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada orang lain baik orang tersebut 
berkeinginan untuk menghilangkan nikmat tersebut atau tidak”.Wahai da’i, wajib 
bagimu untuk menolong saudaramu sesama da’i dalam dakwah, meskipun dia lebih 
sukses dan berhasil darimu dalam dakwah, selama anda hanya menginginkan 
tegaknya agama Allah.Kemudian ketahuilah wahai saudaraku, bahwa para da’i 
penyesat menginginkan agar para da’i kebenaran terpecah belah, karena mereka 
tahu bahwa bersatunya (para da’i kebenaran) adalah sebab keberhasilan, 
sedangkan perpecahan mereka adalah sebab kegagalan. Allah Ta’ala 
berfirman.“Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan 
kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah 
berserta orang-orang yang sabar” [Al-Anfal : 46]Tidak diragukan lagi bahwa 
setiap kita pasti memiliki kesalahan, oleh karenanya kita wajib tolong menolong 
dalam menghilangkan kesalahan tersebut, dengan cara saling berkomunikasi dan 
menjelaskan kesalahan tersebut. Mungkin kita menyangka itu adalah kesalahan 
tapi sebenarnya tidak, maka dengan cara inilah (komunikasi) kita akan tahu mana 
yang salah.Adapun menjadikan kesalahan sebagai senjata untuk mencaci-maki dan 
menjauhkan manusia dari orang tersebut, maka itu bukanlah termasuk ciri 
orang-orang beriman terlebih sebagai seorang da’i.Pada akhir-akhir ini 
(sebagian) pemuda –alhamdulillah- mulai berjalan di atas garis yang lurus dalam 
berdakwah, akan tetapi ada kesalahan di dalamnya yaitu mereka berpegang teguh 
dengan pendapat mereka sendiri tanpa memperdulikan pendapat yang lain (dari 
kalangan ulama -pent), bahkan diantara mereka bersikap ujub dengan ilmu dan 
pemikiran yang mereka miliki meskipun kebodohan masih melekat dalam diri 
mereka.Diantara kesalahannya juga, dia meremehkan orang lain dan tidak mau 
tunduk kepada kebenaran meskipun disebutkan kepadanya seorang imam kaum 
muslimin yang telah masyhur akan keilmuan, agama serta amanahnya. Dia 
mengatakan : “Siapa orang (alim) ini, bukankah dia lelaki dan aku juga 
laki-laki?!Padahal pengakuannya sebagai laki-laki tersebut hanyalah berdasarkan 
kebodohannya belaka. Anda akan mendapatinya tidak bisa menggabungkan antara 
dalil-dalil. Dia mengambil satu dalil dan meninggalkan dalil yang lain. Dia 
tidak peduli jika dikatakan kepadanya : Pikirkanlah pendapatmu dan lihatlah 
semua dalil serta lihatlah pendapat jumhur ulama. Akan tetapi orang ini tidak 
mau berfikir dan menganggap yang tidak sesuai dengannya berada di atas 
kebatilan dan hanya dia yang berada kebenaran seolah-olah dia mendapat wahyu 
Ilahi.Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah metode yang salah. Tidak boleh bagi 
seseorang untuk meyakini, bahwa orang lain itu pasti salah dan dialah yang 
benar dalam perkara yang pintu ijtihad masih terbuka. Kalau orang tersebut 
berkeyakinan seperti ini, maka seolah-olah dia mendudukkan dirinya di 
singgasana kenabian dan kesucian. Jika orang lain bisa salah maka engkau juga 
bisa salah, dan kebenaran yang engkau dakwahkan juga didakwahkan oleh selainmu. 
Dari sinilah sebagian pemuda (salafi –pent) menisbatkan dirinya kepada kelompok 
atau orang alim tertentu dan mengambil serta membelanya baik salah atau benar. 
Inilah yang menyebabkan perpecahan umat dan melemahkan kekuatan mereka. Dan hal 
ini menjadikan para pemuda yang berjalan di jalan agama ini sebagai bahan 
gunjingan dan cacian oleh kelompok sesat.Wajib bagi kita untuk menjadi orang 
yang telah disifatkan oleh Allah.“Artinya : Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, 
adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, Maka 
bertakwalah kepada-Ku” [Al-Mukminun : 52]Dan yang wajib bagi kita adalah 
menyatukan barisan, tapi bukan berarti wajib untuk kita menyatukan pendapat 
atau harus tidak ada perselisihan (yang diperbolehkan) karena hal ini tidak 
mungkin terjadi. Namun saya katakan : Apabila terjadi perselisihan diantara 
kita dalam hal yang diperbolehkan berselisih, maka yang wajib adalah menjaga 
hati kita agar tidak berselisih dan hendaknya hati kita tetap bersatu serta 
tetap cinta-mencintai (karena Allah).Saya contohkan misalnya dalam masalah yang 
ringan jika dibandingkan dengan masalah penting dalam Islam yaitu duduk 
(istirahat) dalam shalat ketika akan naik ke raka’at kedua atau keempat,disini 
para ulama sebagiannya menganggap sunnah dan sebagian lagi menganggap bukan 
sunnah dan sebagian lagi memperinci permasalahan.Perselisihan ini sudah 
masyhur, akan tetapi jika temanku dalam berdakwah berpendapat disunnahkannya 
duduk (istirahat) tersebut dan saya tidak sependapat dengannya, maka apakah 
boleh bagi kita untuk menjadikan perselisihan ini sebagai sebab kebencian kita 
kepada sebagian yang lain, sebagai bahan untuk kita menyebarkan 
(kesalahan-kesalahannya)? Tidak, demi Allah ini tidaklah diperbolehkan. Apabila 
para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum berselisih dalam masalah yang lebih besar dari 
ini, sedang mereka tidak pernah mentahdzir sebagian yang lain serta tidak 
saling membenci, maka mengapa kita saling membenci hanya karena masalah yang 
sepele jika dibandingkan dengan masalah yang lebih penting lagi dalam agama 
ini?!Tidaklah kebanyakan kita mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi 
wa sallam ketika pulang dari perang Ahzab dan datang Jibril kepada beliau 
memerintahkan agar beliau pergi ke Bani Quraizhah karena mereka telah 
membatalkan perjanjian, maka beliau memerintahkan para Sahabat Radhiyallahu 
‘anhum berangkat ke Bani Quraizhah seraya berkata : “Janganlah salah seorang 
dari kalian shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah” [HR. Bukhari]. Merekapun 
berangkat dari Madinah dan ketika waktu shalat Ashar tiba sebagian mereka 
mengatakan : “Kita tidak boleh shalat Ashar melainkan di Bani Quraizhah, hingga 
merekapun menunda shalat Ashar sampai diluar waktunya. Dan sebagian yang lain 
mengatakan : Kita shalat Ashar pada waktunya meskipun kita belum sampai di Bani 
Quraizhah. Hal ini pun terdengar oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 
tapi beliau tidak menyalahkan seorangpun dari mereka dan mereka tidak saling 
membenci satu sama lain meskipun perselisihan tersebut lebih berat dibandingkan 
perselisihan dalam masalah duduk (istirahat) ketika akan naik ke raka’at kedua 
atau keempat.Yang saya harapkan dari saudara-saudaraku para da’i adalah agar 
mereka tidak menjadikan permasalahan yang pintu ijihad masih terbuka di 
dalamnya sebagai sebab perpecahan, hizbiyyah dan saling menuding sesat orang 
yang tidak sependapat dengannya, karena ini akan melemahkan kekuatan mereka 
dimata para musuh. Kalian sudah mengetahui, bahwa disana banyak musuh yang 
mengintai kita, akan tetapi baragsiapa yang Allah selalu bersamanya maka akan 
baik akibatnya dan dia akan ditolong di dunia dan di akhirat, sebagaimana Allah 
Subhanahu wa Ta’ala berfirman.“Artinya : Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul 
kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari 
berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)” [Ghofir : 51]Saya mohon kepada Allah 
Subhanahu wa Ta’ala untuk menjadikanku dan kalian semua sebagai penolong 
agama-Nya, dan sebagai da’i yang selalu berada di atas ilmu serta selalu 
merahmati kita semua, sesungguhnya Dialah Yang Maha Pemberi.[Majalah 
Al-Asholah, Edisi 51 oleh Abu Abdurrohman As-Salafi Lc][Disalin dari Majalah 
Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Vol. 5 No. 2 Edisi 26 Muharram 1428H. Penerbit 
Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya. Jl. Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya]
_________________________________________________________________
Edit your photos like a pro with Photo Gallery.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke