SIAPAKAH MIRZA GHULAM AHMAD?-1/2-

Oleh
Muhammad Ashim
http://www.almanhaj.or.id/content/2328/slash/0

Beberapa waktu lalu, marak pemberitaan di media massa tentang Jemaat Ahmadiyah. 
Berbagai polemik muncul. Banyak media memberikan pembelaan terhadap Jemaat 
Ahmadiyah yang berpusat di London ini, meski ia lahir di India. Berbagai 
kalangan yang menisbatkan diri sebagai cendekiawan muslim, ikut menyuarakan 
argumen pembelaan. Jaringan Islam Liberal (JIL), yang di motori Ulil Abshar 
Abdalla, begandeng tangan dengan sejumlah aktivis HAM dan sejumlah tokoh 
gereja, bahkan bermaksud mengajukan gugatan kepada Majelis Ulama Indonesia 
(MUI) atas fatwa MUI yang menyatakan Jemaat Ahmadiyah Qadiyan sesat dan agar 
segera dibekukan. Dan fatwa ini ternyata bukan yang pertama bergulir. 
Sebelumnya sudah ada fatwa dengan substansi yang sama.

Pembelaan yang muncul, semua mengatas namakan HAM dan kebebasan beragama. 
Santernya sikap pro ini, sempat memojokkan MUI, yang katanya bukan sebagai 
otoritas yang berhak menghakimi kebenaran beragama. Sementara itu, nayris tidak 
satupun media massa yang melakukan balance dalam pemberitaan tersebut. Sungguh 
ironi.

Tulisan berikut, bukan bermaksud mengupas mengenai Jemaat Ahmadiyah yang tengah 
diperbincangkan tersebut. Banyak yang sudah membahas. Berikut kami sajikan sisi 
lain. Yaitu mengenal sosok pencetus Jemaat Ahmadiyah ini. Tidak lain, dia 
adalah Mirza Ghulam Ahmad. Siapakah dia sebenarnya? Apakah anda mengenalnya?

Tulisan ini kami angat dari Al-Qadiayaniah Dirasat Wa Tahlil, karya Syaikh 
Ihsan Ilahi Zhahir, Idaratu Turjumani As-Sunnah, Lahore, Pakistan, tanpa tahun. 
Meski hanya satu refensi yang kami jadikan pegangan, namun buku yang dikarang 
oleh Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir ini merupakan buku yang istimewa. Beliau, yang 
berkebangsaan Pakistan, sangat menguasai dan memahami permasalahan tentang 
Ahmadiyah sebagaimana tertulis dengan bahasa aslinya, yaitu bahasa Urdu. 
Rujukan beliau banyak bertumpu pada karya-karya asli Jemaat Ahmadiyah, baik 
yang dikarang Mirza Ghulam Ahmad atau para penerusnya.

KELUARGA GHULAM AHMAD
Dia menceritakan, namaku Ghulam Ahmad. Ayahku Atha Murthada. Bangsaku Mongol. 
(Kitab Al-Bariyyah, hal. 134, karya Ghulam Ahmad). Namun dalam kesempatan lain, 
ia mengatakan, keluargaku dari Mongol… tapi berdasarkan firman Allah, tampaknya 
keluargaku berasal dari Persia, dan aku yakin ini. Sebab tidak ada seorang pun 
yang mengetahui seluk-beluk keluargaku seperti pemberitaan yang datang dari 
Allah Ta’ala (Hasyiah Al-Arbain, no. 2 hal. 17, karya Ghulam Ahmad). Dia juga 
pernah berkata : “Aku membaca beberapa tulisan ayah dan kakek-kakekku, kalau 
mereka berasal dari suku Mongol, tetapi Allah mewahyukan kepadaku, bahwa 
keluargaku dari bangsa Persia” (Dhamimah Haqiqati Al-Wahyi, hal. 77, karya 
Ghulam Ahmad). Yang mengherankan, ia juga pernah mengaku sebagai keturunan 
Fathimah binti Muhammad [Tuhfah Kolart, hal. 29]

Begitulah, banyak versi tentang asal-usul Mirza Ghulam Ahmad yang berasal dari 
pengakuannya sendiri. Maha Benar Allah dengan firman-Nya.

“Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menjumpai 
pertentangan yang banyak di dalamnya” [An-Nisa : 82]

Setelah itu, ia menceritakan tentang ayahnya : “Ayahku mempunyai kedudukan di 
kantor pemerintahan. Dia termasuk orang yang dipercaya pemerintah Inggris. Dia 
pernah membantu pemerintah untuk memberontak penjajah Inggris dengan memberikan 
bantuan pasukan dan kuda. Namun sesudah itu, keluargaku mengalami krisis dan 
kemunduran, sehingga menjadi petani yang melarat” [1] [Tuhfah Qaishariyah, hal. 
16, karya Ghulam Ahmad]

Dari keluarga yang tidak jelas garis keturunan lagi melarat, Ghulam dilahirkan. 
Dia berkisah ; “Aku dilahirkan pada tahun 1839M atau tahun 1840M di akhir masa 
Sikh di Punjab’ [Kitab Al-Bariyyah, hal. 134, karya Ghulam Ahmad]

MASA KECIL GHULAM AHMAD DAN PENDIDIKANNYA
Tatkala mencapai usia tamyiz, ia mulai belajar sharaf, nahwu dan beberapa kitab 
berbahasa Arab, bahasa Persia dan ilmu pengobatan.

Dia berkata : “Aku belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab berbahasa Persia dengan 
ustadz Fadhl Ilahi. Sedangkan sharaf dan nahwu serta ilmu pengobatan, aku 
pelajari dari ustadz Fadhl Ahmad’. Hanya saja, sesuai dengan keterangan Mahmud 
Ahmad, salah seorang anaknya di Koran Al-Fadhl (5 Februari 1929), milik 
kelompok mereka, sebagian guru yang mengajar Ghulam Ahmad adalah pecandu opium 
dan ganja.

Selain itu, ia juga sempat mengenyam pembelajaran bahasa Inggris di sebuah 
madrasah khusus untuk pegawai pemerintah. Satu atau dua buku bahasa Inggris 
saja yang ia pelajari.

Pendidikan masa kecil yang dijalani Mirza Ghulam Ahmad dengan model ini (baca : 
yang sangat dangkal) menampakkan pengaruhnya dalam tulisan dan 
ucapan-ucapannya. Kesalahan-kesalahannya tidak hanya terjadi pada 
masalah-masalah yang pelik, tetapi juga terlihat pada perkara-perkara yang 
sederhana. Misalnya, ia pernah berkata : “Sesungguhnya saat Rasulullah 
dilahirkan, beberapa hari kemudian ayahnya meninggal” (Baigham Shulh, hal. 19, 
karya Ghulam Ahmad). Padahal ayah beliau meninggal dunia ketika beliau masih di 
dalam kandungan ibunya.

Contoh kekeliruan lainnya dalam kitabnya, Ainul Ma’rifah, hal. 286, Mirza 
Ghulam Ahmad menjelaskan, bahwa Rasulullah mempunyai sebelas anak dan semuanya 
meninggal. Padahal yang benar berjumlah enam orang.

Pada waktu itu, keberanian merupakan ciri khas orang-orang yang mulia 
(bangsawan). Tetapi orang yang mengaku sebagai “Al-Masih” ini tidak pernah 
masuk dalam peperangan, tidak belajar ilmu-ilmu keperwiraan, yang dahulu 
dianggap oleh masyarakat sebagai sebuah kemuliaan dan sikap kesatria.

PENYAKIT-PENYAKIT YANG DIDERITANYA
Berbicara tentang penderitaan fisik (baca : penyakit) yang dialaminya sangat 
banyak. Tangan kanannya patah sehingga untuk mengangkat sebuah teko pun tidak 
mampu. (Sirah Al-Mahdi, 1/198). Dia pernah menderita penyakit TBC dan diobati 
selama kurang lebih enam bulan (Hayatu Ahmad, 1/79). Dia juga pernah mengakui 
ditimpa dua penyakit. Di bagian atas tubuh, yaitu kepala yang sering pusing dan 
dibagian bawah, yaitu kencing yang berlebihan. (Haqiqatul Wahyi, hal. 206, 
karya Ghulam Ahmad). Pusing kepalanya ini sering mengganggunya. Kadang 
menyebabkannya terjatuh sehingga pingsan. Oleh karena itu, ia sering tidak 
berpuasa pada bulan Ramadhan yang ia jumpai. [Sirah Al-Mahdi, 1/51 karya 
anaknya]

Dia juga mengalami gangguan syaraf, ingatan buruk tidak tergambarkan. Dua 
matanya sangat lemah. Anaknya menceritakan, bahwa Mirza Ghulam Ahmad pernah 
ingin berphoto bersam murid-muridnya. Pemotret memintanya untuk membuka matanya 
sedikit saja, agar gambar menjadi baik. Dia pun berusaha dengan susah payah, 
tetapi gagal.[Sirah Al-Mahdi, 2/77]

Sebagaimana pengakuannya sendiri di dalam harian Al-Hakam, 31 Oktober 1901M, 
otaknya juga mengalami kelemahan.

PERMULAAN KETENARAN DAN DAKWAHNYA
Permulaan ketenarannya dimulai dengan seolah-olah membela Islam. Setelah ia 
meninggalkan pekerjaan kantornya, ia mulai mempelajari buku-buku India Nasrani, 
sebab pertentangan dan perdebatan pemikiran begitu santer terjadi antara kaum 
Muslimin, para pemuka Nasrani dan Hindu. Kebanyakan kaum Muslimin sangat 
menghormati orang-orang yang menjadi wakil Islam dalam perdebatan tersebut. 
Segala fasilitas duniawi pun diberikan kepadanya. Ghulam Ahmad berfikir, bahwa 
pekerjaan itu sangat sederhana dan mudah, mampu mendatangkan materi lebih 
banyak dari pendapatannya saat bekerja di kantor.

Untuk mewujudkan gagasan yang terlintas dalam benaknya, maka pertama kali yang 
ia lakukan ialah menyebarkan sebuah pengumuman yang menentang agama Hindu. 
Berikutnya, ia menulis beberapa artikel di beberapa media massa untuk 
mematahkan agama Hindu dan Nasrani. Kaum Muslimin pun akhirnya memberikan 
perhatian kepadanya. Itu terjadi pada tahun 1877-1878M.

Pada gilirannya, ia mengumumkan telah memulai proyek penulisan buku sebanyak 
lima puluh jilid, berisi bantahan terhadap lontaran-lontaran syubhat yang 
dilontarkan oleh kaum kuffar terhadap Islam. Oleh karena itu, ia mengharapkan 
kaum Muslimin mendukung proyek ini secara material. Sebagian besar kaum 
Muslimin pun tertipu dengan pernyataannya yang palsu, bahwa ia akan mencetak 
kitab yang berjumlah lima puluh jilid.

Sejak itu pula, ia menceritakan beberapa karomah (hal-hal luar biasa) dan 
kusyufat tipuan yang ia alami. Sehingga orang-orang awam menilainya sebagai 
wali Allah, tidak hanya sebagai orang yang berilmu saja. Orang-orang pun 
bersegera mengirimkan uang-uang mereka yang begitu besar kepadanya guna 
mencetak kitab yang dimaksud. [Majmu’ah I’lanat Ghulam Al-Qadiyani, 1/25]

Volume pertama buku yang ia janjikan terbit tahun 1880M, dengan judul Barahin 
Ahmadiyah. Buku ini sarat dengan propaganda dan penonjolan karakter penulisnya. 
Cerita tentang alam ghaib yang berhasil ia ketahui, juga berisi karomah dan 
kusyufatnya.

Kitab-kitab volume berikutnya pun bermunculan. Namun, tatkala sampai kepada 
masyarakat, mereka keheranan, karena mendapat isi buku tersebut tidak seperti 
yang dikatakan penulis pertama kali, yaitu bantahan terhadap agama Hindu dan 
Nasrani, tetapi justru dipenuhi dengan cerita-cerita tentang karamah dan 
sanjungan terhadap kolonialis Iggris.

Dari sini, masyarakat kemudian mengetahui, ternyata lelaki ini hanyalah seorang 
pendusta dan pencuri harta manusia. Buku yang telah diterbitkan hanya untuk 
mendapatkan popularitas dan memanfaatkan kaum Muslimin, menguras harta mereka, 
bukan untuk membela Islam. Apalagi setelah kaum Muslimin menemukan hal-hal yang 
bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dalam buku yang ia terbitkan tersebut.

Banyak para ulama yang mendapat informasi, bahwa lelaki itu, sebenarnya tidak 
mempunyai keinginan, kecuali untuk membuat sebuah toko semata. Andai ada orang 
lain yang mampu membayarnya dengan jumlah yang lebih besar, maka ia akan 
mendukungnya, meskipun dengan melakukan pelanggaran terhadap Islam. Dan memang 
seperti itulah yang dikatakan oleh para ulama. Sebab, pada waktu itu, penjajah 
Inggris membutuhkan orang yang dapat memporak-porandakan kekuatan kaum 
Muslimin. Sehingga sang penjajah ini mencari orang dari kalangan kaum Muslimin 
untuk diperalat. Tatkala sudah mendapatkannya, kolonial ini akan memanfaatkan 
semaksimal mungkin. Demikian yang terjadi dengan Mirza Ghulam Ahmad. Oleh 
karena itu, ia penuhi kitab volume ketiganya dengan pujian-pujian kepada 
kolonialis Inggris.

Perhatikan pengakuannya dalam volume tersebut, tatkala ia menghadapi 
penentangan dari kaum Muslimin

Dia menyatakan, ada sebagian orang dari kalangan kaum Muslimin yang menulis 
kepadaku, mengapa engkau memuji penjajah Inggris dalam volume ketiga? Mengapa 
engkau berterima kasih kepada pemerintah Inggris? Sebagian kaum muslimin 
mencaci-maki dan mecelaku karena sanjungan ini. Hendaknya setiap orang 
mengetahui, bahwa aku tidak memuji pemerintah Inggris, kecuali berdasarkan 
ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. [Barahin Ahmadiyah, vol.4]

Ringkasnya, penjajah telah memanfaatkannya dengan memberikan segala yang 
berharga untuknya karena pengkhianatannya kepada agama dan umat Islam. Persis 
seperti ayahnya yang dahulu juga berkhianat, tetapi kepada negeri India dan 
penduduknya.

Pada tahun 1885M, ia memproklamirkan diri sebagai mujaddid dengan mendapat 
bantuan dan dukungan penuh dari penjajah. Enam tahun berikutnya, tahun 1891M, 
ia mengklaim diri sebagai Imam Mahdi. Pada tahun itu juga, ia mengaku sebagai 
Al-Masih. Dan klimaksnya pada tahun 1901M, ia mendeklarasikan statusnya sebagai 
nabi yang mandiri, dan lebih mulia dari seluruh pada nabi dan rasul.

Sebagian ulama dapat mendeteksi keinginannya sebelum ia mengaku sebagai nabi 
(palsu). Tetapi dengan segera ia mencoba menepisnya dengan berkata : “Aku juga 
beraqidah Ahlus Sunnah. Aku berkeyakinan Muhammad adalah penutup para nabi. 
Barangsiapa mengaku sebagai nabi, maka ia kafir, pendusta. Karena aku beriman 
bahwa risalah itu bermula dari Adam dan berakhir dengan kedatangan Rasulullah 
Muhammad” [Pernyataan Ghulam Ahmad pada 12 Oktober 1891 yang terdapat dalam 
kitab Tabligh Risalah, 2/2]

Kemudian dengan bisikan dari penjajah ia mengatakan untuk mengecoh : “Aku bukan 
nabi, tetapi Allah menjadikannku orang yang diajak bicara (kalim), untuk 
memperbaharui agama Al-Musthafa (Muhammad)” [Mir-atu Kamalati Al-Islam, hal. 
383]

Keterangan lain darinya ; “Aku bukan nabi yang menyerupai Muhamamd atau datang 
dengan ajaran yang baru. Justru yang ada dalam risalahku, aku adalah nabi yang 
mengikutinya (nabiyyun muttabi)” [Tatimmah Haqiqati Al-Wahyi, hal. 68, karya 
Ghulam Ahmad]

Dia juga mengatakan ;” Demi Allah yang ruh-ku berada di genggaman-Nya, Dialah 
yang mengutusku dan menyebutku sebagai nabi…. Aku akan memperlihatkan kebenaran 
pengakuanku dengan mukjizat-mukjizat yang jumlahnya tidak kurang dari tiga 
ratus ribu mukjizat” [Tatimmah Haqiqati Al-Wahyi, hal. 68, karya Ghulam Ahmad]

Coba perhatikan pernyataan-pernyataannya. Dia betul-betul berusaha mengecoh 
kaum Muslimin. Padahal sebelumnya, ia mengatakan :”Siapa saja yang mengklaim 
diri sebagai nabi setelah Muhammad, berarti ia saudara Musailamah Al-Kadzdzab, 
kafir lagi busuk” (Anjam Atsim, hal. 28, karya Ghulam Ahmad). Dia juga 
mengatakan : “Kami melaknat orang-orang yang mengaku sebagai nabi setelah 
Muhammad” [Tabligh Risalah, 26/2]

Perlu juga disebutkan, kitab yang ia janjikan berjumlah lima puluh jilid, tidak 
ia selesaikan kecuali lima jilid saja. Sehingga ketika ditanya oleh para 
donatur, ia menjawab : “Tidak ada bedanya antara angka lima dan lima puluh, 
kecuali pada nolnya saja” [Muqaddimah Barahin Ahmadiyah, 5/7, karya Ghulam 
Ahmad]

[Sumber Al-Qadiayaniyah Dirasat Wa Tahtil, karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, 
Idarati Turjuman As-Sunnah, Lahore Pakistan, tanpa tahun]

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton – 
Gondangrejo Solo, 57183]
__________
Foote Note
[1]. Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, penulis kitab Al-Qdiayaniyah, Dirasat Wa Tahtil 
mengatakan, hal itu kemungkinan lantaran pengkhianatannya kepada penduduk 
pribumi dan kerjasamanya dengan kekuatan kolonialis yang aniaya lagi kafir. 
(hal. 103) 
_________________________________________________________________
Edit your photos like a pro with Photo Gallery.
http://www.get.live.com/wl/all


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/mlbios.php/aturanmilis/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke