PENDETA ROMA MASUK ISLAM

Oleh
Amjad bin Imron Salhub
http://www.almanhaj.or.id/content/2331/slash/0

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas 
Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti 
sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.

Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada 
kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka 
memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk 
itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang 
berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah 
atas makhluk-Nya.

Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan 
keikhlasan karena Allah Ta’ala, pasti Dia Azza wa Jalla akan menunjukinya 
kepada kebenaran tersebut, dan dapat dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di 
alam nyata ini, yaitu kenikmati Islam. Semoga Allah merahmati Syaikh kami 
Al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan.

“Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan As-Sunnah”.

Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah.:
“Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orang ‘ajam dan pemuda adalah, ketika 
dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada 
sunnah Rasulullah.

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali 
Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya”.

Inilah kalimat tauhid, kalimat yang baik dan kunci surga. Kalimat inilah 
stasiun pertama dari jalan panjang yang penuh dengan onak dan duri, kalimat 
taqwa bukanlah kalimat yang mudah bagi seseorang insan yang ingin menggerakkan 
lisannya untuk mengucapkannya, demikian juga ketika dia ingin mengeluarkannya 
dari hatinya yang paling dalam. Karena, ketika seorang insan ingin 
mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam, maka dia harus mengetahui 
terlebih dahulu, bahwa kalimat itu keluar dengan seizin Allah Ta’ala.

Demikianlah yang dialami oleh Ibrahim (dulu bernama Danial) –semoga Allah 
memerliharanya, meluruskannya diatas jalan keistiqomahan, serta menutup 
lembaran hidupnya diatas Islam-

Inilah dia yang akan menceritakan kepada kita, bagaimana dia meninggalkan agama 
kaumnya (Nasrani) menuju Islam, dan bagaimana dia telah mengorbankan kekayaan 
ayahnya serta kemewahan hidupnya, di suatu jalan (hakekat terbesar), demi 
mencari kebebasan akal dan jiwa.

Ibrahim (dulu bernama Danial) –semoga Allah memeliharanya, dan mengokohkannya 
diatas jalan keistiqomahan- menceritakan :

Saya adalah seorang lelaki dari keluarga Roma, seorang anak dari keluarga kaya, 
semasa kecil, saya hidup dengan kemewahan dan kemakmuran. Demikianlah, kulalui 
masa kecilku. Ketika masa remajapun, saya banyak menghabiskan waktu dengan 
kemewahan bersama teman-temanku, ketika itu saya memiliki sebuah mobil mewah 
dan uang, sehingga saya bisa memiliki segala sesuatu dan tidak pernah 
kekurangan.

Akan tetapi sejak kecil, saya senantiasa merasa bahwa dalam kehidupan ini ada 
yang kurang, dan saya yakin bahwa ada sesuatu yang salah di dalam hidupku, 
serta suatu kekosongan yang harus kupenuhi, karena semua sarana kehidupan ini 
bukanlah tujuanku.

Saya mulai tertarik dengan agama, dan mulailah kubaca Injil, pergi ke gereja, 
serta kusibukkan diriku dengan membaca buku-buku agama Kristen. Dari buku-buku 
yang kubaca tersebut, mulai kudapatkan sebagian jawaban atas berbagai 
pertanyaannku, akan tetapi tetap saja belum sempurna

Dahulu saya bangun pagi setiap hari dan pergi ke pantai, saya merenungi laut 
sambil membaca buku-buku dan shalat Setelah dua bulan dari permulaan hidupku 
ini, saya merasa mantap bahwa saya tidak mampu terus menerus menjalani hidupku 
seperti biasanya setelah beragama. Ketika itu, saya mendatangi ayahku dan 
kukabarkan kepadanya bahwa saya tidak bisa melanjutkan bekerja dengannya, saya 
juga pergi mendatangi ibu dan saudara-saudariku dan kukabarkan kepada mereka 
bahwa saya telah mengambil keputusan untuk meninggalkan mereka

Kemudian kusiapkan tasku lalu naik kereta tanpa kuketahui ke mana saya hendak 
pergi, hingga saya tiba di kota Polon, kemudian saya masuk ke Ad-Dir [1] 
disana, lalu naik gunung yang tinggi. Saya menetap di gunung selama kira-kira 
sebulan, saya tidak berbicara dengan siapapun, saya hanya membaca dan beribadah.

Sekitar tiga tahun, saya senantiasa berpindah-pindah dari satu Ad-Dir ke Ad-Dir 
yang lain, saya membaca dan beribadah, kebalikannya para pendeta yang tidak 
bisa meninggalkan Ad-Dir mereka, karena saya tidak pernah memberikan janji 
untuk menjadi seorang pendeta di suatu Ad-Dir tertentu, dan janji tersebut akan 
menghalangiku untuk keluar masuk darinya.

Setelah itu, saya memutuskan untuk berkelilng ke berbagai negeri, maka saya 
memulai perjalanan panjangku dari Italia melalui Slovania, Hungaria, Nimsa, 
Romania, Bulgaria, Turki, Iran, Pakistan, dari sana menuju India. Semua 
perjalanan ini saya tempuh melalui jalur darat. Saya mendengar suara adzan di 
Turki, dan saya sudah pernah mendengarnya di Kairo (Mesir) pada perjalananku 
sebelumnya, akan tetapi kali ini sangat terkesan, sehingga saya mencintai

Dalam perjalanan pulang, saya bertemu dengan seorang muslim Syi’ah di 
perbatasan Iran dan Pakistan, dia dan temannya menjamuku dan mulai menjelaskan 
kepadaku tentang Islam versi Syi’ah. Keduanya menyebutkan Imam Duabelas dan 
mereka tidak menjelaskan kepadaku tentang Islam dengan sebenarnya, bahkan 
mereka memfokuskan pada ajaran Syi’ah dan Imam Ali Radhiyallahu ‘anhu, serta 
tentang penantian mereka terhadap seorang Imam yang ikhlas, yang akan datang 
untuk membebaskan manusia.

Semua diskusi tersebut sama sekali tidak menarik perhatianku, dan saya belum 
mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaanku dalam rangka mencari hakekat 
kebenaran. Orang Syi’ah itu menawarkan kepadaku untuk mempelajari Islam di kota 
Qum, Iran, selama tiga bulan tanpa dipungut biaya, akan tetapi saya memilih 
untuk melanjutkan perjalananku dan kutinggalkan mereka.

Kemudian saya menuju India, dan ketika saya turun dari kereta, pertama yang 
kulihat adalah manusia yang membawa kendi-kendi di pagi hari sekali dengan 
berlari-lari kecil menuju kedalam kota, maka kuikuti mereka dan saya melihat 
mereka berthowaf mengelilingi sapi betina yang tebuat dari emas, ketika itu 
saya sadar bahwa India bukanlah tempat yang kucari.

Setelah itu, saya kembali ke Italia dan dirawat di rumah sakit selama sebulan 
penuh, hampir saja saya meninggal dikarenakan penyakit yang saya derita ketika 
di India, akan tetapi Allah telah menyelamatkanku, Alhamdulillah.

Saya keluar dari rumah sakit menuju rumah, dan mulailah saya berfikir tentang 
langkah-langkah yang akan saya ambil setelah perjalanan panjang ini, maka saya 
memutuskan untuk terus dalam jalanku mencari hakekat kebenaran. Saya kembali ke 
Ad-Dir dan mulailah kujalani kehidupan seorang pendeta di sebuah Ad-Dir di 
Roma. Pada waktu itu saya telah diminta oleh para pembesar pendeta disana untuk 
memberikan kalimat dan janji. Pada malam itu, saya berfikir panjang, dan 
keesokan harinya saya memutuskan untuk tidak memberikan janji kepada mereka 
lalu kutinggalkan Ad-Dir tersebut.

Saya merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk keluar dari Ad-Dir, setelah itu 
saya menuju Al-Quds karena saya beriman akan kesuciannya. Maka mulailah saya 
berpergian menuju Al-Quds melalui jalur darat melewati berbagai negeri, sampai 
akhirnya saya tiba di Siria, Lebanon, Oman dan Al-Quds, saya tinggal disana 
seminggu, kemudian saya kembali ke Italia, maka bertambahlah 
pertanyaan-pertanyaanku, saya kembali ke rumah lalu kubuka Injil.

Pada kesempatan ini, saya merasa berkewajiban untuk membaca Injil dari 
permulaannya, maka saya memulai dari Taurat, menelusuri kisah-kisah para nabi 
bani Israel. Pada tahap ini mulai nampak jelas di dalam diriku makna-makna 
kerasulan hakiki yang Allah mengutus kepadanya, mulailah saya merasakannya, 
sehingga muncullah berbagai pertanyaan yang belum saya dapatkan jawabannya, 
saya berusaha menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dari 
perpustakaanku yang penuh dengan buku-buku tentang Injil dan Taurat.

Pada saat itu, saya teringat suara adzan yang pernah kudengar ketika 
berkeliling ke berbagai negeri serta pengetahuanku bahwa kaum muslimin beriman 
terhadap Tuhan yang satu, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Dan 
inilah yang dulu saya yakini, maka saya berkomitmen : Saya harus berkenalan 
dengan Islam, kemudian mulailah ku-kumpulkan buku-buku tentang Islam, diantara 
yang saya miliki adalah terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Italia, yang pernah 
saya beli ketika berkeliling ke berbagai negeri.

Setelah kutelaah buku-buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa Islam tidak 
seperti yang dipahami oleh mayoritas orang-orang barat, yaitu sebagai agama 
pembunuh, perampok dan teroris. Akan tetapi yang saya dapati adalah Islam itu 
agama kasih sayang dan petunjuk, serta sangat dekat dengan makna hakiki dari 
Taurat dan Injil.

Kemudian saya putuskan untuk kembali ke Al-Quds, karena saya yakin bahwa 
Al-Quds adalah tempat turunnya kerasulan terdahulu, akan tetapi kali ini saya 
menaiki pesawat terbang dari Italia menuju Al-Quds. Saya turun di tempat 
turunnya para pendeta dan peziarah dibawah panduan hause bus Armenia di daerah 
negeri kuno. Di dalam tasku, saya tidak membawa sesuatu kecuali sedikit 
pakaian, terjemahan Al-Qur’an, Injil dan Taurat, kemudian saya mulai membaca 
lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi, saya membandingkan kandungan Al-Qur’an 
dengan isi Taurat dan Injil, sehingga saya berkesimpulan bahwa kandungan 
Al-Qur’an sangat dekat dengan ajaran Musa dan Isa ‘Alaihis salam yang asli

Selanjutnya saya mulai berdialog dengan kaum muslimin untuk menanyakan kepada 
mereka tentang Islam, sampai akhirnya saya bertemu dengan sahabatku yang mulia 
Wasiim Hujair, kami berbincang-bincang tentang Islam. Saya juga banyak bertemu 
dengan teman-teman, mereka menjelaskan kepada saya tentang Islam. Setelah itu, 
saudara Wasiim mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengadakan suatu pertemuan 
antara saya dengan salah seorang da’i dari teman-temannya para da’i.

Pertemuan itu berlangsung dengan saudara yang mulia Amjad Salhub, kemudian 
terjadilan perbincangan yang bagus tentang agama Islam. Diantara perkara yang 
paling mempengaruhiku adalah kisah sahabat yang mulia, Salman Al-Farisi 
Radhiyallahu ‘anhu, karena didalamnya ada kemiripan dengan ceritaku tentang 
pencarian hakekat kebenaran.

Kami berkumpul lagi dalam pertemuan yang lain dengan saudara Amjad beserta 
teman-temannya, diantaranya Fadhilatusy Syaikh Hisyam Al-Arif Hafidhohullah, 
maka berlangsunglah dialog tentang Islam dan keagungannya, kebetulan ketika itu 
saya memiliki beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab oleh Syaikh.

Setalah itu, saya terus menerus berkomunikasi dengan saudara Amjad yang dengan 
sabar menjelaskan jawaban atas mayoritas pertanyaan-pertanyaannku. Pada saat 
seperti itu di depan saya ada dua pilihan, antara saya mengikuti kebenaran atau 
menolaknya, dan saya sama sekali tidak sanggup menolak kebenaran tersebut 
setelah saya meyakini bahwa Islam adalah jalan yang benar.

Pada saat itu juga, saya merasakan bahwa waktu untuk mengucapkan kalimat tauhid 
dan syahadat telah tiba. Ternyata tiba-tiba saudara Amjad mendatangiku 
bertepatan dengan waktu dikumandangkannya adzan untuk shalat dhuhur. Waktu itu 
benar-benar telah tiba, sehingga tiada pilihan bagiku kecuali saya mengucapkan.

“Asyhadu An Laa Ilaha Illallahu Wa Anna Muhammadan Rasulullah”

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali 
Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.

Maka serta merta saudara Amjad memeluku dengan pelukan yang ramah, seraya 
memberikan ucapan selamat atas ke-Islamanku, kemudian kami sujud syukur 
sebagaimana ungkapan terima kasih kepada Allah atas anugerah nikmat ini. 
Kemudian saya diminta mandi [2] dan berangkat ke Masjid Al-Aqsho untuk 
menunaikan shalat dhuhur.

Di tempat tersebut setelah shalat, saya menemui jama’ah shalat dengan syahadat, 
yaitu persaksian kebenaran dan tauhid yang telah Allah anugerahkan kepadaku. 
Setelah saya mengetahui bahwa siapa saja yang masuk Islam wajib baginya 
berkhitan, maka segala puji dan anugerah milik Allah, saya tunaikan kewajiban 
berkhitan tersebut sebagai bentuk meneladani bepaknya para nabi, yaitu Ibrahim 
Alaihis sallam yang melakukan khitan pada usia 80 tahun.[3]

Itulah diriku, saya telah memulai hidup baru dibawah naungan agama kebenaran, 
agama yang penuh dengan kasih sayang dan cahaya. Saya senantiasa menuntut ilmu 
agama dari kitab Allah Ta’ala dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam sesuai dengan manhaj salaf (pendahulu) umat ini, dari kalangan para 
sahabat Radhiyallahu ‘anhum beserta siapa saja yang mengikuti mereka dengan 
baik sampai hari kiamat.

Segala puji bagi Allah atas anugerah Islam dan As-Sunnah.

[Dialihbahasakan oleh Abu Zahro Imam Wahyudi Lc dari majalah Ad-Da’wah 
As-Salafiyah – Palestina edisi Perdana, Muharram 1427H halaman 21-24]

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Vol 5 No 3 Edisi 27 - Shafar 
1428H. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Jl Sidotopo Kidul No. 51 
Surabaya] 
__________
Foote Note
[1]. Ad-Dir = Istilah untuk gereja yang terpencil di pedalaman.
[2]. Sebagaimana hadits Qoish bin Ashim, beliau menceritakan : “ Ketika beliau 
masuk Islam. Rasulullah memerintahkannya untuk mandi dengan air yang dicampur 
bidara” [HR An-Nasari, At-Tummudzi dan Abu Daud. Dishahihkan oleh Al-Albani 
dalam Al-Irwa no. 128]
[3]. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ibrahim 
berkhitan ketika umur 80 tahun dengan “Al-Qoduum” (nama alat atau tempat)” [HR 
Al-Bukhari 3356 dan Muslim 2370] 
_________________________________________________________________
Edit your photos like a pro with Photo Gallery.
http://www.get.live.com/wl/all


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/mlbios.php/aturanmilis/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke