From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Mon, 4 Feb 2008 14:14:01 +0800
Assalamualaikum..
Di sini ana ada beberapa kemusykilan mengenai orang yang masbuk dan juga 
kedudukan orang orang yang solat berjemaah. Baru ini ana mendengar kuliah 
seorang ustaz juga seorang ahlussunnah mengenai orang yang masbuk dalam 
solat..Dan ana jadi keliru dengan jawapannya. Dan ana tak sempat nak bertanya 
memandangkan waktu sudah lewat malam.Soalannya ialah:
1. Orang yang masbuk bersama-sama imam pada awal rakaat; Dan ia hanya sempat 
bersama imam tatkala rukuk sahaja.Adakah ia mendapat rakaat tersebut atau ia 
perlu mengulang rakaat tersebut. Menurut ustaz tersebut, jika sempat semasa 
rukuk ia tidak mendapat rakaat tersebut sebab ia tidak membaca al-fatihah. 
harap diberi penjelasan.
2. bagaimana kedudukan bacaan fatihah oleh makmum. tatkala imam membaca 
al-fatihah adakah ia perlu mendengar dahulu kemudian ikut membacanya atau boleh 
membaca bersama-sama imam (dlam hati). Bagaimana sekiranya imam membaca terlalu 
cepat dan ia juga membaca surah yang terlalu pendek hingga sukar makmum 
mengejarnya. Saya diberitahu oleh Ustaz tersebut bahawa makmum perlu membaca 
alfatihah sehingga habis supaya rakaatnya diterima. Ia bersandar pada nas 
bahawa tiada salat tanpa fatihah.
benarkah pendapat bahwa solat makmum ditanggung oleh imam bg mereka yang tidak 
sempat membaca al-fatihah..

Sekian, harap dapat memberi penjelasan berserta dalil dan hadith..
ruhaidah, malaysia
===

Alhamdulillah,
Jawaban untuk soalan 1, Orang yang hanya sempat bersama imam tatkala rukuk 
sahaja. ia sudah mendapat rakaat tersebut dan ia tidak perlu mengulang rakaat 
tersebut, penjelasannya saya ringkaskan dari almanhaj.

http://www.almanhaj.or.id/content/1822/slash/0
[2]. Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif ; Sesungguhnya ia melihat Zaid bin 
Tsabit masuk masjid ketika imam ruku’, maka beliaupun berjalan sambil ruku’ 
hingga memungkinkannya mencapai shaf. Beliau bertakbir (takbiratul ikhram) lalu 
ruku’. Kemudian ia berjalan sambil ruku’ hingga mencapai shaf. Hadits/atsar ini 
diriwayatkan oleh Al-Baihaqi II/9083/106 dan sanadnya shahih.

[3]. Dari Zubair bin Wahb ia bercerita : Saya bersama Abdullah –yakni Ibnu 
Mas’ud- keluar dari rumahnya menuju masjid. Ketika kami sampai ketengah-tengah 
masjid, imam ruku’. Maka Abdullah (bin Mas’ud) bertakbir dan ruku’, sayapun 
ruku’ bersamanya. Kemudian kami berjalan sambil ruku’ hingga (manakala) kami 
mencapai shaf, disaat jamaah shalat mengangkat kepalanya (i’tidal). Setelah 
imam selesai shalat, saya berdiri (lagi) karena saya beranggapan bahwa saya 
belum mendapat raka’at. Maka Abdullah (bin Mas’ud) mengamit tangan saya dan 
menahan saya (supaya tetap duduk). Lantas (seusai shalat) beliau berkata : 
‘Sesungguhnya engkau telah mendapatkan raka’at’.

Riwayat diatas dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf I/99/1-2. 
Begitu juga dikeluarkan oleh Abdur Razaq II/283/3381, Ath-Thahawi dalam Syarh 
Al-Ma’ani I/231-232, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir III/32/1 dan 
Al-Baihaqi dalam Sunnannya II/90-91 dengan sanad yang Shahih.

[4]. Dari Utsman bin Al-Aswad, ia mengatakan : ‘Saya bersama Abdullah bin Tamim 
masuk masjid. Maka imam ruku’, saya dan Abdullah bin Tamim ruku’, kami berjalan 
sambi ruku hingga masuk kedalam shaf. Ketika shalat telah usai, Amr bertanya 
kepada saya : ‘Yang engkau lakukan tadi, dari siapa engkau mendengarnya? Saya 
menjawab : Dari Mujahid, ia berkata : Sesungguhnya saya melihat Ibnu Az-Zubair 
melakukannya” (Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan sanadnya 
shahih).

http://www.almanhaj.or.id/content/1890/slash/0
Seseorang dikatakan mendapati shalat jama’ah bila mendapati satu rukuk bersama 
imam. Ini merupakan pendapat ulama Malikiyah, Al-Ghazali dari madzhab 
Asy-Syafi’iyah, salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan juga pendapat Ibnu Abi 
Musa serta pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Muhammad bin 
Abdul Wahhab dan Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah.[1]

Jawaban untuk soalan 2, Ini adalah perkara yang diperselisihkan oleh para ulama 
dengan perselisihan yang banyak, silakan membacanya di almanhaj.

http://www.almanhaj.or.id/content/1788/slash/0
Yang paling pokok dalam hal ini, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan jika dibacakan Al-Qur’an maka perhatikanlah, dan diamlah, agar 
kalian mendapat rakhmat” [Al-A’raaf : 204]

Pendapat seperti ini merupakan pendapat Imam Ibnul Qayyim, Ibnu Taimiyah dan 
lain-lain. Setelah mengkompromikan semua dalil yang ada akhirnya mereka 
menyimpulkan bahwa makmum wajib diam ketika imam menjaharkan bacaan, dan 
(makmum) wajib membaca ketika imam membaca perlahan.

Masalah sepelik ini tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan satu dua hadits 
saja. Tapi harus dilihat dari semua hadits yang berkaitan dengan masalah ini.

Maka seandainya kita berpendapat wajibnya membaca Al-Fatihah dii belakang imam 
ketika jahar, ini jelas-jelas bertentangan dengan berbagaii masalah dan dalil, 
dimana tidak mungkin bagi kita menentang dalil-dalill tersebut.

Dalil yang pertama kali kita tentang adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : 
“Dan jika dibacakan Al-Qur’an maka perhatikanlah dan diamlah”, darii perkataan 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Bahwasanya dijadikan imam itu untuk diikuti, jika ia bertakbir, maka 
bertakbirlah, dan jika ia membaca, maka diamlah”

Termasuk juga satu pertanyaan bahwa jika seorang (makmum) mendapati imam dalah 
keadaan rukuk, maka ia telah mendapat satu rakaat, padahal dia ini belum 
membaca Al-Fatihah. Oleh karena itu hadits.

“Artinya : Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah”

Dan hadits-hadits lain yang semakna adalah merupakan dalil khusus, bukan dalil 
secara umum. Dan satu hadits (dalil) jika telah bersifat khusus, maka 
keumumannya menjadi lemah, dan iapun siap dimasuki pengkhususan yang lain, atau 
dimasuki oleh dalil yang lebih kuat tingkat keumumannya dari hadits tadi.

Maka disini, hadits : “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Al-Fatihah”. 
Menurut kami menjadi hadits umum yang terkhususkan, dan pada saat itu juga 
hadits-hadits lain yang mengandung arti umum tentang wajibnya diam dibelakang 
imam dalam shalat jahar menjadi lebih kuat (tingkat keumumannya) dari hadits di 
atas.

_________________________________________________________________
Edit your photos like a pro with Photo Gallery.
http://www.get.live.com/wl/all


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/mlbios.php/aturanmilis/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke