> From: [EMAIL PROTECTED]
> Date: Mon, 4 Feb 2008 17:18:41 +0700
> Assalamu'alaikum warahmatulah wabarakatuh
> ikhwan fillah mohon bantuannya menjawab pertanyaan.
> bagaimana kita beraqidah yang benar dalam masalah taqdir ketika kita
> terlanjur berbuat dosa.
> jazakumullah khairan katsiran
> Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
> Kabiru

Alhamdulillah,
Ketika kita terlanjur berbuat dosa, maka yang harus kita lakukan adalah 
bertaubat. Dan Allah tidak berkehendak meninggalkan hamba-hamba-Nya dalam 
kesesatan selama-lamanya. Dia berfirman.

"Artinya : Allah menerangkan kepadamu supaya kamu tidak sesat" [An-Nisa : 176]

"Artinya : Allah hendak menerangkan kepadamu dan menunjukkanmu kepada 
jalan-jalan orang yang sebelum kamu dan hendak menerima taubatmu" [An-Nisa : 26]

Dari itu bertaubatlah kepada Allah Azza wa Jalla dan Allah lebih bergembira 
dengan taubatmu dibanding kegembiraan seseorang yang kehilangan kendaraan yang 
membawa makanan dan minumannya dan ia telah berputus asa. Lalu ia tertidur di 
bawah pohon menanti kematian. Kemudian ia bangun, tiba-tiba ia melihat tali 
untanya tergantung di pohon. Segera ia mengambil tali untanya dengan amat 
sangat gembira sembari berkata : Ya Allah, engkau hambaku dan aku rabbmu. Ia 
keliru saking gembiranya.

Maka kami tegaskan sekali lagi, bertaubatlah kepada Allah dan Allah 
memerintahkanmu untuk mengambil petunjuk. Dia pun telah menjelaskan jalan yang 
hak kepadamu.
http://www.almanhaj.or.id/content/397/slash/0

Dibawah ini saya copy salah satu pembahasan masalah taqdir dari almanhaj.
http://www.almanhaj.or.id/category/view/20/page/1

BAGAIMANA ALLAH MENYIKSA MANUSIA SEDANG ITU SUDAH DITENTUKAN ALLAH

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin
http://www.almanhaj.or.id/content/314/slash/0

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Ada polemik yang dirasakan 
sebagian manusia, yaitu bagaimana Allah akan menyiksa karena ma'siyat, padahal 
telah Dia takdirkan hal itu atas manusia ?"

Jawaban.
Sebenarnya hal ini bukanlah polemik. Langkah manusia untuk berbuat jahat 
kemudian dia disiksa karenanya bukanlah persoalan yang sulit. Karena langkah 
manusia pada berbuat jahat adalah langkah yang sesuai dengan pilihannya sendiri 
dan tidak ada seorangpun yang mengacungkan pedang di depannya dan mengatakan : 
"Lakukanlah perbuatan munkar itu", akan tetapi dia melakukannya atas pilihannya 
sendiri. Allah telah berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya Aku telah memberi petunjuk kepadanya pada jalan (yang 
benar), maka adakalanya dia bersyukur dan adakalanya dia kufur" [Al-Insan : 3]

Maka baik kepada mereka yang bersyukur maupun yang kufur, Allah telah 
menunjukkan dan menjelaskan tentang jalan (yang benar). Akan tetapi sebagian 
manusia ada yang memilih jalan tersebut dan sebagian lagi ada yang tidak 
memilihnya. Penjelasan (Allah) tersebut pertama dengan Ilzam 
(keharusan/kepastia logis) dan kedua dengan Bayan (penjelasan).

Dalam hal Ilzam, maka kita dapat mengatakan kepada seseorang : Amal duniawi dan 
amal ukhrawimu sebenarnya sama dan seharusnya anda memperlakukan keduanya 
secara sama. Sebagai hal yang maklum adalah apabila ditawarkan kepadamu dua 
pekerjaan duaniawi yang telah direncanakan. Yang pertama kamu yakini mengandung 
kabaikan untuk dirimu dan yang kedua merugikan dirimu. Maka pastilah anda akan 
memilih pekerjaan pertama yang merupakan pekerjaan terbaik dari dua rencana di 
atas dan tidak mungkin anda memilih pekerjaan kedua, yang merupakan pilihan 
terburuk lalu anda mengatakan : "Qadar (Allah) telah menetapkan saya padanya 
(piliha kedua). Dengan demikian, apa yang telah anda tetapkan dalam menempuh 
jalan dunia semestinya anda lakukan dalam menempuh jalan ukhrawi. Kita dapat 
mengatakan : Allah telah menawarkan di hadapanmu dua amal akhirat, yaitu amal 
buruk yang berupa amal-amal yang menyalahi syara' dan amal shalih yang berupa 
amal-amal yang sesuai dengan syara'. Maka apabila dalam berbagai pekerjaan 
duniawi anda memilih perbuatan yang baik, mengapa anda tidak memilih amal baik 
dalam amal akhirat. Karena itu, seharusnya anda memilih amal baik di dalam 
mencari akhirat sebagaimana anda harus memilih pekerjaan baik dalam mencari 
dunia. Inilah cara Ilzam.

Adapun cara Bayan, maka kita dapat mengatakan bahwa kita semua tidak tahu apa 
yang telah ditakdirkan Allah kepada kita. Allah berfirman.

"Artinya : Setiap diri tidak mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok" 
[Luqman : 34]

Maka ketika seseorang melakukan suatu perbuatan, berarti dia melakukannya atas 
pilihannya sendiri dan bukan karena mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan 
perbuatan tersebut kepadanya. Oleh karena itu, sebagian ulama' mengatakan : 
"Sesungguhnya Qadar itu rahasia yang tertutup". Dan kita semua tidak pernah 
mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan begitu, kecuali bila perbuatan 
tersebut telah terjadi. Dengan demikian, ketika kita melakukan sesuatu 
perbuatan, maka bukan berarti kita melakukannya atas dasar bahwa perbuatan 
tersebut telah ditetapkan bagi kita. Akan tetapi kita melakukannya berdasarkan 
pilihan kita sendiri dan ketika telah terjadi maka kita baru tahu bahwa Allah 
telah mentakdirkannya untuk kita.

Oleh karena itu, manusia tidak bisa beralasan dengan takdir kecuali setelah 
terjadinya perbuatan tersebut. Disebutkan dari Amirul Mu'minin, Umar bin 
Kahtthab, sebuah kisah (mungkin benar dari beliau mungkin tidak) bahwa seorang 
pencuri yang telah memenuhi syarat potong tangan dilaporkan kepada beliau. 
Ketika Umar menyuruh untuk memotong tangannya, dia mengatakan : "Tunggu dulu 
hai Amirul Mu'minin, demi Allah aku tidak mencuri itu kecuali karena Qadar 
Allah". Umar mengatakan : "Aku tidak akan memotong tanganmu kecuali karena 
Qadar Allah". Maka Umar berargumentasi dengan argumentasi yang digunakan 
pencuri tersebut tentang kasus pencurian terhadap harta orang-orang Islam. 
Padahal Umar bisa berargumentasi dengan Qadar dan Syari'at, karena beliau 
diperintahkan untuk memotong tangannya. Adapun dalam kasus tersebut, beliau 
berargumentasi dengan Qadar karena argumentasi tersebut lebih tepat mengenai 
sasaran.

Berdasarkan hal itu, maka seseorang tidak lagi berargumentasi dengan Qadar 
untuk berbuat ma'siyat kepada Allah dan dalam kenyataannya dia memang tidak 
punya alasan dalam hal di atas. Allah berfirman.

"Artinya : (Aku telah mengutus) para rasul yang membawa berita gembira dan 
memberi peringatan agar manusia tidak punya alasan/argumentasi kepada Allah 
setelah adanya para rasul" [An-Nisa : 165]

Sementara semua amal manusia, setelah datangnya para rasul, tetap terjadi atas 
Qadar Allah. Walaupun Qadar bisa dijadikan argumentasi akan tetapi selalu 
bersama-sama dengan terutusnya para rasul selamanya. Dengan demikian jelas 
bahwa tidak layak berbuat ma'siyat dengan alasan Qadha' dan Qadar Allah, karena 
dia tidak dipaksa untuk melakukannya.

Semoga Allah memberi Taufiq.

ADAKAH TINGKAT KEIMANAN KEPADA QADHA' DAN QADAR

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin
http://www.almanhaj.or.id/content/220/slash/0

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin -Semoga Allah meninggikan derajatnya di 
antara orang-orang yang mendapat petunjuk- ditanya : "Tentang Iman kepada 
Qadha' dan Qadar?"

Jawaban
Iman kepada Qadar adalah salah satu dari enam rukun iman yang telah dijelaskan 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada malaikat Jibril ketika bertanya 
tentang iman. Iman kepada Qadar adalah masalah yang sangat penting. Banyak 
orang yang telah memperdebatkan tentang Qadar sejak zaman dahulu, sampai hari 
inipun mereka masih memperdebatkan. Akan tetapi kebenaran masalah tersebut, 
walillah al-Ham, sangat jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Kemudian yang 
dimaksud dengan iman kepada Qadar adalah kita mempercayai (sepenuhnya) bahwa 
Allah telah menetapkan segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya.

"Artinya : Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sunggung telah 
menetapkannya" [Al-Furqaan : 2]

Kemudian ketetapan yang telah ditetapkan Allah selalu sesuai dengan 
kebijakan-Nya dan tujuan mulia yang mengikutinya serta berbagai akibat yang 
bermanfaat bagi hamba-Nya, baik untuk kehidupan (dunia) maupun akhiratnya.

Iman kepada Qadar berkisar empat tingkat keimanan.

[1]. Ilmu (Allah), yakni mempercayai dengan sepenuhnya bahwa ilmu Allah 
Subhanahu wa Ta'ala meliputi segala sesuatu, baik di masa lalu, sekarang maupun 
yang akan datang, baik yang berhubungan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan 
hamba-Nya. Dia (Allah) meliputi semuanya, baik secara global maupun rinci 
dengan ilmu-Nya yang menjadi salah satu sifat-Nya sejak azali dan selamanya 
(tak ada akhirnya). Dalil-dalil tentang tingkatan ini banyak sekali. Allah 
telah berfirman :

"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak ada rahasia lagi bagi-Nya segala sesuatu 
yang ada di bumi dan di langit" [ Ali-Imran : 5]

Dia juga berfirman.

"Artinya : Bagi-Nya kunci-kunci segala sesuatu yang gaib yang tidak ada yang 
mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang di darat dan di laut dan 
tidak ada sehelai daunpun yang gugur kecuali Dia mengetahui-Nya dan tidak ada 
satu benihpun di kegelapan bumi dan tak ada sesuatupun yang kering dan basah 
kecuali ada di dalam kitab yang jelas" [Al-An'am : 59]

Dia juga berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya Aku telah menciptakan manusia dan Aku mengetahui apa 
yang dibbisikkan hatinya" [Qaf : 16]

Dia juga berfirman.

''Artinya : Allah mengetahui segala sesuatu" [Al-Baqarah : 283]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan pengetahuan Allah pada 
segala sesuatu, baik secara global maupun rinci. Dalam tingkatan ini 
barangsiapa yang mengingkari Qadar maka dia kafir, karena dia mendustakan Allah 
dan Rasul-Nya serta ijma' kaum muslimin dan meremehkan kesempurnaan Allah. 
Karena kebalikan ilmu adalah mungkin bodoh atau alpa dan keduanya berupa aib 
(cacat). Allah terlah berfirman tentang Nabi Musa ketika dia ditanya oleh 
Fir'aun.

"Artinya : Maka apa saja yang telah terjadi di abad-abad terdahulu, dia (Musa) 
menjawab : Pengetahuan tentang itu di sisi Rabb-ku di dalam kitab yang Rabb-ku 
tidak akan salah dan alpa ( di dalamnya)" [Thaha : 51-51]

Maka Allah tidak akan bodoh terhadap sesuatu yang akan datang dan tidak akan 
melupakan sesuatu yang telah lewat.

[2]. Beriman kepada Allah telah menulis ketetapan segala sesuatu sampai terjadi 
hari Qiyamat, karena ketika Dia menciptakan Qalam, Dia berfirman kepadanya : 
"Tulislah", kemudian dia (Qalam) berkata : "Hai Tuhanku, apa yang aku tulis?" 
Dia berfirman : "Tulislah (dalam hadits yang lain. "Tulislah taqdir segala 
sesuatu hingga hari kiamat") semuanya yang terjadi", kemduian dia (Qalam) 
seketika berjalan menulis segala sesuatu yang terjadi sampai hari Qiyamat. Maka 
Allah telah menulis di Lauh Mahfudz ketetapan segala sesuatu. Tingkatan ini 
telah ditunjukkan oleh firman Allah.

"Artinya : Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang 
ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, 
sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah" [Al-Hajj : 70]

Allah juga berfirman. "Sesungguhnya itu semua berada dalam kitab", artinya 
telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz). (Sesungguhnya semua itu sangat mudah 
bagi Allah). Kemudian penulisan tersebut terkadang bersifat rinci. Maka janin 
yang ada di perut ibunya bila melewati umur empat bulan, maka Allah mengutus 
malaikat kepadanya dan mengutusnya membawa empat kalimat, yaitu menulis rizki, 
ajal, perbuatan, celaka atau bahagia, sebagaimana tertuang dalam hadits shahih 
Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, 
dan di tulis juga di dalam Qadar apa saja yang terjadi dalam tahun itu.

Sebagaimana Allah berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya Aku telah menurunkan pada malam yang berkah, 
sesungguhnya Aku memberi peringatan di dalamnya tentang perbedaan sesuatu yang 
mengandung hikmah, sebagai perintah dari-Ku, sesungguhnya Aku Rabb Yang 
Mengutus" [Ad-Dukhan : 3-5]

[3]. Beriman bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini disebabkan kehendak 
Allah. Segala sesuatu yang ada di alam ini terjadi karena kehendak Allah, baik 
yang dilakukan oleh-Nya maupun oleh mahkhluk. Allah telah berfirman.

"Artinya : Dia (Allah) melakukan apa yang Dia kehendaki" [Ibrahim : 7]

Allah juga berfirman.

"Artinya : Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu 
semuanya" [Al-An'am : 149]

Dia juga berfirman

"Artinya : Kalau Rabb-mu menghendaki maka Dia menjadikan umat manusia menjadi 
umat yang satu" [Hud : 118]

Dia juga berfirman.

"Artinya : Bila Dia (Allah) menghendaki maka Dia memusnahkanmu dan mengadakan 
penciptaan yang baru" [Fathir : 16]

Dan masih banyak lagi ayat yang menunjukkan bahwa perbuatan-Nya terjadi karena 
kehendak-Nya. Begitu juga segala perbuatan makhluk terjadi dengan kehendak-Nya, 
sebagaimana firman Allah.

"Artinya : Kalau Allah menghendaki, maka tidak terjadi saling bunuh di antara 
orang-orang setelah mereka datang penjelasan kepada mereka, akan tetapi mereka 
berselisih ; sebagian mereka beriman dan sebagian kafir. Dan apabila Allah 
menghendaki maka mereka tidak saling membunuh, akan tetapi Allah melakukan apa 
saja yang Dia kehendaki" [Al-Baqarah : 53]

Ini adalah nash (teks Al-Qur'an) yang sangat jelas bahwa semua perbuatan hamba 
telah dikehendaki Allah dan apabila Allah tidak menghendaki mereka untuk 
melakukannya maka mereka tidak akan melakukan.

[4]. Beriman bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, Maka Allah adalah Maha 
Pencipta dan selain-Nya Dia adalah makhluk. Segala sesuatu, Allah-lah 
penciptanya dan semua makhluk adalah ciptaan-Nya. Jika segala perbuatan manusia 
dan ucapannya termasuk sifatnya, sedangkan manusia itu makhluk, maka 
sifat-sifatnya juga makhluk Allah. Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah.

"Artinya : Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat" [As-Safat : 96]

Dengan demikian, Allah telah menetapkan penciptaan manusia dan perbuatannya. 
Allah juga berfirman : "Wa ma ta'malun" (dan apa saja yang kamu perbuat). Para 
ulama berselisih pendapat tentang kata "ma" (apa saja), apakah dia berupa "ma 
masdhariyah" (sehingga tidak bermakna) atau "ma maushulah" (sehingga bermakna 
apa saja). Berdasarkan dua perkiraan di atas ( ma mashdariyah atau ma 
maushulah), maka ayat tersebut tetap menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah 
ciptaan Allah. inilah keempat tingkatan keimanan kepada Qadar yang harus 
diimani, tidak sempurna keimanan seseorang terhadap Qadar kecuali dengan 
mengimani keempat-empatnya.

Kemudian ketahuilah bahwa iman kepada Qadar tidak berarti menghilangkan 
pelaksanaan sebab, bahkan melaksanakan berbagai sebab merupakan perintah 
Syari'ah. Hal itu dapat tercapai karena Qadar, karena bebagai sebab akan 
melahirkan musabab (akibat). Oleh karena itu, Amirul Mu'minin, Umar bin 
Khaththab, ketika pergi menuju Syam, di tengah perjalan dia mengetahui bahwa 
telah menyebar wabah penyakit di sana. Kemudian para sahabat bermusyawarah ; 
apakah perjalanan ini diteruskan atau kembali pulang ke Madinah ? Maka 
terjadilah perselisihan pendapat di antara mereka dan kemudian beliau 
memutuskan untuk kembali ke Madinah. Ketika beliau (Umar) sudah mantap pada 
pendapat tersebut, maka datanglah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarah sembari berkata 
: Hai Amirul Mu'minin, mengapa anda kembali ke Madinah dan lari dari Qadar 
Allah ?" Umar menjawab : " Kami lari dari Qadar Allah menuju Qadar Allah". 
Kemudian setelah itu datang Abdurrahman bin Auf (dia sebelumnya tidak ada di 
situ untuk memenui kebutuhannya), kemudian dia menceritakan bahwa Nabi pernah 
bersabda tentang wabah penyakit.

"Artinya : Bila kamu sekalian mendengar terjadinya wabah penyakit di bumi 
tertentu, maka janganlah kamu mendatanginya".

Kesimpulan perkataan Umar "lari dari Qadar Allah menuju Qadar Allah" itu 
merupakan dalil bahwa melaksanakan sebab juga termasuk Qadar Allah. Kita tahu 
bahwa apabila seseorang mengatakan " saya beriman kepada Qadar Allah dan Allah 
akan memberiku seorang anak dengan tanpa istri", maka orang tersebut dapat 
dikatakan gila. Begitu juga bila dia mengatakan "saya beriman kepada Qadar 
Allah dan saya tidak akan berupaya mencari rizki dan tidak melaksanakan 
sebab-sebab mendapatkan rizki", maka dia adalah dungu. Maka iman kepada Qadar 
tidak berarti menghilangkan sebab-sebab syar'iyah atau ikhtiar yang benar. 
Adapun sebab-sebab yang berupa prasangka yang dianggap palakunya sebagai sebab 
padahal bukan, maka hal itu di luar perhitungan dan tidak perlu diperhatikan.

Kemudian ketahuilah bahwa adanya kesulitan dalam mengimani Qadar (padahal 
sebenarnya tidak sulit), yaitu pertanyaan seseorang : "Apabila perbuatanku dari 
Qadar Allah, maka bagaimana saya harus menanggung akibatnya sementara semua itu 
dari Qadar Allah ?"

Jawabannya.
Hendaknya dikatakan kepadanya kamu tidak bisa beralasan malakukan ma'siyat 
dengan Qadar Allah, Karena Allah tidak memaksamu untuk melakukannya dan ketika 
kamu dihadapkan kepadanya (ma'siyah) kamu tidak tahu bahwa hal itu ditakdirkan 
untukmu. Karena manusia tidak mengetahui apa yang ditakdirkan kepadanya kecuali 
setelah terjadi. Karena itu, kenapa kamu tidak memperkirakan sebelum berbuat 
bahwa Allah telah mentakdirkan ketaatan kepadamu, sehingga kamu melaksanakannya 
.? Begitu juga dalam hal duniawi, kamu melakukan sesuatu yang kamu anggap ada 
kebaikannya dan menghindari yang kamu anggap berbahaya. Maka mengapa kamu tidak 
bersikap demikian dalam urusan akhirat ? Saya tidak yakin jika ada seseorang 
yang sengaja menempuh jalan yang sulit lalu dia berkata : "Ini telah 
ditakdirkan untukku, bahkan tentunya dia akan menempuh jalan yang paling aman 
dan mudah. Tidak ada perbedaan antara hal ini dengan perkataan yang diarahkan 
kepadamu bahwa Jannah mempunyai jalan dan Neraka juga mempunyai jalan. Maka 
apabila kamu menempuh jalan menuju Neraka, maka kamu bagaikan orang yang 
menempuh jalan yang mengkhawatirkan dan mengerikan. Maka mengapa kamu merelakan 
dirimu menempuh jalan menuju Neraka Jahim dan meninggalkan jalan menuju Jannah 
Na'im ? Kalau saja manusia boleh beralasan dengan Qadar tatkala melakukan 
ma'siyat, maka tentunya tidak ada gunanya diutusnya para rasul. Allah terlah 
berfirman.

"Artinya : Aku telah mengutus para rasul yang memberi berita gembira dan 
memberi peringatan agar manusia tidak mempunyai alasan kepada Allah setelah 
para rasul" [An-Nisa' : 165]

Ketahuilah bahwa iman kepada Qadar memiliki buah yang agung bagi perjalanan 
manusia dan hatinya, karena apabila kamu beriman bahwa segala sesuatu terjadi 
karena Qadha' dan Qadar Allah, maka ketika dalam kelapangan kamu akan bersyukur 
kepada Allah dan tidak membanggakan diri dan tidak melihat bahwa semua itu 
hasil kemampuan dan keutamaan, akan tetapi sebaliknya kamu meyakini bahwa ini 
hanya sebab dan bila kamu telah berhasil melaksanakan sebab yang menjadikan 
kamu mendapatkan kelapangan dan meyakini bahwa karunia tetap di tangan Allah, 
maka kamu akan bertambah syukur dan hal ini akan mendorong kamu untuk 
melaksanakan ketaatan kepada Allah sesuai dengan perintah-Nya, dan kamu tidak 
akan melihat kelebihan pada dirimu di atas Rabb-mu bahkan sebaliknya kamu 
melihat anugrah Allah kepadamu. Allah telah berfirman.

"Artinya : Mereka memberi anugrah keadamu dengan masuk Islam mereka, katakanlah 
: kamu tidak memberi anugerah kepadaku dengan masuk Islammu akan tetapi 
Allah-lah yang telah memberi anugrah kepadamu untuk menunjukkan kepadamu pada 
iman, bila kamu benar" [ Al-Hujurat : 17]

Begitu pula manakala kamu tertimpa kesusahan (musibah), maka kamu tetap percaya 
kepada Allah, menerima dan tidak terlalu menyesal karenanya bahkan tidak 
diliputi kegundahan (yang berat). Bukankah anda tahu bahwa Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Seorang mu'min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari 
pada seorang mu'min yang lemah, dalam segala kebaikan bersemangatlah (untuk 
mencapai) apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, jangan 
merasa lemah, apabila kamu tertimpa suatu (musibah) maka janganlah berkata ; 
Kalau saja aku melakukan begini maka hasilnya pasti begini, karena kata "kalau" 
akan membukakan perbuatan syetan".

Maka dengan demikian beriman kepada Qadar mengandung kedamaian jiwa dan hati 
dan hilangnya kegundahan karena kegagalan, serta hilangnya kekhawatiran untuk 
menghadapi masa depan. Allah berfirman.

"Artinya : Tidak ada musibah yang menimpa di bumi dan di dalam dirimu sendiri 
kecuali telah ada dalam kitab sebelum Aku membebaskannya, sesungguhnya semua 
itu sangat mudah bagi Allah, agar supaya kamu tidak bersedih atas kegagalanmu 
dan tidak terlalu bergembira atas apa (nikmat) yang diberikan kepadamu" 
[Al-Hadid : 22-23]

Orang yang tidak percaya kepada Qadar sudah pasti mengamali kegoncangan ketika 
tertimpa musibah dan akan bersedih dan syetanpun kana membuka pintu untuknya 
dan dia akan merasa terlalu bersuka ria dan terlena ketika mendapat 
kegembiraan. Akan tetapi iman kepada Qadar akan mampu mencegah itu semua.

[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha 
dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka 
At-Tibyan, penerjemah Abu Idris] 

_________________________________________________________________
Publish your photos to your Space easily with Photo Gallery
http://www.get.live.com/wl/all


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/mlbios.php/aturanmilis/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke