Assalaamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Ada beberapa hal yang agak mengganjal dan membutuhkan penjelasan.
Sebagaimana diketahui bahwasanya iman itu perkataan, perbuatan dan
keyakinan yang bisa bertambah dengan keta'atan dan berkurang dengan
kemaksiatan. Yang ingin saya tanyakan, apakah pengertian tersebut
maksudnya adalah keimanan yang sempurna? Artinya jika seseorang hanya
meyakini dan mengikrarkan dalam hati saja namun tidak/belum mengucapkan
dengan lisan dan dilakukan dengan amalan, yaitu semasa hidupnya belum
pernah berbuat kebaikan sedikitpun, namun hanya meyakini dan membenarkan
dalam hati saja. Apakah orang seperti itu tetap dikatakan seorang yang
beriman (ahli tauhid) dan berpeluang masuk surga, hanya saja imannya tidak
sempurna?
Bagaimana cara memahami hadits dan ayat berikut: Dari Abu Said Al
Khudri. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda. Artinya:
Keluarkanlah orang yang memiliki sisa kebaikan seberat biji sawi di
dalam hatinya. Para malaikat segera mengeluarkan banyak orang.
Orang-orang itu hanya bisa berucap (seolah tidak percaya), Tapi, Tuhan
kami tidak menaburkan kebaikan apapun di dalam (hati kami)! Allah
(berfirman) menjelaskan, Para malaikat, para nabi, juga orang-orang
mukmin telah dimintai untuk memberikan syafaat (namun mereka tidak mampu),
maka tidak tersisa lagi selain Sang Maha Pengasih yang paling pengasih.
Dia langsung menggenggam sebongkah api neraka, Ialu dikeluarkannyalah dari
genggaman-Nya sekelompok orang yang tidak pernah beramal kebajikan
sedikitpun dan mereka telah menjadi abu. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad
dalam Musnadnya (3/94), Al Hakim dalam Mustadrak-nya (4/583) yang sekaligus
men-shahih-kannya dan disetujui oleh Adz Dzahabi). Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman. Artinya: Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah
kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau
kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari
datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi keimanan
seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman itu atau dia (belum)
mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: Tunggulah olehmu,
sesungguhnya kami pun menunggu (pula). (Al Anam: 158). Dalam ayat
diatas ketika tanda-tanda kiamat telah datang, tidaklah bermanfaat
seseorang yang belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Yang ingin
saya tanyakan, bagaimana cara mengkompromikan dengan hadits diatas yang
mengatakan bahwa seseorang yang beriman akan masuk surga walaupun tidak
pernah berbuat kebaikan sedikitpun? Bagaimanakah maksud ayat di atas?
Apakah maksudnya seseorang yang beriman namun belum berbuat kebaikan
sedikitpun lalu datang tanda-tanda kiamat, maka amalan kebaikan yang
dilakukannya (sesudah datang tanda-tanda kiamat tersebut) tidak diterima,
namun dia tetap dikatakan beriman dan berpeluang masuk surga? Ataukah
keimanannya sama sekali tidak bermanfaat? Lalu apakah seorang beriman yang
sudah melakukan amal kebaikan sebelum datangnya tanda-tanda kiamat,
kemudian amal kebaikan yang dia lakukan sesudah datangnya tanda-tanda
kiamat akan diterima? Terima kasih sebelumnya atas jawabannya.
Jazakumullah khairan.
Ricky
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.