Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Ateis Iblis telah membisikkan kepada sekian banyak manusia bahwa di sana tidak ada Ilah dan pencipta. Segala benda yang ada terjadi tanpa pencipta. Mereka tidak mengenal pencipta dengan menggunakan indera dan tidak pula akal. Karena itu mereka mengingkari sang pencipta. Adakah orang yang berakal masih merasa ragu tentang adanya pencipta? Andaikan seseorang berjalan di sebuah tanah lapang yang tidak ada bangunannya sama sekali, lalu beberapa saat kemudian dia berbalik dan mendapatkan sebuah dinding tidak jauh dari tempatnya, tentunya disana ada seseorang yang membangunnya. Apakah tanah yang terhampar luas, atap yang ditinggikan, bangunan-bangunan dan tiang-tiang penyangga yang mengagumkan, serta penuh hikmah ini kurang menunjukkan tentang adanya pencipta? Alangkah tepat pernyataan orang-orang arab, "anak onta membuktikan adanya onta" Bukankah singgasana yang tinggi dan hamparan kehidupan ini menunjukkan adanya pencipta yang maha lembut dan maha mengetahui?
Kalaupun manusia memperhatikan dirinya sendiri, tentu sudah cukup menjadi bukti bahwa didalam jasad ini terkandung berbagai hikmah, yang tidak cukup diuraikan dalam satu buku. Siapa yang memperhatikan pembatasan gigi yang berfungsi untuk mencabik-cabik makanan, gigi geraham untuk mengunyah agar menjadi lembut, lidah untuk membolak-balik dan mengatur letak makanan, kemudian makanan itu mengalir ke seluruh bagian tubuh menurut kebutuhan masing-masing, disana ada pula jari-jemari ditangan yang telah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga mudah membuka dan meregang, sehingga bisa digunakan untuk bekerja, tulang-tulangnya tidak berlubang sehingga tidak mudah retak, sebagian lebih panjang dari yang lain, agar dapat seimbang disejajarkan, disana ada pula sesuatu yang tersembunyi di dalam badan dan sekaligus menjadi sandarannya, yaitu jiwa, jika jiwa terganggu, maka fungsi akalpun terganggu pula dan tidak mampu menuntun kepada kemaslahatan, maka semua ini berseru, "Masih adakah keragu-raguan tentang Allah?" Orang yang mengingkari sang pencipta pasti mengalami kegagalan, karena mereka mencari-Nya lewat indera. Diantara manusia ada pula yang mengingkari-Nya karena tatkala menetapkan keberadaan-Nya secara global, dia tidak mengetahui rinciannya, sehingga dia justru mengingkari keberadaan-Nya sama sekali. Andaikan dia mau mengaktifkan akalnya, tentu dia akan mengetahui bahwa kita juga mempunyai beberapa hal yang tidak bisa diketahui kecuali secara global, seperti jiwa dan akal. Apakah satu-satunya tujuan hanya menetapkan makhluk secara global? Lalu apa yang bisa dikatakan tentang dia dan apa dia, bagaimana dia dan bagaimana bentuknya? Diantara bukti yang kongkrit tentang keberadaan sang pencipta, bahwa alam ini adalah baru. Buktinya, alam ini selalu diisi dengan hal-hal baru. Segala sesuatu yang tidak terlepas dari hal yang baru. Adanya hal yang baru ini harus ada penyebabnya, yaitu Allah. Orang-orang ateis memberikan sanggahan yang panjang lebar terhadap pendapat kami, bahwa suatu ciptaan itu harus ada penciptanya. Mereka berkata, "Kalian hanya bergantung kepada sesuatu yang tampak. Karena itu kami menyanggah kalian." Dapat kami katakan, "Sebagaimana setiap ciptaan harus ada penciptanya, maka gambaran yang nyata pun harus ada penciptanya yang berupa materi, lalu meteri itu membentuk gambaran tertentu, seperti kayu yang kemudian dibentuk menjadi pintu, besi yang kemudian dibentuk menjadi kapak." Mereka berkata, "Dalil yang kalian gunakan untuk menetapkan pencipta ini menimbulkan anggapan bahwa alam ini lama." Rupanya untuk menjawabnya tidak memerlukan materi. Kami katakan, "Pencipta menciptakan sesuatu dengan suatu kreasi. Kita tahu bahwa rupa dan bentuk yang baru didalam suatu benda, seperti mesin, ada sesuatu yang tidak disebut materi. Tapi toh mesin itu ada seseorang yang menciptakannya. Kami melihat berapa banyak rupa yang termasuk sesuatu bukan dari sesuatu, dan kalian tidak mungkin melihat suatu ciptaan yang tidak datang dari penciptanya." [Disalin dari buku Perangkap Syetan karya Ibnul Jauzy, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Penerjemah: Kathur Suhardi] Semoga bermanfaat abu zalfa 2008/6/30 Abu Farhan <[EMAIL PROTECTED]>: > Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, > > 1/ Manusia tidak dapat melihat wujud Allah subhanahu wa ta'ala, kecuali > kelak pada hari kiamat. > 2/ Nabi Musa 'alaihi sallam ingin melihat wujud-Nya, tetapi jatuh pingsan > ketika baru ditampakkan cahaya-Nya (belum wujud-Nya) yang muncul dari balik > bukit. > 3/ Kedua hal tersebut didasarkan pada dalil naqli. > 4/ Sebagaimana semua telah tahu, memeluk agama Islam berarti harus > mengikuti rukun iman. Yang pertama ialah percaya kepada Allah subhanahu wa > ta'ala. Dialah puncak keghaiban. Oleh karena itu, memeluk agama Islam > berarti harus percaya kepada dzat yang maha ghaib tersebut. > 5/ Kita wajib percaya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, tetapi tidak boleh > memersoalkan bagaimana wujud-Nya. Memersoalkan hal-hal yang tidak boleh > dipersoalkan itu merupakan pengaruh dari syaitan. Kita perlu berlindung dari > godaan syaitan. > 6/ Kepada orang atheis, tidak perlu berdebat dan tidak perlu menjawab > pertanyaannya apabila dia hanya bertujuan mengolok-olok Allah subhanahu wa > ta'ala (dan agamanya) dan tetap tidak akan meyakini apa pun jawaban kita. > Agama itu hanya diperuntukkan manusia yang percaya. Allah subhanahu wa > ta'ala memberi hukuman yang luar biasa berat bagi manusia yang tidak percaya > kepada-Nya. Oleh karena itu, Anda sebaiknya tidak perlu bersusah-payah untuk > menjawab pertanyaan orang semacam itu karena hanya sia-sia dan tanpa manfaat > sedikit pun. Anda tidak perlu menghiraukan seandainya orang tersebut terus > mengejar jawaban Anda dan menganggap bahwa dia telah menang dalam berdebat. > Dia hanya memertuhankan hawa nafsunya. > > Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberi kemudahan kepada Saudaraku dalam > mempelajari aqidah dan cara berda'wah. > > Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, > Abu Farhan > > --- In [email protected] <assunnah%40yahoogroups.com>, "Khairul > Anwar bin Amir" > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Assalamualaikum. > > > > Saya berharap ada sesiapa dapat menjawab soalan saya ini. > > > > Andaikan seorang lelaki datang kepada anda, dan bertanyakan tentang > kewujudan Tuhan, bagaimana jawapan yang terbaik harus diberi? > > > > Lelaki ini adalah seorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan, > agama, dan perkara ghaib. Lelaki ini adalah Atheist yang tentunya > menolak dalil naqli. > > > >
