Wa alaikum salam warahmatullah wabarakatuhu

Ana sarankan untuk sangat berhati-2 dalam berkata maupun bertanya, karena bisa 
jadi pertanyaan kita malah membuat subhat/kerancuan baru bagi yang awam dalam 
manhaj ini.

Ana belum pernah menemukan atau mendengar dari ustad-2 bahwa kaidah tersebut 
dijadikan sebagai syarat diterimanya amalan.

Pertanyaan antum tidak ada hubungannya, karena syarat sah diterimanya suatu 
amalan adalah IKHLAS KARENA ALLAH & ITTIBA' KEPADA RASULULLAH (mengikuti 
tuntunan/petunjuk nabi).

Sedangkan kaidah ilmu sebelum berkata dan beramal (TERDAPAT DALAM KITAB SHAHIH 
BUKHARI) merupakan salah satu jalan untuk menuju ITTIBA'. Tidak ada jalan lain 
kecuali dengan menuntut ilmu (membaca buku/kitab, mendengar kajian, menghapal, 
dan lain-lain)

Jika kita beramal tanpa ilmu DIKHAWATIRKAN akan terjerumus kepada kesalahan. 
Ana tidak mengatakan pasti ditolak amalannya.

Ana ambil sebuah analogi. Ana ingin melakukan sesuatu setelah lulus kuliah, 
kemudian ana mengirimkan lamaran ke sebuah perusahaan dengan melampirkan berkas 
dimana ana tidak mengetahui persyaratan apa saja yang harus dilampirkan, tapi 
karena sangat butuh pekerjaan ana kirim saja semau ana. Nah kalau ternyata 
KEBETULAN apa yang ana lampirkan dalam surat lamaran tersebut ternyata cocok 
dengan apa yang diinginkan maka insya Allah ana akan dipanggil. Tapi kalau 
ternyata tidak sesuai ya bisa dipastikan surat lamaran ana akan ke tong sampah 
minimal dikembalikan.

Idealnya kan ANA HARUS CARI INFORMASI DULU (BERILMU) DARI SUMBER YANG 
TERPERCAYA apa saja yang diperlukan baru kemudian ana kirimkan surat lamaran 
tersebut.

Sebagai mana yang antum katakan bahwa bagaimana dengan amalan orang-2 awam, 
jika mereka shalat, zakat, dan lain-lain tentu mereka sudah tahu (ilmunya) 
minimal mereka tahu bahwa hal tersebut wajib atau mempunyai keutamaan untuk 
dilakukan, bukankah mendengar apa kata orangtua ketika orangtua memerintahkan 
untuk sholat sudah bagian dari proses belajar. Yang jadi permasalahan adalah 
bagaimana dan darimana ilmu tersebut kita dapatkan apakah shahih atau tidak, 
apakah sesuai dengan pemahaman para sahabat atau tidak. Sebagaimana kita 
mengetahui bahwa para sahabat adalah orang-2 yang paling bersemangat dan 
senantiasa ittiba'.

Adapun masalah amalan apakah diterima atau tidak itu adalah hak sepenuhnya dari 
Allah, justru kita diperintahkan untuk khauf (takut) dan rodja (harap, was was) 
apakah amal kita diterima atau tidak. Seseorang tidak boleh merasa aman dari 
azab Allah. Para sahabat dan ulama-2 besar yang kita ketahui kapasitas ilmunya, 
mereka sangat berhati-hati dalam melangkah. Sehingga kita hendaknya senantiasa 
bersungguh-2 dalam beramal dan sesuai tuntunan, karena kita tidak tahu apakah 
amalan kita diterima atau tidak.

Bagaimana dengan kita yang tidak mau mencari tahu, apakah kita merasa aman ? 
merasa pasti diterima amalan kita ?

Kemudian..

Jika kita berkata tanpa ILMU dikhawatirkan, apa yang kita sampaikan bisa 
menjadi sumber subhat dan dikuatirkan menyesatkan orang banyak. Karena ketika 
kita berkata tentang sesuatu kemudian ternyata apa yang kita katakan tersebut 
salah, dan banyak orang yang mengamalkan perkataan kita tadi, maka dosanya akan 
sampai kepada kita.

Ana nukil dari tulisan yang berjudul MEMELIHARA LIDAH DAN ADAB BERBICARA (DARI 
BUKU PANDUAN AKHLAK SALAF) Dari Maimun bin Mihran diriwayatkan bahwa ia 
berkata: "ada seorang lelaki yang datang menemui Salman (Al-Farisi), lalu 
berkata kepadanya: "Berikan aku nasihat." Beliau berkata: "Jangan banyak 
bicara." Lelaki itu berkata: "Orang yang hidup di tengah manusia, mana bisa 
tidak berbicara?" Beliau menanggapi: "Kalaupun Anda hendak berbicara, 
berbicaralah yang benar, atau diam."

Wallahu a'lam

Jika ana salah tolong dibenarkan. Mohon maaf yang sebesar-2 karena banyak yang 
ana tulis tidak disertai dalil (bukan berarti dalilnya tidak ada)



-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of gonang tole
Sent: Friday, July 18, 2008 10:15 AM
To: assunnah millis
Subject: [assunnah] berilmu sebelum berkata dan beramal ?

Assalamualaykum,

Mohon dijelaskan kaidah tersebut, karena banyak sekali disampaikan dalam
majelis ini maupun dalam buku-buku salaf.

Apakah orang yang tidak punya ilmu maka ibadahnya tidak diterima ?? kalau
begitu bagaimana ibadahnya orang awam yang mulai anak2 sampai tua (sholat /
baca Quran /zakat/shodaqoh dan lain sebagainya) sampai sekarangpun belum tau
tentang dalil sholat /zakat/shodaqohnya dan hanya berdasar apa yang pernah
dia terima baik dari perkataan ustadznya maupun dari buku yang belum tentu
shohih atau tidak faham arti bacaan sholatnya, apakah juga tidak diterima ?

Ini perlu dijelaskan jangan sampai kita berani membuat syariat baru tentang
hak diterima dan ditolaknya sebuah amalan, menurut hemat saya bahwa berilmu
sebelum berucap dan beramal adalah anjuran untuk kesempurnaan ibadah, dan
bukan persyaratan ibadahnya diterima atau ditolak.

Wallahu a'lam bish showab.


------------------------------------------------------------
NOTE: The information contained in this e-mail is intended only for the use of 
the individual or entity named above and may contain information that is 
privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If 
you are not the intended party to receive the message and its attachment(s), 
you are hereby notified that any dissemination, distribution or copy of the 
message is strictly prohibited. Please immediately notify the sender and delete 
the message as soon as possible. Thank you for kind attention.

CATATAN: Email yang terkirim melalui PT. PERTAMINA EP bersifat pribadi dan 
mungkin rahasia. Jika secara tidak sengaja Anda menerima surat elektronik ini, 
mohon maaf. Sekiranya berkenan, mohon untuk memberitahu kepada pihak pengirim 
akan kekhilafannya serta menghapus suratnya. Terima kasih atas perhatian Anda.

------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Download MP3 -Free kajian Islam- http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/mlbios2/aturanmilis.php
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke