Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
Saya ada artikel mengenai shalat isyraq, mungkin ini yg ditanyakan.
Berikut saya salinkan.

SHALAT ISYRAQ

Oleh
Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul

Shalat Isyraq adalah permulaan shalat Dhuha, di mana waktu shalat Dhuha
itu dimulai dari terbitnya matahari.

Penetapan penamaan shalat ini pada waktu shalat Dhuha sebagai shalat
Isyraq diperoleh dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu.

Dari Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, bahwa Ibnu Abbas tidak shalat
Dhuha. Dia bercerita, lalu aku membawanya menemui Ummu Hani' dan
kukatakan : "Beritahukan kepadanya apa yang telah engkau beritahukan
kepdaku". Lalu Ummu Hani berkata : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah masuk ke rumahku untuk menemuiku pada hari pembebasan kota
Mekkah, lalu beliau minta dibawakan air, lalu beliau menuangkan ke dalam
mangkuk besar, lalu minta dibawakan selembar kain, kemudian beliau
memasangnya sebagai tabir antara diriku dan beliau. Selanjutnya, beliau
mandi dan setelah itu beliau menyiramkan ke sudut rumah. Baru kemudian
beliau mengerjakan shalat delapan rakaat, yang saat itu adalah waktu
Dhuha, berdiri, ruku, sujud, dan duduknya adalah sama, yang saling
berdekatan sebagian dengan sebagian yang lainnya". Kemudian Ibnu Abbas
keluar seraya berkata : "Aku pernah membaca di antara dua papan, aku
tidak pernah mengenal shalat Dhuha kecuali sekarang.

"Artinya : Untuk bertasbih bersamanya (Dawud) di waktu petang dan pagi"
[Shaad : 18]

Dan aku pernah bertanya : "Mana shalat Isyraq ?" Dan setelah itu dia
berkata : "Itulah shalat Isyraq" [Diriwayatkan oleh Ath-Thabari di dalam
Tafsirnya dan Al-Hakim [1]

Mengenai keutamaan shalat Dhuha di awal waktunya yang ia adalah shalat
Isyraq, telah diriwayatkan beberapa hadits berikut ini.

Dari Abu Umamah, dia bercerita, Rasulullah Shallalllahu 'alaihi wa
sallam bersabda.

"Artinya : Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh di masjid dengan
berjama'ah, lalu dia tetap diam di sana sampai dia mengerjakan shalat
Dhuha, maka baginya seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji
atau umrah, (yang sempurna haji dan umrhanya)" [Diriwayatkan oleh
Ath-Thabrani]

Dan di dalam sebuah riwayat disebutkan.

"Artinya : Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh berjama'ah, lalu dia
duduk sambil berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit ..."
[Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani] [2]


[Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi
Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka
Imam Asy-Syafi'i]
_________
Foote Note
[1]. Atsar hasan lighairihi. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di dalam
Tafsirnya XXIII/138 -al-Fikr dari dua jalan.

Pertama : 
Dari Mus'ar bin Abdul Karim, dari Musa bin Abi Katsir, dari Ibnu Abbas
.. yang senada dengannya. Di dalam sanadnya ini terdapat inqitha : Musa
bin Abi Katsir tidak pernah mendengar dari Ibnu Abbas. Lihat kitab
At-Taqriib hal. 553, dimana dia menempatkannya di tingkatan ke enam, dan
mereka itu adalah orang-orang yang tidak ditetapkan pertemuan mereka
dengan salah seorang sahabat, sebagaimana yang ditegaskan di dalam
mukadimah.

Kedua.
Dari Sa'id bin Abi Arubah, dari Abul Mutawakkil, dari Ayyub bin Shafwan,
dari Abdullah bin Al-Harits bin Naufal bahwa Ibnu Abbas ... dan
seterusnya.

Di dalam sanadnya terdapat Sa'id, seorang muadllis lagi telah mengalami
pencampuran (ikhtilath). Abul Mutawakkil adalah Al-Mutawakkil.
Biografinya ada di dalam Al-Jarh wat Ta'diil (VIII/372, di mana padanya
tidak disebutkan jarh dan ta'dil. Dan biografinya ada di dalam kitab,
Ta'jiilul Manfa'ah hal. 391, dan telah ditetapkan tentang kemuliaannya.
Dan ketetapan tersebut dinukil dari Abu Hatim. Tetapi tidak demikian di
dalam kitabnya. Bisa jadi terjadi kekeliruan pandangan ada biografi
berikut di dalam kitabnya, Al-Jarh wat Ta'diil. Wallahu a'lam.

Ayyub memiliki biografi di dalam kitab, Al-Jarh wa Ta'diil II/250, dan
tidak disebutkan jarh dan ta'dil pada dirinya.

Juga diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak (tha/53),
melalui jalan Sa'id bin Abi Arubah,dari Ayyub bin Shafwan, dari Abdullah
bin Al-Harits bahwa Ibnu Abbas ... dan seterusnya.

Dapat saya katakan, di dalam sanadnya terdapat Sa'id dan Ayyub, dan
tidak disebutkan nama Al-Mutawakkil. Dan ini merupakan bentuk takhlith
(percampur adukan) yang dilakukan oleh Sa'id.

Dengan kedua sanad di atas, atsar ini naik ke tingkat hasan lighairihi.
Ketetapan tersebut semakin kuat oleh beberapa syahd berikut ini.

[a]. Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq di dalam kitab Al-Mushannaf III/79,
dari Ma'mar, dari Atha Al-Khurasani, dia bercerita, Ibnu Abbas pernah
berkata : "Di dalam diriku masih terus dihinggapi sedikit keraguan
sehingga aku membaca.

"Artinya : Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih
bersamanya (Dawud) di waktu petang dan pagi" [Shaad : 18]

Dapat saya katakan, ini adalah sanda hasan kepada Atha, hanya saja
riwayat Atha dari para sahabat itu bersifat mursal munqathi [Tahdziibut
Tahdziib VII/212]

[b]. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam kitab Al-Mu'jamul Kabiir
XXIV/406. Juga di dalam kitab Al-Ausath VI/63-64-Majma'ul Bahrain
melalui jalan Abu Bakar Al-Hadzali dari Atha bin Abi Rabah, dari Ibnu
Abbas dia bercerita : "Aku pernah diperintahkan melalui ayat ini, tetapi
aku tidak mengerti apa itu Al-Asyiyyi wal Al-Isyraaq, sehingga Ummu Hani
binti Abi Thalib memberitahuku bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah masuk menemuinya, lalu minta dibawakan air di dalam
mengkuk besar, seakan-akan aku melihat bekas adonan di dalamnya, lalu
beliau berwudhu', untuk selanjutnya beliau berdiri dan mengerjakan
shalat Dhuha. Kemudian beliau berkata : "Wahai Ummu Hani, ini adalah
shalat Isyraq"

Dapat saya katakana, Abu baker Al-Hadzali adalah seorang yang haditsnya
matruk, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab At-Taqriib, hal. 625.
Dan perafa'annya adalah munkar. Dan yang benar adalah mauquf.

[c]. Dan disana terdapat beberapa syahid lainnya yang disebutkan oleh
As-Suyuthi di dalam kitab, Ad-Durrul Mantsuur, VII/150-151. Dan lihat
juga, Al-Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah II/407-408

[2]. Hadits hasan. Yang takhrijnya akan diberikan pada pembahasan
selanjutnya tentang shalat Dhuha

Sumber :
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1934&bagian=0
<http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1934&bagian=0> 

 


________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Bela Sunnah
Sent: Tuesday, September 02, 2008 9:27 AM
To: asunnah
Subject: [assunnah] Tanya: Shalat Sunnah Israk



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu,
Maaf ana numpang tanya:
Adakah yang mengetahui dalil shalat sunnah israak (shalat sunnah yang
dilakukan minimal 100 menit setelah shalat subuh)?
Mohon penjelasannya. Mohon koreksi bila salah.
Wassalamualaikum
Abu Ihsan

Win a MacBook Air or iPod touch with Yahoo!7.
http://au.docs.yahoo.com/homepageset
<http://au.docs.yahoo.com/homepageset> 


 

Kirim email ke