Membongkar Kedok Sufi : Beraqidah Sesat
Penulis: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 30/II/I/1425
Firqoh-Firqoh, 28 Mei 2005, 15:12:48
Tak jauh beda dengan keadaan syi’ah Rafidhah, kaum Sufi – yang sebenarnya masih 
memiliki keterkaitan akidah dengan mereka – pun mengusung berbagai jenis 
kesesatan dan kekufuran, sebagai bahaya laten ditubuh kaum muslimin. Bahkan 
disaat kaum muslimin tidak lagi memperhatikan agamanya, muncullah mereka 
sebagai kekuatan spiritual yang mengerikan. Sehingga mereka tak segan-segan 
lagi menampilkan wacana kekufurannya ditengah-tengah kaum muslimin. 

Puncak kekufuran yang terdapat pada sekte sesat ini adalah adanya keyakinan 
atau akidah bahwa siapa saja yang menelusuri ilmu laduni (ilmu batin) maka pada 
terminal akhir ia akan sampai pada tingkatan fana (melebur/menyatu dengan Dzat 
Allah). Sehingga ia memiliki sifat-sifat laahuut (ilahiyyah) dan naasuut 
(insaniyyah). Secara lahir ia bersifat insaniyyah namun secara batin ia 
memiliki sifat ilahiyyah. Maha suci Allah dari apa yang mereka yakini!!. Akidah 
ini populer di tengah masyarakat kita dengan istilah manunggaling kawula gusti. 

Adapun munculnya akidah rusak ini bukanlah sesuatu yang baru lagi di jaman 
sekarang ini dan bukan pula isapan jempol dan tuduhan semata. 

Bukti Bukti Nyata Tentang Akidah Manunggaling Kawula Gusti Di Tubuh Kaum Sufi
Hal ini dapat dilihat dari ucapan para tokoh legendaris dan pendahulu sufi 
seperti Al Hallaj, Ibnul Faridh, Ibnu Sabi’in dan masih banyak lagi yang 
lainnya di dalam karya-karya mereka. Cukuplah dengan ini sebagai saksi atas 
kebenaran bukti-bukti tadi. 

1. Al Hallaj berkata:

“Maha suci Dia yang telah menampakkan sifat naasuut (insaniyah)-Nya lalu 
muncullah kami sebagai laahuut (ilahiyah)-Nya
Kemudian Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam wujud orang yang makan 
dan minum
Sehingga makhluk-Nya dapat melihat-Nya dengan jelas seperti pandangan mata 
dengan pandangan mata” (Ath Thawaasin hal. 129)


“Aku adalah Engkau (Allah) tanpa adanya keraguan lagi
Maha suci Engkau Maha suci aku Mengesakan Engkau berarti mengesakan aku 
Kemaksiatan kepada-MU adalah kemaksiatan kepadaku 
Marah-Mu adalah marahku Pengampunan-Mu adalah pengampunanku “ 
(Diwanul Hallaj hal. 82) 


“Kami adalah dua ruh yang menitis jadi satu
Jika engkau melihatku berarti engkau melihat-Nya
Dan jika engkau melihat-Nya berarti yang engkau lihat adalah kami” (Ath 
Thawaasin hal. 34)

2. Ibnu Faridh berkata dalam syairnya:

Tidak ada shalat kecuali hanya untukku
Dan shalatku dalam setiap raka’at bukanlah untuk selainku.. (Tanbih Al Ghabi fi 
Takfir Ibnu Arabi hal. 64)

3. Abu Yazid Al Busthami berkata: 
”Paling sempurnanya sifat seseorang yang telah mencapai derajat ma’rifat adalah 
adanya sifat-sifat Allah pada dirinya. (Demikian pula) sifat ketuhanan ada pada 
dirinya.” (An Nuur Min Kalimati Abi Thaifut hal. 106 karya Abul Fadhl Al 
Falaki) 
Maka diapun mengungkapkan keheranannya dengan berujar: “Aku heran kepada 
orang-orang yang mengaku mengenal Allah, bagaimana mereka bisa beribadah 
kepada-Nya?!

Lebih daripada itu, dia menuturkan pula akidah ini kepada orang lain tatkala 
seseorang datang dan mengetuk rumahnya. Dia bertanya: “Siapa yang engkau cari? 
Orang itu menjawab: “Abu Yazid.” Diapun berkata: “Pergi! Tidaklah yang ada di 
rumah ini kecuali Allah.” (An Nuur hal. 84)
Pada hal. 110 dia pernah ditanya tentang perihal tasawuf maka dia menjawab: 
“Sifat Allah telah dimiliki oleh seorang hamba”. 

Akidah Manunggaling Kawula Gusti membawa kaum sufi kepada keyakinan yang lebih 
rusak yaitu wihdatul wujud. Berarti tidak ada wujud kecuali Allah itu sendiri, 
tidak ada dzat lain yang tampak dan kelihatan ini selain dzat yang satu, yaitu 
dzat Allah. 

Ibnu Arabi berkata: 

Tuhan itu memang benar ada dan hamba itu juga benar ada
Wahai kalau demikian siapa yang di bebani syariat?
Bila engkau katakan yang ada ini adalah hamba, maka hamba itu mati
Atau (bila) engkau katakan yang ada ini adalah Tuhan lalu mana mungkin Dia 
dibebani syariat? (Fushulul Hikam hal. 90)

Penyair sufi bernama Muhammad Baharuddin Al Baithar berkata: “Anjing dan babi 
tidak lain adalah Tuhan kami Allah itu hanyalah pendeta yang ada di gereja” 
(Suufiyat hal. 27)

Dalil-Dalil Yang Dijadikan Kaum Sufi Sebagai Penopang Akidah Manunggaling 
Kawula Gusti

Sepintas, seorang awampun mampu menolak atau bahkan mengutuk akidah mereka ini 
dengan sekedar memakai fitrah dan akalnya yang sehat. Namun, bagaimana kalau 
ternyata kaum Sufi membawakan beberapa dalil baik dari Al Qur’an maupun As 
Sunnah bahwa akidah Manunggaling Kawula Gusti benar-benar diajarkan di dalam 
agama ini – tentunya menurut sangkaan mereka?!
Mampukah orang tersebut membantah ataukah sebaliknya, justru tanpa terasa 
dirinya telah digiring kepada pengakuan akidah ini ketika mendengar dalil-dalil 
tersebut? Dali-dalil tersebut adalah:
1. Surat Al Hadid 5 :
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ 
yang artinya: “Dan Dia (Allah) bersama kalian dimana kalian berada.”
2. Surat Qaaf 16 :
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ 
yang artinya: “Dan Kami lebih dekat kepadanya (hamba) daripada urat lehernya 
sendiri.
3. Sabda Rasulullah dalam hadits Qudsi: “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan 
diri kapada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku pun mencintainya Bila Aku 
mencinatainya maka jadilah Aku sebagai telinganya yang dia mendengar dengannya, 
mata yang dia melihat dengannya, tangan yang dia memegang sesuatu dengannya, 
dan kaki yang dia berjalan dengannya. (H.R. Al Bukhari)

Bantahan Terhadap Syubhat (Kerancuan Berfikir) Mereka Dalam Mengambil 
Dalil-Dalil diatas

Dengan mengacu kepada Al Qur’an dan As Sunnah di bawah bimbingan para ulama 
terpercaya, maka kita akan dapati bahwa syubhat mereka tidak lebih daripada 
sarang laba-laba yang sangat rapuh.
1. Tentang firman Allah di dalam surat Al Hadid 5, para ulama telah bersepakat 
bahwa kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya tersebut artinya ilmu Allah 
meliputi keberadaan mereka, bukan Dzat Allah menyatu bersama mereka. Al Imam 
Ath Thilmanki rahimahullah berkata: “Kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah 
telah bersepakat bahwa makna firman Allah yang artinya: “Dan Dia (Allah) 
bersama kalian dimana kalian berada” adalah ilmu-Nya.. (Dar’ut Ta’arudh 6/250)
2. Yang dimaksud dengan lafadz “kami” di dalam surat Qaaf: 16 tersebut adalah 
para malaikat pencatat-pencatat amalan. Hal ini ditunjukkan sendiri oleh 
konteks ayat setelahnya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir Ath Thabari, Ibnu 
Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan para ulama yang lainnya. Sedangkan Ath 
Thilmanki dan Al Baghawi memilih pendapat bahwa yang dimaksud lafadz “lebih 
dekat” adalah ilmu dan kekuasaan-Nya lebih dekat dengan hambanya-Nya daripada 
urat lehernya sendiri..
3. Al Imam Ath Thufi ketika mengomentari hadits Qudsi tersebut menyatakan bahwa 
ulama telah bersepakat kalau hadits tersebut merupakan sebuah ungkapan tentang 
pertolongan dan perhatian Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Bukan hakikat Allah 
sebagai anggota badan hamba tersebut sebagaimana keyakinan Wihdatul Wujud. 
(Fathul Bari) 
Bahkan Al Imam Ibnu Rajab rahimahullah menegaskan bahwa barangsiapa mengarahkan 
pembicaraannya di dalam hadits ini kepada Wihdatul Wujud maka Allah dan 
rasul-Nya berlepas diri dari itu. (Jami’ul Ulum wal Hikam hal. 523-524 bersama 
Iqadhul Himam)

Beberapa Ucapan Batil Yang Terkait Erat Dengan Akidah Ini

1. Dzat Allah ada dimana-mana. Ucapan ini sering dikatakan sebagian kaum 
muslimin ketika ditanya: “Dimana Allah berada?” Maka sesungguhnya jawaban ini 
telah menyimpang dari Al Qur’an dan As Sunnah serta kesepakatan Salaf. Syaikhul 
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Barang siapa yang mengatakan bahwa 
Dzat Allah ada di setiap tempat maka dia telah menyelisihi Al Qur’an, As Sunnah 
dan kesepakatan Salaf. Bersamaan dengan itu dia menyelisihi fitrah dan akal 
yang Allah tetapkan bagi hamba-hambanya. (Majmu’ Fatawa 5/125)
2. Dzat Allah ada di setiap hati seorang hamba. 
Ini adalah jawaban yang tak jarang pula dikatakan sebagian kaum muslimin 
tatkala ditanya tentang keberadaan Allah. Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) 
juga berkata; “Dan adapun keyakinan bahwa Dzat Allah ada di dalam hati setiap 
orang kafir maupun mukmin maka ini adalah batil. Tidak ada seorang pun dari 
pendahulu (Salaf) umat ini yang berkata seperti itu. Tidak pula Al Qur’an 
ataupun As Sunnah, bahkan Al Qur’an, As Sunnah, kesepakatan Salaf dan akal yang 
bersih justru bertentangan dengam keyakinan tersebut. (Syarhu Haditsin Nuzuul 
hal 375)

Beberapa Ayat Al Qur’an Yang Membantah Akidah Manunggaling Kawula Gusti

Ayat-ayat Al Qur’an secara gamblang menegaskan bahwa akidah Manunggaling Kawula 
Gusti benar-benar batil. Allah ta’ala berfirman : 
وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا إِنَّ الإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ 
artinya : “Dan mereka (orang-orang musyrikin) menjadikan sebagian hamba-hamba 
Allah sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar 
yang nyata.” (Az Zukhruf: 15)

فَاطِرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا 
وَمِنَ الأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ 
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 
“Dia Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri 
yang berpasang-pasangan dan dari jenis binatang ternak yang berpasang-pasangan 
(pula), Dia jadikan kamu berkembangbiak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun 
yang serupa dengan dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Asy 
Syura: 11)

Lihatlah, ketika Allah menjawab permintaan Musa yang ingin melihat langsung 
wujud Allah di dunia. Allah pun berfirman :
قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ 
مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ 
دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ 
إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ “
(artinya) : "Kamu sekali-sekali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke 
gunung itu, tatkala ia tetap ditempat itu niscaya kamu dapat melihat-Ku. 
Tatkala Tuhan menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan gunung itu hancur 
luluh dan Musa pun pingsan. Setelah sadar Musa berkata: Maha suci Engkau, aku 
bertaubat dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al A'raf: 143) 

(Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 30/II/I/1425, diterbitkan Yayasan As 
Salafy Jember.. Judul asli " Tasawuf Dan Aqidah Manunggaling Kawula Gusti". 
Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun via email.)


----- Original Message ----
From: KOMARUDIN <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, August 27, 2008 8:36:13 AM
Subject: [assunnah] Tanya


Bismillahirrahmanir rahiim
Assalamu'alaikum warahhmatullahi wabarakatuhu

Ahlan wa Sahlan,
Bagaimanakah menyampaikan kebenaran terhadap orang yang yang berpandangan 
sufisme?...,
bila dari saudaraku memiliki tulisan dari para ulama bermanhaj salaf yang 
berhubungan dengan hal sufisme, tolong di forward ke ana......... .....
    


      

Kirim email ke