jadi kesimpulannya bagaimana ini.... ...jika tidak boleh lantas bagaimana memeperkenalkan kepada si bayi bahwa Allah Maha Besar dan Muhammad adalah Rossulnya....???
Pada 22 September 2008 13:18, abu ubaidah <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > APAKAH DISYARIA'TKAN ADZAN PADA TELINGA BAYI YANG BARU LAHIR ? > > Oleh > Salim bin Ali bin Rasyid Asy-Syubli Abu Zur'ah > Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabah. > > Judul di atas dibuat dalam konteks kalimat tanya sebagaimana yang anda > lihat untuk menarik perhatian pembaca yang mulia agar mempelajari > pembahasan yang dikandung judul tersebut. Karena tidak ada seorang pun > yang menulis tentang bab ini kecuali menyebutkan judul sunnahnya adzan > pada telinga anak yang baru lahir, padahal tidaklah demikian karena > lemahnya hadits-hadits yang diriwayatkan dalam permasalahan ini. [*] > _____________________________ > > [*] Kami telah meneliti sedapat mungkin riwayat-riwayat dan > jalan-jalannya, dan berikut ini kami terangkan dalam pembahasan ini, > kami katakan : > > Ada tiga hadits yang diriwayatkan dalam masalah adzan pada telinga > bayi ini. > > Pertama. > Dari Abi Rafi maula Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam ia berkata > : "Aku melihat Rasulullah mengumandangkan adzan di telinga Al-Hasan > bin Ali dengan adzan shalat ketika Fathimah Radhiyallahu 'anha > melahirkannya". > > Dikeluarkan oleh Abu Daud (5105), At-Tirmidzi (4/1514), Al-Baihaqi > dalam Al-Kubra (9/300) dan Asy-Syu'ab (6/389-390), Ath-Thabrani dalam > Al-Kabir (931-2578) dan Ad-Du'a karya beliau (2/944), Ahmad > (6/9-391-392), Abdurrazzaq (7986), Ath-Thayalisi (970), Al-Hakim > (3/179), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (11/273). Berkata Al-Hakim : > "Shahih isnadnya dan Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya". > Ad-Dzahabi mengkritik penilaian Al-Hakim dan berkata : "Aku katakan : > Ashim Dla'if". Berkata At-Tirmidzi : "Hadits ini hasan shahih". > > Semuanya dari jalan Sufyan At-Tsauri dari Ashim bin Ubaidillah dari > Ubaidillah bin Abi Rafi dari bapaknya. > > Dan dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (926, 2579) dan > Al-Haitsami meriwayatkannya dalam Majma' Zawaid (4/60) dari jalan > Hammad bin Syua'ib dari Ashim bin Ubaidillah dari Ali bin Al-Husain > dari Abi Rafi dengan tambahan. > > "Artinya : Beliau adzan pada telinga Al-Hasan dan Al-Husain". > > Rawi berkata pada akhirnya : "Dan Nabi memerintahkan mereka berbuat > demikian". > > Dalam isnad ini ada Hammad bin Syuaib, ia dilemahkan oleh Ibnu Main. > Berkata Al-Bukhari tentangnya : "Mungkarul hadits". Dan pada tempat > lain Bukhari berkata : Mereka meninggalkan haditsnya". > > Berkata Al-Haitsami dalam Al-Majma (4/60) : "Dalam sanadnya ada Hammad > bin Syua'ib dan ia lemah sekali". > > Kami katakan di dalam sanadnya juga ada Ashim bin Ubaidillah ia lemah, > dan Hammad sendiri telah menyelisihi Sufyan At-Tsauri secara sanad dan > matan, di mana ia meriwayatkan dari Ashim dan Ali bin Al-Husain dari > Abi Rafi dengan mengganti Ubaidillah bin Abi Rafi dengan Ali bin > Al-Husain dan ia menambahkan lafadz : "Al-Husain" dan perintah adzan. > Hammad ini termasuk orang yang tidak diterima haditsnya jika ia > bersendiri dalam meriwayatkan. Dengan begitu diketahui kelemahan > haditsnya, bagaimana tidak sedangkan ia telah menyelisihi orang yang > lebih tsiqah darinya dan lebih kuat dlabtnya yaitu Ats-Tsauri. Karena > itulah hadits Hammad ini mungkar, pertama dinisbatkan kelemahannya dan > kedua karena ia menyelisihi rawi yang tsiqah. > > Adapun jalan yang pertama yakni jalan Sufyan maka di dalam sanadnya > ada Ashim bin Ubaidillah. Berkata Ibnu Hajar dalam At-Taqrib : "Ia > Dla'if", dan Ibnu Hajar menyebutkan dalam At-Tahdzib (5/42) bahwa > Syu'bah berkata : "Seandainya dikatakan kepada Ashim : Siapa yang > membangun masjid Bashrah niscaya ia berkata : 'Fulan dari Fulan dari > Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa sanya beliau membagunnya". > > Berkata Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan (2/354) : "Telah berkata Abu Zur'ah > dan Abu Hatim : 'Mungkarul Hadits'. Bekata Ad-Daruquthni : 'Ia > ditinggalkan dan diabaikan'. Kemudian Daruquthni membawakan untuknya > hadits Abi Rafi bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adzan > pada telinga Al-Hasan dan Al-Husain" (selesai nukilan dari Al-Mizan). > > Maka dengan demikian hadits ini dha'if karena perputarannya pada Ashim > dan anda telah mengetahui keadaannya. > > Ibnul Qayyim telah menyebutkan hadits Abu Rafi' dalam kitabnya > Tuhfatul Wadud (17), kemudian beliau membawakan dua hadits lagi > sebagai syahid bagi hadits Abu Rafi'. Salah satunya dari Ibnu Abbas > dan yang lain dari Al-Husain bin Ali. Beliau membuat satu bab khusus > dengan judul "Sunnahnya adzan pada telinga bayi". Namun kita lihat > keadaan dua hadits yang menjadi syahid tersebut. > > Hadits Ibnu Abbas dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman > (6/8620) dan Muhammad bin Yunus dari Al-Hasan bin Amr bin Saif > As-Sadusi ia berkata : Telah menceritakan pada kami Al-Qasim bin > Muthib dari Manshur bin Shafih dari Abu Ma'bad dari Ibnu Abbas. > > "Artinya : Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adzan pada > telinga Al-Hasan bin Ali pada hari dilahirkannya. Beliau adzan pada > telinga kanannya dan iqamah pada telinga kiri". > > Kemudian Al-Baihaqi mengatakan pada isnadnya ada kelemahan. > > Kami katakan : Bahkan haditsnya maudhu' (palsu) dan cacat (ilat)nya > adalah Al-Hasan bin Amr ini. berkata tentangnya Al-Hafidh dalam > At-Taqrib : "Matruk". > > Berkata Abu Hatim dalam Al-Jarh wa Ta'dil 91/2/26) tarjumah no. 109 > :'Aku mendengar ayahku berkata : Kami melihat ia di Bashrah dan kami > tidak menulis hadits darinya, ia ditinggalkan haditsnya (matrukul > hadits)". > > Berkata Ad-Dzahabi dalam Al-Mizan : "Ibnul Madini mendustakannya dan > berkata Bukhari ia pendusta (kadzdzab) dan berkata Ar-Razi ia matruk. > > Sebagaimana telah dimaklumi dari kaidah-kaidah Musthalatul Hadits > bahwa hadits yang dla'if tidak akan naik ke derajat shahih atau hasan > kecuali jika hadits tersebut datang dari jalan lain dengan syarat > tidak ada pada jalan yang selain itu (jalan yang akan dijadikan > pendukung bagi hadits yang lemah, -pent) rawi yang sangat lemah > lebih-lebih rawi yang pendusta atau matruk. Bila pada jalan lain > keadaannya demikian (ada rawi yang sangat lemah atau pendusta atau > matruk, -pent) maka hadits yang mau dikuatkan itu tetap lemah dan > tidak dapat naik ke derajat yang bisa dipakai untuk berdalil > dengannya. Pembahasan haditsiyah menunjukkan bahwa hadits Ibnu Abbas > tidak pantas menjadi syahid bagi hadits Abu Rafi maka hadits Abu Rafi > tetap Dla'if, sedangkan hadits Ibnu Abbas maudlu. > > Adapun hadits Al-Husain bin Ali adalah dari riwayat Yahya bin Al-Ala > dari Marwan bin Salim dari Thalhah bin Ubaidillah dari Al-Husain bin > Ali ia berkata : bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. > > "Siapa yang kelahiran anak lalu ia mengadzankannya pada telinga kanan > dan iqamah pada telinga kiri maka Ummu Shibyan (jin yang suka > mengganggu anak kecil, -pent) tidak akan membahayakannya". > > Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman (6/390) dan Ibnu Sunni > dalam Amalul Yaum wal Lailah (hadits 623) dan Al-Haitsami > membawakannya dalam Majma' Zawaid (4/59) dan ia berkata : Hadits ini > diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan dalam sanadnya ada Marwan bin Salim > Al-Ghifari, ia matruk". > > Kami katakan hadits ini diriwayatkan Abu Ya'la dengan nomor (6780). > > Berkata Muhaqqiqnya : "Isnadnya rusak dan Yahya bin Al-Ala tertuduh > memalsukan hadits". Kemudian ia berkata : 'Sebagaimana hadits Ibnu > Abbas menjadi syahid bagi hadits Abi Rafi, Ibnul Qayyim menyebutkan > dalam Tuhfatul Wadud (hal.16) dan dikelurkan oleh Al-Baihaqi dalam > Asy-Syu'ab dan dengannya menjadi kuatlah hadits Abi Rafi. Bisa jadi > dengan alasan ini At-Tirmidzi berkata : 'Hadits hasan shahih', yakni > shahih lighairihi. Wallahu a'lam (12/151-152). > > Kami katakan : tidaklah perkara itu sebagaimana yang ia katakan karena > hadits Ibnu Abbas pada sanadnya ada rawi yang pendusta dan tidak > pantas menjadi syahid terhadap hadist Abu Rafi sebagaimana telah lewat > penjelasannya, Wallahu a'lam. > > Sedangkan haidts Al-Husain bin Ali ini adalah palsu, pada sanadnya ada > Yahya bin Al-Ala dan Marwan bin Salim keduanya suka memalsukan hadits > sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dlaifah (321) > dan Albani membawakan hadits Ibnu Abbas dalam Ad-Dlaifah nomor (6121). > Inilah yang ditunjukkan oleh pembahasan ilmiah yang benar. Dengan > demikian hadits Abu Rafi tetap lemah karena hadits ini sebagaimana > kata Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam At-Talkhish (4/149) : "Perputaran > hadist ini pada Ashim bin Ubaidillah dan ia Dla'if. > > Syaikh Al-Albani telah membawakan hadits Abu Rafi dalam Shahih Sunan > Tirmidzi no. (1224) dan Shahih Sunan Abi Daud no (4258), beliau > berkata : "Hadits hasan". Dan dalam Al-Irwa (4/401) beliau menyatakan > : Hadits ini Hasan Isya Allah". > > Dalam Adl-Dla'ifah (1/493) Syaikh Al-Albani berkata dalam keadaan > melemahkan hadits Abu Rafi' ini : "At-Tirmidzi telah meriwayatkan > dengan sanad yang lemah dari Abu Rafi, ia berkata : > > "Aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adzan dengan > adzan shalat pada telinga Al-Husain bin Ali ketika ia baru dilahirkan > oleh ibunya Fathimah". > > Berkata At-Timidzi : "Hadits shahih (dan diamalkan)". > > Kemudian berkata Syaikh Al-Albani : "Mungkin penguatan hadits Abu Rafi > dengan adanya hadits Ibnu Abbas". (Kemudian beliau menyebutkannya) > Dikelurkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman. > > Aku (yakni Al-Albani) katakan : "Mudah-mudahan isnad hadits Ibnu Abbas > ini lebih baik daipada isnad hadits Al-Hasan (yang benar hadits > Al-Husain yakni hadits yang ketiga pada kami, -penulis) dari sisi > hadits ini pantas sebagai syahid terhadap hadits Abu Rafi, wallahu > 'alam. Maka jika demikian hadits ini sebagai syahid untuk masalah > adzan (pada telinga bayi) karena masalah ini yang disebutkan dalam > hadits Abu Rafi', adapaun iqamah maka hal ini gharib, wallahu a'alam. > > Kemudian Syaikh Al-Albani berkata dalam Al-Irwa (4/401) : 'Aku > katakana hadits ini (hadits Abu Rafi) juga telah diriwayatkan dari > Ibnu Abbas degan sanad yang lemah. Aku menyebutkannya seperti syahid > terhadap hadits ini ketika berbicara tentang hadits yang akan datang > setelahnya dalam Silsilah Al-Hadits Adl-Dla'ifah no (321) dan aku > berharap di sana ia dapat menjadi syahid untuk hadits ini, wallahu a'alam. > > Syaikh Al-Albani kemudian dalam Adl-Dlaifah (cetakan Maktabah > Al-Ma'arif) (1/494) no. 321 menyatakan : "Aku katakan sekarang bahwa > hadits Ibnu Abbas tidak pantas sebagai syahid karena pada sanadnya ada > rawi yang pendusta dan matruk. Maka Aku heran dengan Al-Baihaqi > kemudian Ibnul Qayyim kenapa keduanya merasa cukup atas pendlaifannya. > Hingga hampir-hampir aku memastikan pantasnya (hadits Ibnu Abbas) > sebagai syahid. Aku memandang termasuk kewajiban untuk memperingatkan > hal tersebut dan takhrijnya akan disebutkan kemudian (61121)" (selesai > ucapan Syaikh). > > Sebagai akhir, kami telah menyebutkan masalah ini secara panjang lebar > untuk anda wahai saudara pembaca dan kami memuji Allah yang telah > memberi petunjuk pada Syaikh Al-Albani kepada kebenaran dan memberi > ilham padanya. Maka dengan demikian wajib untuk memperingatkan para > penuntut ilmu dan orang-orang yang mengamalkan sunnah yang shahihah > yang tsabit dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada setiap > tempat bahwa yang pegangan bagi hadits Abu Rafi' yang lemah adalah > sebagaimana pada akhirnya penelitian Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dlaifah > berhenti padanya. Dan inilah yang ada di hadapan anda. Dan hadits ini > tidaklah shahih seperti yang sebelumnya beliau sebutkan dalam Shahih > Sunan Tirmidzi dan Shahih Sunan Abu Daud serta Irwaul Ghalil, wallahu > a'lam. > > Kemudian kami dapatkan syahid lain dalam Manaqib Imam Ali oleh Ali bin > Muhammad Al-Jalabi yang masyhur dengan Ibnul Maghazil, tapi ia juga > tidak pantas sebagai syahid karena dalam sanadnya ada rawi yang pendusta. > > [Disalin dari kitab Ahkamul Maulud Fi Sunnatil Muthahharah edisi > Indonesia Hukum Khusus Seputar Anak Dalam Sunnah Yang Suci, hal 31-36 > Pustaka Al-Haura] > > sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1553/slash/0 > > --- In [email protected] <assunnah%40yahoogroups.com>, "Saad Muh. > Saadus Sulton" > > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Wa'alaykumussalaam warohmatullohi wa barokaatuh. > > > > Tidak perlu, karena semua hadits 2 yang berkenaan dengan hal tsb > adalah lemah. > > > > Antum bisa merujuk dalam buku Masaa-il jilid 5 karya Ust. Abdul > Hakim bin Amir Abdat, atau buku Hadits Dhoif Populer karya Abu Ubaidah > Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi. > > > > > > --- Pada Ming, 21/9/08, firman <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > Dari: firman <[EMAIL PROTECTED]> > > Topik: [assunnah] Tanya Bayi Baru Lahir di Adzani atau Tidak > > Kepada: [email protected] <assunnah%40yahoogroups.com> > > Tanggal: Minggu, 21 September, 2008, 8:42 AM > > > > Assalamu'alaikum, > > > > Apakah bayi baru lahir perlu di adzani atau tidak? adakah dalilnya, > mohon antum yang mengetahui mohon di jelaskan. > > > > Syukron, > > > > Firman > > Oman ------------------------------------ Website anda http://www.almanhaj.or.id Download MP3 -Free kajian Islam- http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
