Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Antum mengatakan:

"...jika tidak boleh lantas bagaimana memeperkenalkan kepada si bayi bahwa 
Allah Maha Besar dan Muhammad adalah Rossulnya... .???"

Ya akhi...
Setiap bayi lebih mengenal Allah azza wajall dari pada kita-2 sebagai orang 
tuanya, bahkan seluruh manusia di dunia ini sebelum mereka di lahirkan ke dunia 
ini. Perhatikan kalam Allah azza wajall yang mulia di bawah ini:

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari 
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya 
berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban 
kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari 
kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang 
yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". Al-'A'raaf ayat 172

Wajib bagi kita beriman kepada hal yang Ghoib seperti ini.

Setiap anak yang dilahirkan didunia, baik itu dari keluarga muslim maupun 
bukan, adalah dalam keadaan fitrah, ingatlah Islam itu agama fitrah. Allah 
subhanallahuta'ala menciptakan semua ciptaan-Nya dalam keadaan fitrah, salah 
satunya adalah manusia.

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) 
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada 
peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan 
manusia tidak mengetahui." Ar-Ruum ayat 30

Ingatlah pula sabda Rasulullah salallahu'alayhi wasallam yang sahih, kira-2 
artinya:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallaahu'anhu, ia berkata:
Rasulullah salallahu'alayhi wasallam bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam 
keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, 
seorang Nasrani maupun seorang Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang 
melahirkan seekor anak tanpa cacat, apakah kamu merasakan terdapat yang 
terpotong hidungnya? (dikeluarkan oleh Imam Muslim dalan Sahihnya).

Kalau manusia selalu dalam keadaan fitrahnya dari bayi hingga dewasa, tentu dia 
dalam keadaan ta'at kepada Allah tabaraka wata'ala atas segala apa yang 
diperintakan dan dilarang, termasuk mengenal, mengimani, menta'ati, mencintai 
semua Rasul-Nya khususnya rasul terakhir Muhammad rasulullah salallahu'alayhi 
wasallam.

Jadi ya akhi fillah... jangan khawatir, kalau memang tidak ada nash yang 
membolehkan kita mengamalkan maka tinggalkan. Kembalikanlah bahwa yang membuat 
syariat adalah Allah azza wajall dan Rasulullah salallahu'alahi wasallam yang 
menyampaikan dan membagi-bagikan.

Tugas antum sebagai orang tua yang haq adalah bagaimana caranya supaya bayi 
yang lahir selalu tetap dalam keadaan fitrah, bukan mengamalkan amalan-2 yang 
Dlo'if atau bid'ah atau yang tidak mempunyai sumber dari Sang Pencipta Syari'ah 
dan Utusan-Nya Muhammad salallahu'alayhi wasallam.

Beberapa yang ana dapatkan yang disyariatkan:
1. Para orang tua harus belajar Islam dengan benar, dimulai dari yang paling 
mendasar yaitu: Aqidah, kemudian Ibadah dan Akhlaq, ini harus sesuai dengan apa 
yang diyar'ikan Allah azza wajall yaitu mengikuti pemahaman para 
Salafuna-Ash-Sholeh.
2. Harus dan berusaha sekuat mungkin mencari atau membuat lingkungan yang Islam 
atau Sunnah bagi tunas-2 muda kita.
3. Jauhkan atau berhati-hatilah dari makanan-2 atau hal-2 yang kita konsumsi 
dari hal yang subhat apalagi haram.
4. Berikan pendidikan atau arahkan pada pendidikan Diin Islam yang lurus yang 
jauh dari Bid'ah-2 yang mencelakakan.
5. dst.
Afwan, Allaahu'alam

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh, ibnu alkherid



----- Original Message ----
From: ADI php <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, October 5, 2008 5:59:26 AM
Subject: Re: Bls: [assunnah] Tanya Bayi Baru Lahir di Adzani atau Tidak

jadi kesimpulannya bagaimana ini....
...jika tidak boleh lantas bagaimana memeperkenalkan kepada si bayi bahwa Allah 
Maha Besar dan Muhammad adalah Rossulnya... .???


Pada 22 September 2008 13:18, abu ubaidah <dakwahsalaf@ yahoo.com> menulis:

> APAKAH DISYARIA'TKAN ADZAN PADA TELINGA BAYI YANG BARU LAHIR ?
>
> Oleh
> Salim bin Ali bin Rasyid Asy-Syubli Abu Zur'ah
> Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabah.
>
> Judul di atas dibuat dalam konteks kalimat tanya sebagaimana yang anda
> lihat untuk menarik perhatian pembaca yang mulia agar mempelajari
> pembahasan yang dikandung judul tersebut. Karena tidak ada seorang pun
> yang menulis tentang bab ini kecuali menyebutkan judul sunnahnya adzan
> pada telinga anak yang baru lahir, padahal tidaklah demikian karena
> lemahnya hadits-hadits yang diriwayatkan dalam permasalahan ini. [*]
> ____________ _________ ________
>
> [*] Kami telah meneliti sedapat mungkin riwayat-riwayat dan
> jalan-jalannya, dan berikut ini kami terangkan dalam pembahasan ini,
> kami katakan :
>
> Ada tiga hadits yang diriwayatkan dalam masalah adzan pada telinga
> bayi ini.
>
> Pertama.
> Dari Abi Rafi maula Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam ia berkata
> : "Aku melihat Rasulullah mengumandangkan adzan di telinga Al-Hasan
> bin Ali dengan adzan shalat ketika Fathimah Radhiyallahu 'anha
> melahirkannya" .
>
> Dikeluarkan oleh Abu Daud (5105), At-Tirmidzi (4/1514), Al-Baihaqi
> dalam Al-Kubra (9/300) dan Asy-Syu'ab (6/389-390), Ath-Thabrani dalam
> Al-Kabir (931-2578) dan Ad-Du'a karya beliau (2/944), Ahmad
> (6/9-391-392) , Abdurrazzaq (7986), Ath-Thayalisi (970), Al-Hakim
> (3/179), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (11/273). Berkata Al-Hakim :
> "Shahih isnadnya dan Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya" .
> Ad-Dzahabi mengkritik penilaian Al-Hakim dan berkata : "Aku katakan :
> Ashim Dla'if". Berkata At-Tirmidzi : "Hadits ini hasan shahih".
>
> Semuanya dari jalan Sufyan At-Tsauri dari Ashim bin Ubaidillah dari
> Ubaidillah bin Abi Rafi dari bapaknya.
>
> Dan dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (926, 2579) dan
> Al-Haitsami meriwayatkannya dalam Majma' Zawaid (4/60) dari jalan
> Hammad bin Syua'ib dari Ashim bin Ubaidillah dari Ali bin Al-Husain
> dari Abi Rafi dengan tambahan.
>
> "Artinya : Beliau adzan pada telinga Al-Hasan dan Al-Husain".
>
> Rawi berkata pada akhirnya : "Dan Nabi memerintahkan mereka berbuat
> demikian".
>
> Dalam isnad ini ada Hammad bin Syuaib, ia dilemahkan oleh Ibnu Main.
> Berkata Al-Bukhari tentangnya : "Mungkarul hadits". Dan pada tempat
> lain Bukhari berkata : Mereka meninggalkan haditsnya".
>
> Berkata Al-Haitsami dalam Al-Majma (4/60) : "Dalam sanadnya ada Hammad
> bin Syua'ib dan ia lemah sekali".
>
> Kami katakan di dalam sanadnya juga ada Ashim bin Ubaidillah ia lemah,
> dan Hammad sendiri telah menyelisihi Sufyan At-Tsauri secara sanad dan
> matan, di mana ia meriwayatkan dari Ashim dan Ali bin Al-Husain dari
> Abi Rafi dengan mengganti Ubaidillah bin Abi Rafi dengan Ali bin
> Al-Husain dan ia menambahkan lafadz : "Al-Husain" dan perintah adzan.
> Hammad ini termasuk orang yang tidak diterima haditsnya jika ia
> bersendiri dalam meriwayatkan. Dengan begitu diketahui kelemahan
> haditsnya, bagaimana tidak sedangkan ia telah menyelisihi orang yang
> lebih tsiqah darinya dan lebih kuat dlabtnya yaitu Ats-Tsauri. Karena
> itulah hadits Hammad ini mungkar, pertama dinisbatkan kelemahannya dan
> kedua karena ia menyelisihi rawi yang tsiqah.
>
> Adapun jalan yang pertama yakni jalan Sufyan maka di dalam sanadnya
> ada Ashim bin Ubaidillah. Berkata Ibnu Hajar dalam At-Taqrib : "Ia
> Dla'if", dan Ibnu Hajar menyebutkan dalam At-Tahdzib (5/42) bahwa
> Syu'bah berkata : "Seandainya dikatakan kepada Ashim : Siapa yang
> membangun masjid Bashrah niscaya ia berkata : 'Fulan dari Fulan dari
> Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa sanya beliau membagunnya" .
>
> Berkata Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan (2/354) : "Telah berkata Abu Zur'ah
> dan Abu Hatim : 'Mungkarul Hadits'. Bekata Ad-Daruquthni : 'Ia
> ditinggalkan dan diabaikan'. Kemudian Daruquthni membawakan untuknya
> hadits Abi Rafi bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adzan
> pada telinga Al-Hasan dan Al-Husain" (selesai nukilan dari Al-Mizan).
>
> Maka dengan demikian hadits ini dha'if karena perputarannya pada Ashim
> dan anda telah mengetahui keadaannya.
>
> Ibnul Qayyim telah menyebutkan hadits Abu Rafi' dalam kitabnya
> Tuhfatul Wadud (17), kemudian beliau membawakan dua hadits lagi
> sebagai syahid bagi hadits Abu Rafi'. Salah satunya dari Ibnu Abbas
> dan yang lain dari Al-Husain bin Ali. Beliau membuat satu bab khusus
> dengan judul "Sunnahnya adzan pada telinga bayi". Namun kita lihat
> keadaan dua hadits yang menjadi syahid tersebut.
>
> Hadits Ibnu Abbas dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman
> (6/8620) dan Muhammad bin Yunus dari Al-Hasan bin Amr bin Saif
> As-Sadusi ia berkata : Telah menceritakan pada kami Al-Qasim bin
> Muthib dari Manshur bin Shafih dari Abu Ma'bad dari Ibnu Abbas.
>
> "Artinya : Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adzan pada
> telinga Al-Hasan bin Ali pada hari dilahirkannya. Beliau adzan pada
> telinga kanannya dan iqamah pada telinga kiri".
>
> Kemudian Al-Baihaqi mengatakan pada isnadnya ada kelemahan.
>
> Kami katakan : Bahkan haditsnya maudhu' (palsu) dan cacat (ilat)nya
> adalah Al-Hasan bin Amr ini. berkata tentangnya Al-Hafidh dalam
> At-Taqrib : "Matruk".
>
> Berkata Abu Hatim dalam Al-Jarh wa Ta'dil 91/2/26) tarjumah no. 109
> :'Aku mendengar ayahku berkata : Kami melihat ia di Bashrah dan kami
> tidak menulis hadits darinya, ia ditinggalkan haditsnya (matrukul
> hadits)".
>
> Berkata Ad-Dzahabi dalam Al-Mizan : "Ibnul Madini mendustakannya dan
> berkata Bukhari ia pendusta (kadzdzab) dan berkata Ar-Razi ia matruk.
>
> Sebagaimana telah dimaklumi dari kaidah-kaidah Musthalatul Hadits
> bahwa hadits yang dla'if tidak akan naik ke derajat shahih atau hasan
> kecuali jika hadits tersebut datang dari jalan lain dengan syarat
> tidak ada pada jalan yang selain itu (jalan yang akan dijadikan
> pendukung bagi hadits yang lemah, -pent) rawi yang sangat lemah
> lebih-lebih rawi yang pendusta atau matruk. Bila pada jalan lain
> keadaannya demikian (ada rawi yang sangat lemah atau pendusta atau
> matruk, -pent) maka hadits yang mau dikuatkan itu tetap lemah dan
> tidak dapat naik ke derajat yang bisa dipakai untuk berdalil
> dengannya. Pembahasan haditsiyah menunjukkan bahwa hadits Ibnu Abbas
> tidak pantas menjadi syahid bagi hadits Abu Rafi maka hadits Abu Rafi
> tetap Dla'if, sedangkan hadits Ibnu Abbas maudlu.
>
> Adapun hadits Al-Husain bin Ali adalah dari riwayat Yahya bin Al-Ala
> dari Marwan bin Salim dari Thalhah bin Ubaidillah dari Al-Husain bin
> Ali ia berkata : bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
>
> "Siapa yang kelahiran anak lalu ia mengadzankannya pada telinga kanan
> dan iqamah pada telinga kiri maka Ummu Shibyan (jin yang suka
> mengganggu anak kecil, -pent) tidak akan membahayakannya" .
>
> Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman (6/390) dan Ibnu Sunni
> dalam Amalul Yaum wal Lailah (hadits 623) dan Al-Haitsami
> membawakannya dalam Majma' Zawaid (4/59) dan ia berkata : Hadits ini
> diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan dalam sanadnya ada Marwan bin Salim
> Al-Ghifari, ia matruk".
>
> Kami katakan hadits ini diriwayatkan Abu Ya'la dengan nomor (6780).
>
> Berkata Muhaqqiqnya : "Isnadnya rusak dan Yahya bin Al-Ala tertuduh
> memalsukan hadits". Kemudian ia berkata : 'Sebagaimana hadits Ibnu
> Abbas menjadi syahid bagi hadits Abi Rafi, Ibnul Qayyim menyebutkan
> dalam Tuhfatul Wadud (hal.16) dan dikelurkan oleh Al-Baihaqi dalam
> Asy-Syu'ab dan dengannya menjadi kuatlah hadits Abi Rafi. Bisa jadi
> dengan alasan ini At-Tirmidzi berkata : 'Hadits hasan shahih', yakni
> shahih lighairihi. Wallahu a'lam (12/151-152) .
>
> Kami katakan : tidaklah perkara itu sebagaimana yang ia katakan karena
> hadits Ibnu Abbas pada sanadnya ada rawi yang pendusta dan tidak
> pantas menjadi syahid terhadap hadist Abu Rafi sebagaimana telah lewat
> penjelasannya, Wallahu a'lam.
>
> Sedangkan haidts Al-Husain bin Ali ini adalah palsu, pada sanadnya ada
> Yahya bin Al-Ala dan Marwan bin Salim keduanya suka memalsukan hadits
> sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dlaifah (321)
> dan Albani membawakan hadits Ibnu Abbas dalam Ad-Dlaifah nomor (6121).
> Inilah yang ditunjukkan oleh pembahasan ilmiah yang benar. Dengan
> demikian hadits Abu Rafi tetap lemah karena hadits ini sebagaimana
> kata Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam At-Talkhish (4/149) : "Perputaran
> hadist ini pada Ashim bin Ubaidillah dan ia Dla'if.
>
> Syaikh Al-Albani telah membawakan hadits Abu Rafi dalam Shahih Sunan
> Tirmidzi no. (1224) dan Shahih Sunan Abi Daud no (4258), beliau
> berkata : "Hadits hasan". Dan dalam Al-Irwa (4/401) beliau menyatakan
> : Hadits ini Hasan Isya Allah".
>
> Dalam Adl-Dla'ifah (1/493) Syaikh Al-Albani berkata dalam keadaan
> melemahkan hadits Abu Rafi' ini : "At-Tirmidzi telah meriwayatkan
> dengan sanad yang lemah dari Abu Rafi, ia berkata :
>
> "Aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adzan dengan
> adzan shalat pada telinga Al-Husain bin Ali ketika ia baru dilahirkan
> oleh ibunya Fathimah".
>
> Berkata At-Timidzi : "Hadits shahih (dan diamalkan)".
>
> Kemudian berkata Syaikh Al-Albani : "Mungkin penguatan hadits Abu Rafi
> dengan adanya hadits Ibnu Abbas". (Kemudian beliau menyebutkannya)
> Dikelurkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman.
>
> Aku (yakni Al-Albani) katakan : "Mudah-mudahan isnad hadits Ibnu Abbas
> ini lebih baik daipada isnad hadits Al-Hasan (yang benar hadits
> Al-Husain yakni hadits yang ketiga pada kami, -penulis) dari sisi
> hadits ini pantas sebagai syahid terhadap hadits Abu Rafi, wallahu
> 'alam. Maka jika demikian hadits ini sebagai syahid untuk masalah
> adzan (pada telinga bayi) karena masalah ini yang disebutkan dalam
> hadits Abu Rafi', adapaun iqamah maka hal ini gharib, wallahu a'alam.
>
> Kemudian Syaikh Al-Albani berkata dalam Al-Irwa (4/401) : 'Aku
> katakana hadits ini (hadits Abu Rafi) juga telah diriwayatkan dari
> Ibnu Abbas degan sanad yang lemah. Aku menyebutkannya seperti syahid
> terhadap hadits ini ketika berbicara tentang hadits yang akan datang
> setelahnya dalam Silsilah Al-Hadits Adl-Dla'ifah no (321) dan aku
> berharap di sana ia dapat menjadi syahid untuk hadits ini, wallahu a'alam.
>
> Syaikh Al-Albani kemudian dalam Adl-Dlaifah (cetakan Maktabah
> Al-Ma'arif) (1/494) no. 321 menyatakan : "Aku katakan sekarang bahwa
> hadits Ibnu Abbas tidak pantas sebagai syahid karena pada sanadnya ada
> rawi yang pendusta dan matruk. Maka Aku heran dengan Al-Baihaqi
> kemudian Ibnul Qayyim kenapa keduanya merasa cukup atas pendlaifannya.
> Hingga hampir-hampir aku memastikan pantasnya (hadits Ibnu Abbas)
> sebagai syahid. Aku memandang termasuk kewajiban untuk memperingatkan
> hal tersebut dan takhrijnya akan disebutkan kemudian (61121)" (selesai
> ucapan Syaikh).
>
> Sebagai akhir, kami telah menyebutkan masalah ini secara panjang lebar
> untuk anda wahai saudara pembaca dan kami memuji Allah yang telah
> memberi petunjuk pada Syaikh Al-Albani kepada kebenaran dan memberi
> ilham padanya. Maka dengan demikian wajib untuk memperingatkan para
> penuntut ilmu dan orang-orang yang mengamalkan sunnah yang shahihah
> yang tsabit dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada setiap
> tempat bahwa yang pegangan bagi hadits Abu Rafi' yang lemah adalah
> sebagaimana pada akhirnya penelitian Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dlaifah
> berhenti padanya. Dan inilah yang ada di hadapan anda. Dan hadits ini
> tidaklah shahih seperti yang sebelumnya beliau sebutkan dalam Shahih
> Sunan Tirmidzi dan Shahih Sunan Abu Daud serta Irwaul Ghalil, wallahu
> a'lam.
>
> Kemudian kami dapatkan syahid lain dalam Manaqib Imam Ali oleh Ali bin
> Muhammad Al-Jalabi yang masyhur dengan Ibnul Maghazil, tapi ia juga
> tidak pantas sebagai syahid karena dalam sanadnya ada rawi yang pendusta.
>
> [Disalin dari kitab Ahkamul Maulud Fi Sunnatil Muthahharah edisi
> Indonesia Hukum Khusus Seputar Anak Dalam Sunnah Yang Suci, hal 31-36
> Pustaka Al-Haura]
>
> sumber : http://www.almanhaj .or.id/content/ 1553/slash/ 0
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] s.com <assunnah%40yahoogr oups.com> , "Saad Muh.
> Saadus Sulton"
>
> <[EMAIL PROTECTED] .> wrote:
> >
> > Wa'alaykumussalaam warohmatullohi wa barokaatuh.
> >
> > Tidak perlu, karena semua hadits 2 yang berkenaan dengan hal tsb
> adalah lemah.
> >
> > Antum bisa merujuk dalam buku Masaa-il jilid 5 karya Ust. Abdul
> Hakim bin Amir Abdat, atau buku Hadits Dhoif Populer karya Abu Ubaidah
> Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi.
> >
> >
> > --- Pada Ming, 21/9/08, firman <freddyfirm@ ...> menulis:
> > Dari: firman <freddyfirm@ ...>
> > Topik: [assunnah] Tanya Bayi Baru Lahir di Adzani atau Tidak
> > Kepada: [EMAIL PROTECTED] s.com <assunnah%40yahoogr oups.com>
> > Tanggal: Minggu, 21 September, 2008, 8:42 AM
> >
> > Assalamu'alaikum,
> >
> > Apakah bayi baru lahir perlu di adzani atau tidak? adakah dalilnya,
> mohon antum yang mengetahui mohon di jelaskan.
> >
> > Syukron,
> >
> > Firman
> > Oman

------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Download MP3 -Free kajian Islam- http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke