Wa'alaikumussalaam warohmatullahi wabarokaatuh

1. Termasuk amalan sunnah jika seseorang membayarkan zakat fithrinya melalui 
petugas zakat atau dengan kata lain ada seseorang yang bertugas mengumpulkan 
zakat tersebut (untuk dibagikan kepada yang berhak). Sungguh Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam telah mewakilkan kepada Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia 
berkata : Rasulullah mengkhabarkan kepadaku agar aku menjaga zakat Ramadhan" 
[Dikeluarkan oleh Bukhari 4/396]
Dan sungguh dahulu pernah Ibnu Umar radhiyallahu 'anuma mengeluarkan zakat 
kepada orang-orang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk 
oleh Imam (pemerintah) untuk mengumpulkannya. Beliau (Ibnu Umar) mengeluarkan 
zakatnya satu hari atau dua hari sebelum Idul fithri, dikeluarkan oleh Ibnu 
Khuzaimah 4/83 dari jalan Abdul Warits dari Ayyub, aku katakan : "Kapankah Ibnu 
Umar mengeluarkan satu gantang ?" Berkata Ayyub : "Apabila petugas telah duduk 
(bertugas)". Aku katakan : 'Kapankah petugas itu mulai bertugas?" Beliau 
menjawab : "Satu hari atau dua hari sebelum Idul 
Fithri".

2. Dibayarkan atas orang yang masih hidup saja seperti yg dikemukakan oleh Imam 
Al-Khathabiy dalam Ma'alimus Sunan 3/214 menegaskan : "Zakat fithri wajib atas 
orang yang puasa yang kaya atau orang fakir yang mendapatkan makanan dari dia, 
jika illat diwajibkannya karena pensucian , "Rasulullah shallallahu'alaihi wa 
sallam mewajibkan zakat fithri, pensuci bagi orang yang puasa dari perbuatan 
sia-sia, yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang miskin". Maka seluruh 
orang yang puasa butuh akan hal itu, jika berserikat dalam 'illat berserikat 
pula dalam hukum".
Dan juga dikemukakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar : "Pensucian disebutkan untuk 
menghukumi yang dominan, zakat fithri diwajibkan pula atas orang yang tidak 
berpuasa seperti diketahui keshahihannya atau orang yang masuk Islam sesaat 
sebelum terbenamnya matahari".

3. Tidak dibenarkan bagi kita membayarkan puasa orang tua kita yg masih hidup 
apalagi sehat, karena orang seperti ini punya kewajiban untuk melaksanakannya 
sendiri. Kita hanya diperbolehkan membayarkan puasa orang tua kita yg telah 
mati dan hanya jika puasanya itu sifatnya puasa nadzar seperti yg diterangkan 
oleh Syaikh Albani dalam Tamamul Minnah Takhrij Fiqih Sunnah hal. 427-428, cet. 
III Darul Rayah 1409H, lihat Ahkamul Janaiz oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin 
Al-Albani hal 213-216, cet. Darul Ma'arif 1424H.

Wallahua'lam


best regards
adi cahyadi
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"LAUKAANA KHAIRAN LASABAQUUNAA ILAIHI"
seandainya perbuatan itu baik tentulah para sahabat radhiallahu'anhu telah 
mendahului kita mengamalkannya 

----- Original Message ----- 
From: Yulianto, Benny 
To: [email protected] 
Sent: Monday, September 29, 2008 9:52 AM
Subject: [assunnah] OOT: Tanya Masalah Zakat dan Puasa

Assalamu'alaikum,

Afwan,
Ana mau menanyakan perihal Zakat fitrah, yaitu :
1. Berapa Kewajiban yang harus diberikan jika ana seorang karyawan dengan 
penghasilan tetap (1.5 jt/bulan),
Bolehkah diberikan langsung pada fakir miskin ataukah harus ke Mesjid untuk 
lebih afdolnya. ?
2. Apakah zakat fitrah itu boleh kita bayarkan atas nama Orang tua (baik yang 
masih hidup atau telah tiada) ?
3. Bolehkah kita membayarkan puasa orang tua kita (masih hidup dan dalam 
keadaan yang sehat)...

Syukron atas pencerahan yang diberikan,
Wassalamu'alaikum
Benny_,_._,___ 

Kirim email ke