Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh Menyampaikan amanat dari Ustadz Fariq Gasim Anuz, terlampir sebuah kisah yang dimuat di salah satu blog, semoga bisa bermanfaat.
Salam, Abu Ishaq -----Original Message----- From: Fariq Anuz Sent: Tuesday, November 04, 2008 3:58 PM Manado, belajarlah dari Madinah July 30th, 2007 by al-furwadady Me-Madinah-kan Manado Saudaraku kaum muslimin, di belahan bumi manapun kalian berpijak hendaklah kita tetap saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Di bawah ini saya bawakan kisah nyata yang didalamnya Insya Allah terkandung nasihat yang dalam bagi kita yang mau memikirkannya. Kisah ini saya kutip dari buku Ustadz Fariq Gasim Anuz dalam bukunya yang berjudul "Da'i Cilik" yang diterbitkan oleh Darul Falah. Beliau mensarikan kisah ini dari majalah Al-Fityan, No. 49, Rabiuts Tsani 1424 H, hal 38-39. Seorang Ayah Bertaubat dengan Sebab Anaknya yang Masih Berusia 7 tahun Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain. Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan. Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya: "Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya. Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, "Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?" Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu. Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah. Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, tapi ia lari dariku. Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur'an. Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah. Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar … lalu ia shalat maghrib di hadapan saya. Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur'an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya): "Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Alllah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syetan" (Maryam: 45) Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya. Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setalah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, "Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!" Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh. Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), "Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi)." Saya katakan kepadanya, "Biar kita ke masjid dekat rumah saja." Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi. Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut.. Dan Marwan selalu memandang saya. Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat untuk shalat isya', saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui" (An-Nuur: 21) Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya. Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, "Sudahlah wahai Abi!" Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, "Kamu jangan cemas." Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia. Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi. Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik. Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan, "Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur'an dan menunjukkannya kepada saya?" Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, "Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini." Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah- saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang. Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah". Saudaraku kaum muslimin, sampai di sini kisah tersebut berakhir. Kisah singkat yang sarat dengan pelajaran bagi kaum yang mau memikirkannya. Diantara pelajaran yang dapat saya (Abu Ibrahim) ambil dari kisah ini adalah: 1. Hidayah adalah kehendak Allah Ta'ala, dengan cara, sebab atau perantara apapun yang Dia kehendaki. Manusia tidak bisa memberi hidayah kepada siapapun, sekalipun Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam. Sebagaimana kita ketahui beliau tidak dapat memaksa paman beliau untuk masuk islam menjelang kematiannya dan paman beliau mati dalam keadaan kafir. Kisah ini telah masyhur. 2. Keutamaan memiliki istri shalihah. Sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri shalihah, maka barangsiapa yang memiliki istri shalihah berarti dia telah mendapatkan sebaik-baik perhiasan di dunia ini. Renungkanlah ini wahai pemuda yang akan menikah, pemudi yang akan menjadi istri dan orang tua yang akan mendidik anak-anak perempuannya agar kelak menjadi istri yang shalihah. Perhatikanlah Marwan, perhatikan siapa yang mendidiknya. 3. Hendaknya para pemuda tidak memperturutkan hawa nafsunya dalam mencari pendamping hidup, ingatlah sesungguhnya istri-istri kita adalah ustadzah bagi anak-anak kita, menjadi madrasatul iman bagi generasi muda islam di masa mendatang dan merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Renungkan wahai pemuda apabila istrimu adalah orang yang jahil akan ilmu agama, apa yang akan ia ajarkan kepada anak-anakmu. Renungkan wahai pemuda apabila istrimu bahkan tidak mengajarinya ilmu agama sama sekali, karena ia sibuk dengan karirnya. Renungkanlah wahai pemuda muslim, sesungguhnya fitnah akhir zaman ini sangat dahsyat, berbagai macam pelanggaran syariat terjadi dimana-mana. Zaman ini seperti cambuk, semakin ke ujung semakin kecil. Kebaikan ada pada pendahulu umat ini, semakin ke ujung kualitas manusia secara umum semakin buruk dan semakin buruk, hingga yang terburuk adalah mereka yang bertemu dengan Yaumul Qiyamah. Apa jadinya ketika kerusakan di muka bumi semakin menjadi-jadi, sedangkan anak-anak kita akan menghadapinya tanpa tarbiyatul iman (pembinaan iman) dan tanpa aqidah yang kokoh yang diajarkan oleh ibu dan bapaknya. Saudara-saudaraku, berhati-hatilah terhadap fitnah dunia. Sihirnya Harut dan Marut mampu memisahkan seorang istri dari suaminya, tapi sihirnya dunia mampu memisahkan sorang hamba dari Rabbnya. Betapa banyak orang yang merasakan musibah pada dunianya, namun tidak merasakan musibah pada agamanya. Ketika hartanya hilang atau berkurang, dia merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Namun ketika berkurang hafalan Al-Qur'an atau haditsnya, menjadi malas shalat berjama'ah, menjadi enggan bershadaqah dan kebaikan-kebaikan lain ia tinggalkan, dia tidak merasa bahwa sesuatu yang sangat berharga telah hilang dari dirinya. Untuk saudaraku para pemuda muslim, berhati-hatilah terhadap fitnah wanita. Fitnah wanita adalah fitnah paling berbahaya bagi laki-laki, sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam khabarkan. Wanita adalah makhluk yang kurang agama dan kurang akalnya, namun mampu menggoyahkan iman laki-laki yang lebih sempurna agama dan akalnya. Terlebih lagi bagi remaja muslim, yang sedang memasuki masa puber, berhati-hatilah dengan virus 'merah jambu'. Telah banyak korban berjatuhan akibat virus ini. Waspadalah terhadap virus ini dengan mengenali gejala-gejalanya. Insya Allah, saudara-saudaraku dapat memahami apa yang saya maksudkan. 4. Tidak perlu berkecil hati bagi pemuda yang mendapati istrinya lebih berilmu dari dirinya. Justru ini adalah kebaikan yang Allah Ta'ala berikan kepada kita. Dalam memilih teman saja kita sangat dianjurkan untuk memilih teman yang shalih, apalagi istri. Istri adalah orang yang paling dekat dengan kita, lebih dekat di banding teman. Perhatikanlah hal ini. 5. Terimalah kebenaran walaupun yang menyampaikan kebenaran itu adalah orang yang yang dianggap remeh oleh kebanyakan manusia. 6. Bahaya berteman dengan orang-orang jahat, ahli maksiat, dan jauh dari ilmu agama. Orang-orang jahat, ahli maksiat dan bodoh akan ilmu agama wajib dijauhi karena mereka sama sekali tidak mengingatkan kita akan Darul Qarar, negeri akhirat yang abadi, yang wajib bagi setiap muslim menjadikannya sebagai tujuan terbesar dalam hidupnya. 7. Hendaknya setiap muslim mengintrospeksi dirinya, apakah hatinya bergetar ketika ayat-ayat Allah dibacakan atau tidak. Apabila hati itu bergetar mendengar ayat-ayat Allah dibacakan maka berbahagialah, apabila tidak maka segeralah bertaubat dari maksiat-maksiat yang selama ini dilakukan dan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan. Saya menulis demikian bukan berarti saya telah mengamalkan seluruh apa yang saya tulis. Saya menulis demikian bukan berarti saya orang yang berilmu, sebaliknya saya adalah orang bodoh sehingga belajar dari kisah ini. Sungguh saya bersaksi bahwa Allah adalah Rabb Yang Maha Penyayang. Ketika hatiku gundah gulana karena dipermainkan fitnah akhir zaman, aku masih ditunjuki-Nya jalan kebaikan, thalabul 'ilm ke Komo Luar. Sebuah perkampungan di Manado. Bersama saudaraku, sebut saja Mas Bujang, kami berangkat melesat gesit diatas Yamaha Vega-R miliknya. Hatiku memang sedang resah. Dengan kefakiranku akan ilmu syar'i aku mencoba berpikir tentang apa yang sedang menimpaku. Akhirnya aku tahu apa yang sedang terjadi pada diriku, menurut dugaanku. Mungkin memang sudah waktunya. Tapi, ini tetap tidak bisa dibenarkan kalau engkau mengetahui keadaan sebenarnya. Kembali ke kajian. Kami mendapat banyak faidah dalam majlis ta'lim tersebut. Mas Bujang berkeinginan untuk membeli kitab (tepatnya buku terjemahan) yang di bahas dalam kajian malam itu. Sedangkan aku telah memiliki kitab tersebut, tapi sengaja ku tinggal di rumah, di Jawa, karena aku merasa berat membawanya. Banyak sekali buku-buku yang aku tinggal di Jawa. Mas Bujang menyarankan untuk di kirim saja ke Manado. Tapi aku belum melaksanakan apa yang dia sarankan. Di tanah Jawa aku dibesarkan, namun aku sama sekali tidak bangga dengan suku Jawa. Banyak adat-adat di Jawa yang membatalkan keislaman seseorang. Berhati-hatilah. Namun demikian aku ingin pulang ke Jawa, karena di sana banyak orang-orang shalih. Majlis-majlis ilmu dengan mudah dapat ditemukan. Bapak, ibu dan kebanyakan saudaraku juga ada di Jawa. Semoga Allah menunjukiku, bapak, ibu, saudara-saudaraku serta kaum muslimin seluruhnya ke jalan yang lurus seperti yang kita minta sehari semalam minimal 17 kali. Kalau kurang dari itu, berarti ada shalat yang kita tinggalkan. Sebagian orang menyebut shalat dengan sembahyang, tapi aku tidak suka karena Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam menamai ibadah itu dengan 'shalat'. Maka aku pun demikian. Keesokan harinya, hari ahad aku ajak Mas Bujang ke Gramedia. Kitab yang ingin dia beli ada, namun harganya terlalu tinggi. Bukan tidak mampu beli, tapi dia berharap bisa mendapatkan kitab tersebut dengan harga lebih murah dengan menitip ke temannya. Akhirnya Mas Bujang membeli kitab karya ahli hadits abad ini, Syaikh Albani Rahimahullah, dengan judul terjemahan 180 Risalah Shalat, dilengkapi dengan doa-doa. Sedangkan aku membeli buku kecil karya Ibnu Rajab berjudul Hakikat Niat. Satu lagi yang aku beli, Da'i Cilik karya ustadz Fariq. Buku kecil juga. Kisah Marwan diatas hanyalah salah satu kisah dari beberapa kisah yang ustadz Fariq bawakan. Kisah lain tak kalah bagusnya, mungkin malah lebih bagus. Tapi karena kisah ini memberi pelajaran bagiku, maka aku menuliskannya. Sebenarnya kisah yang lain juga memberi nasihat kepadaku, tapi ku pikir kisahnya terlalu panjang dan didalamnya ada sesuatu yang aku -berdasarkan apa yang aku ketahui saat ini- tidak setuju. Setelah aku yakin apa yang menimpaku, aku mulai berpikir apa yang menjadi penyebabnya. Penyebabnya pun ketemu –sekali lagi, sebatas yang aku ketahui. Sebaiknya aku segera mengatasinya. Kalau tidak, niscaya aku akan dipermainkan oleh perasaanku sendiri. Memang benar bahwa kebohongan akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Dan sesungguhnya apabila sesuatu itu diawali dengan kesalahan, maka akan diikuti pula dengan kesalahan-kesalahan berikutnya. Maka aku semakin yakin dengan kebenaran syari'at islam ini. Islam melarang perbuatan haram dan melarang pula sarana-sarana menuju perbuatan haram. Sengaja aku tidak menceritakan secara vulgar apa yang terjadi pada diriku. Ini untuk menutup pintu fitnah, selain tentu aku merasa malu kalau harus menelanjangi diriku sendiri di hadapan orang banyak. Bisa gempar orang-orang di kantor kalau aku menceritakannya secara detail. Lagi pula kita belajar dari kisah Marwan, bukan dari kisah saya. Sesungguhnya hati setiap mukmin harus berisi khauf (rasa takut) dan raja' (harapan). Apabila kita dalam keadaan sehat maka perbesarlah khauf. Takutlah kita akan ujian ni'mat sehat ini. Hendaklah kita takut akan menyia-nyiakan ni'mat ini. Apabila kita sedang ditimpa kemalangan, kesusahan dan bencana maka janganlah kita ber putus asa. Justru sebaliknya, perbesarlah harapan. Berusahalah dan mintalah pertolongan kepada Allah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Mintalah ganti yang lebih baik kepada Allah atas apa yang luput dari genggaman kita. Yakinlah saudaraku, apabila apa yang kita minta tak kunjung Allah kabulkan, ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kita butuhkan. Apa-apa musibah yang menimpa kita itu adalah akibat perbuatan kita sendiri. Benar, demikianlah adanya. Mas Bujang, semoga ini menjadi renungan dan pelajaran buat kita semua. Pelajaran ini sebenarnya lebih utama untuk aku sendiri, namun mengingat Mas Bujang lebih tua dariku dan mungkin lebih dahulu menanggalkan status bujangnya, maka aku pikir ia memerlukannya. Kalau dia sudah menanggalkan status bujangnya, apakah dia masih pantas di panggil Mas Bujang. Bisa saja, sebagaimana Mas Joko tetap di panggil Joko meskipun sudah punya dua anak. Mari kita renungkan bersama pelajaran tentang keutamaan memiliki istri shalihah yang mendidik anaknya dengan baik. Mas, jangan minder punya istri shalihah, lihat kisah di atas. Pe de aja lagi. Tapi aku juga minder kalau dapat istri yang lebih pandai. Berarti aku dulu yang harus lihat kisah di atas. Mas, jangan takut kalau lamaran kita ke seorang akhwat ditolak, karena itulah risikonya. Sebagaimana orang yang berniaga menanggung risiko kerugian, maka orang yang melamar berisiko penolakan. Karena memang hanya ada dua opsi, terima atau tolak. Begitulah Mas, pasar memang berhak memilih. Sesungguhnya hati manusia amat mudah berbolak-balik. Jangan sampai kita mengatakan bahwa kita tidak akan seburuk Abi-nya Marwan (sebelum bertaubat). Hari ini kita tidak seperti itu, tapi esok kita tak tahu. Kita sangat tidak berharap menjadi Abi-nya Marwan (versi sebelum taubat). Tapi kita sangat mungkin menjadi seperti itu. Siapa yang akan mengingatkan kita kalau bukan orang-orang yang dekat dengan kita. Mereka adalah istri, anak, saudara, teman dan yang lainnya yang memiliki kedekatan dengan kita. Sekali lagi, carilah istri shalihah sebagai pendamping hidup kita. Sebagai tempat berkeluh kesah di kala hati gundah, sebagai tempat mendapatkan kembali asa yang hilang di kala putus asa datang menyerang. Lalu bagaimana istri kita akan mendidik anak kita -sebagaimana ibunya Marwan mendidik Marwan- kalau dia keluar rumah untuk bekerja? Apalagi kalau istri bekerja yang sifat pekerjaannya menuntutnya untuk safar (pergi ke luar kota) sekian puluh hari. Apakah akan kita serahkan pendidikan anak kita kepada pembantu yang kita tidak tahu aqidah dan akhlaqnya? Sebenarnya kita tahu jawabannya. Istri lebih baik di rumah sebagaimana disyariatkan dalam dinul islam ini. Mas, perhatikan untaian kalimat berikut : "Surga dunia adalah persahabatan dan percintaan karena Allah. Al-Firdaus adalah surga Akhirat. Semoga Allah mengumpulkanku dan kamu di kedua surga tersebut." Seuntai kalimat diatas adalah salah satu sms 'Abdullah, seorang anak berusia 13 tahun yang tinggal di kota Al-Qassem Saudi Arabia yang ia kirimkan kepada ustadz Fariq. Masih banyak lagi sms yang ia kirimkan kepada ustadz Fariq dan ustadz Agus yang penuh dengan nasihat dan ajakan kepada kebaikan. Perhatikanlah saudaraku, itulah hasil berteman dengan orang shalih. Benar-benar mengagumkan dunia. Bahkan kita yang usianya jauh lebih tua, tak terpikirkan untuk mengirim sms seperti itu. Diantara sms 'Abdullah yang lain adalah: "Anak laki-laki merupakan nikmat dan anak perempuan merupakan kebaikan, Allah akan meminta pertanggungjawaban atas nikmat dan memberi ganjaran dengan sebab kebaikan, hendaklah kita takut kepada Allah (terhadap anak kita)." 'Abdullah juga sempat kirim sms lainnya kepada ustadz Fariq : "Umar Radhiyallahu 'Anhu mengimami shalat shubuh kemudian berpaling kepada manusia dan berkata: 'Mana Muadz?' Muadz berkata: 'Ini saya, wahai Amirul Mukminin.' Umar berkata: 'Saya teringat kamu tadi malam. Lalu saya gelisah di pembaringan. Karena saya cinta dan rindu kepadamu.' Lalu keduanya berpelukan dan saling menangis. Betapa indahnya luapan hati yang tulus. Betapa saya merindukan untuk berjumpa denganmu seperti rindunya Umar kepada Muadz." Ketika sms diatas ustadz Fariq informasikan kepada sejumlah teman, ternyata mereka meminta untuk mengirim ulang sms tersebut. Mereka ingin mengirimkannya kepada teman-teman mereka. Adalah Abu Shalih, tetangga ustadz Fariq di Jeddah. Ketika isi sms ini diceritakan kepadanya, keesokannya ia minta agar sms tersebut dikirim ke nomor hp-nya. Setelah dikirim, dua hari kemudian dia berjumpa dengan ustadz Fariq ketika pulang dari masjid selesai shalat ashar. Ia bercerita kepada ustadz Fariq, "Sms yang kamu dapatkan dari anak kecil itu, saya kirimkan kepada sahabat saya yang telah memutuskan hubungan karena di antara kami ada perselisihan. Sebelumnya saya telah menelepon dia berkali-kali, tapi dia tidak pernah mengangkat atau menelepon balik kepadaku. Saya kirim sms berkali-kali kepadanya untuk menjernihkan hubungan di antara kami. Tetapi juga tidak ada jawaban". "Subhanallah, tidak lama setalah saya kirimkan sms terakhir, dia meminta maaf atas hubungan yang renggang selama ini dan mengatakan saya bersahabat denganmu karena Allah." Hilanglah ganjalan di antara keduanya dan hubungan menjadi harmonis lagi disebabkan sms dari anak usia tiga belas tahun! Sungguh beruntung orang yang mendapatkan teman seperti 'Abdullah. Itulah fungsi teman sebagaimana Nabi Musa 'Alaihissalam meminta teman yang dapat membantu beliau dalam da'wahnya. Terbersit pertanyaan dalam diri kita, seperti apakah ibu, bapak dan saudara-saudara 'Abdullah? Mas Bujang, tidak inginkah memiliki anak seperti itu? Menurut saya, kalau kita ingin anak yang memiliki kebaikan dan keutamaan seperti 'Abdullah, maka kita harus mendapatkan dulu pendidik atau pengasuh yang mengajarkan kepadanya kebaikan dan keutamaan. Insya Allah Mas paham dengan yang saya maksud. Mas Bujang, apa lagi yang kau tunggu? Cepatlah menikah. Kasihan muslimah-muslimah yang semakin hari semakin tinggi batang usianya. Mereka gelisah menunggu datangnya seorang laki-laki yang bercakap serius dengan walinya. Ayo Mas, semarakkan dunia dengan pernikahan. Dunia tidak akan semarak dengan pacaran, tapi dengan pernikahan! Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi siapapun yang mau mengambilnya. Semua yang benar datangnya dari Allah Ta'ala dan yang salah adalah dari kebodohanku dan dari syaithon ar-rajim. Bagaimanapun, saya adalah 'manusia kurang-lebih'. Apabila dilihat kurangnya, maka banyak lebihnya. Apabila dilihat lebihnya, maka banyak kurangnya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, keluarganya dan para sahabatnya serta pengikutnya yang istiqomah hingga Yaumud Diin. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang mendapatkan syafa'atnya kelak. Akhir dari tulisan ini adalah perkataan dua murid Syaikh Albani Rahimahullahu Ta'ala, yaitu Syaikh Salim bin Id Al-Hilaly dan Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin 'Abdul Hamid Al-Halabi Hafidhahumallahu Ta'ala: Kami ulangi sekarang apa yang selalu kami ucapkan : Semua kitab selain Al-Qur'an, mempunyai celah untuk dikritik, disalahkan dan dibenarkan. Barangsiapa yang melihat kesalahan pena, atau kesalahan paham hendaknya membenarkan dan meluruskan. Hati kami lapang dan telinga-telinga kami bersedia untuk menerimanya. Abu Ibrahim Cape Stone, Manado Selesai ditulis pada hari Jum'at: 21 Muharram 1428 H Bertepatan dengan: 9 Februari 2007 M ------------------------------------ Website anda http://www.almanhaj.or.id Download MP3 -Free kajian Islam- http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
