Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh

Menyampaikan amanat dari Ustadz Fariq Gasim Anuz, terlampir sebuah kisah yang 
dimuat di salah satu blog, semoga bisa bermanfaat.

Salam,
Abu Ishaq


-----Original Message-----
From: Fariq Anuz
Sent: Tuesday, November 04, 2008 3:58 PM

Manado, belajarlah dari Madinah
July 30th, 2007 by al-furwadady
Me-Madinah-kan Manado

Saudaraku kaum muslimin, di belahan bumi manapun kalian berpijak hendaklah kita 
tetap saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Di bawah ini saya 
bawakan kisah nyata yang didalamnya Insya Allah terkandung nasihat yang dalam 
bagi kita yang mau memikirkannya. Kisah ini saya kutip dari buku Ustadz Fariq 
Gasim Anuz dalam bukunya yang berjudul "Da'i Cilik" yang diterbitkan oleh Darul 
Falah. Beliau mensarikan kisah ini dari majalah Al-Fityan, No. 49, Rabiuts 
Tsani 1424 H, hal 38-39.

Seorang Ayah Bertaubat dengan Sebab Anaknya yang Masih Berusia 7 tahun

Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, 
telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka 
lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali 
sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.

Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan 
para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan.

Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya:

"Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan 
tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya.

Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, 
Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman 
nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya 
bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, "Mengapa engkau tidak shalat wahai 
Abi?"

Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah 
yang di langit melihatmu.

Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum 
kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah.

Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, 
tapi ia lari dariku.

Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum 
sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur'an. Ia 
selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah.

Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi 
isyarat agar saya menunggu sebentar … lalu ia shalat maghrib di hadapan saya.

Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur'an, membukanya dengan 
cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya):

"Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari 
Alllah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syetan" (Maryam: 45)

Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak 
saya ini yang mengusap air mata saya.

Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setalah itu berbicara kepadaku 
dengan bahasa isyarat yang artinya, "Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah 
ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!"

Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera 
saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu 
ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh.

Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), "Tinggalkan urusan 
lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi)."

Saya katakan kepadanya, "Biar kita ke masjid dekat rumah saja."

Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.

Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut.. 
Dan Marwan selalu memandang saya.

Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama 
datang waktu iqamat untuk shalat isya', saat itu imam masjid membaca firman 
Allah (yang artinya),

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. 
Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu 
menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena 
karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun 
bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi 
Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan 
Maha Mengetahui" (An-Nuur: 21)

Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku 
menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku 
dan mengusap air mataku dengannya.

Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam 
lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, 
"Sudahlah wahai Abi!"

Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, "Kamu jangan cemas."

Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa 
baru terlahir kembali ke dunia.

Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak 
tahu apa yang terjadi.

Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat 
berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik.

Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya 
katakan, "Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang 
mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur'an dan menunjukkannya kepada saya?"

Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. 
Kemudian ia berkata, "Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini."

Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah- 
saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang 
buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam 
hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang.

Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa 
menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah".

Saudaraku kaum muslimin, sampai di sini kisah tersebut berakhir. Kisah singkat 
yang sarat dengan pelajaran bagi kaum yang mau memikirkannya. Diantara 
pelajaran yang dapat saya (Abu Ibrahim) ambil dari kisah ini adalah:

1. Hidayah adalah kehendak Allah Ta'ala, dengan cara, sebab atau perantara 
apapun yang Dia kehendaki. Manusia tidak bisa memberi hidayah kepada siapapun, 
sekalipun Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam. Sebagaimana kita ketahui 
beliau tidak dapat memaksa paman beliau untuk masuk islam menjelang kematiannya 
dan paman beliau mati dalam keadaan kafir. Kisah ini telah masyhur.

2. Keutamaan memiliki istri shalihah. Sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri 
shalihah, maka barangsiapa yang memiliki istri shalihah berarti dia telah 
mendapatkan sebaik-baik perhiasan di dunia ini. Renungkanlah ini wahai pemuda 
yang akan menikah, pemudi yang akan menjadi istri dan orang tua yang akan 
mendidik anak-anak perempuannya agar kelak menjadi istri yang shalihah. 
Perhatikanlah Marwan, perhatikan siapa yang mendidiknya.

3. Hendaknya para pemuda tidak memperturutkan hawa nafsunya dalam mencari 
pendamping hidup, ingatlah sesungguhnya istri-istri kita adalah ustadzah bagi 
anak-anak kita, menjadi madrasatul iman bagi generasi muda islam di masa 
mendatang dan merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. 
Renungkan wahai pemuda apabila istrimu adalah orang yang jahil akan ilmu agama, 
apa yang akan ia ajarkan kepada anak-anakmu. Renungkan  wahai pemuda apabila 
istrimu bahkan tidak mengajarinya ilmu agama sama sekali, karena ia sibuk 
dengan karirnya. Renungkanlah wahai pemuda muslim, sesungguhnya fitnah akhir 
zaman ini sangat dahsyat, berbagai macam pelanggaran syariat terjadi 
dimana-mana. Zaman ini seperti cambuk, semakin ke ujung semakin kecil. Kebaikan 
ada pada pendahulu umat ini, semakin ke ujung kualitas manusia secara umum 
semakin buruk dan semakin buruk, hingga yang terburuk adalah mereka yang 
bertemu dengan Yaumul Qiyamah. Apa jadinya ketika kerusakan di muka bumi 
semakin menjadi-jadi, sedangkan anak-anak kita akan menghadapinya tanpa 
tarbiyatul iman (pembinaan iman) dan tanpa aqidah yang kokoh yang diajarkan 
oleh ibu dan bapaknya.

Saudara-saudaraku, berhati-hatilah terhadap fitnah dunia. Sihirnya Harut dan 
Marut mampu memisahkan seorang istri dari suaminya, tapi sihirnya dunia mampu 
memisahkan sorang hamba dari Rabbnya. Betapa banyak orang yang merasakan 
musibah pada dunianya, namun tidak merasakan musibah pada agamanya. Ketika 
hartanya hilang atau berkurang, dia merasakan kesedihan yang sangat mendalam. 
Namun ketika berkurang hafalan Al-Qur'an atau haditsnya, menjadi malas shalat 
berjama'ah, menjadi enggan bershadaqah dan kebaikan-kebaikan lain ia 
tinggalkan, dia tidak merasa bahwa sesuatu yang sangat berharga telah hilang 
dari dirinya.

Untuk saudaraku para pemuda muslim, berhati-hatilah terhadap fitnah wanita. 
Fitnah wanita adalah fitnah paling berbahaya bagi laki-laki, sebagaimana yang 
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam khabarkan. Wanita adalah makhluk yang 
kurang agama dan kurang akalnya, namun mampu menggoyahkan iman laki-laki yang 
lebih sempurna agama dan akalnya. Terlebih lagi bagi remaja muslim, yang sedang 
memasuki masa puber, berhati-hatilah dengan virus 'merah jambu'. Telah banyak 
korban berjatuhan akibat virus ini. Waspadalah terhadap virus ini dengan 
mengenali gejala-gejalanya. Insya Allah, saudara-saudaraku dapat memahami apa 
yang saya maksudkan.

4. Tidak perlu berkecil hati bagi pemuda yang mendapati istrinya lebih berilmu 
dari dirinya. Justru ini adalah kebaikan yang Allah Ta'ala berikan kepada kita. 
Dalam memilih teman saja kita sangat dianjurkan untuk memilih teman yang 
shalih, apalagi istri. Istri adalah orang yang paling dekat dengan kita, lebih 
dekat di banding teman. Perhatikanlah hal ini.

5. Terimalah kebenaran walaupun yang menyampaikan kebenaran itu adalah orang 
yang yang dianggap remeh oleh kebanyakan manusia.

6. Bahaya berteman dengan orang-orang jahat, ahli maksiat, dan jauh dari ilmu 
agama. Orang-orang jahat, ahli maksiat dan bodoh akan ilmu agama wajib dijauhi 
karena mereka sama sekali tidak mengingatkan kita akan Darul Qarar, negeri 
akhirat yang abadi, yang wajib bagi setiap muslim menjadikannya sebagai tujuan 
terbesar dalam hidupnya.

7. Hendaknya setiap muslim mengintrospeksi dirinya, apakah hatinya bergetar 
ketika ayat-ayat Allah dibacakan atau tidak. Apabila hati itu bergetar 
mendengar ayat-ayat Allah dibacakan maka berbahagialah, apabila tidak maka 
segeralah bertaubat dari maksiat-maksiat yang selama ini dilakukan dan 
menggantinya dengan kebaikan-kebaikan.

Saya menulis demikian bukan berarti saya telah mengamalkan seluruh apa yang 
saya tulis. Saya menulis demikian bukan berarti saya orang yang berilmu, 
sebaliknya saya adalah orang bodoh sehingga belajar dari kisah ini.

Sungguh saya bersaksi bahwa Allah adalah Rabb Yang Maha Penyayang. Ketika 
hatiku gundah gulana karena dipermainkan fitnah akhir zaman, aku masih 
ditunjuki-Nya jalan kebaikan, thalabul 'ilm ke Komo Luar. Sebuah perkampungan 
di Manado. Bersama saudaraku, sebut saja Mas Bujang, kami berangkat melesat 
gesit diatas Yamaha Vega-R miliknya.

Hatiku memang sedang resah. Dengan kefakiranku akan ilmu syar'i aku mencoba 
berpikir tentang apa yang sedang menimpaku. Akhirnya aku tahu apa yang sedang 
terjadi pada diriku, menurut dugaanku. Mungkin memang sudah waktunya. Tapi, ini 
tetap tidak bisa dibenarkan kalau engkau mengetahui keadaan sebenarnya.

Kembali ke kajian. Kami mendapat banyak faidah dalam majlis ta'lim tersebut. 
Mas Bujang berkeinginan untuk membeli kitab (tepatnya buku terjemahan) yang di 
bahas dalam kajian malam itu. Sedangkan aku telah memiliki kitab tersebut, tapi 
sengaja ku tinggal di rumah, di Jawa, karena aku merasa berat membawanya. 
Banyak sekali buku-buku yang aku tinggal di Jawa. Mas Bujang menyarankan untuk 
di kirim saja ke Manado. Tapi aku belum melaksanakan apa yang dia sarankan. Di 
tanah Jawa aku dibesarkan, namun aku sama sekali tidak bangga dengan suku Jawa. 
Banyak adat-adat di Jawa yang membatalkan keislaman seseorang. Berhati-hatilah.

Namun demikian aku ingin pulang ke Jawa, karena di sana banyak orang-orang 
shalih. Majlis-majlis ilmu dengan mudah dapat ditemukan. Bapak, ibu dan 
kebanyakan saudaraku juga ada di Jawa. Semoga Allah menunjukiku, bapak, ibu, 
saudara-saudaraku serta kaum muslimin seluruhnya ke jalan yang lurus seperti 
yang kita minta sehari semalam minimal 17 kali. Kalau kurang dari itu, berarti 
ada shalat yang kita tinggalkan. Sebagian orang menyebut shalat dengan 
sembahyang, tapi aku tidak suka karena Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam 
menamai ibadah itu dengan 'shalat'. Maka aku pun demikian.

Keesokan harinya, hari ahad aku ajak Mas Bujang ke Gramedia. Kitab yang ingin 
dia beli ada, namun harganya terlalu tinggi. Bukan tidak mampu beli, tapi dia 
berharap bisa mendapatkan kitab tersebut dengan harga lebih murah dengan 
menitip ke temannya. Akhirnya Mas Bujang membeli kitab karya ahli hadits abad 
ini, Syaikh Albani Rahimahullah, dengan judul terjemahan 180 Risalah Shalat, 
dilengkapi dengan doa-doa. Sedangkan aku membeli buku kecil karya Ibnu Rajab 
berjudul Hakikat Niat. Satu lagi yang aku beli, Da'i Cilik karya ustadz Fariq. 
Buku kecil juga.

Kisah Marwan diatas hanyalah salah satu kisah dari beberapa kisah yang ustadz 
Fariq bawakan. Kisah lain tak kalah bagusnya, mungkin malah lebih bagus. Tapi 
karena kisah ini memberi pelajaran bagiku, maka aku menuliskannya. Sebenarnya 
kisah yang lain juga memberi nasihat kepadaku, tapi ku pikir kisahnya terlalu 
panjang dan didalamnya ada sesuatu yang aku -berdasarkan apa yang aku ketahui 
saat ini- tidak setuju.

Setelah aku yakin apa yang menimpaku, aku mulai berpikir apa yang menjadi 
penyebabnya. Penyebabnya pun ketemu –sekali lagi, sebatas yang aku ketahui. 
Sebaiknya aku segera mengatasinya. Kalau tidak, niscaya aku akan dipermainkan 
oleh perasaanku sendiri. Memang benar bahwa kebohongan akan diikuti dengan 
kebohongan-kebohongan lainnya. Dan sesungguhnya apabila sesuatu itu diawali 
dengan kesalahan, maka akan diikuti pula dengan kesalahan-kesalahan berikutnya. 
Maka aku semakin yakin dengan kebenaran syari'at islam ini. Islam melarang 
perbuatan haram dan melarang pula sarana-sarana menuju perbuatan haram. Sengaja 
aku tidak menceritakan secara vulgar apa yang terjadi pada diriku. Ini untuk 
menutup pintu fitnah, selain tentu aku merasa malu kalau harus menelanjangi 
diriku sendiri di hadapan orang banyak. Bisa gempar orang-orang di kantor kalau 
aku menceritakannya secara detail. Lagi pula kita belajar dari kisah Marwan, 
bukan dari kisah saya.

Sesungguhnya hati setiap mukmin harus berisi khauf (rasa takut) dan raja' 
(harapan). Apabila kita dalam keadaan sehat maka perbesarlah khauf. Takutlah 
kita akan ujian ni'mat sehat ini. Hendaklah kita takut akan menyia-nyiakan 
ni'mat ini. Apabila kita sedang ditimpa kemalangan, kesusahan dan bencana maka 
janganlah kita ber putus asa. Justru sebaliknya, perbesarlah harapan. 
Berusahalah dan mintalah pertolongan kepada Allah, sesungguhnya pertolongan 
Allah itu dekat. Mintalah ganti yang lebih baik kepada Allah atas apa yang 
luput dari genggaman kita. Yakinlah saudaraku, apabila apa yang kita minta tak 
kunjung Allah kabulkan, ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa 
yang kita butuhkan.

Apa-apa musibah yang menimpa kita itu adalah akibat perbuatan kita sendiri. 
Benar, demikianlah adanya.

Mas Bujang, semoga ini menjadi renungan dan pelajaran buat kita semua. 
Pelajaran ini sebenarnya lebih utama untuk aku sendiri, namun mengingat Mas 
Bujang lebih tua dariku dan mungkin lebih dahulu menanggalkan status bujangnya, 
maka aku pikir ia memerlukannya. Kalau dia sudah menanggalkan status bujangnya, 
apakah dia masih pantas di panggil Mas Bujang. Bisa saja, sebagaimana Mas Joko 
tetap di panggil Joko meskipun sudah punya dua anak.

Mari kita renungkan bersama pelajaran tentang keutamaan memiliki istri shalihah 
yang mendidik anaknya dengan baik. Mas, jangan minder punya istri shalihah, 
lihat kisah di atas. Pe de aja lagi. Tapi aku juga minder kalau dapat istri 
yang lebih pandai. Berarti aku dulu yang harus lihat kisah di atas. Mas, jangan 
takut kalau lamaran kita ke seorang akhwat ditolak, karena itulah risikonya. 
Sebagaimana orang yang berniaga menanggung risiko kerugian, maka orang yang 
melamar berisiko penolakan. Karena memang hanya ada dua opsi, terima atau 
tolak. Begitulah Mas, pasar memang berhak memilih.

Sesungguhnya hati manusia amat mudah berbolak-balik. Jangan sampai kita 
mengatakan bahwa kita tidak akan seburuk Abi-nya Marwan (sebelum bertaubat). 
Hari ini kita tidak seperti itu, tapi esok kita tak tahu. Kita sangat tidak 
berharap menjadi Abi-nya Marwan (versi sebelum taubat). Tapi kita sangat 
mungkin menjadi seperti itu. Siapa yang akan mengingatkan kita kalau bukan 
orang-orang yang dekat dengan kita. Mereka adalah istri, anak, saudara, teman 
dan yang lainnya yang memiliki kedekatan dengan kita. Sekali lagi, carilah 
istri shalihah sebagai pendamping hidup kita. Sebagai tempat berkeluh kesah di 
kala hati gundah, sebagai tempat mendapatkan kembali asa yang hilang di kala 
putus asa datang menyerang.

Lalu bagaimana istri kita akan mendidik anak kita -sebagaimana ibunya Marwan 
mendidik Marwan- kalau dia keluar rumah untuk bekerja? Apalagi kalau istri 
bekerja yang sifat pekerjaannya menuntutnya untuk safar (pergi ke luar kota) 
sekian puluh hari. Apakah akan kita serahkan pendidikan anak kita kepada 
pembantu yang kita tidak tahu aqidah dan akhlaqnya? Sebenarnya kita tahu 
jawabannya. Istri lebih baik di rumah sebagaimana disyariatkan dalam dinul 
islam ini.

Mas, perhatikan untaian kalimat berikut :

"Surga dunia adalah persahabatan dan percintaan karena Allah.
Al-Firdaus adalah surga Akhirat.
Semoga Allah mengumpulkanku dan kamu di kedua surga tersebut."

Seuntai kalimat diatas adalah salah satu sms 'Abdullah, seorang anak berusia 13 
tahun yang tinggal di kota Al-Qassem Saudi Arabia yang ia kirimkan kepada 
ustadz Fariq. Masih banyak lagi sms yang ia kirimkan kepada ustadz Fariq dan 
ustadz Agus yang penuh dengan nasihat dan ajakan kepada kebaikan.

Perhatikanlah saudaraku, itulah hasil berteman dengan orang shalih. Benar-benar 
mengagumkan dunia. Bahkan kita yang usianya jauh lebih tua, tak terpikirkan 
untuk mengirim sms seperti itu. Diantara sms 'Abdullah yang lain adalah:

"Anak laki-laki merupakan nikmat dan anak perempuan merupakan kebaikan, Allah 
akan meminta pertanggungjawaban atas nikmat dan memberi ganjaran dengan sebab 
kebaikan, hendaklah kita takut kepada Allah (terhadap anak kita)."

'Abdullah juga sempat kirim sms lainnya kepada ustadz Fariq :

"Umar Radhiyallahu 'Anhu mengimami shalat shubuh kemudian berpaling kepada 
manusia dan berkata: 'Mana Muadz?' Muadz berkata: 'Ini saya, wahai Amirul 
Mukminin.' Umar berkata: 'Saya teringat kamu tadi malam. Lalu saya gelisah di 
pembaringan. Karena saya cinta dan rindu kepadamu.' Lalu keduanya berpelukan 
dan saling menangis. Betapa indahnya luapan hati yang tulus. Betapa saya 
merindukan untuk berjumpa denganmu seperti rindunya Umar kepada Muadz."

Ketika sms diatas ustadz Fariq informasikan kepada sejumlah teman, ternyata 
mereka meminta untuk mengirim ulang sms tersebut. Mereka ingin mengirimkannya 
kepada teman-teman mereka.

Adalah Abu Shalih, tetangga ustadz Fariq di Jeddah. Ketika isi sms ini 
diceritakan kepadanya, keesokannya ia minta agar sms tersebut dikirim ke nomor 
hp-nya. Setelah dikirim, dua hari kemudian dia berjumpa dengan ustadz Fariq 
ketika pulang dari masjid selesai shalat ashar. Ia bercerita kepada ustadz 
Fariq, "Sms yang kamu dapatkan dari anak kecil itu, saya kirimkan kepada 
sahabat saya yang telah memutuskan hubungan karena di antara kami ada 
perselisihan. Sebelumnya saya telah menelepon dia berkali-kali, tapi dia tidak 
pernah mengangkat atau menelepon balik kepadaku. Saya kirim sms berkali-kali 
kepadanya untuk menjernihkan hubungan di antara kami. Tetapi juga tidak ada 
jawaban".

"Subhanallah, tidak lama setalah saya kirimkan sms terakhir, dia meminta maaf 
atas hubungan yang renggang selama ini dan mengatakan saya bersahabat denganmu 
karena Allah."

Hilanglah ganjalan di antara keduanya dan hubungan menjadi harmonis lagi 
disebabkan sms dari anak usia tiga belas tahun!

Sungguh beruntung orang yang mendapatkan teman seperti 'Abdullah. Itulah fungsi 
teman sebagaimana Nabi Musa 'Alaihissalam meminta teman yang dapat membantu 
beliau dalam da'wahnya.

Terbersit pertanyaan dalam diri kita, seperti apakah ibu, bapak dan 
saudara-saudara 'Abdullah? Mas Bujang, tidak inginkah memiliki anak seperti 
itu? Menurut saya, kalau kita ingin anak yang memiliki kebaikan dan keutamaan 
seperti 'Abdullah, maka kita harus mendapatkan dulu pendidik atau pengasuh yang 
mengajarkan kepadanya kebaikan dan keutamaan. Insya Allah Mas paham dengan yang 
saya maksud.

Mas Bujang, apa lagi yang kau tunggu? Cepatlah menikah. Kasihan 
muslimah-muslimah yang semakin hari semakin tinggi batang usianya. Mereka 
gelisah menunggu datangnya seorang laki-laki yang bercakap serius dengan 
walinya. Ayo Mas, semarakkan dunia dengan pernikahan. Dunia tidak akan semarak 
dengan pacaran, tapi dengan pernikahan!

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi siapapun yang mau mengambilnya. 
Semua yang benar datangnya dari Allah Ta'ala dan yang salah adalah dari 
kebodohanku dan dari syaithon ar-rajim. Bagaimanapun, saya adalah 'manusia 
kurang-lebih'. Apabila dilihat kurangnya, maka banyak lebihnya. Apabila dilihat 
lebihnya, maka banyak kurangnya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu 
'Alaihi Wa Sallam, keluarganya dan para sahabatnya serta pengikutnya yang 
istiqomah hingga Yaumud Diin. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang 
mendapatkan syafa'atnya kelak.


Akhir dari tulisan ini adalah perkataan dua murid Syaikh Albani Rahimahullahu 
Ta'ala, yaitu Syaikh Salim bin Id Al-Hilaly dan Syaikh Ali bin Hasan bin Ali 
bin 'Abdul Hamid Al-Halabi Hafidhahumallahu Ta'ala:

Kami ulangi sekarang apa yang selalu kami ucapkan :

Semua kitab selain Al-Qur'an, mempunyai celah untuk dikritik, disalahkan dan 
dibenarkan. Barangsiapa yang melihat kesalahan pena, atau kesalahan paham 
hendaknya membenarkan dan meluruskan. Hati kami lapang dan telinga-telinga kami 
bersedia untuk menerimanya.

Abu Ibrahim
Cape Stone, Manado
Selesai ditulis pada hari Jum'at: 21 Muharram 1428 H
Bertepatan dengan: 9 Februari 2007 M

------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Download MP3 -Free kajian Islam- http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke