On Mon, 1 Dec 2008 02:49:46 -0800 (PST)
diah taman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> tentu lebih utama mendengarkan khutbah dan adzan, jadi
>sudah benar yang dilakukan mereka.
>
> Sholat jamaah tentu lebih baik dari sholat sendiri.
> khusu' dan tuma'ninah itu bukan itu ukurannya, hanya
>Allah yang tahu, jadi jangan takabur sampai tidak mau
>berjamaah karena imamnya seperti itu, kenapa nggak antum
>saja yang menjadi imam, dengan demikian antum tetap
>berjamaah.
>
> salam,
> diah
>
> --- On Sat, 11/29/08, Dee Na <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>From: Dee Na <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: [assunnah] tanya (juga)
> To: [email protected]
> Date: Saturday, November 29, 2008, 5:23 PM
>
> Assalamu'alaikum
>
> saya juga mau tanya, mana yang lebih baik, sholat
>sendiri (santai, pelan, khusyuk), atau sholat jamaah
>(tapi imamnya membaca agak cepat, kurang tu'maninah).
>....
>
> mohon jawaban kalo ada yg tau
> Wassalam,
> DiNa
>
> 2008/11/21 bahtiar rivai <[EMAIL PROTECTED] com>
>
>> Assalamu'alaikum
>>
>> Ana mau tanya:
>> Manakah yang lebih utama antara mendengarkan khotbah
>>jum'at atau adzan
>> jum'at,karena kebanyakan kaum muslimin menuggu adzan
>>selesai baru melakukan
>> sholat.
>>
>> sukron
>> { rivai }
>>
>> Wassalamu'alaikum


Assalamu'alaykum
'afwan sebelumnya...
ana hanya ingin mengomentari ucapan antum;
"khusu' dan tuma'ninah itu bukan itu ukurannya, hanya
Allah yang tahu"
sekilas ucapan itu kayaknya benar, akan tetapi kalau kita
renungkan dan kita pelajari lebih mendalam. ucapan itu
mengandung syubhat bagi kita yang belum matang dalam
ilmu..
sekali lagi ucapan itu terkesan melegalkan dan membenarkan
sebagaian saudara kita yang sholatnya sangat cepat sekali.
orang bilang  saking cepatnya seperti mematuk ayam...
apakah demikian sholatnya Rosululloh dan para salaful
ummah???
bukan berarti sholat jama'ah tidak penting. justru kita
katakan sangat penting dan sangat utama akan tetapi kita
juga tidak boleh meremehkan kekhusyukan dan thuma'ninah di
dalam sholat itu sendiri. maka nasehat yang arif bagi kita
adalah kita berusaha terlebih dahulu untuk mencari masjid
dimana disitu ditegakkan sholat dengan khusyuk dan
thuma'ninah, meski mungkin tempatnya agak jauh.

afwan, sedikit nasehat untuk anti..
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: “Dan
janganlah engkau ikuti apa yang engkau tidak mempunyai
ilmu tentang-nya, sesungguhnya pendengaran, pengelihatan
dan hati semuanya itu akan di tanya” (QS Al-Isra’: 36).

Dan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Barang
siapa berbicara tentang al Qur’an dengan akalnya atau
tidak dengan ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya
di neraka” (Hadist seperti ini ada dari 2 jalan, yaitu
Ibnu Abas dan Jundub. Lihat Tafsir Qur’an yang diberi
mukaddimah oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Arnauth hal. 6,
Tafsir Ibnu Katsir dalam Mukaddimah hal. 13, Jami’
As-Shahih Sunan Tirmidzi jilid 5 hal.183 no. 2950 dan
Tuhfatul Ahwadzi jilid 8 hal. 277)

saudaraku di jaan Alloh. semoga kita senantiasa di
teguhkan dan diistiqomahkan di atas ISlam dan di atas
Sunnah Rosululloh Shollalohu 'alaihi was sallam hingga
akhir hayat kita. amien...

berikut ana nukilkan sedikit tulisan dari panutan kita
pada abad ini. seoarng ulama besar yang menjadi rujukan
kaum muslimin....
semoga tulisan beliau ini bisa sedikit menambah pencerahan
ilmu kita.

___________________________________________________________

NASEHAT UNTUK IKHWAN DAN AKHWAT
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz


Inilah nasehatku kepada ikhwan dan akhwat fillah pada
khususnya, dan kepada seluruh manusia pada umumnya. Inilah
nasehatku buat kalian dan juga buat diriku sendiri. Yaitu
; hendaklah kita senantiasa memperhatikan Al-Qur'an,
merenungi makna-maknanya. mengahafalnya di luar kepala,
tamak untuk terus menerus membacanya, sesekali membaca
dengan cara melihat pada mushaf, kali lain membaca dengan
hafalan tanpa melihat mushaf. Manakala pembaca Al-Qur'an
tergolong yang sudah hafal maka ditindaklanjuti dengan
merenungi, memikirkan, dan mencari faedah dari apa yang
dibaca. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah :


"Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan
kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan
ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang
yang mempunyai pikiran". (Shad : 29).


Adapun pelaksanaannya yaitu dengan pengamalan, pemahaman
dan pendalaman. Allah subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan
Al-Qur'an untuk diamalkan, dikaji dan didalami. Allah
berfirman :


"Artinya : Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami
turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah
agar kamu diberi rahmat".  (Al-An'am : 155).

Al-Qur'an ini diturunkan untuk diamalkan dan diikuti.
Tidak semata-mata hanya untuk dibaca dan dihafal. Karena
menghafal dan membaca itu sekedar perantara saja. Adapun
yang dimaksudkan adalah memahami kitab dan sunnah disertai
dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dan
melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan
larangan-larangannya. Hal itu terkumpul dalam perintah
Allah Ta'ala di dalam surat At-Taubah : 71.


"Artinya : Dan  orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong
sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang
ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat,
menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan
Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ;
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".
(At-Taubah : 71).


Ayat ini merupakan kumpulan dari ayat-ayat yang secara
menyeluruh menjelaskan sifat-sifat mukmin dan mukminat dan
akhlaknya yang agung serta apa-apa yang diwajibkan atas
mereka. Maka firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.


"Artinya : Dan orang-orang  yang beriman, lelaki dan
perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong
sebagian yang lain". (At-Tubah : 71).


Ayat ini menunjukkan bahwa sesungguhnya mukminin dan
mukminat, mereka itu adalah saling menjadi wali satu sama
lain, mereka saling memberi nasehat dan saling mencintai
karena Allah dan saling berwasiat tentang kebenaran dan
kesabaran dan saling tolong menolong dalam kebajikan dan
taqwa. Demikian sifat mukminin dan mukminat.


Seorang mukminin menjadi wali atas saudaranya fillah, yang
laki-laki dan perempuan. Seorang mukminat menjadi wali
bagi saudaranya fillah, baik yang laki-laki dan perempuan.
Masing-masing diantara mereka merasa senang terhadap
kebaikan (yang diperoleh) saudaranya. Mereka mendoakan
kebaikannya, turut bahagia atas keistiqamahan saudaranya
dan mencegah keburukan yang akan menimpanya, tidak
melakukan ghibah padanya, tidak berbicara yang dapat
menjatuhkan kehormatannya, tidak mengadu domba tidak
memberikan persaksian palsu atasnya dan tidak memakinya,
serta tidak memanggilnya dengan panggilan bathil.
Demikianlah akhlak mukminin dan mukminat.


Manakala kau dapatkan dirimu menyakiti saudaramu fillah
baik laki-laki atau perempaun misalkan dengan mengghibah,
mencela, mengadu domba atau mendustainya dan lain
semisalnya, ketahuilah bahwa keimananmu kurang atau engkau
adalah orang yang lemah iman. Seandainya keimananmu itu
benar-benar lurus lagi sempurna, niscaya kamu tidak akan
mendhalimi saudaramu atau melakukan ghibah dan adu domba,
atau memanggilnya dengan panggilan-panggilan bathil, atau
memberikan persaksian palsu atau sumpah palsu atau
mencacinya dan semisalnya. Maka keimanan kepada Allah, dan
rasul-Nya, taqwa kepada Allah, kebaikan dan hidayah,
kesemuanya itu mencegah seseorang melakukan tindakan yang
menyakitkan saudaranya fillah baik laki-laki atau wanita.
Mereka dilarang melakukan ghibah, cacian, kedustaan,
memanggil dengan sebutan yang bathil, mempersaksikan
dengan kedustaan dan berbagi macam tindak kezhaliman.
Keimanan seseorang yang benar, merintangi dan menghalangi
untuk berbuat berbagi tindakan yang menyakitkan
saudaranya.


Allah berfirman :

"Artinya : ..... mereka menyuruh (mengerjakan) yang
ma'ruf, mencegah dari yang mungkar,....." (At-Taubah :
71).


Inilah kewajiban yang besar yang didalamnya ada kebaikan
bagi umat, kemenangan bagi agama dan terhindarnya
sebab-sebab kebinasaan, kemaksiatan dan kejahatan.


Sudah selayaknya bagi mukminin dan mukminat untuk amar
ma'ruf nahi mungkar. Seorang mukmin tidak akan berdiam
diri melihat kemungkaran yang terjadi pada saudaranya,
pastilah ia berusaha untuk mencegahnya. Apabila melihat
pada diri saudara, bibi atau saudari perempuan yang lain
melakukan kemaksiatan pastilah mereka akan mencegahnya.
Apabila melihat pada diri saudaranya fillah meremehkan
kewajiban pastikah akan mengingkarinya dan
memerintahkannya kepada kebaikan. Itu semua dilakukan
dengan bijak dan cara yang baik. Seorang mukmin apabila
melihat saudaranya bermalas-malas dalam menunaikan shalat,
melakukan ghibah, adu domba, minum khamr, merokok,
mabuk-mabukan, durhaka kepada orang tua, memutuskan tali
persaudaraan, pastilah ia akan mengingkarinya dengan
ucapan yang baik dan cara yang tepat, ia tidak menuduhnya
dengan sebutan yang dibenci atau dengan cara yang kasar.
Allah telah memberikan penjelasan bahwa hal tersebut
adalah dilarang.


Demikian pula jika ia melihat kemungkaran pada diri
saudara perempuannya fillah, ia harus mengingkarinya.
Seperti tatkala dia tidak patuh kepada orang tuanya,
berlaku buruk pada suaminya, meremehkan pendidikan
anak-anaknya atau meremehkan shalatnya, maka seorang
mukmin harus mengingkarinya, baik (ia itu) suaminya,
ayahnya, saudaranya, kemenakannya atau bahkan tidak ada
hubungan kekerabatan dengannya. Sebaliknya jika seorang
mukminah melihat pada diri suaminya sikap meremehkan
(kewajiban), ia pun harus melarangnya. Seperti, jika ia
melihat suaminya minum khamr, merokok,meremehkan shalat
atau suaminya shalat fardhu di rumah (tidak di masjid),
maka ia harus mengingkarinya dengan cara yang baik dan
ucapan yang baik pula. Seperti dengan mengatakan (kepada
suaminya), "Wahai Hamba Allah, bertaqwalah kepada Allah !
Sesungguhnya perbuatan itu tidak boleh kamu lakukan.
Peliharalah shalat jama'ah. Tinggalkanlah apa yang telah
diharamkan Allah kepadamu dari minuman yang memabukkan,
merokok, mencukur jenggot, memanjangkan kumis atau isbal".


Kemungkaran-kemungkaran ini wajib diingkari oleh setiap
orang beriman. Maka hal ini wajib atas suami dan istri,
saudara, kerabat, tetangga, teman duduk dan yang lain
untuk menegakkan kewajiban ini. Sebagaimana firman Allah :


"Artinya : .... mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf,
mencegah dari yang mungkar ....". (At-Taubah : 71).


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya, apabila manusia telah melihat
kemungkaran, lalu ia tidak mau merubahnya, dikhawatirkan
Allah akan meratakan adzab-Nya".


"Artinya : Barangsiapa di antara kamu sekalian yang
melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah dengan
tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika
tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah
selemah-lemah iman".


Perintah ini berlaku umum untuk seluruh bentuk
kemungkaran, baik yang terjadi di jalan-jalan, di rumah,
di masjid, di kapal terbang, di kereta api, di mobil atau
di tempat mana saja. Perintah amar ma'ruf nahi mungkar itu
berlaku secara umum baik kepada laki-laki atau perempuan.
Baik laki-laki maupun perempuan harus berbicara tentang
amar ma'ruf dan nahi mungkar. Karena amar ma'ruf nahi
mungkar membawa kebaikan dan keselamatan untuk semua
pihak. Tak seorangpun boleh berdiam diri dari amar ma'ruf
nahi mungkar semata-mata karena takut kepada setiap muslim
atau takut kepada suami, saudara laki-laki atau fulan dan
fulan. Setiap muslim harus tetap beramar ma'ruf nahi
mungkar dengan cara yang baik dan ucapan yang mengena,
tidak dengan cara yang kasar dan keras. Disamping juga
memperhatikan waktu yang tepat. Ada kalanya, seseorang
tidak bisa menerima pengarahan pada waktu tertentu, tetapi
ia bisa menerima pengarahan pada waktu yang lain, bahkan
dengan lapang dada.


Selayaknya, seorang mukmin dan mukminah senantiasa
memperhatikan timing yang tepat dalam beramar ma'ruf nahi
mungkar. Janganlah berputus asa apabila ditolak pada hari
itu. Sebab bisa jadi akan diterima besok lusa. Seorang
mukmin dan mukminah janganlah berputus asa dalam
mengingkari kemungkaran, tetapi hendaklah terus menerus
dilakukannya. Hendaklah selalu menegakkan amar ma'ruf dan
an-nasihah untuk hamba-Nya disertai dengan husnudhan dan
mengharap besarnya pahala yang ada di sisi Allah.


Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Artinya : Mereka menegakkan shalat dan membayar zakat".

Demikianlah karakteristik mukminin dan mukminat, mereka
selalu menegakkan shalat dan menjaga ketetapan waktunya.
Bagi laki-laki melaksanakan shalat di masjid secara
berjamaah bersama para ikhwan yang lain. Mereka bergegas
menuju masjid tatkala mendengar muadzin berseru : "Hayya
'alash shalaah hayya 'alal-falaah". Mendengar serua
muadzin itu mereka akan bersegera ke masjid di setiap
saat.


Menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk takut kepada
Allah dalam meninggalkan shalat berjamaah, serta
berhati-hati terhadap musibah yang banyak menimpa manusia
(musibah tidak shalat berjamaah). Berlindunglah kepada
Allah dari akibat shalat di rumah dan ketinggalan shalat
di masjid. Keadaan mereka nyaris menyerupai keadaan kaum
munafik. Ia melaksanakan shalat farhdu di rumah, padahal
Allah telah mengaruniakan kesehatan kepadanya, barangkali
juga ia mengakhirkan shalat Shubuh hingga terbitnya
matahari, bahkan sampai waktu ia akan berangkat kerja baru
melaksanakan shalat Shubuh, atau bahkan ia tinggalkan
shalat sama sekali. Ini adalah musibah yang besar dan
kemungkaran yang membahayakan, karena shalat adalah
tiangnya Islam. Barangsiapa menjaga berarti menjaga
agamanya, barangsiapa menyia-nyiakannya tentulah ia akan
lebih menyia-nyiakan hal yang lain, barangsiapa
meninggalkannya maka termasuk kafir. Hal ini didasarkan
pada sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut :


" Artinya : Perjanjian yang mengikat antara kita dengan
mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka
telah kafir".


Kafirnya orang yang meninggalkan shalat adalah berlaku
umum bagi laki-laki dan juga wanita. Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih menegaskan lagi dalam
sabdanya :


"Artinya : Batas antara seseorang (mukmin) dengan
kekafiran atau kemusyrikan adalah meninggalkan shalat".


Tidak dibenarkan bagi mukminin dan mukminat meremehkan
perkara shalat. Bagi laki-laki, tidak boleh menunaikan
shalat di rumah dengan meninggalkan jamaah di masjid,
bahkan menjadi kewajiban bagi laki-laki untuk
menunaikannya di masjid.


Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Barangsiapa mendengar adzan kemudian tidak
mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali
karena udzur".


Telah datang menghadap Nabi seorang laki-laki lalu berkata
: "Ya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, saya
seorang yang buta, saya tidak mempunyai penunjuk jalan
yang dapat menghantarkan saya ke masjid, apakah ada
keringanan bagi saya untuk shalat di rumah ?" Nabi
bersabda : "apakah Anda mendengar  panggilan adzan untuk
shalat ?" Dia menjawab : "Saya mendengar". Nabi bersabda :
"Datangilah panggilan adzan itu".


Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memberi rukhsah
(keringanan) bagi laki-laki tadi padahal sesungguhnya dia
buta, dia tidak memiliki seorang penunjuk jalan yang
membimbingnya ke masjid. Bagaimana dengan laki-laki yang
keadaan penglihatannya sehat ?!!.


Telah dikuatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam tentang keharusan mendatanngi shalat jamaah di
masjid dengan sabdanya :


"Artinya : Sungguh aku ingin sekali perintahkan segera
ditunaikannya iqamat untuk shalat dan akan aku perintahkan
di antara kalian agar salah seorang mengimami shalat, di
saat itulah aku ingin pergi bersama para laki-laki yang
sudah siap dengan kayu bakar, menuju rumah kaum lelaki
yang tidak shalat berjamaah dan akan aku bakar rumah-rumah
mereka".


Hal ini menunjukkan besarnya perintah tersebut, maka
wajiblah bagi kaum muslimin memperhatikan shalat jamaah
dan untuk bersegera mendatangi masjid setiap kali
mendengar adzan. Waspadalah dari rasa malas dan berat hati
melaksanakan shalat jamaah, sebab keduanya adalah
merupakan sifat-sifat orang munafik. Na'udzubillah kita
berlindung kepada Allah dari sifat-sifat mereka.


Allah berfirman :

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu
Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila
mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas.
Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia.
Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikir
sekali". (An-Nisaa' : 142).


Wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk memperhatikan
masalah shalat karena shalat adalah pilar penyangga Islam,
shalat merupakan rukun Islam terbesar setelah dua kalimat
syahadat, barangsiapa menjaganya berarti telah menjaga
agamanya, barangsiapa menyia-nyiakannya berarti
menyia-nyiakan agamanya. --Wala haula wala quwwata illa
billah--. Barangsiapa menjaga shalatnya, menegakkannya
dengan khusyuk dan tidak mendahului imam, maka mereka
mendapat kebahagiaan sebagaimana firman Allah :


"Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam
shalatnya". (Al-Mukminun : 1-2).

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Seburuk-buruk pencurian yang terjadi pada
manusia adalah ; 'manusia yang mencuri dalam shalatnya'.
Sahabat bertanya : 'Bagaimana terjadi pencurian dalam
shalat ?'. Nabi Menjawab :'Shalat yang tidak sempurna
rukuknya atau sujudnya".


Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seorang
laki-laki yang buruk dalam melakukan shalat, yaitu dengan
tidak menyempurnakan rukuknya atau sujudnya, maka Nabi
memerintahkan laki-laki tersebut agar mengulangi lagi
shalatnya.


Nabi bersabda :

"Artinya : Apabila engkau menunaikan shalat, maka
sempurnakanlah wudlu, kemudian menghadaplah qiblat,
kemudian bertakbirlah, bacalah apa yang mudah bagimu dari
sebagian surat Al-Qur'an, rukuklah hingga sempurna rukukmu
(tumakninah) kemudian beridirilah hingga lurus tegak,
kemudian sujudlah hingga tumakninah sujudmu, kemudian
angkatlah kepalamu dari sujud hingga engkau tumakninah
dudukmu, kemudian sujudlah hingga tumakninah sujudmu dan
kemudian lakukanlah hal itu dalam seluruh shalatmu".


Kebanyakan manusia melakukan shalat dengan mematuk
(gerakan terlalu cepat seperti ayam mematuk makanan).
Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan itu adalah mungkar.
Barangsiapa melakukan shalat dengan mematuk maka batal-lah
shalatnya berdasarkan hadits tersebut diatas.


Shalat wajib dilakukan secara tumakninah dalam hal rukuk,
sujud, i'tidal setelah rukuk, antara dua sujud dan
berhati-hati untuk tidak mendahului imam. Apabila imam
bertakbir janganlah segera langsung takbir tapi tunggulah
hingga suara takbir imam selesai. Apabila imam berseru
"Allahu Akbar" untuk rukuk maka janganlah langsung  rukuk,
tunggulah hingga imam lurus rukuknya dan berhenti, setelah
itu lakukan rukuk. Demikianlah pula dalam sujud, janganlah
mendahului imam, jangan pula bersamaan dengan imam, tidak
boleh bersamaan dengan imam tidak boleh pula mendahului
imam.


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya aku adalah imam kalian maka
janganlah kalian mendahuluiku dalam rukuk dan sujud,
ketika berdiri atau ketika mengakhiri shalat"


"Artinya : Sesungguhnya seseorang itu diangkat menjadi
imam  untuk diikuti maka janganlah kalian menyelisihinya,
apabila imam takbir ikutilah kalian takbir dan janganlah
kalian takbir hingga imam terlebih dahulu takbir dan
apabila imam rukuk maka rukuklah kalian dan janganlah
kalian rukuk hingga imam terlebih dahulu rukuk, apabila
imam mengucap 'Sami 'allahu liman hamidah' berucaplah,
'Rabbana wa lakal hamdu'. Apabila imam sujud maka sujudlah
dan janganlah kalian sujud hingga imam terlebih dahulu
sujud".


Perkara ini sesungguhnya telah jelas --bagi setiap yang
ingin melakukan shalat sesuai dengan tuntunan Allah-- akan
tetapi sebagian manusia tidak sabar melakukannya, mereka
cenderung bersegera dan mendahului imam dalam gerakan
shalat --Wal iyadu billah-- Wajiblah bagi kita untuk
mewaspadai hal itu.


Salah satu upaya untuk menjaga shalat fajar tepat pada
waktunya dan melaksanakannya secara berjamaah, maka
hendaklah seseorang bersegera untuk tidur dan tidak
begadang terlalu malam.


Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membenci tidur
sebelum Isyak dan ngobrol sesudahnya.


Disyariatkan bagi mukminin dan mukminat mencurahkan segala
kemampuannya untuk menjaga shalat agar tepat pada waktunya
tidak begadang setelah Isyak, karena hal itu terkadang
menjadikan seseorang ketiduran --ketinggalan Shalat
Fajar--. Seyogyanyalah pada saat-saat yang perlu dicermati
ini kita saling tolong menolong agar bisa melaksanakannya.
Sebagaimana layaknya tolong menolong antar anggota
keluarga dalam menunaikan urusan shalat Fajar ini.


Allah berfirman :

"Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran". (Al-Maidah : 2)


"Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya
mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran". (Al-Ashr : 1-3).


Wajib bagi kaum muslimin saling memberi nasehat dan
berwasiat tentang kebenaran, tolong menolong dalam
kebaikan, dan amar ma'ruf nahi mungkar sebelum terjadinya
hukuman dari Allah. Telah ada hadist shahih dari Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam berkenan dengan perkara
tersebut :


"Artinya : Sesungguhnya manusia, apabila melihat
kemungkaran dan tidak berupaya untuk merubahnya,
dikhawatirkan Allah akan menyegerakan hukuman bagi mereke
secara umum".


"Artinya : Ad-dien itu adalah nasihat, ad-dien itu adalah
nasihat, ad-dien itu adalah nasihat'. (Nasihat artinya
sucinya hati atau ikhlas). Maka bertanyalah sahabat,
'Untuk siapa Ya Rasulullah ?'. Nabi menjawab : 'Untuk
Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan Imam-imam kaum muslimin,
serta kaum muslimin semuanya".


Berkata Jarir bin Abdullah Al-Bajaliy Radhiyallahu anhu.

"Artinya : Aku membai'at Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam untuk menegakan shalat, menunaikan zakat dan
nasehat untuk setiap muslim".

Disyari'atkan bagi setiap muslim manakala mendengar ajaran
yang berfaedah agar menyampaikannya kepada yang lain,
demikian pula muslimat agar supaya menyampaikan kepada
yang lain, manakala mendengar ilmu yang bermanfaat. Hal
ini berdasarkan sabda Nabi, "Sampaikan ajaran dariku
sekalipun  hanya satu ayat".


Adalah Nabi manakala berkhotbah di hadapan manusia beliau
bersabda : "Hendaklah orang yang menyaksikan (hadir)
menyampaikan kepada yang tidak hadir, adakalanya seorang
penyampai ajaran (mubaligh) tidak lebih menguasai dari
yang sekedar mendengar".


Sabdanya lagi :

"Artinya : Barangsiapa meniti jalan dalam rangka mencari
ilmu maka Allah akan permudah baginya jalan menuju
jannah".


Termasuk dalam hadits ini adalah, bagi siapa saja yang
datang ke masjid, atau tempat yang terdapat disana halaqah
ilmu dan pengajaran ilmu yang bermanfaat. Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda :


"Artinya : Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan
kabaikan, maka Allah fahamkan dia terhadap agama.


Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Allah pasti melihat dengan kasih sayang-Nya
terhadap seseorang yang mendengar perkataanku (Nabi), lalu
meresponnya dengan baik kemudian melaksanakannya
sebagaimana yang di dengar, adakalanya pembicara
(mubaligh) itu lebih pandai daripada pendengar adakalanya
mubaligh itu menyampaikan kepada yang lebih pandai
darinya".


"Artinya : Tidalah suatu kaum itu berkumpul di rumah-rumah
Allah, kemudian mereka membaca kitabullah dan saling
mengajarkan di antara mereka kecuali rasa tenang akan
turun kepada mereka, mereka akan Allah dengan rahmat dan
akan dikelilingi Malaikat serta mereka diingat Allah
tentang apa-apa yang ada di sisi-Nya".


Ini menunjukkan disyariatkannya berlomba dalam halaqah
ilmu, menaruh perhatian besar terhadapnya, dan tamak untuk
berkumpul dalam rangka tilawatul qur'an dan saling
mengajarkannya.


Diantaranya ialah mendengarkan acara-acara keagamaan,
penyampaian hadits-hadits yang bermanfaat, penyiaran
tilawah qur'an yang dipandu oleh mereka yang dipandang
mampu dalam bidang ilmu agama dan bashirah (hujjah) serta
kebaikan aqidah.


Sebagaimana sudah dimaklumi, bahwa Allah Subhanahu wa
Ta'ala menciptakan jin dan manusia untuk beribadah
kepada-Nya. Ibadah, sudah semestinya dilakukan berdasarkan
ilmu. Manusia tidak akan mengerti hakekat ibadah yang
telah dibebankan kepadanya kecuali dengan belajar dan
mendalami agama. Allah berfirman :


"Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah-Ku". (Adz-Dzariyat :
56).

Ibadah yang bagaimanakah yang diwajibkan kepada kita untuk
mempelajari dan mempelajarinya ? Yaitu segala sesuatu yang
disyari'atkan Allah dan dicintainya untuk dilakukan
hamba-Nya, seperti shalat, zakat, shiyam dan selainnya.
Kemudian Allah berfirman :


"Artinya : Dan orang-orang yang membayar zakat".

Zakat adalah haqqul mal, Allah mewajibkan kepada setiap
muslim untuk mengeluarkan zakat dari sebagian hartanya
kepada yang berhak menerima. Allah mewajibkan bagi
pembayar zakat agar ikhlas karena Allah berharap
pahala-Nya serta takut terhadap hukumannya. Allah
berfirman :


"Artinya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk
orang-orang fakir, orang-orang miskin". (At-taubah : 60).


Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya :

"Artinya : Mereka mentaati Allah dan Rasul-Nya".

Setelah Allah menyebutkan shalat, zakat, loyalitas
diantara kaum mukmin, amar ma'ruf nahi mungkar, Allah
berfirman :


"Artinya : Mereka mentaati Allah dan Rasul-Nya".

Yaitu, (taat) dalam segala sesuatu, seperti taat dalam
masalah amar ma'ruf nahi mungkar, shalat dan zakat. Pendek
kata, mentaati Allah dalam segala hal.


Demikian sifat mukminin dan mukminat, yaitu mereka selalu
mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam setiap perintah dan
larangan-Nya dimanapun mereka berada. Agama seseorang
tidak akan sempurna kecuali dengan ketaatan yang utuh
kepada-Nya.


Allah berfirman :

"Artinya : Mereka itulah orang-orang yang akan mendapat
karunia Allah".

Kemudian Allah menjelaskan bahwasanya orang-orang yang
istiqamah dalam agamanya, menunaikan kewajiban terhadap
Allah, mentaati-Nya dan mentaati Rasulullah Shallalalhu
'alaihi wa sallam, mereka itulah yang berhak mendapat
karunia di dunia dan di akhirat karena ketaatannya kepada
Allah, keimanan dengan-Nya serta pelaksanaan kewajiban
terhadap-Nya.


Hal itu juga menunjukkan bahwa sesungguhnya bagi orang
yang berpaling, lalai dan orang-orang yang mengabaikan
kewajiban, maka bagi mereka sama halnya dengan menyodorkan
dirinya untuk di adzab Allah dan dimurkai-Nya.


Rahmat Allah bisa diperoleh dengan amal shalih dan
kesungguhan dalam mentaati Allah dan menegakkan
perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berpaling serta
mengikuti hawa nafsu atau setan, maka baginya naar pada
hari kiamat.


Allah berfirman :

"Artinya : Adapun orang-orang yang melampui batas, dan
lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya
narlah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang
takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya janahlah
tempata tinggal(nya)". (An-Naziat : 38-41).

Kita memohon kepada Allah dengan Asma'ul Husna-Nya dan
sifat-sifat-Nya yang tinggi, semoga Allah menunjukkan kita
dan segenap kaum muslimin kepada ilmu yang bermanfaat dan
amal yang shalih, semoga Allah memperbaiki hati kita dan
amal kita sekalian, semoga Allah memberi rezeki berupa
kemampuan melaksanakan Tawashau bil haq dan  tawashau bish
shabr, tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan,
mengutamakan akhirat atas dunia, mempunyai keinginan untuk
tetap memiliki keselamatan hati dan amal, ambisi untuk
bermanfaat bagi kaum muslimin di manapun mereka berada.


Kita memohon kepada Allah semoga Dia memenangkan
agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, membimbing para
pemimpin kaum muslimin keseluruhan, memperbaiki hati dan
amal mereka, memberi mereka pemahaman agama dan kelapangan
hati untuk berhukum dan memutuskan perkara dengan
syari'at-Nya, tetap istiqamah di jalan-Nya. Mudah-mudahan
Allah senantiasa melindungi kita dan seluruh kaum muslimin
di segala penjuru dari berbagai macam fitnah dan ujian,
menghinakan musuh-musuh Islam di manapun mereka berada,
membatasi ruang lingkup kekuasaan mereka, serta menolong
ikhwan-ikhwan kita para mujahidin fie sabilillah di setiap
tempat. Sesungguhnya Allah pemimpin kaum muslimin dan Maha
Kuasa atasnya.


Wa shalallahu wasallam 'ala nabiyina Muhammadin wa alihi
shahbihi ajma'iin.



Disalin dari buku Akhlaqul Mukminin wal Mukminat, dengan
edisi Indonesia Akhlak Salaf, Mukminin dan Mukminat, oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, hal. 50-58,
terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Ihsan




------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nikmati akses TelkomNet Instan Week End Net hanya Rp 1.000/jam. Berlaku untuk 
Sabtu-Minggu, khusus Jawa Tengah
dan DIY s/d 31 Desember 2008

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ikuti Speedy Blogging Competition 2008, ajang kompetisi Blog yang terbuka bagi 
semua Blogger dengan tema:
Seperti Apa Konten Hebat Menurutmu? Dapatkan hadiah utama 1 Buah Notebook 
Mininote. Informasi lebih lanjut kunjungi http://lomba.blog.telkomspeedy.com

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Download MP3 -Free kajian Islam- http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke