Wa'alaykumussalam warohmatulloohi wabarokaatuh.
 
Ya ukhty, silahkan direnungkan dari salah satu kisah shahabiyah yang mulia 
al-Ghumaisha’ binti Milhan Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘anha sebagai berikut :
 
 
Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seorang anak dari Abu 
Thalhah sakit. Ketika Abu Thalhah keluar, anak itu meninggal. Ketika Abu 
Thalhah kembali, dia bertanya, “Bagaimana anakku?” Ummu Sulaim menjawab, “Ia 
dalam kondisi sangat tenang,” seraya menghidangkan makan malam kepadanya, dan 
dia pun makan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ummu Sulaim berkata, 
“Jangan beritahukan kepada Abu Thalhah tentang kematian anaknya.” Kemudian ia 
melakukan tugasnya sebagai isteri kepada suaminya, lalu suaminya berhubungan 
intim dengannya. Ketika akhir malam, ia berkata kepada suaminya, “Wahai Abu 
Thalhah, bagaimana pendapatmu bila keluarga si fulan meminjam suatu pinjaman, 
lalu memanfaatkannya, kemudian ketika pinjaman itu diminta, mereka tidak suka?” 
Ia menjawab, “Mereka tidak adil.” Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya anakmu, 
fulan, adalah pinjaman dari Allah dan Dia (Allah) telah mengambilnya.” Abu 
Thalhah beristirja’
 (mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaaa ilaih raaji’uun) dan memuji Allah 
seraya mengatakan, “Demi Allah, aku tidak membiarkanmu mengalahkanku dalam 
kesabaran.” Pada pagi harinya, dia datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi 
wa sallam. Tatkala beliau melihatnya, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi 
kalian berdua di malam hari kalian.” Keberkahan itu, sejak malam itu, mencakup 
‘Abdullah bin Abi Thalhah, dan tidak ada pada kaum Anshar seorang pemuda yang 
lebih baik darinya. Dari ‘Abdullah tersebut lahirlah banyak anak, dan ‘Abdullah 
tidak meninggal sehingga dia dikaruniai sepuluh anak yang semuanya hafal 
al-Qur-an, dan dia wafat di jalan Allah. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 
5470) kitab al-‘Aqiiqah, Muslim (no.. 2144), kitab Fadhaa-ilush Shahaabah, 
Ahmad (no. 11617).
 
Ya ukhty, sesungguhnya diri kita sendiri, keluarga, teman, pekerjaan, harta, 
semua adalah pinjaman dari Alloh Subhanahu wa Ta'ala yang kelak akan dimintakan 
pertanggunganjawabnya.
 
 
"...Laa Tahzan...Innallooha ma'ana... "
"...Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Alloh bersama kita...." (QS. 9 :40)

Wassalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh.
 

--- On Mon, 11/17/08, Lisda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Lisda <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [assunnah] Tentang perpisahan
To: [email protected]
Date: Monday, November 17, 2008, 8:23 PM

Assalaamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh ...

Saya Lisda, saya sudah bekerja di perusahan yang sekarang ini selama 4 tahun.
kemudia tanggal 4 december bulan depan adalah Last day saya bekerja.
rasanya sedih sekali untuk meninggalkan tempat yang saya sayangi ini,
meninggalkan teman-teman dan sodara yang saya sayangi rasanya berat sekali.
sampai saya menangis tak sengaja.

Perusahaan tidak menjadikan saya karyawan tetap karna perusahaan akan pindah ke 
China.
saya selalu berdoa kepada Alloh untuk selalu memberikan yang terbaik untuk 
saya. dan saya pun sama sekali tidak ragu bahwa Alloh sangat Menyayangi saya.
TApi saya Manusia biasa terkadang saya juga sedih saat harus berpisah.

Pertanyaan saya, Apakah ada ayat atau hadist yang menceritakan tentang suatu 
perpisahan?
atau bagaimana menghadapi suatu perpisahan agar tidak merasa sedih??
Saya tunggu nasehatnya.. ...(agar hati saya tidak merasa sedih & terhibur)

wassalaamu 'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh. ....

Kirim email ke