Modal Utama untuk Meraih Kemenangan di Palestina
http://rumaysho.wordpress.com/2009/01/08/modal-utama-untuk-meraih-kemenangan-di-palestina/
Januari 8, 2009

Oleh: Syaikh Abdullah Al 'Ubailan hafizhohullah
Diterjemahkan oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST
(Sumber: http://www.islamancient.com/fatawa)

Syaikh 'Abdullah Al 'Ubailan ditanya:

Apa tanggapan Anda terhadap peperangan yang terjadi di tengah-tengah kaum 
muslimin, lalu apa fatwa dan penjelasan mengenai hal ini?

Syaikh hafizhohullah menjawab:
Bismillahir rahmanir rohim
Segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji-Nya, kami meminta pertolongan 
pada-Nya, kami memohon ampunan dari-Nya dan kami pun bertaubat kepada-Nya. Kami 
meminta perlindungan kepada Allah dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal 
kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun 
yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada 
seorang pun yang bisa memberi petunjuk padanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada 
sesembahan yang disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu 
bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma 
ba'du, sesungguhnya perkataan yang paling jujur adalah Kitabullah dan 
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. 
Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama). Setiap 
perkara yang diada-adakan dalam agama itulah bid'ah dan setiap bid'ah adalah 
sesat.

Sebelum menjelaskan perkataan ulama mengenai hal ini, saya terlebih dahulu 
menyebutkan perkataan para ulama Ahlus Sunnah di zaman ini. Di antara 
ulama-ulama tersebut adalah:

Yang mulia Syaikh Abdul 'Aziz bin Abdillah bin Baz, pakar hadits abad ini 
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, pakar fikih abad ini Syaikh Muhammad bin 
Sholeh Al Utsaimin, peneliti handal Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan, yang 
mulia Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alusy Syaikh, dan di antaranya lagi adalah 
Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, juga ulama-ulama lainnya yang mengikuti 
jalan hidup mereka dengan meniti syariat ini. Para ulama inilah yang senantiasa 
menolong kaum muslimin saat ini bahkan di setiap masa. Setelah itu, aku katakan 
–dengan taufik Allah-:

Perlu diketahui bahwa Al Qur'an telah memberi petunjuk kepada kita untuk 
menyelesaikan tiga problema, di mana dengan penjelasan Al Qur'an akan 
menyelematkan berbagai negeri Islam.

Problema Pertama:
Kelemahan kaum muslimin di setiap penjuru dunia dari sisi jumlah dibanding 
orang kafir. Sungguh, Al Qur'an telah memberi petunjuk pada kita untuk 
menyelesaikan problema ini dengan solusi yang paling bagus dan adil. Al Qur'an 
telah menjelaskan bahwa untuk menyembuhkan penyakit lemahnya kaum muslimin dari 
orang kafir adalah dengan penuh kesungguhan menghadap Allah, dengan menguatkan 
keimanan, dan bertawakkal pada-Nya karena Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha 
Perkasa, dan Yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Siapa saja yang beriman 
dengan sebenar-benarnya, maka tidaklah mungkin orang-orang kafir mengalahkannya 
walaupun mereka (orang kafir) menang dalam hal kekuatan dari kaum muslimin. Di 
antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah:
Di perang Ahzab, orang-orang kafir memerangi kaum muslimin dan pada saat itu 
kaum muslimin sudah dalam keadaan terkepung dengan pasukan orang kafir yang 
sangat besar, sebagaimana hal ini disebutkan dalam firman Allah Ta'ala,
إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ 
الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ 
الظُّنُونَا (10) هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا 
شَدِيدًا (11)
"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika 
tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan 
dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam sangkaan. Di situlah 
diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang 
sangat." (QS. Al Ahzab: 10-11)
Lihatlah kondisi perang ketika itu. Kaum muslimin sudah dikepung oleh pasukan 
orang kafir yang sangat banyak dan begitu kuat. Seluruh manusia saat ini pasti 
sudah kehilangan strategi. Jadi yang patut engkau tahu bahwa solusi ketika 
menghadapi problema yang sulit semacam ini telah Allah Ta'ala jelaskan dalam 
surat Al Ahzab pada firman-Nya,
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ 
وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا 
وَتَسْلِيمًا
"Dan tatkala orang-orang mu'min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, 
mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan 
benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada 
mereka kecuali iman dan ketundukan." (QS. Al Ahzab: 22)

Jadi, dengan keimanan yang sempurna dan ketundukan yang sebenar-benarnya kepada 
Allah Ta'ala, juga kuat dalam tawakkal, itulah sebab untuk menyelesaikan 
problema yang sulit ini.

Allah sendiri telah menegaskan mengenai hasil dari penyembuhan seperti ini 
(yaitu karena adanya keimanan yang kokoh, pen) dalam firman-Nya,
وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى 
اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا (25) 
وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ 
وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا 
(26) وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ 
تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا (27)
"Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh 
kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah 
menghindarkan orang-orang mu'min dari peperangan . Dan adalah Allah Maha Kuat 
lagi Maha Perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) 
yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan 
Dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh 
dan sebahagian yang lain kamu tawan . Dan Dia mewariskan kepada kamu 
tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang 
belum kamu injak . Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu." (QS. 
Al Ahzab: 25-27)
Begitulah pertolongan Allah terhadap musuh-musuh kaum muslimin. Mereka tidak 
menyangka bahwa yang menolong mereka adalah (para tentara dari) malaikat dan 
juga ditolong melalui angin (topan). Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ 
جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا 
وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا
"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni'mat Allah (yang telah 
dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami 
kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya 
. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Ahzab: 9)
Begitu pula Allah Ta'ala mengetahui keikhlasan yang sempurna dari orang-orang 
yang melakukan Bai'atur Ridwan, sebagaimana dalam firman-Nya,
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ 
الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka 
berjanji setia kepadamu di bawah pohon , maka Allah mengetahui apa yang ada 
dalam hati mereka." (QS. Al Fath: 18). Yang dimaksudkan dengan 'apa yang dalam 
hati mereka' adalah keimanan dan keikhlasan. Karena keimanan dan keikhlasan 
inilah menghasilkan buah sebagaimana yang Allah Ta'ala sebutkan dalam 
firman-Nya,
وَأُخْرَى لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللَّهُ بِهَا وَكَانَ اللَّهُ 
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا
"Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas 
negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah 
menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al Fath: 
21). Dalam ayat ini, Allah Ta'ala menegaskan bahwa kaum muslimin belum dapat 
menaklukan negeri-negeri lainnya, namun Allah-lah yang menetapkan sehingga 
mereka pun mampu menguasai negeri-negeri tersebut. Itulah buah dari kuatnya 
iman dan ikhlas.
Ayat tadi menjelaskan bahwa ikhlas yang murni kepada Allah dan kuatnya keimanan 
adalah sebab kaum yang lemah bisa mengalahkan kaum yang jauh lebih kuat.

Itulah yang difirmankan oleh Allah Ta'ala,
كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ 
مَعَ الصَّابِرِينَ
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang 
banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al 
Baqarah: 249)

Problema Kedua:
Mengapa orang kafir bisa mengalahkan orang-orang beriman dengan membunuh, 
melukai dan bentuk kerugian lainnya, padahal kaum muslimin berada di atas agama 
yang benar sedangkan mereka orang kafir berada dalam kebatilan?
Problema seperti ini juga pernah dialami oleh sahabat Nabi shallallahu 'alaihi 
wa sallam. Allah Ta'ala sendiri menjelaskan problema ini melalui wahyu dari 
langit yang senantiasa dibaca dalam Kitabullah (Al Qur'an).
Kejadian yang dialami sahabat adalah ketika berada di perang Uhud. Pada saat 
itu, paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terbunuh, begitu pula anak 
dari pamannya. Ketika itu pula beberapa kaum muhajirin terbunuh dan 70 kaum 
Anshor pun terbunuh. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun terluka, 
bibirnya sobek dan giginya (yaitu gigi yang terletak antara gigi seri dan gigi 
taring) patah, dan dahinya pun terluka.
Para sahabat ketika itu merasa heran dengan kejadian ketika itu. Mereka berujar,

"Bagaimana mungkin kaum musyrikin sekarang bisa mengalahkan kita, padahal kita 
berada di atas kebenaran sedangkan mereka berada dalam kebatilan?"

Kemudian Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya,
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى 
هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ
"Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu 
telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan 
Badar), kamu berkata: "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu 
dari (kesalahan) dirimu sendiri"." (QS. Ali Imran: 165)
Lihatlah bahwa Allah Ta'ala berfirman,
قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ
"Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri"." (QS. Ali Imran: 165)
Ayat di atas masih global dan kesalahan mereka ini dijelaskan lagi dalam firman 
Allah Ta'ala,
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى 
إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا 
أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ 
يُرِيدُ الْآَخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ
"Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu 
membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih 
dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan 
kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan 
di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan 
kamu dari mereka untuk menguji kamu." (QS. Ali Imran: 152)
Inilah keterangan langsung dari langit, penjelasan yang sangat jelas bahwa 
sebab kemenangan orang kafir terhadap kaum muslimin adalah karena kelemahan 
kaum muslimin sendiri, perselisihan mereka dalam suatu urusan dan kedurhakaan 
mereka terhadap perintah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, dan di antara 
mereka ada yang lebih mementingkan dunia daripada perintah beliau shallallahu 
'alaihi wa sallam. Sudah tidak samar lagi bahwa setiap penyakit pasti ada 
obatnya.

Problema Ketiga:
Permasalahan selanjutnya adalah adanya perbedaan hati. Inilah sebab terbesar 
yang membuat umat Islam semakin rendah. Mereka semakin lemah di hadapan 
musuh-musuh mereka. Kekuatan mereka pun sirna, begitu pula dengan kekuasaan 
mereka pun hilang. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta'ala,
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
"Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar 
dan hilang kekuatanmu." (QS. Al Anfal: 46)
Jika engkau melihat umat Islam saat ini di berbagai penjuru dunia, mereka 
menyembunyikan permusuhan dan kebencian satu dan lainnya, namun senyatanya 
keramahan yang ada pada mereka hanyalah pura-pura saja. Mereka mungkin terlihat 
saling ramah, namun dalam hati mereka sebenarnya terdapat perselisihan.
Allah Ta'ala telah menerangkan hal ini dalam Surat Al Hasyr bahwa sebab 
penyakit perpecahan di tengah-tengah umat ini terjadi karena kurangnya akal. 
Allah Ta'ala berfirman,
تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى
"Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah." Kemudian 
setelah itu, Allah menyebutkan sebab kenapa hati mereka bisa terpecah 
(berselisih) yaitu dalam firman-Nya,
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
"Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti." 
(QS. Al Hasyr: 14)
Telah kita ketahui bersama bahwa penyakit lemahnya akal yang menimpa kaum 
muslimin, membuat mereka menjadi lemah dalam memahami hakikat, juga sulit 
membedakan antara yang benar dan yang bathil, yang manfaat dan yang 
membahayakan, serta membedakan antara yang baik dan yang jelek. Tidak ada obat 
untuk penyakit ini selain cahaya wahyu. Cahaya wahyu inilah yang nanti akan 
menghidupkan hati-hati yang mati dan menerangi jalan jika berpegang dengannya. 
Akhirnya dengan cahaya wahyu seseorang akan terbuka matanya, sehingga dia dapat 
melihat yang benar itu nampak benar, yang keliru itu nampak keliru, yang 
bermanfaat itu nampak bermanfaat, yang bahaya itu akan nampak berbahaya. Allah 
Ta'ala berfirman,
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي 
النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan 
kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di 
tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada 
dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?" (QS. Al 
An'am: 122)
Allah Ta'ala juga berfirman,
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
"Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari 
kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)." (QS. Al Baqarah: 257)
Barangsiapa keluar dari kegelapan menuju cahaya, maka dia akan melihat 
kebenaran. Karena cahaya inilah yang akan membuat seseorang melihat kenyataan 
sehingga dia dapat mengetahui yang benar itu benar dan yang bathil itu bathil. 
Allah Ta'ala berfirman,
أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا 
عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
"Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak 
mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang 
lurus?" (QS. Al Mulk: 22)
وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ (19) وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ 
(20) وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ (21) وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا 
الْأَمْوَاتُ
"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. dan tidak (pula) 
sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang 
panas, dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati." 
(QS. Fathir: 19-22)
مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالْأَعْمَى وَالْأَصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ هَلْ 
يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا
"Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati." (QS. 
Hud: 24)
Masih banyak ayat lainnya yang menunjukkan bahwa dengan iman, seseorang bisa 
memperoleh kehidupan sebagai ganti dari kematian dan bisa memperoleh cahaya 
sebagai ganti dari kegelapan. (Lihat Adhwaul Bayan, 3/54)

Selanjutnya komentar dan penjelasan mengenai permusuhan Yahudi dan kaum 
muslimin di Palestina, kami sampaikan dalam beberapa point berikut ini:

Pertama: marilah seluruh kaum muslimin kembali kepada agama mereka, menyerahkan 
setiap urusan kepada Allah, menghilangkan perselisihan dan mendo'akan mereka 
kaum muslimin, juga menolong mereka sesuai dengan kemampuan dengan harta dan 
obat-obatan. Inilah ajakan yang lebih tepat yang ada dalam Al Qur'an dan ajaran 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena sebab-sebab tadi disebabkan 
oleh maksiat.
Kedua: ajakan yang serampangan yang diarahkan pada kepentingan-kepentingan 
Yahudi di dunia ini tidak ragu lagi adalah ajakan yang tidak bertanggung jawab 
yang muncul dari orang-orang yang tidak memiliki hikmah dan tidak tahu aturan. 
Bahkan terkadang perbuatan semacam ini berakibat buruk kepada kaum muslimin 
khususnya di Saudi Arabia. Akhirnya berbaliklah tuduhan yang tidak menyenangkan 
dari negara adikuasa dengan tuduhan teroris yang negeri Saudi sendiri telah 
terselamatkan dari tuduhan semacam ini selama beberapa tahun yang silam. 
Seruan-seruan tadi tidaklah jauh dari seruan-seruan yang ingin memecah belah 
Ahlus Sunnah dan menginginkan Ahlus Sunnah seperti saat ini. Seruan taktik 
semacam ini sebenarnya karena tidak paham dengan tujuan-tujuan syari'at dan 
kaedah syariat yang umum.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Orang yang pemberani bukanlah dengan 
kuatnya badan. Boleh jadi seseorang kuat badannya, namun hatinya lemah. Orang 
yang pemberani adalah yang kuat dan kokoh hatinya. Kekuatan dalam peperangan 
adalah dengan kuatnya badan dan kemampuan untuk berperang, juga kuatnya, 
disertai pula dengan pengalaman. Yang terpuji di antara orang yang kuat hatinya 
dan yang kuat badannya tadi adalah orang yang berada di atas ilmu, bukan orang 
yang sering serampangan yang tidak mau berpikir manakah perkara yang terpuji 
dan tercela. Oleh karena itu, orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan 
dirinya ketika marah. Orang seperti ini akan melakukan perkara yang baik 
baginya bukan yang membahayakannya. Orang yang tidak mampu menahan amarahnya 
bukanlah orang yang pemberani dan bukanlah orang yang kuat." (Al Istiqomah, 
2/271)

Ketiga: ajakan yang diserukan kepada pemerintah Saudi untuk mengeluarkan Yahudi 
dari Palestina adalah ajakan yang terburu-buru dan jauh dari memahami kenyataan 
kaum muslimin dalam agama maupun strategi, juga karena tidak mengetahui 
kedudukan orang yang dihadapi yang begitu kuat.

Akhirnya, saya mengajak kepada saudaraku para da'i dan juga para penuntut ilmu, 
marilah kita tertarik untuk mengkaji Al Kitab dan As Sunnah serta melihat jalan 
hidup salafush sholeh. Dan ketahuilah bahwa di alam ini, Allah memiliki 
ketetapan (sunnah) yang tidak mungkin berubah dan tergantikan sebagaimana yang 
terjadi pada ketetapan kauniyah (sunnah kauniyah),
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ 
أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا 
بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا 
لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di 
muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah . Sesungguhnya 
Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang 
ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap 
sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada 
pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar Ra'du: 11). Hendaklah kita mengambil 
pelajaran dari kajian-kajian yang telah lewat, lalu pahamilah.

Perlu diketahui pula bahwa syari'at ini datang untuk mendatangkan berbagai 
macam maslahat dan menolak berbagai macam bahaya atau menguranginya sesuai 
dengan kemampuan. Saya akan menjelaskan pula pada kalian mengenai kaedah 
syariat ini, bagaimana jika ada maslahat yang bertentangan, atau ada mafsadat 
yang saling bertentangan atau bagaimana jika ada maslahat dan mafsadat saling 
bertentangan.
Ketahuilah bahwa kebaikan dan keburukan itu bertingkat-tingkat. Orang yang 
berakal pasti akan menolak kejelekan yang lebih besar dengan kejelekan yang 
lebih sedikit dan akan merasa puas jika mendapatkan kebaikan yang sedikit dan 
tidak mendapatkan kebaikan yang banyak. Kalau tidak memperhatikan hal ini pasti 
kita akan menderita peperangan yang lebih besar.
Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin, menyatukan hati-hati mereka di 
atas petunjuk, tauhid dan sunnah. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari 
tipu daya dan kejelekan orang kafir dan munafik sebagai musuh-musuh mereka. 
Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.

****
Itulah fatwa dari Syaikh Abdullah Al Ubailan. Inti dari penjelasan beliau 
adalah:

Kaum muslimin –termasuk yang berada di Palestina- bisa menang dalam peperangan, 
jika mereka memiliki keimanan yang kokoh. Sebab lemahnya kaum muslimin saat ini 
adalah karena imannya yang lemah dan lebih senang berbuat maksiat dan 
mendurhakai Allah. Lihatlah di Perang Uhud, karena kedurhakaan kepada Allah dan 
Rasul-Nya, kaum muslimin menjadi kalah.

Seorang alim mengatakan:

"Siapakah yang mengatakan bahwa batu bisa menghancurkan tank-tank? Siapa yang 
mengatakan bahwa ketapel bisa mengalahkan rudal, sedangkan Engkau dan musuhmu 
sama-sama berbuat maksiat kepada Allah Ta'ala?



Alim tersebut menceritakan bahwa ada seseorang mengunjungi para korban perang 
yang terluka. Orang tadi mengataka bahwa dari 32 orang yang dia temui, 30 orang 
di antara mereka tidak shalat. Orang yang terluka tersebut mengatakan: Siapa 
saja yang ikut revolusi maka dia pasti syahid. Biarpun orang tersebut berbuat 
syirik, berzina dan sering mabuk-mabukan, asalkan dia ikut revolusi, pasti dia 
mati syahid."

Palestina tidak akan menang hanya dengan angan-angan. Palestina tidak akan 
bebas hanya dengan slogan-slogan.

Modal utama untuk meraih kemenangan tersebut adalah dengan iman dan bukan 
dengan bermaksiat pada Allah.

Marilah saat ini kita benahi keimanan, memperbaiki aqidah kita dan marilah kita 
bersatu di atas aqidah yang benar sehingga hati dan badan kita pun benar-benar 
bersatu.
Semoga dengan petunjuk Allah, kita dapat dikembalikan kepada agama kita dengan 
baik dan semoga berbagai kehinaan diangkat dari kita. Semoga Allah menolong 
kaum muslimin di berbagai negeri atas musuh-musuhnya.
Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihat.

Pangukan, Sleman, 11 Muharram 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Muhammad Abduh Tuasikal, ST



From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
Agus Wahyu Sudarmaji
Sent: Monday, January 05, 2009 2:29 PM
To: [email protected]
Subject: [assunnah] fatwa ulama berkaitan dengan kondisi Palestine

Mau tanya, ada atau tidak ya fatwa dari ulama Saudi mengenai kondisi
Palestine saat ini?
Kok sepertinya dari Negara-negara Arab tidak ada reaksi nyata yang bisa
benar-benar membantu ikhwah di Palestien ya...

------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/

INFO:
Saat ini domain assunnah.mine.nu telah diambil alih (direbut) oleh pihak yang 
tidak diketahui. Isi dan kandungannya tidak ada hubungannya dengan pengelola 
sebelumnya.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke