PELAJARAN DARI PALESTINA UNTUK SEGENAP KAUM MUSLIMIN
1 Januari 2009 oleh babehnya zaid | salafiyunpad

Oleh : Syaikh Abdul Aziz ar-Rays hafizhahullahu ta’ala

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha 
penyayang

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh…., amma ba’du.

Sesungguhnya kejadian yang menimpa saudara-saudara kita 
sesama muslim di Gaza berupa pembunuhan, penghancuran, 
serta penjajahan atas mereka yang dilakukan oleh kaum 
Yahudi terlaknat, tentu dirasakan pedih dan sakit oleh 
setiap mukmin dan membuat hati mereka teriris.

Ya Allah, alangkah murah dan sepele darah kaum muslimin 
[di mata mereka]. Maha suci Allah, betapa menyakitkan 
gambaran mayat-mayat [orang-orang tak bersalah itu] di 
dalam hati orang-orang yang beriman. Alangkah banyak nyawa 
yang telah melayang, darah yang tertumpahkan, kaum wanita 
yang ternodai [kehormatannya], dan begitu banyak 
rumah-rumah yang dihancurkan.

Sesungguhnya kejahatan-kejahatan Yahudi di negeri 
Palestina yang terampas itu bukan perkara yang aneh 
dilakukan oleh orang-orang semacam mereka (baca: Yahudi). 
Lebih parah daripada itu, mereka adalah kaum yang berani 
mencela dan mengejek al-Bari (Allah) Yang Maha suci. 
Sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya (yang artinya), 
“Orang-orang Yahudi berkata; ‘Tangan Allah terbelenggu’. 
Justru tangan-tangan mereka itulah yang terbelenggu dan 
mereka dilaknat akibat ucapan yang mereka lontarkan. 
Bahkan, kedua tangan Allah itu terbentang, Dia akan 
memberi bagaimanapun yang dia suka.” (QS. al-Maa’idah [5] 
: 64).

Mereka adalah para pembunuh nabi-nabi Allah. Allah ta’ala 
berfirman (yang artinya), “Hal itu terjadi karena mereka 
senantiasa mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para 
nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu terjadi 
akibat kedurhakaan mereka dan karena mereka selalu saja 
melampaui batas.” (QS. al-Baqarah [2]: 61).

Mereka adalah saudara kera-kera dan babi-babi yang 
berusaha untuk mengelabui Allah. Allah ta’ala berfirman 
(yang artinya), “Dan tanyakanlah kepada Bani Israel 
tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka 
melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada 
mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka 
terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang 
bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. 
Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku 
fasik.” (QS. al-A’raaf [7]: 163).

Selaras dengan ikatan persaudaraan di atas keimanan, maka 
sudah semestinya setiap muslim memberikan bantuan sekuat 
kemampuannya dan memohon dengan sangat kepada Allah dengan 
doa yang diiringi rasa penuh harap kepada-Nya agar Allah 
berkenan segera menyingkirkan kesulitan dan musibah yang 
mencekam saudara-saudara kita [di sana]. Berkaitan dengan 
kejadian yang begitu memilukan ini, saya ingin 
mengingatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin dengan 
beberapa pelajaran manhaj dari kejadian yang menimpa 
daerah Gaza Palestina :

Pelajaran pertama
Sesungguhnya kejadian yang menyedihkan ini semakin 
menguatkan kebenaran berita yang disebutkan oleh Allah 
subhanahu [wa ta’ala] mengenai orang-orang kafir berupa 
permusuhan mereka yang sengit kepada kaum mukminin. Dan 
yang harus kita lakukan adalah memusuhi seluruh golongan 
orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, dan 
lain sebagainya; dikarenakan mereka adalah orang-orang 
kafir. Dan apabila mereka menyakiti dan memerangi kita, 
maka kebencian kita kepada mereka pun semakin memuncak. 
Hal ini tentu berbeda dengan apa yang dilontarkan oleh 
sebagian orang yang menganjurkan untuk tidak memberikan 
pertolongan yang mengatakan, “Sesungguhnya kita tidak akan 
memusuhi orang-orang kafir kecuali apabila mereka 
menyakiti dan memerangi kita.” Allah ta’ala berfirman 
(yang artinya), “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak 
akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian 
mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. 
al-Baqarah [2]: 120).

Ayat ini menunjukkan bahwa permusuhan mereka kepada kita 
akan terus berlangsung sampai kita ikut menjadi kafir 
seperti mereka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya) 
“Sungguh telah terdapat suri teladan yang baik pada diri 
Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka 
berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri 
dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. 
Kami mengingkari kalian dan telah tampak dengan jelas 
antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk 
selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah 
semata.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4). Maka kita pun harus 
memusuhi dan membenci mereka untuk selama-lamanya 
dikarenakan mereka kafir, sampai mereka mau meninggalkan 
kekafiran mereka dan beriman kepada Allah semata. Jadi, 
permusuhan [kita] tidak hanya terbatas kepada orang yang 
memerangi kita di antara mereka, sebagaimana yang 
diserukan oleh sebagian da’i yang bersikap lembek [silakan 
dengar kajian berjudul ‘Surat-surat kepada gerakan HAMAS’ 
http://www.islamancient.com/lectures,item,346.html, yang 
disampaikan oleh Syaikh untuk menasehati mereka, pent]

Allah ta’ala menegaskan kewajiban permusuhan kita kepada 
mereka karena mereka adalah orang-orang kafir. Allah 
ta’ala berfirman (yang artinya) “Tidak akan kamu temukan 
suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru 
berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan 
rasul-Nya, meskipun orang-orang itu adalah ayah-ayah 
mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau 
kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah 
ditetapkan Allah keimanan di dalam hati mereka.” (QS. 
al-Mujadilah [58]: 22).

Di antara konsekuensi hal itu adalah kita tidak boleh 
menyerupai ciri khas mereka, baik dalam hal pakaian atau 
yang lainnya. Dan ini sekaligus merupakan ajakan kepada 
para pemuda kita; agar mereka meninggalkan pakaian-pakaian 
olah raga yang padanya terdapat nama-nama pemain (olah 
raga) yang kafir itu. Bahkan ini juga ajakan kepada 
segenap kaum muslimin untuk merasa mulia dan bangga dengan 
keislaman mereka. Agar kaum muslimin memandang kepada 
orang-orang kafir dengan pandangan permusuhan dan 
kerendahan, maka tidak benar perkataan bahwa orang kafir 
itu juga saudara kita sebagaimana yang dilontarkan oleh 
sebagian da’i yang lembek. Allah ta’ala berfirman (yang 
artinya), “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang 
yang bersamanya, mereka bersikap keras kepada orang-orang 
kafir, dan berkasih sayang dengan sesama mereka.” (QS. 
al-Fath [48]: 29). Allah juga berfirman (yang artinya), 
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mencintai 
mereka dan mereka pun mencintai-Nya, berlemah lembut 
dengan orang-orang mukmin dan keras kepada orang-orang 
kafir.” (QS. al-Maa’idah [5]: 54).

Salah satu perkara yang sangat-sangat mengherankan yaitu 
anda dapat melihat sebagian orang yang dinisbatkan kepada 
kalangan para da’i ila Allah –namun itu adalah penisbatan 
yang dusta- mereka itu tidak mau mengkafirkan Yahudi dan 
Nasrani. Maka sungguh dia telah mendustakan al-Qur’an yang 
jelas-jelas telah mengkafirkan mereka, maka orang seperti 
itu kafir berdasarkan ijma’ ulama sebagaimana yang 
disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Abdul Aziz bin 
Baz rahimahumallah. Sebagai tambahan, guru kami Ibnu Baz 
menyebutkan bahwa tidak benar menamai orang-orang Nasrani 
dengan istilah Masihiyin (pengikut Isa).

Pelajaran kedua
Sesungguhnya tindakan melampaui batas yang berlangsung 
secara beruntun dan terus-menerus serta penghinaan atas 
nyawa kaum muslimin yang suci, [dirampasnya] harta dan 
kehormatan mereka yang bersih termasuk bencana dan musibah 
besar yang menimpa kita. Sungguh banyak kalangan aktifis 
di medan dakwah yang telah keliru dalam mendiagnosa 
penyakit ini. Dibangun di atasnya, mereka pun keliru dalam 
menempuh jalan penyembuhannya. Saya telah menerangkan hal 
itu di dalam mukadimah kitab saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ 
[http://www.islamancient.com/books,item,50.html].

Intisari dari penyakit ini adalah kemaksiatan kepada 
Allah. Dan yang paling besar di antaranya adalah 
meninggalkan tauhid dan sunnah serta tersebarnya syirik 
dan bid’ah di antara barisan kaum muslimin yang dinamakan 
dengan istilah tasawuf dan sebagainya. Dan keadaan ini 
semakin bertambah parah ketika muncul berbagai kelompok 
dakwah yang menelantarkan dakwah tauhid dan melalaikan 
peringatan agar menjauhi kesyirikan serta mengikis aqidah 
al-Bara’ (kebencian kepada musuh Islam) yang seharusnya 
tertuju kepada bid’ah dan para penyebarnya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan mengapa ketika 
kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu 
telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada 
musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari 
mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari 
(kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa 
atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [3]: 165). Allah juga 
berfirman (yang artinya), “Telah tampak kerusakan di 
daratan dan di lautan dikarenakan ulah tangan manusia, 
Allah ingin memberikan pelajaran dengan menimpakan 
sebagian akibat perbuatan mereka, semoga mereka mau 
kembali(ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum [30]: 41). 
Maka kedua ayat tersebut dan ayat-ayat yang lainnya secara 
tegas menjelaskan bahwa semua musibah –di antaranya adalah 
berupa kelemahan dan dikuasai oleh orang-orang kafir- 
adalah akibat dari dosa-dosa yang kita perbuat.

Untuk mengatasi hal itu, maka obat dan penyembuhnya adalah 
dengan kembali kepada Allah, sebagaimana yang difirmankan 
oleh Allah ta’ala (yang artinya), “Allah menjanjikan 
kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan 
beramal salih, niscaya Allah akan menjadikan mereka 
benar-benar berkuasa di atas muka bumi ini, sebagaimana 
halnya Allah telah mengangkat orang-orang sebelum mereka 
menjadi pemimpin, Allah benar-benar akan meneguhkan untuk 
mereka agama merekayang telah Allah ridhai bagi mereka, 
dan Allah akan menggantikan rasa takut yang mencekam 
mereka dengan keamanan; mereka senantiasa beribadah 
kepada-Ku dan tidak mempersekutukan-Ku sama sekali.” (QS. 
an-Nuur [24]: 55). Ini adalah janji dari Allah, sedangkan 
Allah tidak mungkin menyelisihi janji-Nya. “Itulah janji 
Allah, Allah tidak akanpernah menyelisihi janji-Nya. Akan 
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Ruum 
[30]: 6).

Termasuk kekeliruan yang sangat fatal dan dosa yang sangat 
buruk yaitu [usaha sebagian orang] untuk memberikan posisi 
bagi Syi’ah Rafidhah untuk berada di antara barisan Ahlus 
Sunnah; sehingga mereka dapat dengan leluasa menyebarkan 
ajaran kekafiran dan kesesatan mereka, dan pada akhirnya 
mereka pun membahayakan Ahlus Sunnah. Sungguh 
mengherankan! Bagaimana bisa dibenarkan bagi seorang da’i 
yang mengajak untuk ishlah (perbaikan) kok malah 
memberikan tempat bagi Rafidhah yang mengkafirkan umat 
terbaik setelah Nabi-Nya yaitu para sahabat yang mulia 
seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka jugalah 
orang-orang yang berani menuduh ibunda kaum mukminin 
-sosok yang sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu 
‘alaihi wa sallam dan isteri beliau- telah melakukan 
perzinaan, mereka (baca: Syi’ah) juga melampaui batas 
dalam mengangkat kedudukan para imam mereka sampai 
menduduki derajat sebagaimana halnya derajat Allah, 
sebagaimana sudah saya terangkan dalam bantahan untuk 
mereka dalam risalah ‘al-Qaul al-Mubin li maa ‘alaihi 
ar-Rafidhah min ad-Din al-Masyin’ 
[http://www.islamancient.com/books,item,70.html].

Dahulu saya telah memberikan nasehat kepada organisasi 
HAMAS beserta pimpinan mereka –semoga Allah memberikan 
petunjuk kepada kami dan mereka- dan saya peringatkan 
mereka mengenai dampak [buruk] yang akan muncul akibat 
memberikan posisi bagi orang-orang Rafidhah di Palestina 
dan akibat buruk dari menyanjung mereka, sebagaimana telah 
kami sampaikan dalam sebuah pelajaran yang telah 
didokumentasikan dan disebarkan dengan judul ‘Rasa’il ila 
Hamas’, di antara tindakan mereka yang keliru itu adalah 
kunjungan Khalid Masy’al ke Iran dan meletakkan karangan 
bunga di atas kubur orang yang binasa yaitu al-Khumaini, 
dan pernyataannya bahwa Khumaini adalah bapak ruhani yang 
menjiwai dakwah mereka (HAMAS) di Palestina.

Pelajaran ketiga
Wajib bagi kaum muslimin untuk menyadari ukuran diri dan 
kekuatan mereka. Hendaknya mereka bisa membedakan antara 
kondisi lemah dan kondisi kuat, dan sudah seharusnya 
mereka pun mengetahui hukum-hukum yang menjadi konsekuensi 
atasnya. Hendaknya mereka menjadi orang yang bertindak 
realistis, bukan menjadi tukang khayal yang gemar 
berandai-andai. Maka tidak dibenarkan bagi siapapun 
mengharuskan kaum muslimin mengikuti keputusan-keputusan 
yang tidak cocok dengan kondisi mereka [sekarang ini] dan 
kelemahan mereka; yang itu semua dibangun di atas impian 
persatuan dan kesatupaduan mereka [yang belum terwujud]. 
Akan tetapi, yang harus dilakukan adalah hendaknya kaum 
muslimin bertindak sesuai dengan kondisi mereka saat ini, 
sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 
memilih perdamaian ataupun peperangan dengan 
mempertimbangkan kemaslahatan, yaitu mempetimbangkan 
kekuatan dan kelemahan yang ada serta faktor-faktor 
lainnya. Tatkala beliau masih berada di Mekah, Allah belum 
mensyariatkan kepadanya jihad. Karena pada saat itu beliau 
sedang dalam kondisi yang lemah, sebagaimana yang telah 
dipaparkan oleh para pemimpin Islam, di antaranya Imam 
Ibnu Taimiyah rahimahullah. Anda bisa menemukan keterangan 
mereka dengan jelas di dalam buku saya ‘Muhimmat fi 
al-Jihad’ dan dalam pelajaran yang berjudul ‘al-Jihad 
baina al-ghuluw wa al-Jafaa’’ 
[http://www.islamancient.com/lectures,item,550.html]

Betapa sering seorang muslim harus merasakan sakit akibat 
melayangnya nyawa kaum muslimin yang lain disebabkan 
kobaran semangat yang tak terkendali oleh ilmu sehingga 
menimbulkan kezaliman orang-orang kafir kepada kaum 
muslimin yang lemah justru menjadi berlipat ganda, maka 
jadilah mereka sebagai korban sembelihan orang-orang kafir 
yang sangat gemar menganiaya; dan mereka [orang kafir] itu 
adalah orang-orang Yahudi. Dan jadilah kaum muslimin 
sebagai korban akibat tindakan yang salah dari sebagian 
kaum muslimin; dan mereka itu adalah para pemimpin HAMAS. 
Saya tidak mengerti sama sekali apa yang mendorong 
organisasi HAMAS untuk melakukan tindakan-tindakan 
perlawanan secara terang-terangan kepada orang-orang 
Yahudi kafir terlaknat itu, padahal mereka juga mengetahui 
bahwa kekuatan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya 
dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Yahudi. Bahkan, 
tindakan mereka itu justru –pada ujungnya- mengakibatkan 
semakin kerasnya penyiksaan kaum Yahudi kepada orang-orang 
yang lemah di antara kaum muslimin di Gaza. Sementara para 
pemimpin HAMAS bisa saja selamat karena mereka bisa 
membuat perlindungan di sekelilingnya untuk menyelamatkan 
diri. Kemudian, yang lebih aneh lagi adalah tindakan HAMAS 
yang tetap berkeras meneruskan perang, sampai-sampai orang 
yang melihat mengira bahwa mereka memiliki kekuatan dan 
kemampuan yang memadai untuk menghancurkan Yahudi. Maka 
hal itu tidak lain justru semakin menambah sakit dan luka 
[pada diri kaum muslimin] akibat terjadinya berbagai 
pembantaian berdarah yang sangat keji [yang dilakukan oleh 
Yahudi, pent].

Salah satu contoh tindakan yang membuat orang tertawa 
sekaligus menangis adalah pernyataan HAMAS yang mendalili 
perbuatan mereka itu -serangan kepada Yahudi secara 
terang-terangan-dengan alasan terpaksa karena mereka 
berada sedang dalam kondisi terkepung. Sehingga hal itu 
mendorong mereka untuk memilih meninggalkan bahaya yang 
timbul akibat kepungan musuh menuju suatu bahaya yang 
lebih berat dan lebih mengerikan; yaitu menggabungkan 
antara [bahaya] pengepungan dan terjadinya pembantaian 
berdarah. Memang benar, menetapnya Yahudi di bumi 
Palestina adalah kejahatan dan kezaliman yang tidak boleh 
diakui sama sekali. Mereka pun harus diusir dan dibuat 
angkat tangan [menyerah] agar tidak lagi menjajah al-Quds. 
Akan tetapi, kekeliruan ini tidak boleh disembuhkan dengan 
kekeliruan lain yang lebih fatal yaitu dengan menyebabkan 
tertumpahnya darah orang-orang yang tidak bersalah dalam 
jumlah yang sangat banyak.

Saya benar-benar mengajak kepada para pemimpin organisasi 
HAMAS untuk selalu bertakwa dan takut kepada Allah dan 
mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka yaitu 
al-Ikhwan al-Muslimun. Betapa banyak kerugian yang timbul 
akibat letupan semangat dan tindakan-tindakan membahayakan 
yang mereka perbuat sehingga menyebabkan melayangnya 
banyak nyawa sebagaimana yang dahulu mereka lakukan di 
daerah Hamat. Kejadian yang menimpa mereka ketika itu 
belum jauh berlalu dari ingatan kita. Hendaknya mereka 
takut kepada Allah demi terjaganya keselamatan kaum 
muslimin yang lemah di Gaza yang terdiri dari orang-orang 
tua yang sudah jompo, anak-anak yang masih menyusu. 
Lihatlah, sekarang darah itu sudah tertumpah, para wanita 
telah ternodai kehormatannya, demikian pula anak-anak 
telah menjadi yatim. Apa yang bisa kalian lakukan selain 
mengeluh dan mengadu. Lihatlah, apa yang bisa kalian 
harapkan dari Iran yang Syi’ah itu yang katanya siap 
memberikan bantuan kepada kalian kecuali sekedar 
melemparkan urusan [tanggung jawab] mereka kepada phak 
lain dan menebarkan keragu-raguan kepada negara-negara 
Islam Sunni yang lainnya. Apa yang telah diperbuat oleh 
kaum Rafidhah (Syi’ah) di Irak berupa pembunuhan terhadap 
kaum Ahlus Sunnah dan menyerahkan urusan mereka kepada 
negara kafir Amerika merupakan bukti paling besar yang 
menunjukkan kekejian mereka, dan tidak mungkin kita 
berharap bantuan dari mereka untuk melawan kaum Yahudi dan 
Nasrani.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di 
dalam bukunya ‘Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah’ [3/377], 
“Banyak di antara mereka –Rafidhah/Syi’ah- justru menaruh 
rasa kasih sayang kepada orang-orang kafir dari dalam 
lubuk hatinya lebih daripada kecintaan mereka kepada kaum 
muslimin. Oleh sebab itulah ketika pasukan Turki keluar 
sedangkan orang-orang kafir datang dari arah timur 
kemudian membunuhi kaum muslimin dan menumpahkan darah 
mereka di negeri Khurasan, Iraq, Syam, jazirah Arab, dan 
negeri yang lainnya, maka kaum Rafidhah justru memberikan 
bantuan kepada mereka (orang kafir) untuk membunuh kaum 
muslimin. Dan menteri Baghdad saat itu yang sudah ma’ruf 
yaitu Alqami dan orang-orang yang sepertinya, mereka 
itulah orang-orang yang paling besar perannya dalam 
memberikan bantuan kepada mereka untuk menghancurkan kaum 
muslimin. Demikian pula orang-orang Rafidhah yang dahulu 
tinggal di Syam, mereka itu adalah orang-orang yang paling 
besar perannya dalam membantu orang kafir untuk memerangi 
kaum muslimin. Begitu pula orang-orang Nasrani yang dahulu 
diperangi oleh kaum muslimin di Syam, ternyata kaum 
Rafidhah pun termasuk pembantu mereka yang sangat berjasa. 
Demikian pula tatkala Yahudi behasil memiliki pemerintahan 
di Irak dan negeri yang lainnya, maka jadilah kaum 
Rafidhah sebagai pembantu mereka yang paling besar 
perannya. Mereka itu selalu memberikan loyalitasnya kepada 
orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik maupun 
Yahudi dan Nasrani. Mereka membantu orang-orang kafir itu 
dalam rangka memerangi kaum muslimin dan memusuhi mereka…” 
Selesai ucapan beliau.

Sekarang kalian, wahai HAMAS. Kalian telah membuka jalan 
untuk kaum Rafidhah guna merusak keyakinan-keyakinan Ahlus 
Sunnah dan mengubahnya menjadi [aqidah] Syi’ah. Dan 
sebaliknya, kalian justru melarang para da’i salafi [ikut 
serta memperbaiki kekeliruan kalian, pent]. Bahkan, sudah 
terbukti kalian berani melakukan pembunuhan kepada 
sebagian di antara mereka (da’i salafi) dengan 
mengatasnamakan kemaslahatan yang diada-adakan. 
Barangsiapa yang ingin mendapatkan tambahan bukti dan 
keterangan yang lebih lengkap silakan merujuk kepada 
pelajaran ‘Rasa’il ila Harakati Hamas’ [maish dalam bentuk 
ceramah audio, belum ditranskrip, pent]. Saya memohon 
kepada Allah agar Dia mematikan kita sebagai syuhada’ di 
jalan-Nya dan menyejukkan hati kita dengan hancurnya 
Yahudi. Saya pun memohon kepada-Nya dengan segenap 
kekuatan yang dimiliki-Nya demi terjaganya darah 
saudara-saudara kami kaum muslimin di Gaza dan di semua 
tempat, dan semoga Allah memberikan hidayah kepada para 
pemimpin HAMAS untuk meniti jalan yang lurus.

Wassalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.

Abdul Aziz bin Rays ar-Rays
Pengawas situs al-Islam al-‘Atieq
http://www.islamancient.com

Permulaan tahun 1430 H

diterjemahkan dari :
Durus Manhajiyah min Ahdats Ghazah al-Filisthiniyah
http://islamancient.com/mod_stand,item,26.html


------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nikmati akses TelkomNet Instan Week End Net hanya Rp 1.000/jam. Berlaku untuk 
Sabtu-Minggu, khusus Jawa Tengah
dan DIY s/d 31 Desember 2008

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ikuti Speedy Blogging Competition 2008, ajang kompetisi Blog yang terbuka bagi 
semua Blogger dengan tema:
Seperti Apa Konten Hebat Menurutmu? Dapatkan hadiah utama 1 Buah Notebook 
Mininote. Informasi lebih lanjut kunjungi http://lomba.blog.telkomspeedy.com

------------------------------------------------------------------------------------------------------------



------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/

INFO:
Saat ini domain assunnah.mine.nu telah diambil alih (direbut) oleh pihak yang 
tidak diketahui. Isi dan kandungannya tidak ada hubungannya dengan pengelola 
sebelumnya.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke