Jihad Harus Didasari Ilmu

Penulis: Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al Bugisi

وَالَّذِيْنَ جاَهَدُوا فِيْناَ لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَناَ وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ 
الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan 
Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar 
beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)

Penjelasan ayat

وَالَّذِيْنَ جاَهَدُوا فِيْناَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami”

Ada beberapa penafsiran para ulama tentang ayat ini:

1. Bahwa yang dimaksud adalah berjihad melawan kaum musyrikin untuk mencari 
keridhaan Kami (ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala), sebagaimana yang disebutkan 
oleh Al-Qurthubi, Al-Baghawi, dan Ath-Thabari rahimahumullah.

2. Mereka adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para shahabat, dan 
yang mengikutinya hingga hari kemudian, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu 
Katsir rahimahullah. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang 
senantiasa istiqamah berada di jalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
dan para shahabatnya. Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad dari 
Ahmad bin Abi Al-Hawari, ia berkata: ‘Abbas Al-Hamdani Abu Ahmad telah 
mengabari kami tentang firman Allah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini, beliau 
mengatakan: “(Mereka adalah) orang-orang yang mengamalkan apa-apa yang mereka 
ketahui, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi bimbingan terhadap apa yang 
mereka belum ketahui.” Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata: Akupun memberitakannya 
kepada Abu Sulaiman Ad-Darani maka hal itu membuatnya takjub dan berkata: 
“Tidak sepantasnya bagi yang telah diilhami suatu kebaikan untuk mengamalkannya 
sampai ia mendengarnya dalam atsar
 (ada riwayatnya, pen). Apabila dia telah mendengarnya dalam atsar dia pun 
mengamalkannya dan memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala agar sesuai dengan apa yang 
ada dalam hatinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/423)

3. Maknanya adalah bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu 
wa Ta'ala. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu 
'anhuma bahwa beliau berkata: “Orang-orang yang berjihad dalam melaksanakan 
ketaatan di jalan Kami (yakni jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala), akan Kami 
tunjukkan jalan-jalan untuk mendapatkan pahala.”
Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Ini, dengan makna ketaatan secara umum 
berarti mencakup seluruh pendapat.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Yang bersungguh-sungguh dalam 
menuntut ilmu, akan Kami tunjukkan jalan-jalan untuk mengamalkannya.”

Berkata pula Sahl bin Abdillah rahimahullah: “Yaitu orang-orang yang berjihad 
dalam menegakkan sunnah, akan kami tunjukkan jalan menuju jannah (surga).”

Beberapa penafsiran di atas tidaklah saling bertentangan, bahkan saling 
menguatkan satu sama lain dan saling melengkapi. Mereka yang menyebutkan jihad 
dengan makna perang tidak mengkhususkan hanya dalam perkara perang, namun 
menyebutkan salah satu jenis dari amalan jihad tersebut. Sebab jihad meliputi 
keseluruhan kemampuan yang dikerahkan oleh seorang muslim dalam menjalankan 
ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Baik itu berperang melawan kaum 
kuffar, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, menuntut ilmu syar’i, menegakkan 
sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan yang lainnya. Dengan 
syarat, dalam mengamalkan semua itu harus ditopang dengan ilmu yang benar 
sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para 
shahabatnya. Sebab barangsiapa yang berjihad dengan tidak mengikuti petunjuk 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, (tindakannya itu) akan 
menjerumuskannya ke dalam kesesatan dan penyimpangan. 
 
Oleh karena itu, Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: “Bukanlah jihad di dalam ayat 
ini hanya terkhusus jihad melawan orang-orang kafir saja. Namun menolong agama, 
membantah orang yang berada di atas kebatilan, mencegah orang yang dzalim, dan 
yang mulia adalah beramar ma’ruf nahi mungkar. Dan di antaranya pula adalah 
berjihad melawan hawa nafsu dalam ketaatan kepada Allah yang merupakan jihad 
akbar.” (Tafsir Al-Qurthubi, 13/364-365)

Abu Karimah (penulis, red) berkata: “Hadits yang berbunyi: ‘Kami telah kembali 
dari jihad kecil (yaitu berperang, pen) menuju jihad yang paling besar (yaitu 
melawan hawa nafsu, pen)’ adalah hadits mungkar, sebagaimana telah disebutkan 
oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Hadits Adh-Dha’ifah 
(5/2460).”

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam menjelaskan ayat ini 
berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berhijrah di jalan Allah Subhanahu wa 
Ta'ala, berjihad melawan musuh-musuh-Nya, dan mengerahkan segala kemampuannya 
dalam mencari keridhaan-Nya, maka akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami, yaitu 
jalan yang akan menyampaikan kepada Kami. Karena mereka adalah para muhsinin 
(orang yang senantiasa berbuat kebaikan). Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa 
Ta'alabersama dengan para muhsinin dengan pertolongan, bantuan, dan 
hidayah-Nya. Ini menunjukkan bahwa orang yang paling layak dalam mencocoki 
kebenaran adalah orang yang berjihad. Dan barangsiapa berbuat kebaikan terhadap 
apa yang telah diperintahkan-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan 
menolongnya dan memudahkan baginya sebab-sebab hidayah. Barangsiapa yang 
berusaha dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i, maka dia akan 
mendapatkan hidayah dan pertolongan untuk mendapatkan apa
 yang diinginkannya berupa perkara-perkara Ilahiyyah, di luar jangkauan 
ijtihadnya, dan dimudahkan baginya urusan ilmu. Karena menuntut ilmu syar’i 
termasuk jihad fi sabilillah, bahkan merupakan salah satu dari dua jenis jihad, 
yang tidak ada yang melakukannya kecuali hamba-hamba-Nya yang khusus. Yaitu 
berjihad dengan perkataan dan lisan, melawan kaum kuffar dan munafiqin, 
berjihad dalam mengajari (umat) perkara-perkara agamanya, dan membantah 
penyimpangan orang-orang yang menyelisihi kebenaran, walaupun mereka dari 
kalangan kaum muslimin.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, Asy-Syaikh Abdurrahman bin 
Nashir As-Sa’di, hal. 636)

Beramal shalih sebelum berperang

Demikianlah Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan salah satu judul bab 
dalam Kitabul Jihad dalam Shahih-nya, beliau berkata (menulis): Bab Beramal 
Shalih Sebelum Berperang. Lalu beliau menyebutkan atsar dari Abu Ad-Darda 
radhiallahu 'anhu secara mu’allaq, bahwa beliau berkata: 

إِنَّمَا تُقَاتِلُوْنَ بِأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya kalian berperang dengan amalan-amalan kalian.” (Disebutkan 
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah secara ta’liq, 6/29, bersama Al-Fath. Lihat 
pula penjelasan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah tentang hadits ini, 6/30)

Lalu Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits Al-Bara’ bin Azib 
radhiallahu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam sambil menutup wajahnya dengan topi baja lalu berkata: “Wahai 
Rasulullah, aku berperang atau aku masuk Islam?” Beliau menjawab: “Masuk 
Islamlah kemudian berperang.” Maka diapun masuk Islam lalu berperang hingga 
terbunuh. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Dia beramal 
sedikit dan diberi pahala yang banyak.” (HR. Al-Bukhari, Kitabul Jihad, 6/2808)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ibnu Ishaq di dalam kitab 
Al-Maghazi meriwayatkan kisah ‘Amr bin Tsabit dengan sanad yang shahih dari Abu 
Hurairah bahwa beliau berkata: Mereka mengabariku tentang seorang lelaki yang 
masuk jannah (surga) padahal tidak pernah shalat sekalipun!” Beliau berkata: 
“Dia adalah ‘Amr bin Tsabit.” Ibnu Ishaq berkata: Hushain bin Muhammad berkata: 
Aku bertanya kepada Mahmud bin Labid: “Bagaimana kisahnya?” Beliau menjawab: 
“Dahulu beliau enggan masuk ke dalam Islam. Maka tatkala (terjadi) Perang Uhud, 
dia pun berkeinginan (mengikutinya). Dia mengambil pedangnya, mendatangi 
kaumnya dan masuk ke kancah pertempuran lalu berperang hingga terluka. Kaumnya 
pun mendapatinya dalam peperangan lalu mereka bertanya: “Apa yang membuatmu 
ikut serta, rasa kasihan terhadap kaummu ataukah cinta kepada Islam?” Dia pun 
menjawab: “Cinta kepada Islam. Aku berperang bersama Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam
 hingga aku terluka.” Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 
“Sesungguhnya dia termasuk penduduk jannah.”

Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Hakim dari jalan Muhammad bin ‘Amr dari 
Abu Salamah dari Abu Hurairah, ia berkata: Dahulu ‘Amr enggan masuk Islam 
disebabkan karena riba yang dimilikinya di zaman jahiliyyah. Tatkala tiba 
perang Uhud, dia bertanya: “Di manakah kaumku?” Mereka menjawab: “Di Uhud.” 
Lalu dia mengambil pedangnya dan menyusul mereka. Tatkala melihat ‘Amr, mereka 
berkata: “Jauhilah kami.” Dia menjawab: “Sesungguhnya aku telah masuk Islam.” 
Lalu dia pun berperang hingga terluka. Sa’ad bin Ubadah mendatanginya lalu 
berkata: “Engkau dalam keadaan marah karena Allah dan Rasul-Nya.” Lalu dia 
meninggal dan masuk jannah dalam keadaan tidak pernah mengerjakan satu pun 
shalat. (Al-Fath, Al-Hafidz, 6/30-31)

Kisah di atas menjelaskan kepada kita pentingnya amalan shalih sebelum 
seseorang menuju ke medan peperangan. Hal ini disebabkan agar seorang mujahid 
senantiasa mendapatkan bimbingan dalam mengamalkan amalan yang mulia tersebut 
sehingga selalu istiqamah di atas sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam. Seseorang tidak mungkin membenarkan amalannya dan membedakan antara 
amalan shalih dengan yang buruk kecuali dengan ilmu syar’i, dengan bimbingan 
para ulama Rabbani yang senantiasa menuntun para mujahidin di atas sunnah 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

Sebab, tanpa ilmu syar’i dan bimbingan para ulama Salaf, seorang yang berjihad 
akan terjatuh dalam berbagai kesalahan dan penyimpangan dalam keadaan dia 
merasa berada di atas kebenaran dan menganggap suatu amalan tersebut sebagai 
bagian dari jihad, meskipun sama sekali tidak termasuk ke dalamnya. Bahkan 
bukan termasuk perkara yang disyariatkan. Perkara inilah yang menyebabkan 
banyak kalangan hizbiyyin (orang-orang yang jatuh dalam fanatisme kelompok, ed) 
terjatuh dalam kesesatan dan menyelisihi kebenaran, dalam keadaan mereka masih 
saja meneriakkan bahwa amalan itu termasuk jihad, dan yang mati ketika 
mengamalkan amalan tersebut mati syahid. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ 
وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan 
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan 
diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra: 36)

Jihad termasuk amalan mulia, bahkan merupakan semulia-mulia amalan. Namun dalam 
beramal harus mengikuti tuntunan syariat yang shahihah. Ahlus Sunnah wal Jamaah 
adalah kelompok yang sangat cinta dengan jihad. Mereka terkenal sebagai 
pemberani semenjak zaman para shahabat hingga zaman kita sekarang ini. Cukuplah 
beberapa negeri yang menjadi saksi akan kejantanan mereka, seperti Kunar yang 
merupakan salah satu daerah di Afghanistan, Chechnya, dan Bosnia. Bahkan mereka 
terus melangkah ke medan jihad walaupun orang-orang yang membenci mereka tetap 
benci. 

Maluku dan Poso pun turut menjadi saksi akan kesungguhan Ahlus Sunnah dalam 
menegakkan kalimat Allah. Seiring dengan bergulirnya waktu, aktivitas jihad di 
dua negeri ini yang tadinya berjalan mengikuti koridor As-Sunnah dengan 
tuntunan dan fatwa ulama, mulai disisipi kesalahan demi kesalahan. 
Namun, inilah Ahlus Sunnah yang menjadikan ilmu sebagai landasannya berpijak. 
Ketika disadari kesalahan-kesalahan tersebut dapat menjauhkannya dari tuntunan 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat, dengan jantan 
mereka mengakui berbagai kesalahan tersebut dan bertaubat darinya. Dengan 
berbekal nasihat ulama (seperti Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali) pula, 
mereka dengan lapang dada menarik diri dari bumi Maluku dan Poso meski banyak 
masyarakat di sana menahan kepergiannya. 
Mereka kemudian kembali membuka ma’had-ma’had di berbagai daerah untuk 
mengkader para penuntut ilmu syar’i. Tapi sekali lagi, apabila Ahlus Sunnah 
telah meyakini suatu kebenaran, mereka tidaklah mempedulikan banyaknya 
orang-orang yang menyelisihinya dan membencinya. Ini semua menunjukkan bahwa 
dalam berjihad sangatlah membutuhkan ilmu yang mapan dan bimbingan para ulama 
dalam menghadapi berbagai problem yang mereka hadapi tersebut.

Bandingkanlah dengan keadaan mereka yang tidak menjadikan ilmu sebagai landasan 
amal mereka dan tidak menjadikan para ulama sebagai penasehat. Mereka malah 
mengangkat para tokoh kejahilan sebagai “ulama” pembimbing mereka. Mereka 
menganggapnya sebagai orang yang mengerti al-waqi’ (problema kekinian). 
Sementara para ulama Rabbani seperti Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin 
Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Muhammad 
Nashiruddin Al-Albani dan yang lainnya, mereka anggap sebagai “ulama haidh dan 
nifas” atau “ulama wudhu’” atau “ulama yang tidak mengerti al-waqi’” atau 
“ulama yang tidak mengerti masalah jihad,” dan semisalnya. (seperti ucapan Imam 
Samudra dalam Aku Melawan Teroris, hal. 64)

Dengan sebab inilah muncul berbagai fatwa menyesatkan dan menisbahkannya kepada 
amalan jihad. seperti ucapan “Jihad melalui parlemen,” “Bom bunuh diri termasuk 
amalan jihad,” “Kewajiban memerangi seluruh kaum kafir/ musyrik,” dan yang 
semisalnya, yang keluar dari orang-orang jahil tentang syariat Allah Subhanahu 
wa Ta'ala. Na’udzu billahi minal khudzlan (kita berlindung kepada Allah dari 
kehinaan).

------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/

INFO:
Saat ini domain assunnah.mine.nu telah diambil alih (direbut) oleh pihak yang 
tidak diketahui. Isi dan kandungannya tidak ada hubungannya dengan pengelola 
sebelumnya.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke