--- In [email protected], Jemy <salafsho...@...> wrote:

> Afwan, di facebook banyak beredar alasan mengadakan maulid nabi karena
mengikuti solahudin al ayubi. Apakah benar begitu? Mohon jawaban beserta
sumber yang terpercaya yang mengatakan solahudin al ayubi tidak
mengadakan maulid. Syukron

jawab:


bismillaah, insyaa Alloh antum akan mendapat jawabannya dlm penjelasan
berikut ini:

Benarkah Sholahuddin Al-Ayyubi Pencetus Perayaan Maulid Nabi
shalallahu'alaihi wa sallam

Oleh : Al-Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf 

Alkisah

Ada sebuah kisah yang cukup masyhur di negeri nusantara ini tentang
peristiwa pada saat menjelang Perang Salib. Ketika itu kekuatan kafir
menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan
perangnya. Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu
itu, Sholahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum
muslimin. Maka beliau membuat peringatan maulid nabi. Dan itu adalah
peringatan maulid nabi yang pertama kali dimuka bumi.

Begitulah cerita yang berkembang sehingga yang dikenal oleh kaum
Muslimin bangsa ini, penggagas perayaan untuk memperingati kelahiran
Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam ini adalah Imam Sholahuddin
al Ayyubi. Akan tetapi benarkah cerita ini? Kalau tidak, lalu siapa
sebenarnya pencetus peringatan malam maulid nabi? Dan bagaimana alur
cerita sebenarnya?

Kedustaan Kisah Ini

Anggapan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah pencetus peringatan
malam maulid nabi adalah sebuah kedustaan yang sangat nyata. Tidak ada
satu pun kitab sejarah terpercaya –yang secara gamblang dan rinci
menceritakan kehidupan Imam Sholahuddin al Ayyubi- menyebutkan bahwa
beliau lah yang pertama kali memperingati malam maulid nabi.

Akan tetapi, para ulama ahli sejarah justru menyebutkan kebalikannya,
bahwa yang pertama kali memperingati malam maulid nabi adalah para raja
dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan)
Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah
Fathimiyyah. 

Merekalah yang dikatakan oleh Imam al Ghozali: "Mereka adalah sebuah
kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya
mereka adalah orang-orang kafir murni." Hal ini dikatakan oleh al
Miqrizi dalam al-Khuthoth: 1/280, al Qolqosyandi dalam Shubhul
A'sya: 3/398, as Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69,
Muhammad Bukhoit al Muthi'I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri
dalam Muhadhorot beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al `Ibda'
hal.126.

Imam Ahmad bin Ali al Miqrizi berkata: "Para kholifah Fathimiyyah
mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru,
perayaan hari asyuro, perayaan maulid nabi, maulid Ali bin Abi Tholib,
maulid Hasan, maulid Husein, maupun maulid Fathimah az Zahro', dan
maulid kholifah. (Juga ada) perayaan awal Rojab, awal Sya'ban,
nisfhu Sya'ban, awal Romadhon, pertengahan Romadhon, dan penutup
Ramadhon…" [al Mawa'izh:1/490]

Kalau ada yang masih mempertanyakan: bukankah tidak hanya ulama yang
menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan maulid nabi
ini adalah raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhoffar penguasa
daerah Irbil?


Kami jawab: Ini adalah sebuah pendapat yang salah berdasarkan yang
dinukil oleh para ulama tadi. Sisi kesalahan lainnya adalah bahwa Imam
Abu Syamah dalam al Ba'its `Ala Inkaril Bida' wal h\Hawadits
hal.130 menyebutkan bahwa raja Mudhoffar melakukan itu karena mengikuti
Umar bin Muhammad al Mula, orang yang pertama kali melakukannya. Hal ini
juga disebutkan oleh Sibt Ibnu Jauzi dalam Mir'atuz Zaman: 8/310.
Umar al Mula ini adalah salah seorang pembesar sufi, maka tidaklah
mustahil kalau Syaikh Umar al Mula ini mengambilnya dari orang-orang
Ubaidiyyah.

Adapun klaim bahwa Raja Mudhoffar sebagai raja yang adil, maka urusan
ini kita serahkan kepada Allah akan kebenarannya. Namun, sebagian ahli
sejarah yang sezaman dengannya menyebutkan hal yang berbeda.

Yaqut al Hamawi dalam Mu'jamul Buldan 1/138 berkata: "Sifat raja
ini banyak kontradiktif, dia sering berbuat zalim, tidak memperhatikan
rakyatnya, dan senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak
benar." [lihat al Maurid Fi `Amanil Maulid kar.al Fakihani –
tahqiq Syaikh Ali- yang tercetak dalam Rosa'il Fi Hukmil Ihtifal Bi
Maulid an Nabawi: 1/8]

Alhasil, pengingatan maulid nabi pertama kali dirayakan oleh para raja
Ubaidiyyah  di Mesir. Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362H.
Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al Mula
oleh Raja Mudhoffar pada abad ketujuh dengan penuh kemewahan.

Para sejarawan banyak menceritakan kejadian itu, diantaranya al Hafizh
Ibnu Katsir dalam Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi
Raja Mudhoffar berkata: "Dia merayakan maulid nabi pada bulan
Robi'ul Awal dengan amat mewah. As Sibt berkata: "Sebagian orang
yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhoffar
disiapkan lima ribu daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus
ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan…"

Imam Ibnu Katsir juga berkata: "Perayaan tersebut dihadiri oleh
tokoh-tokoh agama dan para tokoh sufi. Sang raja pun menjamu mereka,
bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi dimulai waktu
dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut berjoget bersama mereka."

Ibnu Kholikan dalam Wafayat A'yan 4/117-118 menceritakan: "Bila
tiba awal bulan Shofar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan
yang indah dan mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan penyanyi, ahli
menunggang kuda, dan pelawak. Pada hari-hari itu manusia libur kerja
karena ingin bersenang-senang ditempat tersebut bersama para penyanyi.
Dan bila maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan
kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan
nyanyian sampai tiba dilapangan." Dan pada malam mauled, raja
mengadakan nyanyian setelah sholat magrib di benteng."

Setelah penjelasan diatas, maka bagaimana dikatakan bahwa Imam
Sholahuddin al Ayyubi adalah penggagas maulid nabi, padahal fakta
sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya
menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [1]

Siapakah Gerangan Sholahuddin al Ayyubi [2]

Beliau adalah Sultan Agung Sholahuddin Abul Muzhoffar Yusuf bin Amir
Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya'qub ad Duwini. Beliau
lahir di Tkrit pada 532 H karena saat itu bapak beliau, Najmuddin,
sedang menjadi gubernur daerah Tikrit.

Beliau belajar kepada para ulama zamannya seperti Abu Thohir as Silafi,
al Faqih Ali bin Binti Abu Sa'id, Abu Thohir bin Auf, dan lainnya.

Nuruddin Zanki (raja pada saat itu) memerintah beliau untuk memimpin
pasukan perang untuk masuk Mesir yang saat itu di kuasai oleh Daulah
Ubaidiyyah sehingga beliau berhasil menghancurkan mereka dan menghapus
Negara mereka dari Mesir.

Setelah Raja Nuruddin Zanki wafat, beliau yang menggantikan
kedudukannya. Sejak menjadi raja beliau tidak lagi suka dengan kelezatan
dunia. Beliau adalah seorang yang punya semangat tinggi dalam jihad fi
sabilillah, tidak pernah didengar ada orang yang semisal beliau.

Perang dahsyat yang sangat monumental dalam kehidupan Sholahuddin al
Ayyubi adalah Perang Salib melawan kekuatan kafir salibis. Beliau
berhasil memporak porandakan kekuatan mereka, terutama ketika perang di
daerah Hithin.

Muwaffaq Abdul Lathif berkata: "Saya pernah datang kepada
Sholahuddin saat beliau berada di Baitul Maqdis (Palestina, red),
ternyata beliau adalah seorang yang sangat dikagumi oleh semua yang
memandangnya, dicintai oleh siapapun baik orang dekat maupun jauh. Para
panglima dan prajuritnya sangat berlomba-lomba dalam beramal kebaikan.
Saat pertama kali aku hadir di majelisnya, ternyata majelis beliau penuh
dengan para ulama, beliau banyak mendengarkan nasihat dari mereka."

Adz Dzahabi berkata: "Keutamaan Sholahuddin sangat banyak, khususnya
dalam masalah jihad. Beliau pun seorang yang sangat dermawan dalam hal
memberikan harta benda kepada para pasukan perangnya. Beliau mempunyai
kecerdasan dan kecermatan dalam berfikir, serta tekad yang kuat."

Sholahuddin al Ayyubi wafat di Damaskus setelah subuh pada hari Rabu 27
Shofar 589 H. Masa pemerintahan beliau adalah 20 tahun lebih.

________
Footnote:

[1] Untuk lebih lengkapnya tentang sejarah peringatan maulid nabi dan
hokum memperingatinya, silahkan dilihat risalah Akhuna al- Ustadz Abu
Ubaidah "Polemik Perayaan Maulid Nabi"

[2] Disarikan dari Siyar A'lamin Nubala': 15/434 no.5301

Sumber: Diketik ulang dari Majalah al Furqon Edisi 09 Thn.XIII,
Robi'uts Tsani 1430/April 2009, Hal.57-58 [di salin dari:
http://alqiyamah.wordpress.com/]

http://moslemsunnah.wordpress.com/2010/02/15/benarkah-sholahuddin-al-ayy\
ubi-pencetus-perayaan-maulid-nabi-shalallahualaihi-wa-sallam/





Kirim email ke