Assalamu'alaikum.
Kalo begitu berapa umur yang pas untuk anak agar bisa di lepas dipondok,
mengingat tidak lama lagi ana juga akan memondokan anak..
Sukron. 
Yulidar ( Abu Fadhlan )
Mitra SABANA - Kemuning
___  
From: Abu Rofa
Sent: 21 Februari 2010 10:57
To: [email protected]
Subject: Re: [assunnah]>>Tanya mondok di usia 7 tahun<<

Assalamu'alaykum warahmatullah wabarakatuh

Afwan, sedikit sharing buat ikhwah sekalian yang hendak memondokkan
anak-anak antum ke pesantren.
Berdasarkan pengalaman dari istri ana yang pernah mengajar di salah satu
ma'had ternama di Indonesia, ahsan sebaiknya jangan memondokkan anak-anak
antum yang masih usia dini tanpa pengawasan ketat dari antum. Maksudnya,
carilah ma'had yang terdekat dari tempat tinggal antum. Dimana anak-anak
antum masih bisa melihat antum setiap hari dan antum juga bisa mengawasi
mereka setiap hari 
Anak-anak walau bagaimanapun masih sangat membutuhkan kasih sayang dan
perhatian dari antum sebagai orang tuanya, terutama juga masalah perawatan,
kebersihan dan gizi anak-anak antum, jangan disepelekan.
Jangan hanya melihat keberhasilan pendidikan anak-anak antum dari banyaknya
hafalan yang ia miliki atau dari fasihnya lidahnya dalam berbahasa arab atau
dari banyaknya kitab-kitab yang telah ia hafal tapi juga lihat aspek
psikologisnya, ruhiyahnya, akhlaqnya..semuanya satu kesatuan yang harus kita
perhatikan dan tidak bisa terwujud apabila kita menyerahkan begitu saja pada
ma'had tanpa andil dari diri kita.
Kalau di tempat tinggal antum tidak ada ma'had, panggilah guru privat
kerumah atau sunni homeschooling juga alternatif yang baik buat anak-anak
kita yang masih usia belia.

-wallahu musta'an-
________________________________
From: innu agustya <vrgna_agstya@ <mailto:vrgna_agstya%40yahoo.com>
yahoo.com>
Wa'alaykumussalam warahmatullah,

Mungkin bisa dipikirkan lagi,
1. Tujuan mondokkin anaknya untuk apa
2. Apa yang membuat hatinya belum mantap
3. Pendapat anaknya sendiri bagaimana

Anak usia 7 tahun masih sangat butuh untuk dekat dengan orang tuanya, kalau
merasa insya Alloh mampu untuk mendidik sendiri dengan tinggal bersama,
sepertinya anak lebih bahagia seperti itu...

Pun ingin tetap memasukkan ke pesantren, pastikan tempatnya memang baik,
layak, benar.

Tambahan : Artikel dari almanhaj tentang Bolehkah Kita Mengirim Putri-Putri
Kita Ke Pondok Pesantren Putri?

Oleh
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman
http://www.almanhaj.or.id/content/1435/slash/0

Pertanyaan.
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman ditanya : Bolehkah kita
mengirim putri-putri kita ke pondok pesantren Islami yang jauh untuk
menuntut ilmu syar'i dan tinggal di tempat tersebut tanpa mahram ?

Jawaban
Masalah ini perlu perincian. Apabila seorang wanita melakukan safar tanpa
mahram maka hukumnya haram berdasarkan hadits Bukhari Muslim, bahwa beliau
bersabda.

"Artinya : Tidak halal bagi wanita ang beriman kepada Allah dan hari akhir
untuk melakukan safar perjalanan satu hari dan satu malam kecuali bersama
mahramnya".

Kata 'imroati' dalam hadits ini nakirah dan jatuh setelah 'la nahiyah'
(larangan) yang berarti umum. Maksud hadts ini adalah setiap wanita siapapun
orangnya, bagaimanapun keadaannya, kapanpun, dimanapun dan segala jenis
safar baik safar ketaatan, rekreasi dan safar mubah. Hal ini merupakan
pendapat mayoritas ulama selain Syafi'iyah, mereka berpedoman dengan argumen
yang amat rapuh untuk memperbolehkan wanita safar tanpa mahram bersama
wanita sesamanya. Seandainya Nabi membawakan hadits diatas dihadapan kita
semua dan kitapun mendengarnya dengan telinga kita kemudian kita ingin
berkilah, apakah yang akan kita lakukan pada beliau ?! Kita tidak boleh
berkilah. Kewajiban kita hanya mengatakan 'Kami mengdengar dan taat'.

Adapun apabila seorang wanita tadi safar bersama mahramnya, tinggal di
tempat yang aman, tidak melakukan safar kecuali bersama mahramnya, tidak
campur baur dengan laki-laki, untuk menuntut ilmu syar'i dan menjauhi
fitnah, maka hal itu diperbolehkan karena termasuk kewajiban wanita adalah
menuntut ilmu. Para sahabat dahulu juga pergi ke rumah-rumah para istri Nabi
untuk masalah-masalah penting dan mereka juga belajar kepada para sahabat
wanita, bahkan imam Az-Zarkasyi menulis sebuah kitab yang tercetak berjudul
'Al-Ijabah Lima Istadrakathu Sayyidah Aisyah 'Ala Shahabah' (Beberapa
kritikan Aisyah kepada sahabat). Demikian pula kitab Shahih Bukhari, di
kalangan orang-orang belakangan, sanadnya bersumber dari Karimah
Al-Marwaziyyah, dimana para ulama abad kedelapan, kesembilan dan kesepuluh
mengambil sanad Shahih Bukhari dari Karimah. Nabi bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya wanita itu saudara lelaki"

Dan Nabi juga bersabda.

"Artinya : Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim"

Hadits ini meliputi muslimah juga, sekalipun tambahan lafadz 'muslimah'
dalam hadits diatas tidak ada dari Nabi.[1]

Ada kisah menarik juga yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini : Ada
seorang wanita pada abad kesebelas bernama Wiqayah, seorang wanita pintar
dari Maghrib. Para ulama Maghrib apabila mengalami kesulitan, mereka
mengatakan : 'Marilah kita pergi ke Wiqayah karena sorbannya lebih baik
daripada sorban-sorban kita'. Akhirnya, merekapun belajar dan meminta fatwa
padanya.

Dan termasuk keajaiban sejarah tidak ada seorang perawi wanita satupun yang
berdusta pada Rasulullah. Seluruh ulama yang menulis tentang para perawi
pendusta tidak ada yang menyebutkan seorangpun dari wanita pendusta. Adapun
kaum laki-laki, maka betapa banyak kitab-kitab yang berisi tentang para
pendusta dari kalangan mereka. -La Haula wa La Quwwata illa billahi-.

Maka seorang wanita apabila anda membimbingnya kejalan yang baik, mereka
akan menjadi baik dan pahalanya bagi kedua orang tuanya sampai hari kiamat.
Namun bagi orang tua hendaknya tetap menjaga hukum syar'i. Dan tempat yang
paling baik untuk menimba ilmu bagi wanita adalah seorang suami yang shalih,
penuntut ilmu dan bertaqwa kepada Allah. Oleh karena itu, bagi orang tua
hendaknya berupaya memilihkan suami terbaik bagi anaknya.

Syaikh Zamil Zainu pernah bercerita padaku tatkala beliau ingin menikahkan
putrinya dengan salah satu saudara kami di Yordania. Katanya : Ketika saya
di masjid, maka saya duduk di bagian belakang untuk melihat shalatnya para
pemuda sehingga saya memusatkan perhatian kepada seorang pemuda yang paling
baik shalatnya, paling khusyu' dan lama berdirinya. Kemudian saya mencari
lagi pada shalat shubuh dan Isya' sehingga saya menemukan seorang pemuda
yang rajin dan tidak malas. Lalu saya mendatangi pemuda tersebut dan
bertanya padanya : "Apakah anda sudah menikah ?" Jawabanya : "Belum". Saya
bertanya lagi : "Maukah engkau saya nikahkan dengan putriku ?" Jawabnya :
"Subhanallah, siapa yang tidak mau ?!" Akhirnya saya menikahkannya dengan
putriku. Demikianlah selayaknya yang dilakukan oleh para orang tua.

Oleh karenanya, saya sarankan kepada bapak penanya yang ingin memondokkan
putrinya, hendaknya tidak tergesa-gesa. Masih ada pondok yang jauh lebih
baik bagi putrinya daripada pesantren yaitu seorang suami yang shalih.
Hendaknya dia berupaya mencari dan menawarkan putrinya. Hal ini bukanlah
suatu aib, bahkan manhaj para sahabat. Kalian semua mungkin sudah tahu kisah
Umar bin Khattab yang menawarkan putrinya Hafshah kepada Abu Bakar lalu
beliau diam dan kepada Utsman lalu beliaupun diam. Beliau berdua diam karena
pernah mengatahui bahwa Rasulullah menginginkan Hafshah[2]. Padahal umur
Umar bin Khattab saat itu sebanding dengan Nabi atau lebih kurang satu atau
dua tahun dari beliau.

Saya tidak menuntut supaya kita menawarkan putri-putri kita kepada sahabat
dan handai taulan kita, karena barangkali hal itu diluar kemampuan kita,
tetapi kita berupaya mencari pemuda dengan mempermurah mahar dan kita minta
padanya supaya membimbing dan mengajari putri kita tentang Al-Qur'an, fiqih
dan sebagainya. Dikisahkan bahwa imam Malik mempunyai seorang putri, tatkala
suaminya hendak berangkat ke majlis imam Malik, istrinya mengatakan :
"Hendak kemanakah engkau ?" Jawab suaminya : "Hendak ke majlis ayahmu".
Istrinya berlata : "Duduklah, karena ilmu ayahku ada di hatiku".

Semoga Allah merahmati para wanita salaf. Inilah yang saya anjurkan kepada
penanya.

[Disarikan dari soal jawab bersama Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu
Salman pada acara daurah di Lawang Jatim tanggal 24-28 Rabiuts Tsani 1424H,
dan dimuat di majalah Al-Furqan Edisi 12/th 11]
_________
Foote Note
[1]. Lihat Al-Maqashidul Hasanah hal.227 oleh Imam As-Sakhawi dan Takhrij
Musykilaatil Faqr hal. 48-62 oleh Al-Albani]
[2]. Hadits Riwayat Bukhari 5127] 

Kirim email ke