MENCINTAI ORANG-ORANG MISKIN DAN DEKAT DENGAN MEREKA
http://www.almanhaj.or.id/content/2664/slash/0
MELIHAT KEPADA ORANG YANG LEBIH RENDAH KEDUDUKANNYA DALAM HAL MATERI DAN 
PENGHIDUPAN
http://www.almanhaj.or.id/content/2665/slash/0
MEMPERBANYAK UCAPAN LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH
http://www.almanhaj.or.id/content/2667/slash/0
TIDAK TAKUT CELAAN PARA PENCELA DALAM BERDAKWAH DI JALAN ALLAH
http://www.almanhaj.or.id/content/2668/slash/0

MENYAMBUNG SILATURAHMI MESKIPUN KARIB KERABAT BERLAKU KASAR
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ
الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ
هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ
أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ
قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ
تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ
شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah)
Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1)
supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2)
beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di
bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3)
beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka
berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ
haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan
pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran
meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang
yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku
agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh imam-imam ahlul-hadits, di antaranya:

1. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/159).
2. Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabîr (II/156, no. 1649), dan lafazh 
hadits ini miliknya.
3. Imam Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (no. 2041-al-Mawârid).
4. Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatu- Auliyâ` (I/214, no. 521).
5. Imam al-Baihaqi dalam as-Sunanul-Kubra (X/91).

Dishahîhkan oleh Syaikh al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits Muhammad
Nashiruddin al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts
ash-Shahîhah (no. 2166).

FIQIH HADITS (3) : MENYAMBUNG SILATURAHMI MESKIPUN KARIB KERABAT BERLAKU KASAR
Imam Ibnu Manzhur rahimahullah berkata tentang silaturahmi: “Al-Imam
Ibnul-Atsir rahimahullaht berkata, ‘Silaturahmi adalah ungkapan
mengenai perbuatan baik kepada karib kerabat karena hubungan senasab
atau karena perkawinan, berlemah lembut kepada mereka, menyayangi
mereka, memperhatikan keadaan mereka, meskipun mereka jauh dan berbuat
jahat. Sedangkan memutus silaturahmi, adalah lawan dari hal itu
semua’.” [1]

Dari pengertian di atas, maka silaturahmi hanya ditujukan pada
orang-orang yang memiliki hubungan kerabat dengan kita, seperti kedua
orang tua, kakak, adik, paman, bibi, keponakan, sepupu, dan lainnya
yang memiliki hubungan kerabat dengan kita. 

Sebagian besar kaum Muslimin salah dalam menggunakan kata silaturahmi.
Mereka menggunakannya untuk hubungan mereka dengan rekan-rekan dan
kawan-kawan mereka. Padahal silaturahmi hanyalah terbatas pada
orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan kita. Adapun
kepada orang yang bukan kerabat, maka yang ada hanyalah ukhuwwah
Islamiyyah (persaudaraan Islam). 

Silaturahmi yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik dengan orang
yang telah berbuat baik kepada kita, namun silaturahmi yang hakiki
adalah menyambung hubungan kekerabatan yang telah retak dan putus, dan
berbuat baik kepada kerabat yang berbuat jahat kepada kita. Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِيْ إِذَا قُطِعَتْ 
رَحِمُهُ وَصَلَهَا.

"Orang yang menyambung kekerabatan bukanlah orang yang membalas
kebaikan, tetapi orang yang menyambungnya adalah orang yang menyambung
kekerabatannya apabila diputus".[2] 

Imam al-‘Allamah ar-Raghib al-Asfahani rahimahullah menyatakan bahwa
rahim berasal dari kata rahmah yang berarti lembut, yang memberi
konsekuensi berbuat baik kepada orang yang disayangi.[3]

Ar-Rahim, adalah salah satu nama Allah. Rahim (kekerabatan), Allah
letakkan di ‘Arsy. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مَعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَقُوْلُ: مَنْ وَصَلَنِيْ وَصَلَهُ اللهُ، 
وَمَنْ قَطَعَنِيْ قَطَعَهُ اللهُ.

"Rahim (kekerabatan) itu tergantung di ‘Arsy. Dia berkata,"Siapa yang
menyambungku, Allah akan menyambungnya. Dan siapa yang memutuskanku,
Allah akan memutuskannya".[4] 

Menyambung silaturahmi dan berbuat baik kepada orang tua adalah wajib
berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur`ân dan as-Sunnah. Sebaliknya,
memutus silaturahmi dan durhaka kepada orang tua adalah haram dan
termasuk dosa besar. 

Allah Ta’ala  berfirman:

" …Dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan…" 
[al-Baqarah/2:27]

Dalam menafsirkan ayat di atas, al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari
rahimahullah berkata: “Pada ayat di atas, Allah menganjurkan hamba-Nya
agar menyambung hubungan kerabat dan orang yang memiliki hubungan
rahim, serta tidak memutuskannya”.[5]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengaitkan antara menyambung
silaturahmi dengan keimanan terhadap Allah dan hari Akhir. Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menyambung 
silaturahmi" [6].     

Dengan bersilaturahmi, Allah akan melapangkan rezeki dan memanjangkan
umur kita. Sebaliknya, orang yang memutuskan silaturahmi, Allah akan
sempitkan rezekinya atau tidak diberikan keberkahan pada hartanya. 

Adapun haramnya memutuskan silaturahmi telah dijelaskan oleh Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ.

"Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi". [7] 

Bersilaturahmi dapat dilakukan dengan cara mengunjungi karib kerabat,
menanyakan kabarnya, memberikan hadiah, bersedekah kepada mereka yang
miskin, menghormati mereka yang berusia lebih tua dan menyayangi yang
lebih muda dan lemah, serta menanyakan terus keadaan mereka, baik
dengan cara datang langsung, melalui surat, maupun dengan
menghubunginya lewat telepon ataupun short massage service (sms). Bisa
juga dilakukan dengan meminta mereka untuk bertamu, menyambut
kedatangannya dengan suka cita, memuliakannya, ikut senang bila mereka
senang dan ikut sedih bila mereka sedih, mendoakan mereka dengan
kebaikan, tidak hasad (dengki) terhadapnya, mendamaikannya bila
berselisih, dan bersemangat untuk mengokohkan hubungan di antara
mereka. Bisa juga dengan menjenguknya bila sakit, memenuhi undangannya,
dan yang paling mulia ialah bersemangat untuk berdakwah dan mengajaknya
kepada hidayah, tauhid, dan Sunnah, serta menyuruh mereka melakukan
kebaikan dan melarang mereka melakukan dosa dan maksiat. 

Hubungan baik ini harus terus berlangsung dan dijaga kepada karib
kerabat yang baik dan istiqamah di atas Sunnah. Adapun terhadap karib
kerabat yang kafir atau fasik atau pelaku bid’ah, maka menyambung
kekerabatan dengan mereka dapat melalui nasihat dan memberikan
peringatan, serta berusaha dengan sungguh-sungguh dalam melakukannya.[8]

Silaturahmi yang paling utama adalah silaturahmi kepada kedua orang
tua. Orang tua adalah kerabat yang paling dekat, yang memiliki jasa
yang sangat besar, mereka memberikan kasih dan sayangnya sepanjang
hidup mereka. Maka tidak aneh jika hak-hak mereka memiliki tingkat yang
besar setelah beribadah kepada Allah. Di dalam Al-Qur`ân terdapat
banyak ayat yang memerintahkan kita agar berbakti kepada kedua orang
tua. 

Birrul-walidain adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, baik berupa
bantuan materi, doa, kunjungan, perhatian, kasih sayang, dan menjaga
nama baik pada saat keduanya masih hidup maupun setelah keduanya
meninggal dunia. Birrul-walidain adalah perbuatan baik yang paling
baik. 

Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, ia
berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا
قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ: قُلْتُ:
ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ.

“Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab,"Shalat pada waktunya
(dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).” Aku
bertanya,"Kemudian apa?” Beliau menjawab,"Berbakti kepada kedua orang
tua.” Aku bertanya,"Kemudian apa?” Beliau menjawab,"Jihad di jalan
Allah.” [9]

Selain itu, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya melarang kita berbuat durhaka
kepada kedua orang tua. Sebab, durhaka kepada kedua orang tua adalah
dosa besar yang paling besar. 

Silaturahmi memiliki sekian banyak manfaat yang sangat besar, diantaranya 
sebagai berikut.

1. Dengan bersilaturahmi, berarti kita telah menjalankan perintah Allah dan 
Rasul-Nya. 
2. Dengan bersilaturahmi akan menumbuhkan sikap saling tolong-menolong dan 
mengetahui keadaan karib kerabat.
3. Dengan bersilaturahmi, Allah akan meluaskan rezeki dan memanjangkan
umur kita. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bersabda:

مَنْ أَ حَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ 
فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ .

"Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka 
hendaklah ia menyambung tali silaturahmi" [10]. 

4. Dengan bersilaturahmi, kita dapat menyampaikan dakwah, menyampaikan
ilmu, menyuruh berbuat baik, dan mencegah berbagai kemungkaran yang
mungkin akan terus berlangsunng apabila kita tidak mencegahnya.
5. Silaturahmi sebagai sebab seseorang masuk surga. 

Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya
ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu
amal yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari
neraka,” maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

تَعْبُدُ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ 
الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ. 

"Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan
sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung
silaturahmi" [11]. 

PENUTUP
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk penulis dan para pembaca,
dan wasiat Rasulullah ini dapat kita laksanakan dengan ikhlas karena
Allah Ta’ala. Mudah-mudahan shalawat dan salam tetap tercurah kepada
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, juga kepada kelurga dan
para sahabat beliau.

Akhir seruan kami, segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Ramadhan (06-07)/Tahun
XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl.
Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Lisânul-‘Arab (XV/318).
[2]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5991), Abu Dawud
(no. 1697), dan at-Tirmidzi (no. 1908), dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr
Radhiyallahu 'anhu
[3]. Lihat Mufrâdât al-Fâzhil-Qur`ân, halaman 347.
[4]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5989) dan Muslim
(no. 2555), dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha. Lafazh ini milik Muslim. 
[5]. Tafsîr ath-Thabari (I/221).
[6]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6138), dari Sahabat Abu 
Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
[7]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5984) dan Muslim
(no. 2556), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu.
[8]. Lihat Qathî`atur-Rahim: al-Mazhâhir al-Asbâb Subulul-‘Ilaj, oleh Syaikh 
Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, halaman 21-22. 
[9]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 527), Muslim (no.
85), an-Nasâ`i (I/292-293), at-Tirmidzi (no. 173), dan Ahmad
(I/409-410,439, 451).
[10]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 5986) dan  Muslim (no. 2557 
(21)).
[11]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1396) dan Muslim (no. 
13).                                         
_________________________________________________________________



------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/

INFO:
Saat ini domain assunnah.mine.nu telah diambil alih (direbut) oleh pihak yang 
tidak diketahui. Isi dan kandungannya tidak ada hubungannya dengan pengelola 
sebelumnya.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke