Wa'alaikum salam

berikut artikel yang di tanyakan..

MAHROM BAGI WANITA
http://www.almanhaj.or.id/content/83/slash/0
YANG DIANGGAP MAHROM PADAHAL BUKAN
http://www.almanhaj.or.id/content/82/slash/0

Siapakah Mahrammu?
Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

Mahramadalah orang yang haram untuk dinikahi karena hubungan nasab atau 
hubungan susuan atau karena ada ikatan perkawinan. Lihat Ahkam An-Nazhar Ila 
Al-Muharramat hal.32.

Adapun ketentuan siapa yang mahram dan yang bukan mahram telah dijelaskan dalam 
Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 23 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ 
وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ الأَخِ وَبَنَاتُ الأُ خْتِ 
وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِيْ أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ 
وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَآئِبِكُمُ اللاَّتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِنْ 
نِسَآئِكُمُ اللاَّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ 
بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ 
أَصْلاَبِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ
 سَلَفَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُوْراً رَحِيْماً.

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, 
saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, 
saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari 
saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu 
yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, 
ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari 
istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu 
(dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan 
diharamkan bagimu) istri-istri anak-anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan 
(dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuai yang telah terjadi 
pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. 
An-Nisa : 4 / 32).
Di dalam ayat ini disebutkan beberapa orang mahram yaitu :

Pertama : أُمَّهَاتُكُمْ (ibu-ibu kalian). Ibu dalam bahasa arab artinya setiap 
yang nasab lahirmu kembali kepadanya. Defenisi ini akan mencakup :

1. Ibu yang melahirkanmu.
2. Nenekmu dari ayah maupun dari Ibumu.
3. Nenek ayahmu dari ayah maupun ibunya.
4. Nenek ibumu dari ayah maupun ibunya.
5. Nenek buyut ayahmu dari ayah maupun ibunya.
6. Nenek buyut ibumu dari ayah maupun ibunya.
7. dan seterusnya ke atas.

Kedua : وَبَنَاتُكُمْ (anak-anak perempuan kalian). Anak perempuan dalam bahasa 
arab artinya setiap perempuan yang nisbah kelahirannya kembali kepadamu. 
Defenisi ini akan mencakup :
1. Anak perempuanmu.
2. Anak perempuan dari anak perempuanmu (cucu).
3. Anaknya cucu.
4. dan seterusnya ke bawah.

Ketiga : وَأَخَوَاتُكُمْ (saudara-saudara perempuan kalian). Saudara perempuan 
ini meliputi :
1. Saudara perempuan seayah dan seibu.
2. Saudara perempuan seayah saja.
3. dan saudara perempuan seibu saja.

Keempat : وَعَمَّاتُكُمْ (saudara-saudara perempuan ayah kalian). Masuk dalam 
kategori saudara perempuan ayah :
1. Saudara perempuan ayah dari satu ayah dan ibu.
2. Saudara perempuan ayah dari satu ayah saja.
3. Saudara perempuan ayah dari satu ibu saja.
4. Masuk juga di dalamnya saudara-saudara perempuan kakek dari ayah maupun 
ibumu.
5. dan seterusnya ke atas.

Kelima : وَخَالاَتُكُمْ (saudara-saudara perempuan ibu kalian). Yang masuk 
dalam saudara perempuan ibu sama seperti yang masuk dalam saudara perempuan 
ayah yaitu :

1. Saudara perempuan ibu dari satu ayah dan ibu.
2. Saudara perempuan ibu dari satu ayah saja.
3. Saudara perempuan ibu dari satu ibu saja.
4. Saudara-saudara perempuan nenek dari ayah maupun ibumu.
5. dan seterusnya ke atas.

Keenam : وَبَنَاتُ الْأَخِ (anak-anak perempuan dari saudara laki-laki). Anak 
perempuan dari saudara laki-laki mencakup :

1. Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ayah dan satu ibu.
2. Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ayah saja.
3. Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ibu saja.
4. Anak-anak perempuan dari anak perempuannya saudara laki-laki.
5. Cucu perempuan dari anak perempuannya saudara laki-laki.
6. dan seterusnya ke bawah.

Ketujuh : وَبَنَاتُ الْأُخْتِ (anak-anak perempuan dari saudara perempuan). Ini 
sama dengan anak perempuan saudara laki-laki, yaitu meliputi :

1. Anak perempuan dari saudara perempuan satu ayah dan ibu.
2. Anak perempuan dari saudara perempuan satu ayah saja.
3. Anak perempuan dari saudara perempuan satu ibu saja.
4. Anak-anak perempuan dari anak perempuannya saudara perempuan,.
5. Cucu perempuan dari anak perempuannya saudara perempuan.
6. dan seterusnya ke bawah.

Catatan penting :

Tujuh yang tersebut di atas adalah mahram karena nasab. Sehingga kita bisa 
mengetahui bahwa ada empat orang yang bukan mahram walaupun ada hubungan nasab, 
mereka itu adalah :

1. Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ayah (sepupu).
2. Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibu (sepupu).
3. Anak-anak perempuan dari saudara perempuan ayah (sepupu).
4. Anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibu (sepupu).

Mereka ini bukanlah mahram dan boleh dinikahi.

Kedelapan : وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِيْ أَرْضَعْنَكُمْ(ibu-ibu yang menyusui 
kalian). Yang termasuk ibu susuan adalah :

1. Ibu susuan itu sendiri.
2. Ibunya ibu susuan.
3. Neneknya ibu susuan.
4. dan seterusnya keatas.

Catatan Penting :

Kita melihat bahwa dalam ayat ini Ibu susuan dinyatakan sebagai mahram, 
sementara menurut ulama pemilik susu adalah suaminya karena sang suamilah yang 
menjadi sebab isterinya melahirkan sehingga mempunyai air susu. Maka 
disebutkannya ibu susuan sebagai mahram dalam ayat ini adalah merupakan 
peringatan bahwa sang suami adalah sebagai ayah bagi anak yang menyusu kepada 
isterinya. Dengan demikian anak-anak ayah dan ibu susuannya baik yang laki-laki 
maupun yang perempuan dianggap sebagai saudaranya (sesusuan), dan demikian pula 
halnya dengaan saudara-saudara dari ayah dan ibu susuannya baik yang laki-laki 
maupun yang perempuan dianggap sebagai paman dan bibinya. Karena itulah Nabi r 
menetapkan di dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan 
Imam Muslim dari hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- :

إِنَّهُ يُحْرَمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يُحْرَمُ مِنَ النَّسَبِ

“Sesungguhnya menjadi mahram dari susuan apa-apa yang menjadi mahrom dari 
nasab”.

Kesembilan : وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ (dan saudara-saudara perempuan 
kalian dari susuan). Yang termasuk dalam kategori saudara perempuan sesusuan 
adalah :
1. Perempuan yang kamu disusui oleh ibunya (ibu kandung maupun ibu tiri).
2. Atau perempuan itu menyusu kepada ibumu.
3. Atau kamu dan perempuan itu sama-sama menyusu pada seorang perempuan yang 
bukan ibu kalian berdua.
4. Atau perempuan yang menyusu kepada istri yang lain dari suami ibu susuanmu.

Kesepuluh : وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ (dan ibu isteri-isteri kalian) ibu isteri 
mencakup ibu dalam nasab dan seterusnya keatas dan ibu susuan dan seterusnya 
keatas . Mereka ini menjadi mahram bila/dengan terjadinya akad nikah antara 
kalian dengan anak perempuan mereka, walaupun belum bercampur.

Tidak ada perbedaan antara ibu dari nasab dan ibu susuan dalam kedudukan mereka 
sebagai mahram. Demikian pendapat jumhur ulama seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, 
Jabir dan Imran bin Husain dan juga pendapat kebanyakan para tabi’in dan 
pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Ashhab Ar-ro’y yang mana 
mereka berdalilkan dengan ayat ini, oleh karena itu kita tidak bisa menerima 
perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyatakan bolehnya seorang lelaki 
menikah dengan ibu susuan isterinya dan saudara sesusuan istrinya. Wallahu 
A’lam.

Kesebelas : مِنْ نِسَآئِكُمُ اللاَّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ 
تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ
(anak-anak istrimu (Ar-Raba`ib) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah 
kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu 
ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya)

Ayat ini menunjukkan bahwa Ar-Raba`ib adalah mahram. Dan menurut bahasa arab 
Ar-Raba`ib ini mencakup :
Anak-anak perempuan istrimu.
Anak-anak perempuan dari anak-anak istrimu ( cucu perempuannya istri).
Cucu perempuan dari anak-anak istrimu.
dan seterusnya ke bawah.
Tapi Ar-Raba`ib ini dalam ayat ini menjadi mahram dengan syarat apabila ibunya 
telah digauli adapun kalau ibunya diceraikan atau meninggal sebelum digauli 
oleh suaminya maka Ar-Raba‘ib ini bukan mahram suami ibunya bahkan suami ibunya 
itu bisa menikahi dengannya. Dan ini merupakan pendapat Jumhur Ulama seperti 
Imam Malik, Ats-Tsaury, Al-Auza’y, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan lain-lainnya. 
Hal ini berdasarkan dzhohir ayat diayat :

مِنْ نِسَآئِكُمُ اللاَّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا 
دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ

“ Dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan 
istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya.”


Adapun yang tersebut di ayat (Ar-Raba`ib yang dalam pemeliharaanmu) kata “dalam 
pemeliharaanmu” dalam ayat ini bukanlah sebagai syarat untuk dianggapnya 
Ar-Raba`ib itu sebagai mahram. Semua Ar-Rabaib baik yang dalam pemeliharaan 
maupun yang diluar pemeliharaan adalah mahram menurut pendapat jumhur ulama. 
Jadi kata “dalam pemeliharaanmu” hanya menunjukkan bahwa kebanyakan Ar-Raba`ib 
itu dalam pemeliharaan atau hanya menunjukkan dekatnya Ar-Raba`ib tersebut 
dengan ayahnya. Dengan demikian nampaklah hikmah kenapa Ar-Raba`ib menjadi 
mahram. Wallahu A’lam.



Keduabelas : وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ 
(istri-istri anak-anak kandungmu (menantu).
Ini meliputi :
Istri dari anak kalian.
Istri dari cucu kalian.
Istri dari anaknya cucu.
dan seterusnya kebawah baik dari nasab maupun sesusuan.
Mereka semua menjadi mahram setelah akad nikah dan tidak ada perbedaan pendapat 
di kalangan para ulama dalam hal ini.

Lihat pembahasan di atas dalam :
Al-Mughny 9/513-518, Al-Ifshoh 8/106-110, Al-Inshof 8/113-116, Majmu’ Al-Fatawa 
32/62-67, Al-Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah 2/589-592, Zadul Ma’ad 
5/119-124, Taudhil Al-Ahkam 4/394-395, Tafsir Al-Qurthuby 5/105-119, Taisir 
Al-Karim Ar-Rahman.
Catatan :
Demikian mahrom dalam surah An Nisa. Tapi perlu diingat, pembicaraan dalam ayat 
ini walaupun ditujukan langsung kepada laki-laki dan menjelaskan rincian siapa 
yang merupakan mahrom bagi mereka, ini tidaklah menunjukkan bahwa di dalam ayat 
ini tidak dijelaskan tentang siapa mahrom bagi perempuan. Karena Mafhum 
Mukhalafah (pemahaman kebalikan) dari ayat ini menjelaskan hal tersebut.

Misalnya disebutkan dalam ayat : “Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian”, maka 
mafhum mukhalafahnya adalah : “Wahai para ibu, diharamkan atas kalian menikah 
dengan anak-anak kalian.”
Misal lain, disebutkan dalam ayat : “Dan anak-anak perempuan kalian.” Maka 
mafhum mukhalafahnya adalah : “Wahai anak-anak perempuan diharamkan atas kalian 
menikah dengan ayah-ayah kalian.” Dan demikian seterusnya.
Sebagai pelengkap dari pembahasan ini, kami sebutkan ayat dalam surah An-Nur 
ayat 31 :

وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُوْلَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ 
آبَاءِ بُعُوْلَتِهِنَّ أو أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُوْلَتِهِنَّ أَوْ 
إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِيْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِيْ أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ 
نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ أَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرَ أُوْلِي 
الإِْ رْبَةِ مِنَ الرَّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ اللَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلَى 
عَوْرَاتِ النِّسَاءِ.
“Janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah 
mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera 
suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara 
laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau 
wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan 
laki-laki mereka yang tidak mempunyai keinginan (kepada wanita), atau anak-anak 
yang belum mengerti tentang ‘aurat.”

Wallahu a'lam

________________________________
From: Resmana Abqary <[email protected]>
To: assunnah <[email protected]>
Sent: Tue, March 9, 2010 6:49:46 AM
Subject: [assunnah] Tanya Mengenai Mahram

Assalamualaikum. .

Mw tanya, ada yg punya artikel tentangg siapa mahram dan siapa bukan mahram 
secara lengkap??

Kirim email ke