GARIS BESAR PENDIDIKAN PADA MASA SALAF
Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi
http://www.almanhaj.or.id/content/2678/slash/0
Pendidikan memiliki peran sangat penting dan menentukan dalam
pembentukan kepribadian dan perkembangan peradaban manusia, khususnya
dalam membina manusia dan membebaskannya dari kebodohan, kegelapan, dan
kesesatan. Rasulullah n diutus untuk mendidik manusia agar menjadi
makhluk yang berakhlak mulia dan terlepas dari kesesatan. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami
telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat
Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab
dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu
ketahui." [al-Baqarah/2:151].
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman
"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat
(ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa
tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan
sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain
sebagai Tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling, maka katakanlah
kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah)". [Ali Imran/3:64].
Demikianlah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membina dan
mendidik para sahabatnya sehingga mereka menjadi generasi terbaik.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
"Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku kemudian generasi setelah
mereka, kemudian generasi setelah mereka". [HR al-Bukhâri, 5/191, dan
Muslim no. 2533].
Mereka menjadi manusia terbaik di bawah pembinaan pendidik terbaik,
yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, hingga Mu'âwiyah bin
al-Hakam Radhiyallahu 'anhu mengungkapkan kekagumannya terhadap
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam ungkapannya yang indah:
مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ رواه
مسلم
"Aku tidak akan melihat seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik
darinya". [HR Muslim no. 836].
Sebagai teladan yang baik, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita
untuk mencontoh dan mengikutinya:
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah".
[al-Ahzab/33:21].
Juga dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung". [al-Qalam:4].
Oleh karena itu, semestinya menjadikan beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam sebagai rujukan dalam pendidikan dan pembinaan kehidupan seluruh
manusia. Sufyân bin 'Uyainah al-Makki rahimahullah menyatakan:
"Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah standar
terbesar. Segala sesuatu (harus) ditimbang berdasarkan akhlak, sirah
dan petunjuk beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Semua yang sesuai
dengannya, itulah kebenaran; dan yang menyelisihinya, itulah
kebatilan".[1]
GARIS BESAR PENDIDIKAN PADA MASA SALAF
Salah seorang murid Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, yaitu Syaikh
Muhammad 'Id Abbasi, menyimpulkan garis-garis besar yang terpenting
mengenai pendidikan pada masa Salaf. Beliau menyebutkan dalam
makalahnya yang berjudul at-Ta'l'm fi 'Ahdi as-Salaf, sebagai berikut.
1. Menjadikan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam sebagai landasan dan sumber ilmu. Keduanya merupakan sumber
terpercaya dan maksum dari segala kesalahan dan kekurangan.
2. Memahami Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi was
allam sesuai dengan pemahaman Salafush-Shalih, yaitu seperti para
sahabat, Tabi'in dan Tabi'it Tabi'in. Mereka telah dipuji oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur`an, dan juga direkomendasikan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk diikuti.
3. Mengikhlaskan ilmu hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menjadikannya
sebagai puncak usaha dan tujuan kita.
4. Memulai dengan menanamkan secara kokoh keimanan kepada jiwa murid
sebelum belajar hukum syariat. Ini dilakukan dengan mengenalkan tentang
Rabb, nama, sifat dan perbuatan-Nya, sehingga tertanam dalam jiwa murid
pengagungan, penghormatan, pengharapan dan rasa takut kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala, serta kecintaan kepada-Nya. Dia juga akan selalu
ingat kepada kematian, kengerian hari Kiamat, surga dan neraka serta
hari Perhitungan amal. Memulai pendidikan dengan sisi ini akan
mempersiapkan seseorang supaya dapat melaksanakan perintah Allah
Subhanahu wa Ta'ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta senantiasa
istiqamah. Demikian yang disampaikan Al-Qur`an dalam masalah pendidikan
generasi pertama dan kedua. Dijelaskan oleh Ummul-Mukminin 'Aisyah
Radhiyallahu 'anha :
إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنْ الْمُفَصَّلِ
فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى
الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ
شَيْءٍ لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ لَقَالُوا لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا
وَلَوْ نَزَلَ لَا تَزْنُوا لَقَالُوا لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا لَقَدْ
نَزَلَ بِمَكَّةَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَإِنِّي لَجَارِيَةٌ أَلْعَبُ بَلْ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ
أَدْهَى وَأَمَرُّ وَمَا نَزَلَتْ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَالنِّسَاءِ
إِلَّا وَأَنَا عِنْدَهُ رواه البخاري
"Sesungguhnya yang pertama kali turun darinya ialah satu surat dari
al-Mufashshal (surat-surat pendek) yang berisi penjelasan tentang surga
dan neraka; sehingga apabila manusia telah mantap dalam Islam, maka
turunlah (ayat-ayat tentang) halal dan haram. Seandainya yang pertama
kali turun (kepada mereka) adalah "jangan minum khamr (minuman keras),"
tentu mereka akan menjawab "kami tidak akan meninggalkan khamr
selama-lamanya". Seandainya yang pertama turun adalah "jangan berzina,"
tentu mereka akan menjawab "kami tidak akan meninggalkan zina
selama-lamanya".
Sesungguhnya telah turun firman Allah "sebenarnya hari Kiamat itulah
hari yang dijanjikan kepada mereka, dan Kiamat itu lebih dahsyat dan
lebih pahit" -Qs al-Qamar 54 ayat 46- di Mekkah kepada Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan pada waktu itu aku masih anak kecil
yang bermain-main. Dan belum turun surat al-Baqarah dan an-Nisâ`
kecuali aku sudah berada di sisinya". [HR al-Bukhâri, no. 4993].
5. Mengagungkan dan menghormati ilmu dan menjadikannya sebagai ibadah
untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Konsekuensi
dari itu, ialah memuliakan dan menghormati serta berbuat santun kepada
para ulama dan para guru.. Demikian juga seorang murid harus
merendahkan suara di hadapan mereka, tidak berbuat lancang kepada
mereka, hendaklah berlemah-lembut dalam berbicara dengan mereka. Mereka
ialah pewaris para nabi sebagaimana telah disabdakan Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam. Lantaran itu, maka mereka para pendidik itu pun akan
senang hati menyampaikan ilmu yang dimilikinya dan memberikan faidah
(ilmu) yang mereka miliki.
6. Berpegang dengan metode ilmiah dengan berlandaskan dalil, hujjah,
bukti kongkrit, menjauhi taklid, meninggalkan perkiraan dan prasangka
keliru. Dalam pengajaran Islam, metode ini memiliki peran sangat
penting. Sebab, Islam mengajak manusia untuk berfikir dan mencari
dalil. Bimbingan Al-Qur`ân ini telah diamalkan oleh para Salaf
terdahulu.
7. Menjadikan tujuan terbesar pendidikan dan pengajaran terfokus pada
pembentukan pribadi muslim yang tunduk dan menerima perintah Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Kepribadian yang beriman kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala dalam uluhiyah-Nya dan menempuh beribadah sesuai jalan-Nya,
sehingga mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar, berpegang
teguh dengan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, melaksanakan
kewajiban khilafah di bumi, memperhatikan agama dan dunia, serta
beramal untuk dunia dan akhirat.
8. Dalam proses pengajaran, menghubungkan hakikat ilmiah dengan hakikat
keimanan, menanamkan aqidah yang benar dan mengokohkannya di dalam jiwa
para murid. Inilah metode Al-Qur`an dalam pembentukan aqidah, dimana
dipaparkan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala di alam semesta, jiwa
dan ufuk bumi, dan mengajak manusia untuk merenungkan, memikirkan,
sehingga sampailah keimanannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, iman
kepada kodrat (kekuasaan) dan sifat-sifat-Nya. Metode ini berbeda
dengan pendidikan sekuler yang hanya menyampaikan hakikat ilmiah, dan
memisahkan ilmu dari agama; sehingga pendidikan hanya bersifat
lahiriyah dan sekedar slogan tanpa berpengaruh kepada akhlak, tidak
membentuk manusia yang shalih. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman
dalam menceritakan ilmu orang-orang kafir:
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang
mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai". [ar-Ruum/30:7].
9. Seorang pendidik harus menjadi teladan yang baik bagi para muridnya.
Kaidah ini merupakan landasan yang sangat penting dalam pendidikan.
Dengan cara qudwah inilah Islam memerintahkan dan memperingatkan secara
keras perbuatan seseorang yang menyelisihi perkataannya, dan khususnya
bagi seorang ulama. Dalam hal ini, Islam memberikan permisalan dengan
permisalan yang paling buruk, dengan keledai dan anjing. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian
mereka tiada memikulnya; adalah seperti keledai yang membawa
kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang
mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunju kepada
kaum yang zhalim". [al-Jumu'ah/62:5]
Dan firman Allah Azza wa Jalla.
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan
kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian
dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh
setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang
sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan
(derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia
dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah; maka perumpamaannya
seperti anjing; jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya, dan jika
kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka
ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir"
[al-A'raf/7:165-166].
10. Lemah-lembut terhadap murid, menyambut dan memotivasinya. Banyak
dalil yang memerintahkan untuk berbuat demikian. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam memperhitungkannya sebagai faktor yang dapat
mengantarkan kepada kesuksesan dan keberuntungan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
Rabb-mu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari
jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk". [an-Nahl/16:125].
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانهَ،ُ وَلاَ يُنْزَعُ
مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ رواه أحمد (23786) ومسلم (2594) وأبو داود
(2487).
"Sesungguhnya kelembutan tidak menyertai sesuatu kecuali akan
menghiasinya, dan tidak hilang dari sesuatu kecuali akan merusaknya".
[HR Ahmad no. 23786, Muslim no. 2594 dan Abu Dawud no. 2487].
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الْأَمْرِ كُلِّهِ رواه البخاري (6024) ومسلم
(2165) وغيرهما
"Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan (rifqu) dalam seluruh perkara".
[Muttafaqun 'alaihi]
سَيَأْتِيْكُمْ أَقْوَامٌ يَطْلُبُوْنَ الْعِلْمَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ
فَقُوْلُوْا لَهُمْ: مَرْحَباً مَرْحَباً بِوَصِيَّةِ رَسُوْلِ اللهِ "
رواه ابن ماجة (247)
"Akan datang kepada kalian kaum yang menuntut ilmu; bila kalian
mendapatinya, maka katakanlah kepada mereka 'selamat datang, selamat
datang orang yang menjadi wasiat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam". [HR Ibnu Majah no. 247].
Oleh karena itu, dahulu, para ulama dan para pendidik berbicara kepada
para penuntut ilmu dengan perkataan yang bagus, tawadhu`, mencintai
mereka dan bermuamalah secara baik dengan mereka. Demikian juga dengan
para pelajar, mereka mencintai para pendidik, senang bersama mereka,
menghormati dan memuliakan guru-gurunya, serta mengambil faidah dari
mereka sebaik-baiknya. Sehingga lantaran muamalah yang baik antara
pendidik dengan murid, maka semua akan mendapatkan banyak manfaat dan
kesuksesan.
Di antara bentuk lemah-lembut kepada murid, yakni dalam menyampaikan
informasi ilmiah, para pendidik menyampaikannya secara bertahap, dari
yang mudah kepada yang sulit, dan dari yang biasa sampai yang komplek
dan seterusnya.
11. Melakukan variasi dalam uslûb (mengajar) sehingga murid menjadi
tertarik, merasa rindu dan pikirannya terkonsentrasi mengikuti
pelajaran. Di antara uslûb itu, misalnya dengan metode tanya jawab,
diskusi, kisah-kisah, permisalan, atau dengan penggunaan alat dan
sarana pengajaran yang ada. Uslûb demikian banyak dicontohkan dalam
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hadits-hadits Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam serta pernyataan para Salaf terdahulu.
AJAKAN DAN HIMBAUAN
Sudah menjadi kewajiban para ulama, da'i, ustadz dan para pendidik
untuk mempelajari keahlian yang dimiliki para Sahabat Radhiyallahu
'anhum agar mencapai kedudukan tertinggi dan sampai pada derajat
tertinggi di dunia dan akhirat. Jadikanlah karakteristik dan keahlian
mereka selalu dalam ingatan kita ketika kita melaksanakan kewajiban
mendidik generasi masa ini. Karena para pendidik memiliki tujuan
membentuk generasi seperti generasi Sahabat dalam aqidah dan pemahaman
terhadap al-Qur`ân dan Sunnah dan menjadikan mereka taat kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya serta mendidik mereka menjadi orang
yang zuhud terhadap dunia dan antusias dengan Akhirat. Disamping juga,
untuk menanamkan pada mereka sikap berkorban dalam mencapai keridhoan
Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memiliki semangat membela agama dan
ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Marilah kita tanamkan hal ini dalam benak dan ingatan kita dan mari
bersama-sama semangat untuk menerapkannya ketika kita menjadi pendidik
baik di keluarga, lingkungan dan sekolah-sekolah, agar kita dapat
mengembalikan lagi warna masa depan umat ini di atas cahaya ilmu dan
petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.Wabillahit taufiq.
Maraji'.
1. Tadzkirat as-Sami' wa al-Mutakallim Fi Adab al-'Alim wa
al-Muta'allim, Ibnu Jama'ah al-Kinâni, Tahqiq as-Sayyid Muhammad Hasyim
an-Nadawi, Cetakan kedua tahun 1416 H, Rimaadi Lin-Nasyir.
2. Makalah Syaikh Muhammad 'Id 'Abbasi berjudul at-Ta'lim Fi 'Ahdis Salaf.
3. At-Tashfiyah Wa at-Tarbiyah, Syaikh 'Ali bin Hasan al-Halabi
4. Kaifa Rabba an-Nabi n Ash-habahu, Kamâl bin Mukhtar Isma'il.
5. Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani,
Maktabah al-Ma'arif dll.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03//Tahun XII/1429H/2008M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Tadzkirat as-Sâmi' wa al-Mutakallim, Ibnu Jama'ah al-Kinani hal. 21.