Assalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh. Yang saya hormati para ustadz yang ada di forum ini dan saudara-saudari sekalian.
Ana cuma menambahkan tentang 'ababil' barangkali kurang atau ana yang kelewatan bacanya. Setahu ana, thoiron abaabila adalah berbentuk sifat dan yg disifati(sifat maushuf). Sedangkan abaabila adalah salah satu kata yang tidak menerima tanwin dan kasroh, seperti kata ulamaa', jahannam, ibroohim,masaajid,dll. Sehingga sesuai tafsiran para ulama' dan kaidah bahasa, thoiron abaabila artinya makhluq(burung) yg terbang berkelompok(berbondong-bondong). Hakikatnya itu burung jenis apa atau apa adalah mutasyabihat, tidak menambah ilmu. Seandainya menambah ilmu pastilah diterangkan Alloh subhaanallohu wata'aala juga. Yang salah adalah orang yamg menafsirkan dengan perkiraan. Seperti memperkirakan dengan pesawat canggih, lagipula ini bertentangan dengan tafsiran salafussholeh. Bahkan pesawat hanya alat buatan manusia, sedangkan makhluq Alloh jauh lebih sempurna & canggih dari sekedar pesawat sukoi yang disebutkan. Orang yg menafsirkan dengan pesawat tempur, bisa jadi mereka mulai sombong dengan kemampuan manusia sekarang. Padahal pesawat tempur apapun tidak akan menyamai kesempurnaan dan kecanggihan makhluq Alloh subhaanallohu wata'aala seperti burung, yang kecil sekalipun. Kasus penamaan burung tersebut dgn nama burung abaabil adalah mungkin sama dgn penamaan malaikat roqib atid, padahal roqib atid adalah sifatnya bukan nama.QS Qoof 18 Allohu a'lam. Tolong dibenarkan jika ada salah.. ============================== From: [email protected] Date: Fri, 12 Mar 2010 09:21:37 +0700 Assalamu'alaikum APAKAH BURUNG ABABIL SEJENIS PESAWAT TEMPUR? Apakah burung Ababil itu? Apakah ia burung yang nyata? Atau hanya sebuah kiasan untuk menunjukkan adanya penyakit yang menyerbu Pasukan Gajah Abrahah? Pendapat yang menarik dikemukakan oleh Ir. H. Bambang Pranggono, MBA, IAI, seorang Dosen ITB yang merujuk pada tafsir Majmau'ul karya Ibnul Hasan At-Tabrisi yang menyebutkan bahwa burung Ababil itu datang berbondong-bondong dari laut, warnanya ada yang hitam, putih dan hijau. ... Mungkin orang Arab tahun 570 M melihat pesawat tempur itu dengan mengatakannya burung karena keterbatasan pengetahuan mereka saat itu. Mungkin saja itu makhluk luar angkasa yang membawa pesawat tempur untuk menghacurkan pasukan gajah Abrahah. ________________________________________________________________ Burung-burung tersebut adalah makhluk Allah yang diutus untuk menghancurkan pasukan Abrahah. Dari musibah yang ditimpakan kepada Abrahah dan pasukannya, kita dapat memetik pelajaran berharga. Tatkala Abrahah dan kaumnya ingin berbuat buruk kepada Ka'bah, maka Allah menghabisi mereka. Namun ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat akan menaklukkan kota Mekkah untuk membersihkannya dari praktek paganisme, mereka ditolong dan diberi kemudahan oleh Allah Azza wa Jalla. Berkaitan dengan siksa yang didatangkan Allah dalam peristiwa penyerangan Ka�bah oleh Abrahah, sebagian orientalis dan orang-orang yang sehaluan dengan mereka dari kalangan intelektual muslim, sengaja menciptakan keraguan seputar keabsahan cerita yang menimpa tentara Abrahah ini. Padahal keabsahannya sudah ditetapkan dengan berita yang kuat, yang memberi keyakinan dan penegasan peristiwa itu. Lebih lanjut, silakan baca di almanhaj. Wallahu a'lam http://www.almanhaj.or.id/content/1942/slash/0 Allah mengutus burung-burung yang berbondong-bondong. Di patuk dan kedua kaki burung-buru itu terdapat batu-batu kecil. Makhluk-makhluk tersebut melempari pasukan Abrahah dengan kerikil-kerikil yang dibawanya. Orang yang terkena lemparan batu tersebut, tubuhnya langsung terkoyak dan mati. Melihat keadaan ini, pasukan yang selamat mencoba melarikan diri, tetapi mereka berjatuhan di jalanan dan di setiap tempat. Siksa yang menyakitkan telah didatangkan Allah menimpa pada Abrahah dan pasukannya. Allah mengabadikannya dalam surat Al Fil. Allah berfirman, yang artinya: Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). "[Al Fil : 3-5]. Rasulullah juga bersabda. إِنَّ اللَّهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الْفِيلَ وَسَلَّطَ عَلَيْهَا رَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ "Sesungguhnya Allah menahan tentara gajah dari Mekkah, dan menjadikan Rasul dan kaum Mukminin menguasainya". [HR Syaikhani: Bukhari, no. 109; Muslim, no. 2414]. Menurut riwayat Ath Thabari yang sanadnya hasan, dari Qatadah. Dia menafsirkan ayat pertama surat Al Fil dengan mengatakan: �Abrahah Al Asyram datang dari Habasyah. Dia didukung pasukan dari Yaman menuju Baitullah untuk menghancurkannya, lantaran rumah ibadah mereka yang di Yaman dinodai bangsa Arab. Mereka menyerang dengan pasukan gajah. Ketika sampai di daerah Shifah [1], gajah tersebut duduk. Gajah ini, bila dihadapkan ke arah Baitullah, maka akan tetap berhenti. Tapi bila mereka mengarahkannya menuju negeri asal mereka, dengan sigap berdiri dan berlari-lari kecil. Tatkala, mereka berada di Nakhlah Yamaniah, Allah mengirimkan burung putih yang sangat banyak. Setiap satu ekor burung membawa tiga batu, dua di kakinya dan satu di paruhnya. Burung-burung ini melempari mereka dengan batu-batu itu, sampai Allah menjadikan mereka bak dedaunan yang dimakan ulat. Abrahah selamat dari kematian di tempat peristiwa itu. Namun tidaklah ia melewati satu daerah, kecuali sebagian daging dari tubuhnya berjatuhan, sampai akhirnya ia dapat menemui kaumnya dan memberi informasi kepada mereka, dan akhirnya mati� [2]. Dari musibah yang ditimpakan kepada Abrahah dan pasukannya, kita dapat memetik pelajaran berharga. Tatkala Abrahah dan kaumnya ingin berbuat buruk kepada Ka'bah, maka Allah menghabisi mereka. Namun ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat akan menaklukkan kota Mekkah untuk membersihkannya dari praktek paganisme, mereka ditolong dan diberi kemudahan oleh Allah Azza wa Jalla. Berkaitan dengan siksa yang didatangkan Allah dalam peristiwa penyerangan Ka�bah oleh Abrahah, sebagian orientalis dan orang-orang yang sehaluan dengan mereka dari kalangan intelektual muslim, sengaja menciptakan keraguan seputar keabsahan cerita yang menimpa tentara Abrahah ini [3]. Padahal keabsahannya sudah ditetapkan dengan berita yang kuat, yang memberi keyakinan dan penegasan peristiwa itu. Menurut mereka, kehancuran tentara Abrahah, disebaban karena mewabahnya penyakit cacar di tengah pasukan bergajah tersebut. Alasan mereka, berita yang disampaikan Ibnu Ishaq sanadnya lemah. Namun sudah tentu, hal itu tidak menunjukkan bahwa kebinasaan yang menimpa mereka terjadi karena itu. Kalau tidak demikian, mestinya Ibnu Ishaq tidak akan memaparkan kisah yang sangat akurat tersebut dalam beberapa halaman. Sementara kisah yang lemah itu diungkapkan dengan singkat. Yang menjadi pertanyaan, mengapa cacar tidak mereka katakan sebagai dampak dari luka-luka, nanah, siksa akibat dari siksa Allah tersebut? Bukankah fakta seringkali menunjukkan, timbulnya wabah penyakit biasanya berjangkit pasca perang dan paceklik? _______ Footnote [1]. Daerah antara Hunain dan jalan-jalan yang menghubungkan kota suci Mekkah, dari arah Yaman. [2]. Riwayat ini mempunyai syahid, yang disebutkan Al Hafizh Ibnu Hajar dari Ibnu Murdawaih dengan sanad hasan, dari Ikrimah dari Ibnu 'Abbas dengan redaksi yang mirip secara ringkas. Lihat Fathul Bari (12/207). [3]. Muhammad 'Ali dalam buku Hayatu Muhammad Wa Risalatuhu, dan Dairatu Ma'arirfi Al Qarnil 'Isyrin, Farid Wajdi.
