BAHAYA PANDANGAN MATERIALISTIS, BAGI KEHIDUPAN RUMAH TANGGA MUSLIM
http://www.almanhaj.or.id/content/2706/slash/0

PANDANGAN MATERILISTIS TERHADAP DUNIA
Pandangan materialistis saat ini, banyak menerpa kehidupan manusia.
Bahkan sebagian kaum muslimin ada yang juga terpengaruh dengan
kehidupan yang melalaikan ini. Yaitu mengedepankan cara pandang tentang
kehidupan yang hanya terbatas pada usaha untuk mendapatkan kenikmatan
sesaat di dunia fana ini, sehingga aktifitas hidup yang dijalankan
hanya berkisar pada masalah bagaimana bisa menciptakan lapangan
pekerjaan, mengembangkan ekonomi, membangun rumah dan gedung, memenuhi
kepuasan hidup dan hal-hal lain yang bersifat duniawi, tanpa memikirkan
akibat dan sikap yang seharusnya dilakukan. Seolah menganggap, bahwa
kebahagiaan hidup hanya bisa diraih dengan harta. Alhasil, pandangan
materialistis ini mengusik keharmonisan dan ketenangan rumah tangga
seorang muslim. Melalaikan tujuan inti penciptaannya, penghambaan diri
kepada Allah semata dalam setiap aspek kehidupannya. Allah berfirman: 

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ مَآأُرِيدُ
مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآأُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ
الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ 

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan
Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah
Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh".
[Adz Dzariyat: 56-58]

Sebagai efeknya, tak jarang wanita juga ikut bekerja membanting tulang,
mengerahkan segala cara untuk mendapatkan harta yang banyak. Dalam
benaknya, yang berkembang hanya bagaimana bisa menguasai dunia dengan
harta berlimpah, seolah kebahagiaan dan ketenangan bergantung dengan
harta; padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai Abu Dzar. Apakah engkau menyangka karena banyak harta orang
menjadi kaya?” Saya (Abu Dzar) menjawab : “Ya, wahai Rasulullah”.
Beliau bersabda: “Dan engkau menyangka, karena harta sedikit orang
menjadi miskin?” Saya (Abu Dzar) berkata: “Ya, wahai Rasulullah”.
Beliau bersabda: “Sesungguhnya kekayaan adalah kecukupan dalam hati,
dan kemiskinan adalah miskin hati”. [HR Hakim dan Ibnu Hibban].

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

خَسِرَ الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ 

"Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang 
nyata". [Al Hajj: 11]

Allah menciptakan dunia tidak untuk main-main atau sendau gurau, tetapi
Allah menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung, sebagaimana firman
Allah:

إِنَّا جَعَلْنَا مَاعَلَى اْلأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ 
أَحْسَنُ عَمَلاً

"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai
perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka
yang terbaik perbuatannya". [Al Kahf :7].

Allah menciptakan dunia tidak lain ialah sebagai ladang kampung akhirat
dan kampung untuk beramal. Sedangkan akhirat sebagai kampung menuai
balasan. Barangsiapa mengisi dunia dengan amal shalih, niscaya ia akan
menuai keberuntungan di dua kampung tersebut. Sebaliknya, barangsiapa
yang menyia-nyiakan dunianya, niscaya ia akan kehilangan akhiratnya.

PANDANGAN YANG SALAH TERHADAP DUNIA
Allah menjadikan berbagai kenikmatan dunia dan perhiasan lahiriah
berupa harta, anak-anak, isteri, kedudukan, kekuasaan dan berbagai
macam kenikmatan lainnya, yang seharusnya digunakan sebagai sarana
untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat kelak. Dari Tsauban,
bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَزَوْجَةً 
مُؤْمِنَةً تُعِينُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ

"Hendaklah di antara kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang
berdzikir dan isteri yang shalihah yang membantu dalam urusan akhirat".
[HR Ahmad dan Ibnu Majah].

Pada kenyataannya, sebagian besar manusia memusatkan perhatiannya pada
aspek lahiriah dan kenikmatan materi semata. Setiap hari disibukkan
dengan bekerja untuk mendapatkan harta dan kenikmatan dunia, sehingga
lupa menyiapkan bekal untuk amal kehidupan sesudah mati; bahkan ada
yang mengingkari kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman. 

وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَانَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

"Dan tentu mereka akan mengatakan (pula) “Hidup hanyalah kehidupan kita
di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan”. [Al Al
An’am : 29].

Allah mengancam orang-orang yang memiliki pandangan kerdil terhadap dunia. 
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:  

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ
أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ
لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا
فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ

"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya
Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan
sempurna dan mereka di dunia itu tidak dirugikan. Itulah orang-orang
yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di
akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa
yang telah mereka kerjakan". [Hud: 15-16].

ANCAMAN ALLAH TERHADAP ORANG-ORANG MATERIALISTIS
Dampak ancaman di atas berlaku bagi semua orang yang memiliki pandangan
materialis, yaitu mereka yang beramal hanya sekedar mencari keuntungan
dunia, misalnya: orang-orang munafik, orang-orang kafir, orang-orang
yang menganut faham kapitalisme, komunisme dan sekulerisme. Allah akan
menjadikan kehidupan ini terasa sempit bagi mereka. Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ
وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا
إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ
اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ
الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

"Barangsiapa yang menjadikan dunianya sebagai tujuan utamanya, maka
Allah akan membuat perkaranya berantakan, kemiskinan berada di depan
kedua matanya dan dunia tidaklah datang, kecuali yang telah ditentukan
baginya saja. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat (sebagai)
niatnya, niscaya Allah akan memudahkan urusannya dan menjadikan rasa
kecukupan tertanam dalam dalam hatinya dan dunia akan datang dengan
sendirinya". [Hadits Ibnu Majah dengan sanad yang shahih]

PANDANGAN YANG BENAR TERHADAP DUNIA
Dunia bukanlah segala-galanya, akan mengalami kehancuran. Ia hanya
jembatan penyeberangan belaka. Segala prasarana dan sarana yang Allah
adakan di dunia ini, harta, kekuasaan dan lain-lain, semestinya
dioptimalkan sebesar-besarnya untuk kepentingan yang lebih besar,
meraih kehidupan akhirat yang paling baik.

Karena itu, pada hakikatnya dunia tidak tercela dzatnya. Pujian atau
celaan tergantung pada tindak-tanduk seorang hamba dalam menjalani
siklus kehidupannya di dunia. Sekali lagi, dunia, kehidupannya bersifat
maya. 

Kehidupan yang baik yang diperoleh penduduk surga, tidak lain karena
kebaikan dan amal shalih yang telah mereka tanam ketika di dunia. Maka
dunia adalah kampung jihad, shalat, puasa dan infak di jalan Allah,
serta medan untuk berlomba dalam kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman kepada penduduk surga, artinya : 

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَآأَسْلَفْتُمْ فِي اْلأَيَّامِ الْخَالِيَةِ 

"(Kepada mereka dikatakan) “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan
amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (ketika di
dunia)”. [Al Haqqah : 24].

Selayaknya kita bersiap diri meninggalkan kampung dunia menuju kampung
akhirat dengan selalu menambah simpanan amal kebaikan dan bersegera
memenuhi panggilan Allah.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu berkata: “Sesungguhnya dunia
telah habis berlalu dan akhirat semakin mendekat. Dan masing-masing
mempunyai anak keturunan. Jadilah kalian anak keturunan akhirat dan
jangan menjadi anak keturunan dunia, karena sekarang kesempatan beramal
tanpa ada hisab (peratnggungjawaban) dan besok di akhirat masa
perhitungan amalan dan tidak ada kesempatan beramal”. Ali bin Abi
Thalib Radhiyallahu 'anhu juga mengatakan: “Halalnya adalah
dipertanggungjawabkan, dan haramnya adalah neraka”.

Wahai saudaraku kaum muslimin, ingatlah terhadap empat hal : Aku tahu
bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, maka tenteramlah jiwaku.
Aku tahu bahwa amalku tidak akan dilakukan orang lain, maka akupun
disibukkannya. Aku tahu bahwa kematian akan datang tiba-tiba, maka
segera aku menyiapkannya. Dan aku tahu bahwa diriku tidak akan lepas
dari pantauan Allah, maka aku akan merasa malu kepadaNya. [Lihat
Manaqib Al Iman Ahmad, Ibnu Jauzi, Maktabah Al Hany, Bab As Siaru, Vol.
11, hlm. 485 dan Wafayat Al A’yan, Op.Cit, Vol. 2, hlm. 27].

Orang yang mengosongkan hatinya dari keinginan dunia akan merasa ringan
tanpa beban, total menyongsong Allah dan mempersiapkan diri untuk
datangnya perjalanan. Mengosongkan hati untuk dunia yang fana bukan
berarti meninggalkan dunia kerja, enggan mencari kehidupan dunia dan
tidak mencoba berusaha. Islam sendiri memerintahkan untuk bekerja dan
menganggapnya sebagai satu jenis jihad, bila dengan niat yang tulus dan
memenuhi syarat amanah dan ikhlas, serta tidak melanggar syariat. (Ummu
Ahmad).

Maraji’:
- Kitab Tauhid III, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan.
- Islahul Qulub, karya Syaikh Abdul Hadi Wahbi.
- Faraidul Kalam Lil Khulafail Kiram, karya Syaikh Qasim ‘Asyur.
- Ad Dunya Dhillul Zailun, Abdul Malik bin Muhammad Al Qasim. 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]                                       
  


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke