Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Ummu Abdul Aziz yang Allah muliakan dengan Al Qur'an dan Sunnah, semoga Allah memberkahi Ummu dan memberikan kemudahan dalam segala urusan.
Pertama, bersyukurlah Ummu kepada Allah Ta'ala yang telah memberikan hidayah di atas al-haq. Dan ini adalah nikmat yg sangat agung yang tidak Allah berikan kepada kebanyakan manusia di akhir zaman ini. Kemudian, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala tdk membebani seseorang melainkan sesuai dg kemampuannya. Layaknya seorang bayi yang baru belajar berjalan, maka ia pasti akan merangkak terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia mulai berdiri, bahkan belum sempurna hingga sering terjatuh. Ketika ia semakin sering mencoba berdiri, berlari, yang awalnya tidak stabil, lama kelamaan ia menjadi mahir berjalan. Maka seperti inilah perumpamaan orang yg menuntut ilmu dan berdakwah di jalan Allah. Ketika Ummu berhadapan dg kerabat Ummu yg msh jauh dari hidayah Allah Ta'ala, maka di saat itulah Ummu melihat kembali, saat dahulu kita sama seperti mereka, belum mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hati masih keras, tdk mau menerima hukum-hukum Allah. Maka di saat itulah kita memposisikan diri kita seperti mereka. Dimana mereka msh jauh dari hidayah Allah, sama seperti kita dahulu yang juga butuh proses dalam mendapatkan hidayah Allah. Hidayah itu adalah hak prerogatif Allah Ta'ala. Begitupun dengan seorang muslim, tidak serta merta memiliki ilmu yg banyak dan hati yg lembut dalam seketika. Semua itu butuh kepada proses. Demikian pula halnya dengan keislaman seseorang. Dari yg awalnya "panas" mendengar Qur'an, lama-lama jadi ketagihan mendengar Qur'an. Yg awalnya tdk berhijab, skrg hijabnya lebar. Yg awalnya tak tahu ilmunya, skrg menjadi Ulama. Maka itu semua butuh kepada kesabaran. Maka sampaikanlah sesuai dg kemampuan kita, tidak memaksakan diri dg sesuatu yg kita tdk tahu ilmunya. Bertahap, pelan-pelan, cari ilmunya sedikit demi sedikit, sampaikan ilmu yg tepat di saat yang tepat. Ilmu yg tepat, namun di saat yang tidak tepat justru berbahaya. Bisa menyebabkan mereka lari dari kebenaran. Perbaiki akhlak, tampilkan akhlak yg mulia, senang membantu mereka, memudahkan urusan mereka, menebar salam, ramah, rajin memenuhi undangan silaturahim kerabat, hidup bersih dan sehat, menghormati yg tua, menyayangi yg muda, dan seterusnya akhlak mulia lainnya. Akhlak yg mulia ini menjadi pintu masuk yg luar biasa hebatnya bagi masuknya cahaya ilmu dan hidayah Allah di hati seorang hamba. Bahkan Nabi berkata bahwa derajat org yg berakhlak mulia dapat melampaui derajat org yg rajin shalat dan berpuasa. Maka ana doakan, semoga Allah memudahkan dan memberikan hidayah kepada Ummu dan seluruh kerabat. Wallahu alam. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: "ummu 'Abdul 'Aziz bintu Muhammad" <[email protected]> Date: Mon, 10 May 2010 16:22:42 To: <[email protected]> Subject: [assunnah] Tanya : Solusi berdakwah dengan hikmah بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Alhamdulillahir rabbil 'alamin, hamdan katsiran thayyiban mubarakkanfiih, Allahumma shalli wa salim 'ala Muhammadin nabiyya wa 'ala 'alihi wa shabbihi ajma'in. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه Ya akhiyfillah wa ukhtiyfillah, mohon nasehat untuk ana agar dapat berdakwah kepada kerabat-kerabat ana secara hikmah, yang dimana mereka telah meyakini paham modernisasi, qadarallah ana kurang pandai untuk bercakap dengan 'manis' hingga membawa lawan bicara tergiur untuk 'mencicipi', ana hanya bisa 'menawarkan' dengan kenyataannya. Qadarallah, beberapa waktu lalu ana ada pertemuan keluarga, alhamdulillah entah karena apa ana mendapat giliran dan dapat menjelaskan mengenai dakwah Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam yang haq, alhamdulillah 'ala kulihal, mereka menghargai -insya Allah- apa yang ana beritakan dengan ilmu sekadarnya yang ana miliki, wallahu'alam, adapun mereka tetap bersikekeuh dengan keyakinan mereka, yaitu: "semuanya sama saja, sekarang bagaimana kita bisa menghargai pemahaman masing2x, karena urusan agama adalah garis vertikal dengan Tuhannya, bukan horizontal yang dimana bisa disamaratakan." Allahu'alam, sepertinya ada unsur pemahaman pluralisme, bahkan mereka kurang sepaham dengan non-muslim adalah kafir, na'udzubillah. Dan karena di lingkungan kerabat -alhamdulillah- baru ana yang mengenal manhaj salaf (alhamdulillah baru 4 bulan, insya Allah terus istiqamah), maka ana ingin sekali menularkannya kepada mereka, wa qadarallah, hanya Allah yang Maha berkehendak atas hamba-hambaNya. Sekiranya, adakah nasehat untuk ana dari antum / antunna sekalian agar dapat melebarkan dakwah yang haq ini, dan semoga Allahu Ta'ala senantiasa selalu memberi kita semua hidayah untuk meniti di atas jalanNya yang lurus, Allahumma amin. Jazakumullah wa jazakunnallah khayran katsir وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
