Assalamu 'alaikum,

Ikhwan rohimakumullahu,

sungguh al-imam bukhori, menulis dalam kitabnya shohih bukhori suatu bab yakni 
ilmu didahulukan sebelum beramal bukanlah tanpa alasan. salah satu yang menjadi 
pelajaran bagi kita adalah bid'ah khowarij (bid'ah yang pertama kali terjadi 
dalam agama ini, dan cikal bakalnya telah ada sejak zaman Rosulullah sholallahu 
'alaihi wa sallam). khowarij ini menyendiri dalam hal pemahaman beragama, 
walaupun disekitarnya masih bergelimang ilmu, karena para sahabat, yang dalam 
salah satu hadits dikatakan sebagai penjaga umat ini, masih banyak, bahkan 
al-khulafaur-rasyidin masih hidup. mereka tidak bertanya kepada ahli dzikr 
(ahli ilmu) dalam pemahaman agama, dan mereka berjalan sendiri. maka mereka 
memahami ayat Al-Qur'an sebagaimana maunya mereka memahaminya. maka keluarlah 
takfir, dan menghalalkan darah muslim yang tidak sepaham dengan mereka. 
demikianlah khowarij. mereka menyendiri dalam pemahaman agama dan menafsirkan 
ayat-ayat tanpa ilmu (atau sedikitnya tanpa
 bertanya kepada ahli dzikr).

sekarang ini di zaman ini ilmu bergelimpangan dalam bentuk kitab-kitab. maka 
fitnah yang berbeda terjadi bagi kita sekarang, yakni menyeleksi 
ilmu-ilmu/kitab-kitab yang bermanfa'at dan sesuai dengan syari'ah. bagaimana 
caranya? caranya adalah bertanya kepada ahli dzikr, ahlil Qur'an, ahlis sunnah. 
siapa mereka? sekarang ini mereka adalah para ulama. ulama yang mu'tabar 
tentang pembelaannya kepada as-sunnah. mengapa hanya as-sunnah yang disebut 
bukan al-qur'an? karena Al-Qur'an itu mutawatir, hampir semua orang mengakui 
keshohihannya. walaupun dalam hal memaknainya terdapat banyak perbedaan yang 
disebabkan karena mereka tidak mengikuti sunnah. maka disebutlah ahlus-sunnah 
adalah para pembela sunnah. mereka membela sunnah, karena tidak mungkin 
memaknai Al-Qur'an tanpa ilmu, baik menafsirkannya satu ayat dengan ayat yang 
lain, atau mencari keterangaan tentang ayat tersebut dalam as-sunnah dan ijma' 
shohabat. jika mereka (ahlus-sunnah) tidak menemukan
 keterangannya baik dari ayat lain ataupun dari as-sunnah maka sikap mereka 
adalah amanna bihi kullu min 'indi robbina (kami berimana kepadanya semuanya 
dari sisi Robb kami) lalu mereka diam dan membiarkan apa adanya, tanpa ta'wil.

maka carilah ilmu atau kitab-kitab dari para ulama-ulama pembela sunnah dan 
yang disampaikan oleh para ustadz ahlus-sunnah yang didapatkan dari mereka.

tentang kebolehan mengambil ilmu, maka atsar mengatakan bahwa bolehnya ilmu 
diambil dari mana saja tentu dengan syarat. ingat kisah tentang syaithon yang 
menggoda Abu Huroiroh ketika menjaga harta baitul mal. maka syaithon tersebut 
mengajarkan ilmu kepada Abu Huroiroh bahwa supaya tidak digoda oleh syaithon 
maka bacalah ayat kursiy. Apa sikap Abu Huroiroh? Beliau Rodhiyallahu 'anhu 
mendatangi Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam, dan bertanya tentang hal 
tersebut. coba kita lihat bagaimana sikap para sahabat yang tidak langsung 
mengambil ilmu tersebut, namun bertanya terlebih dahulu kepada ahlinya (dalam 
hal ini Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam). dan seterusnya sampai akhir 
kisah.

yang kedua adalah atsar dari Ali ibnu abi tholib (walupun keshohihannya dan 
konteksnya masih harus dicek lagi) yang mengatakan "lihatlah apa yang dikatakan 
jangan lihat siapa yang mengatakan". secara umum atsar ini mengatakan bahwa 
ketika al-ilmu al-haq itu datang maka kita boleh mengambilnya walaupun itu 
datang dari siapa saja. tetapi harus ada kehati-hatian di sini bahwa, apakah 
kita sudah dapat dan mampu menilai sesuatu itu haq? atau tidak haq? sedangkan 
atsar yang lebih kuat yakni kisah abu huroiroh rodhiyallahu 'anhu, seorang 
shohabat yang meriwayatkan lebih dari 4000 hadits lebih, masih bertanya 
terlebih dahulu mengenai ilmu yang dia dapat.

maka mendengarkan sesuatu yang jelas-jelas syubhatnya amat dihindari oleh para 
tabi'in. ingat kisah tabi'in yang menutup kupingnya sepanjang khotbah karena 
dia mengetahui yang berkhotbah adalah penentang sunnah atau ahlu bid'ah. atau 
kisah seorang ulama pengikut tabi'in yang dia lebih baik mencabut bulu ketiak 
daripada mendengarkan perkataan ahlu syubhat. ketika ditanya mengapa engkau 
melakukan hal tersebut maka pengikut tabi'in tersebut berkata hadza sunnah 
(maksudnya mencabut bulu ketiak), wa dzalika bid'ah. mereka yang kokoh ilmunya 
menghindari kajian-kajian yang diberikan oleh orang-orang yang bukan 
ahlus-sunnah, yakni orang-orang yang tidak mengedepankan pemahaman mereka 
berdasar pemahaman salafush sholih, tetapi lebih mengikuti ro'yu dan juga hawa.

maka tegakkanlah ilmu kita dengan ilmu tabi'in atau pengikut tabi'in. lihatlah 
berapa tegak ilmu kita terhadap mereka? sama tegakkah? atau mereka lebih tegak? 
sedangkan mereka amat takut dengan pengaruh syubhat dan bid'ah. Bahkan imam 
Adz-Dzahabi berkata: bahwa syubuhat itu menyambar-nyambar dengan kuat, 
sedangkan hati ini amat lemah.

semoga bermanfa'at, semoga Allah Ta'ala memudahkan jalan kita semua menuju 
pemahaman agamaNya yang kholish.

Wa salamu 'alaikum,

Abu Yusuf Hafidz

--- On Tue, 5/18/10, [email protected] <[email protected]> 
wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [assunnah] tafsir surat az-zumar 17-18
To: [email protected]
Date: Tuesday, May 18, 2010, 12:46 AM

Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
“Sebab itu sampaikanlah berita
itu kepada hamba-hambaKu, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa
yang paling baik di antaranya.

Mereka itulah orang-orang yang
telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai
akal” (Az-Zumar: 17-18)

Apakah dengan dalil di atas, kita
boleh mengikuti pengajian manhaj apapun? selain manhaj salaf.

dimana perkataan ustadz bisa kita
pilah-pilah, kalau yang baik kita ikuti dan kalau ada yang salah kita 
tinggalkan.

Mohon saran antum yang lebih mengetahui
dalam hal ini, semoga Allah subhanahu wata'alaa memberikan ganjaran yang
terbaik

bagi antum.

Jazakallahu khairan,

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ananto Yuwono


Kirim email ke