Posted by: "Erwin Ardianto" [email protected]   e2_rwi_n
Tue May 25, 2010 5:39 pm (PDT)


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


2. berkaitan dengan wudhu, ana sekarang ini tinggal di tempat kost. dari
pemilik kost tidak menyediakan tempat khusus untuk berwudu sehingga kran air
yang bisa digunakan untuk wudhu jadi satu dengan kamar mandi dan WC.
bagaimana untuk bacaaan basmalah yang dibaca ketika hendak berwudhu di
tempat tersebut apakah cukup dibaca dalam hati atau bagaimana? karena di
dalam WC kan tidak diperkenankan untuk membaca kalimat Allah. mohon
penjelasannya

jazakumullah khairan katsir.

===============
ini ada jawaban untuk soal nomor 2,mdh2n bisa membantu, mungkin ikhwah yg lain 
bisa menambahkan atau melengkapi jawaban atas perntanyaan akh erwin.

"Tidak mengapa berwudhu di dalam kamar kecil apabila memang diperlukan, dan 
mengucap tasmiyyah di awal wudhu seraya mengucapkan" Bismillah" karena 
tasmiyyah wajib menurut sebagian ulama, dan dikuatkan menurut sebagian besar 
ulama, maka hendaknya dia mengucapkan tasmiyyah ini, dan hilang kemakruhannya 
karena kemakruhan bisa hilang ketika dibutuhkan tasmiyyah, dan seseorang 
diperintah untuk tasmiyyah di awal wudhu, maka hendaknya dia bertasmiyyah dan 
menyempurnakan wudhunya" (Majmu Fataawa Syeikh Abdul Aziz bin Baz 10/28)

Tanya: Assalamu'alaikum. Ustadz, ana mau tanya, bolehkah kita berwudhu di kamar 
mandi? (Indrawan Saputra)


Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin, washshalaatu wassalaamu 'alaa rasulillaah 
khairil anbiyaa'I wal mursaliin wa 'alaa 'aalihii wa shahbihii ajma'iin. Amma 
ba'du:

Boleh berwudhu di dalam kamar mandi, apabila aman dari percikan najis.
Berkata Komite Tetap Untuk Riset llmiyyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia:
إذا وضع حائل بين الماء الذي ينزل من الصنبور وبين محل النجاسة بحيث إن الماء إذا 
نزل على الأرض تكون هذه الأرض طاهرة فلا مانع من الوضوء والاستنجاء
"Apabila ada batas antara kran air dan antara tempat najisnya sehingga air 
turun ke tempat yang suci maka tidak mengapa berwudhu dan istinja' (di dalam 
kamar mandi tersebut)" (Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah 5/86)
Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullahu:
يجوز الوضوء في الحمام ولا حرج فيه ولكن ينبغي للإنسان أن يتحفظ من إصابة النجاسة 
له فإذا تحفظ من ذلك فليتوضأ في أي مكان كان
"Boleh berwudhu di kamar mandi dan tidak masalah, akan tetapi hendaknya menjaga 
diri dari ditimpa najis, apabila bisa terjaga dirinya dari najis maka silakan 
dia berwudhu dimana saja" 
(http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1637.shtml)
Beliau rahimahullahu juga berkata:

يجوز للإنسان أن يتوضأ في المكان الذي تخلى فيه من بوله أو غائطه لكن بشرط أن يأمن 
من التلوث بالنجاسة بأن يكون المكان الذي يتوضأ فيه جانباً من الحمام بعيداً عن 
مكان التخلي أو ينظف المكان الذي ينزل فيه الماء من الأعضاء في الوضوء حتى يكون 
طاهراً نظيفاً
"Boleh bagi seseorang berwudhu di tempat dia buang air kecil dan buang air 
besar, dengan syarat aman dari percikan najis, yaitu tempat wudhunya jauh dari 
tempat buang air, atau dibersihkan dahulu tempat turunnya air dari anggota 
badan sehingga menjadi bersih dan suci" 
(http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1096.shtml)


Hukum membaca dzikir di kamar mandi

Membaca dzikir di kamar mandi makruh, karena berbicara di dalam kamar mandi 
hukumnya makruh dan membaca dzikir termasuk berbicara. Demikian pula kita 
diperintahkan untuk mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah dan diantara bentuk 
pengagungan adalah berdzikir di tempat yang suci bukan di tempat yang kotor dan 
membuang hajat.
Allah ta'aalaa berfirman:
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ 
(32) [الحج/32]
"Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, 
maka sesungguhnya itu termasuk ketaqwaan hati. (QS. 22:32)"
Berkata Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma:
يكره أن يذكر الله وهو جالس على الخلاء
"Dibenci seseorang dzikrullah sedangkan dia dalam keadaan duduk di dalam 
jamban" (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/209 no: 
1227, dengan sanad yang hasan)
Abu Wa'il rahimahullahu juga berkata:
اثنان لا يذكر الله العبد فيهما إذا أتى الرجل أهله يبدأ فيسمي الله وإذا كان في 
الخلاء
"Dua keadaan dimana seorang hamba tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, 
(pertama) ketika seorang laki-laki mendatangi istrinya, maka hendaklah dia 
mulai dengan menyebut nama Allah, (kedua) apabila dia berada di jamban" 
(Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/209 no: 1229 ,dengan 
sanad yang shahih)
Abu Ishaq As-Sabii'iy rahimahullah juga berkata:
ما أحب أن أذكر الله إلا في مكان طيب
"Aku tidak senang berdzikir kepada Allah kecuali di tempat yang baik" 
(Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1236, dengan 
sanad yang shahih)
Namun kemakruhan ini bisa gugur apabila ada hajat atau keperluan, seperti 
mengucap tahmid ketika bersin, mengucap tasmiyyah sebelum wudhu. Berikut ini 
adalah sebagian ucapan salaf yang menunjukkan bolehnya berdzikir di jamban 
apabila diperlukan.
Berkata Manshur bin Mu'tamir rahimahullah:
وسألته عن الرجل يعطس على الخلاء قال يحمد الله فإنها تصعد
"Dan aku bertanya kepada Ibrahim (An-Nakha'iy) tentang seseorang yang bersin 
ketika buang air? Beliau menjawab: Hendaknya dia memuji Allah (yaitu 
mengucapkan Alhamdulillah) karena tahmid itu akan naik (Dikeluarkan oleh 
Abdurrazzaq di dalam Al-Mushannaf 2/455 no:4063, dengan sanad yang shahih, dan 
juga Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no: 1233)
Dari Sya'by rahimahullahu, beliau ditanya tentang seseorang yang bersin di 
jamban, maka beliau berkata: يحمد الله
"Hendaklah dia memuji Allah". (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam 
Al-Mushannaf 1/210 no:1232, dengan sanad yang shahih)
Dari Muhammad bin Siiriin rahimahullahu beliau berkata:لا أعلم بأسا بذكر الله
"Aku tidak memandang adanya masalah dalam dzikrullah (di jamban)" (Dikeluarkan 
oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1235, dengan sanad yang 
shahih)

Dan inilah yang difatwakan oleh sebagian ulama kita, Syeikh Abdul Aziz bin Baz 
rahimahullah berkata:
لا بأس أن يتوضأ داخل الحمام إذا دعت الحاجة إلى ذلك ، ويسمي عند أول الوضوء ، 
يقول : (بسم الله) لأن التسمية واجبة عند بعض أهل العلم ، ومتأكدة عند الأكثر ، 
فيأتي بها وتزول الكراهة لأن الكراهة تزول عند الحاجة إلى التسمية ، والإنسان 
مأمور بالتسمية عند أول الوضوء ، فيسمي ويكمل وضوؤه
"Tidak mengapa berwudhu di dalam kamar kecil apabila memang diperlukan, dan 
mengucap tasmiyyah di awal wudhu seraya mengucapkan" Bismillah" karena 
tasmiyyah wajib menurut sebagian ulama, dan dikuatkan menurut sebagian besar 
ulama, maka hendaknya dia mengucapkan tasmiyyah ini, dan hilang kemakruhannya 
karena kemakruhan bisa hilang ketika dibutuhkan tasmiyyah, dan seseorang 
diperintah untuk tasmiyyah di awal wudhu, maka hendaknya dia bertasmiyyah dan 
menyempurnakan wudhunya" (Majmu Fataawa Syeikh Abdul Aziz bin Baz 10/28)
Datang dalam Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah:
يكره أن يذكر الله تعالى نطقاً داخل الحمام الذي تقضى فيه الحاجة تنزيهاً لاسمه 
واحتراماً له لكن تشرع له التسمية عند بدء الوضوء لأنها واجبة مع الذكر عند جمع من 
أهل العلم
"Dimakruhkan dzikrullah dengan lisan di dalam jamban yang digunakan untuk buang 
hajat, sebagai penyucian dan penghormatan terhadap nama Allah, akan tetapi 
disyari'atkan tasmiyyah (membaca: bismillah) ketika di awal wudhu karena ini 
wajib ketika ketika ingat menurut sebagian ahli ilmu" (Fataawaa Al-Lajnah 
Ad-Daimah 5/94)

Melirihkan Dzikir Di Kamar Mandi

Dan yang perlu diketahui bahwasanya diantara adab berdzikir di kamar 
mandi/wc/jamban adalah memelankan suaranya.
Dari Al-Hasan Al-Bashry rahimahullah beliau berkata tentang seseorang yang 
bersin di dalam jamban: يحمد الله في نفسه
"Hendaknya dia memuji Allah dengan di dalam dirinya (yaitu pelan)" (Dikeluarkan 
oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no: 1234, dengan sanad yang 
shahih)
Dan berkata Hushain bin Abdurrahman rahimahullahu:
انتهينا إلى الشعبي وهو مغضب، فقيل له: ما لك يا أبا عمرو ؟ فقال : إن هذا المارق 
، يعني داود بن يزيد الأودي، سألني عن الرجل يعطس في الخلاء، قلت : فما تقول يا 
أبا عمرو ؟ قال : « يحمد الله في نفسه »
"Kami mendatangi Asy-Sya'by sedangkan beliau dalam keadaan marah, maka beliau 
ditanya: Ada apa wahai Abu 'Amr?
Beliau berkata: Sesungguhnya orang yang maariq ini –maksudnya Dawud bin Yazid 
Al-Audy-, telah bertanya kepadaku tentang seseorang yang bersin di tempat buang 
hajat.
Maka aku berkata: Lalu apa yang kamu katakan wahai Abu 'Amr?
Beliau menjawab: Hendaklah dia memuji Allah di dalam dirinya ( yaitu dengan 
pelan)" (Dikeluarkan oleh Al-'Uqaily dalam Adh-Dhu'afa 2/391, dengan sanad yang 
shahih)

Perkataan mereka يحمد الله في نفسه (Memuji Allah di dalam dirinya) ada 2 
kemungkinan, memuji Allah di dalam hati atau memuji Allah dengan lisan secara 
pelan, sebagaimana dijelaskan Syeikhul Islam dalam Al-Fataawaa Al-Kubraa 5/301.
Dan yang zhahir dari atsar sebagian salaf di atas –wallahu a'lam- adalah 
berdzikir dengan lisan bukan hanya dengan hatinya.
Akhir kata, tentunya lebih baik apabila seseorang di dalam rumahnya memiliki 
tempat wudhu khusus yang berada di luar kamar mandi/jamban/wc.
Wallahu a'lam.

Abdullah Roy
(www.serambimadinah.com)

Kirim email ke