AKHLAK SALAF CERMINAN AKHLAK AL-QURAN DAN AS-SUNNAH

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
http://www.almanhaj.or.id/content/868/slash/0

Barangsiapa merenungi Kitabullah dan senantiasa berhubungan dengannya,
maka akan mendapatkan kemuliaan akhlak. Dan barangsiapa yang mengkaji
sunnah-sunnah Nabi, yaitu perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dan hadits-haditsnya, akan mendapatkan dan memahami
kemuliaan akhlak dan keagungannya. Untuk itulah Allah kembali menegaskan
kemuliaan akhlak itu pada akhir Surat Al-Furqan.

Allah berfirman :
"Artinya : Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu
(ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan
apabila orang-orang yang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan
kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam
hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang
berkata : 'Ya Rabb kami, jauhkan adzab jahannam dari kami, sesungguhnya
adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal'. Sesungguhnya jahannam itu
seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan apabila
orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak
berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu)
ditengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak
menyembah Ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang
diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan
tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian ini, niscaya dia
mendapat (pembalasan) dosa (nya)". [Al-Furqan : 63-68]

Maksudnya, barangsiapa menyekutukan Allah atau membunuh jiwa dengan
tanpa alasan, atau melakukan perzinaan, maka akibat perbuatannya itu dia
akan mendapatkan dosa, yaitu siksaan yang besar. Lalu Allah
menjelaskannya dengan ayat-ayat berikut ini :

"Artinya : (Yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat
dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina". [Al-Furqan :
69]

Mereka berada dalam siksaan, kecuali :
"Artinya : Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan
amal shalih ; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan
kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan
orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia
bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya". {Al-Furqan :
70-71]

Ini semua cerminan dari akhlak Ahlul Iman laki-laki dan wanita. Kemudian
Allah melanjutkan firman-Nya :

"Artinya : Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu".
[Al-Furqan : 72]

"Laa yasyhadun" (tidak memberikan persaksian) maksudnya yaitu "la
yahdhurun" (tidak melakukan). Adapun yang dimaksud dengan "Az-Zuur"
(palsu, dusta) yaitu kebathilan dan kemungkaran dari berbagai bentuk
kemaksiatan dan kekafiran. Ahlul Iman adalah mereka mereka yang tidak
memberikan persaksian palsu, bahkan mereka adalah orang yang mengingkari
serta memeranginya.

Firman Allah
"Artinya : Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang
mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui
(saja) dengan menjaga kehormatan dirinya". [Al-Furqan : 72]

Lebih dari itu, Ahlul Iman akan menolak perbuatan yang tidak
mendatangkan faedah, sebagaimana firman Allah berikut :

"Artinya : Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat,
mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata : 'Bagi kami amal-amal
kami dan bagimu amal-amalmu..." [Al-Qashash : 55]

"Artinya : Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan
ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah mengahadapinya sebagai
orang-orang yang tuli dan buta". [Al-Furqan : 73]

Bahkan mereka mengahadapinya dengan khusyuk serta menerima sepenuhnya
terhadap Allah dan sekaligus mengagungkan-Nya. Inilah sifat mukminin dan
mukminat apabila diingatkan dengan ayat-ayat Allah mereka nampak
khusyuk dan lembut hatinya serta mengagungkan Rabbnya bahkan menangis
lantaran rasa takut kepada-Nya. Mereka melakukan itu karena mengharap
pahala dari-Nya dan takut akan siksa-Nya.

Allah berfirman :
"Artinya : Dan orang-orang yang berkata : 'Ya Rabb kami, anugrahkanlah
kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati
(kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa".
[Al-Furqan : 74].

Ini semua merupakan sifat-sifat mukminin dan mukminat, mereka adalah
Ibadurrahman (Hamba-hamba Allah) yang hakiki lagi sempurna.

Qurratul 'Ain (penyejuk mata) adalah, manakala engkau melihat
anak-anakmu, baik laki-laki atau perempuan semuanya melaksanakan amal
shalih. Kata-kata "al-walad" secara umum mencakup laki-laki dan wanita.
Anak laki-laki sering dipanggil dengan sebutan ibnu, sedang perempuan
dipanggil dengan bintu.

Demikian pula kata-kata "dzurriyah" yang mencakup laki-laki dan juga
perempuan. Hal ini sebagai mana tersebut dalam hadist :

"Artinya : Apabila anak Adam (manusia) meninggal, terputus amalnya
kecuali tiga perkara ; shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau
anak shalih yang mendo'akannya".

Anak atau al-walad, termasuk di dalamnya adalah anak laki-laki atau
perempuan, hal ini sebagaimana penjelasan di depan. Allah mempertegas
hal ini dalam firman-Nya :

"Artinya : Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan
keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)...." [Al-Furqan : 74]

Yakni, dzurriyah (generasi) yang menyejukkan pandangan mata. Hal itu
disebabkan karena kondisi anak keturunan yang taat kepada Allah dan
istiqamah di atas syari'at-Nya. Demikianlah kondisi kehidupan suami
istri, seorang suami misalnya, apabila melihat istrinya taat kepada
Allah, maka pastilah sejuk matanya (senang hatinya). Demikian pula
istri, apabila melihat suaminya taat kepada Allah tentulah senang
hatinya. Ini terjadi manakala istri adalah sosok wanita mukminah. Suami
yang shalih adalah penyejuk mata bagi istrinya, demikian pula istri
shalihah adalah penyejuk mata bagi suaminya yang mukmin. Generasi yang
baik (dzuriyatan thayyibah) adalah penyejuk mata bagi ayahnya, ibunya
dan seluruh kerabat mukminin dan mukminat.

Allah berfirman :
"Artinya : Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa".
[Al-Furqan : 74]

Imam bagi orang-orang yang bertaqwa, yakni ; imam dalam kebaikan yang
mampu membimbing manusia. Kemudian Allah menegaskan balasan yang bakal
diperoleh mereka, yaitu :

"Artinya : Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi
(dalam jannah)". [Al-Furqan : 75]

Ghurfah adalah jannah. Disebut ghurfah karena ketinggiannya, sebab ia
berada di tempat yang sangat tinggi, yaitu di atas langit dan di bawah
'Arsy. Jannah itu berada di tempat yang sangat tinggi, oleh karena itu
Allah berfirman :

"Artinya : Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang
tinggi (dalam jannah)". [Al-Furqan : 75]

Ghurfah (balasan yang tinggi) yakni, al-jannah. Hal ini diperoleh karena
kesabaran mereka (bimaa shabaruu). Maksudnya adalah kesabaran dalam
mentaati Allah, kesabaran menahan yang diharamkan Allah dan kesabaran
atas musibah yang menimpa. Ketika mereka menerima dengan sabar, maka
Allah membalasi mereka dengan al-jannah yang tinggi dan agung. Manakala
mereka sabar menunaikan kewjibannya terhadap Allah, sabar terhadap yang
diharamkan Allah, sabar menerima musibah yang memedihkan, misalnya ;
sakit, kemiskinan dan selainnya, maka Allah akan membalasi mereka dengan
sebaik-baik balasan.

Allah berfirman :
"Artinya : Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi
(dalam jannah), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan
penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya.
Jannah itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman". [Al-Furqan :
75-76]

Inilah cerminan sifat-sifat Ahlul Iman yang utuh, baik kalangan
laki-laki atau wanita. Mereka pula yang Ahlus Sa'adah wan Najah (pemilik
kemuliaan dan kesuksesan). Di dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu wa Ta'ala
banyak menyebutkan sifat-sifat mukminin dan mukminat serta akhlak
mereka yang mulia. Di antaranya sebagaimana tersebut dalam surat
Al-Baqarah, Allah berfirman :

"Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu
suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman
kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi
dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta ; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
mendirikan shalat dan menunaikan zakat ; dan orang-orang yang menepati
janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang
yang benar (imannya) ; dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa".
[Al-Baqarah : 177]

Inilah keadaan orang-orang yang bertaqwa dari baik laki-laki maupun
perempuan. Allah telah menjelaskan sifat-sifat mereka dalam ayat yang
mulia ini.

"Artinya : ..... akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman
kepada Allah ..".

Makna ayat tersebut ialah : Akan tetapi, pemilik kebajikan yaitu
orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, malaikat,
kitab-kitab, nabi-nabi. Iman kepada Allah dalam pengertian, Allah
sebagai Rabb dan Ilah yang Maha Suci lagi Maha Agung. Mereka juga
mengimani Allah sebagai tempat pengabdian yang sebenar-benarnya, bahwa
sesungguhnya Allah adalah Dzat Pencipta, dan Dzat Pemberi rezeki. Dialah
yang Maha Suci dan disifati dengan Asma'ul Husna dan sifat-sifat yang
tinggi. Tidak ada yang sebanding dengan-Nya, tidak ada tandingan
bagi-Nya. Dialah yang Maha Sempurna dalam dzat, dalam sifat-sifat, dalam
nama-nama dan dalam perbuatan-Nya. Dialah dzat yang tidak terdapat
pada-Nya kekurangan dari berbagai seginya, bahkan Dialah yang mempunyai
kesempurnaan yang mutlak dari berbagai segi.

Allah berfirman :
"Artinya : Katakanlah :'Diallah Allah, Yang Maha Esa'. Allah adalah Ilah
yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada
pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
[Al-Ikhlas : 1-4]

Beriman kepada Hari Akhir, artinya ialah ; beriman kepada hari
kebangkitan setelah kematian. Pada hari itu, dunia lenyap dan datang
berganti dengan hari akhir, yaitu Hari Kiamat. Pada hari itu, kiamat
pasti datang dan hamba-hamba Allah pasti akan dibangkitkan sebagaimana
firman-Nya :

"Artinya : Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar
akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari
kuburmu) di hari kiamat". [Al-Mukminun : 16-17]

"Artinya : Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada
keraguan padanya ; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di
dalam kubur". [Al-Hajj : 7]

Yaumul Akhir adalah, hari perhitungan dan pembalasan, jannah dan naar,
pemberian buku catatan dari sebelah kanan atau sebelah kiri, diangkatnya
timbangan dan ditimbangnya perbuatan-perbuatan. Setelah semuanya usai,
maka manusia akan menuju dua tempat, yaitu jannah atau naar. Adapun kaum
mukminin maka mereka memasuki jannah dengan rasa bahagia dan mulia.
Tetapi orang-orang kafir akan memasuki naar dengan adzab yang
menghinakan. Kita memohon keselamatan kepada Allah.

Berkenan dengan keimanan terhadap Malaikat, maka kita mengimani bahwa
Malaikat adalah makhluk yang taat kepada Allah, dia adalah pasukan Allah
dan utusan penghubung antara Allah dengan hamba-hamba-Nya dalam
menyampaikan perintah dan larangan-Nya.

Allah menjelaskan sifat Malaikat dalam firman-Nya.
"Artinya : Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan". [At-Tahrim : 6]

Allah mencipta Malaikat dari cahaya dan mereka senantiasa melaksanakan
perintah-perintah-Nya.

Allah berfirman :
"Artinya : Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah
hamba-hamba yang dimulyakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan
perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui
segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang
mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang
yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut
kepada-Nya". [Al-Anbiya' : 26-28]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman berkenan dengan mereka (malaikat) :
"Artinya : Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan". [At-Tahrim : 6]

Berkenan dengan iman kepada Al-Kitab, maka maksudnya adalah iman kepada
kitab yang diturunkan dari langit. Yang paling agung di antara kitab
yang ada adalah Al-Qur'an Al-Karim. Para Ahlul Iman mempercayai semua
kitab telah Allah turunkan kepada para nabi terdahulu. Kitab yang
terakhir, teragung, termulia adalah Al-Qur'an Al-Adzim yang diturunkan
kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Inilah konsekuensi sebagai mukminin, mereka mengimani semua para nabi
dan rasul serta membenarkannya. Nabi yang paling akhir adalah Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam, dialah penutup para nabi dan sekaligus
nabi yang paling afdhal.

Disamping itu, seorang mukmin dituntut menyedekahkan harta yang
dicintainya. Dan inilah makna firman Allah :

"Artinya : Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya ....".
[Al-Baqarah : 177]

Para ahlul iman, mereka menginfakkan harta yang dicintainya kepada
fuqara dan masakin kerabat dekat atau selainnya, berinfak di jalan
kebaikan dan jihad terhadap musuh-musuh Allah. Beginilah ahlul iman dan
kebaikan, mereka menginfakkan harta bendanya di jalan kebaikan.

Pada ayat lain Allah juga berfirman :
"Artinya : Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka
berdo'a kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka
menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka".
[As-Sajdah : 16].

"Artinya : Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah
sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.
Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian)
dari hartanya memperoleh pahala yang besar". [Al-Hadid : 7].

Pada ayat lain, yaitu Surat Al-Baqarah : 177, Allah berfirman :
"Artinya : ... dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan
pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta ; dan (memerdekakan)
hamba sahaya ....". [Al-Baqarah : 177]

Makna ayat tersebut ialah ; mereka menginfakkan harta mereka untuk
beberapa bentuk kebaikan, yaitu ; untuk kerabat dekat, anak-anak yatim,
orang-orang fakir, orang-orang miskin bukan dari kerabat dekat dari
kalangan orang-orang lemah, untuk Ibnu Sabil, yaitu orang yang melewati
negeri asing yang tidak memiliki kecukupan nafkah. Sa'ilun atau orang
yang meminta-minta, yaitu orang yang meminta-minta kepada manusia
lantaran kebutuhan yang mendesak atau karena kemiskinannya. Bisa juga
berarti peminta-minta yang belum diketahui keadaannya. Maka kepada
mereka perlu dikasih bantuan guna menutup keadaan mereka yang
kekurangan.

Allah berfirman :
"Artinya : ... memerdekakan hamba sahaya ....." [Al-Baqarah : 177]

Maknanya : Menginfakkan hartanya untuk memerdekakan hamba sahaya atau
memerdekakan budak, perempuan-perempuan, memerdekakan atau menebus para
tawanan.

Kemudian Allah berfirman :
"Artinya : ...menegakkan shalat dan membayar zakat ...."

Maknanya : Sesungguhnya orang-orang beriman itu menegakkan shalat dan
membayar zakat. Menjaga shalat tepat waktunya sebagaimana disyari'atkan
Allah dan membayar zakat sebagaimana yang diatur oleh Allah.

Allah berfirman :
"Artinya : Dan orang-orang yang memenuhi janjinya apabila berjanji".

(Yaitu apabila berjanji memenuhi janji itu dan tidak udzur terhadap
janjinya).

Kemudian Allah berfirman pula :
"Artinya : Dan orang-orang yang sabar dalam al-ba'su, adh-dhara' dan
hina al-ba'si".

Artinya sabar dalam keadaan perang.

Allah memuji mereka dalam firman-Nya :
"Artinya : Mereka itu adalah orang-orang yang benar dan mereka itu
adalah orang-orang yang bertaqwa". [Al-Baqarah : 177]

Mereka itu adalah Ahlush Shidqi (orang yang benar) karena telah
mewujudkan keimanannya dengan amal yang baik dan mewujudkan ketaqwaannya
kepada Allah Azza wa Jalla.

Disebutkan pula sifat-sifat lain dari sifat Ahlus Shidqi sebagaimana
tertera dalam Surat Al-Anfal, Al-Bara'ah dan Surat Al-Mukminun.

Allah berfirman :
"Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya". [Al-Mukminun : 1-2]

Pada tempat yang lain, Allah menyebutkan sifat-sifat orang beriman dan
kemuliaan akhlaknya. Barangsiapa mengamati Al-Qur'an Al-Karim dan
senantiasa berhubungan dengannya, niscaya akan mendapatkan sifat-sifat
tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh
dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya
mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran".[Shad : 29].

Allah berfirman :
"Artinya : Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan)
yang lebih lurus". [Al-Isra : 9]

"Artinya : Katakanlah ; 'Al-Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi
orang-orang yang beriman". [Fushilat : 44].

"Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati
mereka terkunci". [Muhammad : 24].

[Disalin dari buku Akhlaqul Mukminin wal Mukminat dengan edisi Indonesia
Akhlak Salaf Mukminn & Mukminat, oleh Syaikh Abdul Aziz bin
Abdullah bin Bazz, hal 17-27, Terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah
Ihsan]

Kirim email ke