RIYA DAN BAHAYANYA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://www.almanhaj.or.id/content/2730/slash/0

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ z قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ 
النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ 
فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: 
قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ 
ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى 
وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ 
وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: 
فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ 
فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: 
عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ 
أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ 
وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ 
بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: 
مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ 
فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ 
فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي 
النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang 
diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia 
didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan 
di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : 'Amal apakah 
yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang 
semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman : 'Engkau 
dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang 
demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan 
(malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu 
dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang 
yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan 
dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. 
Kemudian Allah menanyakannya: 'Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan 
kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, 
serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.' Allah berkata : 'Engkau 
dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan 
engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari' (pembaca al 
Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian 
diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam 
neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki 
dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya 
kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah 
bertanya : 'Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia 
menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang 
Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' 
Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya 
dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan 
(tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas 
mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” 

BAHAYA RIYA[1]
Di dalam al Qur`an dan as Sunah banyak sekali ancaman tentang bahaya riya'. 
Riya' termasuk kedurhakaan hati yang sangat berbahaya terhadap diri, amal, 
masyarakat dan umat. Dan ia juga termasuk dosa besar yang merusak. Di antara 
bahaya riya' adalah sebagai berikut :

1. Riya' Lebih Berbahaya Bagi Kaum Muslimin Daripada Fitnah Masiih Ad Dajjal. 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ 
الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ 
الرَّجُلُ يُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

"Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku 
atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,”Kami mau,” maka Rasulullah 
berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi 
(memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya". [HR 
Ibnu Majah, no. 4204, dari hadits Abu Sa'id al Khudri. Hadits ini hasan-Shahih 
at Targhib wat Tarhib, no. 30]

2. Riya' Lebih Sangat Merusak Daripada Serigala Menyergap Domba

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ 
الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَ الشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda : “Tidaklah dua ekor 
serigala yang lapar dan dilepaskan di tengah sekumpulan domba lebih merusak 
daripada ketamakan seorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya". [HSR 
Ahmad, III/456; Tirmidzi, no. 2376; Darimi, II/304, dan yang lainnya dari Ka'ab 
bin Malik].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan permisalan rusaknya agama 
seorang muslim karena tamaknya kepada harta, kemuliaan, pangkat dan kedudukan. 
Semua ini menggerakkan riya' di dalam diri seseorang.

3. Amal Shalih Akan Hilang Pengaruh Baiknya Dan Tujuannya Yang Besar Bila 
Disertai Riya'. 
Allah berfirman :

"Maka celakalah bagi orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari 
shalatnya, orang-orang yang berbuat riya' dan mencegah (menolong dengan) barang 
yang berguna". [al Ma’uun : 4-7]
.
Orang yang berbuat riya' dan tidak mau menolong orang lain, karena shalat 
mereka tidak mempunyai pengaruh dalam hati mereka, sehingga mencegah kebaikan 
dari hamba-hamba Allah. Mereka hanyalah menunaikan gerakan-gerakan shalat dan 
memperindahnya, karena semua mata memandangnya, padahal hati mereka tidak 
memahami, tidak tahu hakikatnya dan tidak mengagungkan Allah. Karena itu, 
shalat mereka tidak berpengaruh terhadap hati dan amal. Riya' menjadikan amal 
itu kosong tidak ada nilainya.

4. Riya' Akan Menghapus Dan Membatalkan Amal Shalih. 
Allah berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu 
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang 
yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan tidak beriman kepada 
Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di 
atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan ia 
bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang 
mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunujuk kepada orang-orang kafir". 
[al Baqarah : 264].

Hati yang tertutup riya' ibarat batu licin yang tertutup tanah. Orang yang 
berbuat riya' tidak akan membuahkan kebaikan, bahkan ia telah berbuat dosa yang 
akan dia peroleh akibatnya pada hari Kiamat. Riya' menghapuskan amal shalih, 
dan seseorang tidak mendapatkan apa-apa karenanya di akhirat nanti dari 
amal-amal yang pernah ia lakukan di dunia. Sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa sallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ ، 
يَقُوْلُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ : 
اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُوْنَ فِيْ الدُّنْيَا ، فَانْظُرُوْا 
هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزاَءً ؟!

"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu 
riya'. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan 
balasan atas amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat 
riya' kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi 
mereka?" [HR Ahmad, V/428-429 dan al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, XIV/324, no. 
4135 dari Mahmud bin Labid. Lihat Silsilah Ahaadits Shahiihah, no. 951]

Pelaku riya' akan memamerkan amalnya agar dipuji, disanjung dan mendapatkan 
kedudukan di hati manusia. Dia tidak akan mendapat ganjaran kebaikan dari 
Allah, dan tidak pula dari orang-orang yang memujinya, karena yang berhak 
memberi balasan hanya Allah saja. Allah berfirman dalam hadits Qudsi : 

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ 
مَعِيْ غَيْرِيْ ، تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ

"Aku adalah sekutu yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik. 
Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik 
kepadaKu, maka Aku tinggalkan dia dan (Aku tidak terima) amal kesyirikannya" 
[HR Muslim, no. 2985 dan Ibnu Majah, no. 4202 dari sahabat Abu Hurairah)]

5. Riya' Adalah Syirik Khafi (Tersembunyi).
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ 
الدَّجَّالِ ، قَالَ قُلْنَا بَلَى ، فَقَالَ : الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ 
يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ 
رَجُلٍ

"Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku 
atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,“Kami mau,” maka Rasulullah 
berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu ia menghiasi 
(memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya".[HR 
Ibnu Majah, no. 4204, dari hadits Abu Sa'id al Khudri, hadits ini hasan-Shahih 
Ibnu Majah, no. 3389] 

6. Riya' Mewariskan Kehinaan Dan Kerendahan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ سَمَّعَ النَّاسَ بِعَمَلِهِ ، سَمَّعَ اللهُ بِهِ مَسَامِعَ خَلْقِهِ ، 
وَصَغَّرَهُ وَحَقَّرَهُ

"Barangsiapa memperdengarkan amalnya kepada orang lain (agar orang tahu 
amalnya), maka Allah akan menyiarkan aibnya di telinga-telinga hambaNya, Allah 
rendahkan dia dan menghinakannya". [HR Thabrani dalam al Mu’jamul Kabiir; al 
Baihaqi dan Ahmad, no. 6509. Dishahihkan oleh Ahmad Muhammad Syakir. Lihat 
Shahiih at Targhiib wat Tarhiib, I/117, no. 25].

7. Pelaku Riya' Tidak Akan Mendapatkan Ganjaran Di Akhirat.
Dari Ubay bin Ka'ab, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bersabda:

بَشِّرْ هَذِهِ الأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ ، وَالدِّيْنِ ، وَ 
النَّصْرِ ، وَ التَّمْكِيْنِ فِي الأَرْضِ ، فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ 
الأَخِرَةِ لِلدُّنْيَا ، لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الأَخِرَةِ نَصِيْبٌ

"Sampaikan kabar gembira kepada umat ini dengan keluhuran, kedudukan yang 
tinggi (keunggulan), agama, pertolongan dan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa 
di antara mereka melakukan amal akhirat untuk dunia, maka dia tidak akan 
mendapatkan bagian di akhirat". [HR Ahmad, V/134; dan Hakim, IV/318. Shahih, 
lihat Shahih Jami’ush Shaghiir, no. 2825]

8. Riya' Akan Menambah Kesesatan Seseorang.
Allah Ta'ala berfirman :

"Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya 
menipu diri mereka sendiri sedangkan mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada 
penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih 
disebabkan mereka berdusta". [al Baqarah : 9-10].

9. Riya' Merupakan Sebab Kekalahan Ummat Islam.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَ 
صَلاَتِهِمْ , وَ إِخْلاَصِهِمْ

"Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan orang-orang yang lemah, yaitu 
dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka" [HSR an Nasa-i, VI/45, dari Mush’ab 
bin Sa’ad bin Abi Waqqash][2]

Ikhlas karena Allah menjadi sebab ditolongnya umat ini dari musuh-musuh mereka. 
Allah melarang kita keluar berperang dengan sombong dan riya', karena hal ini 
akan membawa kepada kekalahan. Allah berfirman :

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya 
dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi 
(orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan". 
[al Anfaal : 47].

BEBERAPA PERKARA YANG TIDAK TERMASUK RIYA'[3]
Ada beberapa perkara yang disangka oleh sebagian orang sebagai perbuatan riya', 
padahal sesungguhnya tidak demikian. Perkara-perkara tersebut adalah.

1. Pujian Manusia Atas Seorang Hamba Atas Amal Baik Yang Ia Lakukan Tetapi 
Bukan Tujuannya Ingin Dipuji.

Apabila seseorang mengamalkan sesuatu perbuatan dengan ikhlas dan sampai 
selesai amal itu pun dilakukan dengan ikhlas, kemudian ada yang mengetahui amal 
tersebut lalu memujinya, namun ia tidak menghendaki yang demikian itu, maka hal 
itu tidak termasuk riya'. Seperti dalam hadits Abu Dzar:

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ ، قَالَ : قِيْلَ لِرَسُولِ اللهِ : أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ 
يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ ، وَ يَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ ؟ قَالَ: 
تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Ya Rasulullah, bagaimana 
pendapat engkau tentang seseorang yang mengerjakan satu amal kebaikan, lalu 
orang memujinya?” Beliau menjawab,”Itu merupakan kabar gembira bagi orang 
mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia." [HSR Muslim, 2642; Ibnu Majah, 
no. 4225 dan Ahmad, V/156, 157; dari sahabat Abu Dzar].

Namun ia tidak berlaku 'ujub, dan tidak pula sengaja agar orang mengetahui 
kebaikannya.

2. Giatnya Seorang Hamba Dalam Berbuat Kebaikan Ketika Ada Orang Yang 
Melihatnya Dan Ketika Menemani Orang-Orang Yang Ikhlas Dan Orang Shalih. 

Ibnu Qudamah al Maqdisi rahimahullah (wafat tahun 689 H) menjelaskan dalam 
kitabnya, Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 288: "Adakalanya seseorang berada 
di tengah orang-orang yang tekun beribadah. Ia melakukan shalat hampir sebagian 
besar malam karena kebiasaan mereka adalah bangun malam. Dia pun mengikuti 
mereka melaksanakan shalat dan puasa. Andaikata mereka tidak melaksanakan 
shalat malam, maka iapun tidak tergugah untuk melakukan kegiatan itu. Mungkin 
ada yang menganggap bahwa kegiatan orang itu termasuk riya', padahal tidak 
demikian sebenarnya, bahkan hal itu perlu dirinci. Setiap orang mukmin tentunya 
ingin banyak beribadah kepada Allah, tetapi kadang-kadang ada satu dua hal yang 
menghambat atau yang melalaikannya. Maka boleh jadi dengan melihat orang lain 
yang aktif dalam melakukan kegiatan ibadah, membuatnya mampu menyingkirkan 
hambatan dan kelalaian itu. Bila seseorang berada di rumahnya, lebih mudah 
baginya untuk tidur di atas kasur yang empuk dan bercumbu dengan istrinya. 
Tetapi bila dia berada di tempat yang jauh, ia tidak disibukkan oleh hal-hal 
itu. Kemudian ada beberapa faktor pendorong yang membangkitkannya untuk berbuat 
kebajikan, di antaranya keberadaannya di tengah orang yang beribadah atau 
disaksikan oleh mereka. Boleh jadi dia merasa berat berpuasa ketika berada di 
rumah, karena di dalamnya ada banyak makanan. Dalam keadaaan seperti itu, setan 
terus menggoda untuk menghalanginya dari ketaatan sambil berkata ‘jika engkau 
berbuat di luar kebiasannmu, berarti engkau adalah orang yang berbuat riya',’ 
maka dia tidak boleh memperdulikan bisikan setan ini. Dia harus melihat pada 
tujuan batinnya dan jangan sekali-sekali ia menoleh kepada bisikan setan”.

3. Menyembunyikan Dosa
Wajib bagi seorang mukmin atas mukmin lainnya, apabila berbuat suatu kesalahan, 
hendaklah ia tutupi dan jangan ia tampakkan dosanya. Kemudian ia wajib segera 
bertobat kepada Allah. Karena, menceritakan maksiat yang telah terlanjur 
dilakukan, berarti menyiarkan kekejian di antara kaum mukminin dan akan membuat 
dia meremehkan batas-batas Allah. Allah berfirman :

"Sesungguhnya orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu 
disiarkan di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di 
dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui". [an 
Nuur : 19].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافىً إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ ، وَ إِنَّ مِنَ الْمُجَاهِرَةِ 
أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَ قَدْ سَتَرَهُ 
اللهُ فَيَقُوْلَ : يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كذَا وَ كَذَا ، وَقَدْ 
بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَ يُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

"Setiap umatku akan dimaafkan, kecuali orang-orang yang terang-terangan. 
Sesungguhnya termasuk terang-terangan ialah, jika seseorang melakukan suatu 
amal (dosa) pada malam hari, kemudian pagi harinya ia bercerita. Padahal pada 
malamnya Allah sudah menutupi dosanya. Ia katakana, hai Fulan, tadi malam aku 
berbuat begini dan begitu, padahal malam itu Allah sudah menutupi dosanya, 
namun pagi harinya ia justru menyingkap tutupan Allah pada dirinya". [HSR 
Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990 dari Abu Hurairah].

4. Mengenakan Pakaian Indah Dan Bagus 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ 
،قَالَ رَجُلٌ : إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُوْنَ ثَوْبُهُ حَسَناً وَ 
نَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ : إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ ، الْكِبْرُ 
بَطَرُ الْحَقِّ وَ غَمْطُ النَّاسِ

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat 
dzarrah (biji atom)”. Seseorang berkata: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki 
yang menyukai pakaiannya bagus dan sandalnya bagus,” Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam berkata,”Sesungguhnya Allah indah dan menyukai keindahan; 
sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia". [HR Muslim, no. 91; 
Abu Dawud, no. 4091; at Tirmidzi, no. 1999 dan al Baghawi, no. 3587 dari hadits 
Abdullah bin Mas’ud].

5. Menampakkan Syiar-Syiar Agama Islam
Di dalam Islam ada beberapa ibadah yang tidak mungkin disembunyikan dalam 
pelaksanaannya, seperti haji, umrah, shalat Jum’at, shalat berjama'ah yang lima 
waktu dan lainnya. 

Seorang muslim tidak dikatakan berbuat riya', bila ia menampakkan amal-amal 
ini. Karena termasuk amal-amal yang wajib ditampakkan dan dimasyhurkan serta 
melaksanakannya adalah termasuk syiar-syiar Islam. Orang yang meninggalkannya 
akan terkena celaan dan kutukan. Akan tetapi, jika amal-amal ibadah sunnah, 
hendaknya disembunyikan, karena tidak tercela bagi orang yang meninggalkannya. 
Tetapi jika ia menampakkan amal itu dengan tujuan supaya orang lain mengikuti 
sunnah itu, maka hal itu adalah baik. Sesungguhnya yang dikatakan riya', yaitu 
apabila tujuannya menampakkan amal tersebut supaya dilihat, dipuji dan 
disanjung manusia. 

Insya Allah bersambung ……

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183, Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Ar Riya' , hlm. 39-52. 
[2]. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, no. 2896 dan lainnya tanpa 
menyebutkan lafazh ikhlas. Lihat Shahih at Targhib wat Tarhiib (I/105 no. 6). 
Hadits ini terdapat syahidnya dari Abu Darda’, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan 
an Nasa-i (VI/45), Fathul Bari (VI/89).
[3]. Ar Riya', hlm. 53-59.                                        
_________________________________________________________________
New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.
http://windows.microsoft.com/shop

Kirim email ke