OBAT PENYAKIT RIYA' [1]

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas 
http://www.almanhaj.or.id/content/2731/slash/0

Bila diketahui bahwa riya' itu dapat menggugurkan pahala amal sekaligus 
merusaknya dan mendatangkan kemurkaan Allah, maka harus ada usaha yang serius 
untuk mengenyahkannya. Mengobati penyakit riya' terdiri dari ilmu dan amal. 
Rasanya memang pahit, tetapi hasilnya lebih manis daripada madu. Obat tersebut 
adalah : 

a. Mengetahui Macam-Macam Tauhid Yang Mengandung Kebesaran Allah Ta'ala (Tauhid 
Rububiyyah, Uluhiyyah Dan Asma' Wa Shifat).[2]

Mempelajari Tauhid Asma` wa Shifat akan membersihkan hati yang lemah. Apabila 
seorang hamba mengetahui bahwa Allah saja yang dapat memberikan manfaat dan 
mudharat, maka ia akan menghilangkan rasa takut kepada manusia. Setan memang 
selalu menghiasi ibadahnya di hadapan mereka dan menjadikannya takut dicela dan 
ingin disanjung. Demikian pula apabila ia mengetahui bahwa Allah as Sami' (Maha 
Mendengar) dan al Bashir (Maha Melihat), Dia mengetahui mata yang khianat yang 
tersembunyi di dalam dada, maka ia akan mencampakkan semua pandangan manusia. 
Dia akan taat kepada Allah seolah-olah ia melihatNya, Allah pasti akan 
melihatnya. Dengan demikian riya' ini akan lenyap dari dirinya.

b. Mengetahui Apa Yang Allah Sediakan Di Akhirat Berupa Kenikmatan Yang Abadi 
Dan Adzab Yang Pedih. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Katakanlah : “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, 
diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Rabb Yang Maha Esa. 
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia megerjakan 
amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah 
kepada Rabb-nya". [al Kahfi : 110]. 

Apabila seorang hamba memahami apa yang Allah sediakan bagi orang yang bertakwa 
dari surga, maka dia akan meremehkan kelezatan dunia yang sementara ini. 
Termasuk di dalamnya pujian dan sanjungan manusia. Dan apabila seorang hamba 
mengetahui apa yang Allah sediakan bagi orang yang berlaku riya’ di neraka, 
maka ia akan berlindung kepada Allah dan tidak takut celaan manusia. Orang yang 
ia perlihatkan amalnya, tidak akan mampu menolong sesuatu yang datang dari 
Allah pada hari Kiamat.

c. Hendaklah Takut Terhadap Perbuatan Riya’
Bila seseorang merasa takut dengan perbuatan ini, ia akan selalu berhati-hati. 
Bila bergejolak penyakit ingin dipuji dan disanjung, ia akan mengingatkan 
dirinya tentang bahaya riya' dan kemurkaan Allah yang akan ia peroleh. 
Hendaklah ia senantiasa mempelajari pintu masuk serta halusnya riya' , sehingga 
ia benar-benar selamat darinya.

d. Menjauhkan Diri Dari Celaan Dan Murka Allah.
Di antara sebab-sebab riya' adalah takut terhadap celaan manusia. Tetapi orang 
yang berakal akan mengetahui, bahwa takut terhadap celaan atau murka Allah 
adalah lebih utama. Hendaklah ia mengetahui, bahwa takut terhadap celaan Allah 
adalah dengan mendekatkan diri kepadaNya. Allah akan melindunginya dari 
manu¬sia yang tidak dapat memberikan manfaat kepadanya. 

e. Memahami Kedudukan Sebagai Hamba Allah.
Hendaklah seseorang mengetahui secara yakin, bahwa dirinya seorang hamba yang 
tidak berhak menuntut upah dalam beribadah kepada Allah. Dia mentauhidkan Allah 
karena merupakan tuntutan ibadah, sehingga ia tidak berhak menuntut hak. Adapun 
pahala yang ia peroleh dari Allah adalah merupakan perbuatan ihsan (baik) 
kepadaNya. Maka, ia hanya berharap pahala dari Allah, bukan dari manusia. Yang 
berhak memberikan pahala hanya Allah. Karena itu, seorang hamba wajib beribadah 
semata-mata karena Allah.

f. Mengetahui Hal-Hal Yang Dapat Membuat Setan Lari.
Setan adalah musuh manusia. Dia merupakan sumber riya’, bibit dari setiap 
bencana. Setan selalu ada pada setiap waktu, dalam semua kehidupan manusia, dan 
senantiasa mengirimkan pasukannya untuk menghancurkan benteng pertahanan 
ma¬nusia. Dia menghasung pasukannya yang terdiri dari pasukan berkuda dan 
berjalan kaki. Dia selalu memberikan angan-angan, menjanjikan segala sesuatu. 
Namun sebenarnya apa yang dijanjikan setan, semuanya hanyalah tipuan belaka. 
Dia menghiasi perbuatan yang mungkar sehingga menjadi seolah-olah perbuatan 
baik. Hakikat ini harus diketahui oleh setiap muslim, agar ia selamat dari 
riya'. Dia juga harus menjaga beberapa hal yang dapat mengalahkan setan. 

Ada beberapa amalan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang apabila 
diamalkan, maka setan akan lari. Di antaranya adalah dzikir kepada Allah dengan 
dzikir yang disyariatkan, membaca al Qur`an, membaca isti‘adzah (berlindung 
dari godaan setan yang terkutuk), membaca bismillah ketika masuk dan keluar 
rumah, membaca doa ketika masuk dan keluar WC, membaca doa ketika bersetubuh. 
Setan juga lari ketika mendengar seruan adzan, dibacakan surat al Baqarah, ayat 
Kursi, sujud tilawah, dibacakan surat al Falaq, an Naas dan lain-lain.

g. Menyembunyikan amal 
Orang yang berbuat ikhlas akan senantiasa takut pada riya'. Oleh karena itu ia 
akan bersungguh-sungguh melawan tipu daya manusia dan memalingkan padangan 
mereka agar tidak memperhatikan amal-amal shalihnya. Dia akan berupaya keras 
meyembunyikan amalnya, dengan harapan, supaya ikhlas amalnya, dan agar Allah 
membalas pada hari Kiamat dengan keikhlasannya. Memang pada awalnya berat, 
tetapi jika sabar, Allah pasti akan menolongnya. 
Rasulullah n bersabda :

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

"Sesungguhnya Allah mencintai hambaNya yang takwa, yang selalu merasa cukup dan 
yang merahasiakan (ibadahnya)". [HSR Muslim, no. 2965 dan al Baghawi, XV/21-22 
no. 4228 dari Sa'ad bin Abi Waqash]

h. Tidak Peduli Dengan Celaan Dan Pujian Manusia.
Banyak orang binasa karena takut celaan manusia, senang dipuji, hingga tindak- 
tanduknya menuruti keridhaan manusia, mengharapkan pujian dan takut terhadap 
celaan mereka. Padahal yang seharusnya diperhatikan adalah, hendaknya kita 
bergembira dengan keutamaan dan rahmat dari Allah, bukan dengan pujian manusia. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka 
bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik dari apa yang 
mereka kumpulkan". [Yunus : 58].

Demikian pula kita harus melihat orang yang mencela dan memfitnah kita. Apabila 
ia benar dan memang untuk menasihati kita, maka kita tidak perlu marah. Karena 
dia telah menunjuki aib kita dan mengingatkan kita dari kesalahan-kesalahan 
yang kita lakukan. Seandainya ia berbohong kepada kita dan mengada-ada terhadap 
kesalahan tersebut dan mencelanya, maka kita harus memikirkan tiga perkara:

1. Jika kita bersih dari kesalahan itu, maka kita tidak lepas dari aib atau 
kesalahan yang lain. Karena sesungguhnya manusia banyak berbuat salah dan 
banyak sekali aib kita yang Allah tutupi. Ingatlah nikmat Allah, karena si 
pencela tidak mengetahui aib yang lain dan tolaklah dengan cara yang baik. 
2. Sesungguhnya membuat-buat berita untuk mencela kita dan memfitnah, semua ini 
adalah penghapus dosa kita, jika kita sabar dan mengharapkan pahala dari Allah. 
3. Orang yang mencela dan memfit¬nah kita akan mendapat kemurkaan dari Allah. 
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, Kemudian dituduhkannya 
kepada orang yang tidak bersalah, Maka Sesungguhnya ia telah berbuat suatu 
kebohongan dan dosa yang nyata" [an Nisaa` : 112].

Kita harus berusaha untuk memaafkannya, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala cinta 
kepada orang-orang yang suka memaafkan. Seorang muslim harus ingat, bahwa tidak 
ada artinya pujian manusia, bila hal itu menimbulkan kemurkaan Allah. Pujian 
mereka tidak pula membuat kaya dan berumur panjang. Begitu pula celaan mereka 
ketika kita meninggalkan sesuatu. Celaan mereka tidak membuat kita berada dalam 
bahaya dan tidak pula memendekkan umur kita, serta tidak menangguhkan rezeki. 
Semua manusia adalah lemah, tidak berkuasa terhadap manfaat dan mudharat 
dirinya, tidak berkuasa terhadap hidup dan matinya serta tempat kembalinya. 
Jika ia menyadari hal itu, tentu dia akan melepaskan kesenangannya pada riya'. 
Lalu menghadap kepada Allah dengan hatinya. Sesungguhnya orang-orang yang 
berakal tidak menyukai apa-apa yang berbahaya bagi dirinya dan yang sedikit 
manfaatnya.

i. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Mengajarkan Kepada Kita Do’a Yang 
Dapat Menghilangkan Syirik Besar Dan Kecil (Riya’).
Dari Abu Ali, seorang yang berasal dari Bani Kahil, berkata: Abu Musa al 
Asy'ari berkhutbah di hadapan kami seraya berkata: “Wahai sekalian manusia. 
Takutlah kalian kepada syirik ini, karena ia lebih halus daripada rayapan 
semut”. Kemudian Abdullah bin Hazan dan Qais bin al Mudlarib mendatangi Abu 
Musa seraya berkata: “Demi Allah, engkau harus menguraikan apa yang engkau 
katakan atau kami akan mendatangi Umar, baik kami diizinkan atau tidak,” lalu 
Abu Musa berkata: “Kalau begitu, aku akan menguraikan apa yang aku katakan. 
Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkhutbah di 
hadapan kami seraya bersabda: ‘Wahai sekalian manusia, takutlah pada syirik 
ini, karena ia lebih halus daripada rayapan semut’. Kemudian orang yang 
dikehendaki Allah bertanya kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : 
‘Bagaimana kami bisa menghindarinya, sedangkan ia lebih halus dari rayapan 
semut, ya Rasulullah?’ Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,’Ucapkanlah

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئاً نَعْلَمُهُ وَ 
نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ

"Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari mempersekutukanMu dengan 
sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan kepadaMu dari apa yang kami 
tidak ketahui". [HSR Ahmad IV/403 dan ath Thabrani, isnad dan perawi-perawinya 
tsiqah (terpercaya) selain Abi Ali, karena sesungguhnya ia tidak dianggap 
tsiqah, kecuali oleh Ibnu Hibban. Hadits ini hasan, lihat Shahih Targhib wat 
Tarhib, no. 36]

j. Berteman Dengan Orang Ikhlas, Shalih Dan Bertakwa. 
Di antara faktor yang dapat mendorong berbuat ikhlas ialah berteman dengan 
orang-orang yang ikhlas, agar kita dapat mengikuti jejak dan tingkah laku 
mereka yang baik. Dan kita harus waspada kepada orang-orang yang riya', yang 
akan membawa kepada kebinasaan.

FAIDAH DAN PELAJARAN DARI HADITS INI 
1. Sangat keras haramnya riya'. 
2. Syirik dibagi dua, yakni syirik akbar dan syirik ashgar. 
3. Riya' termasuk syirik kecil. 
4. Dosa syirik kecil lebih besar daripada dosa besar lainnya. 
5. Riya' lebih halus daripada rayapan semut. 
6. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat khawatir bila umatnya melakukan 
riya'. 
7. Rasulullah n sangat sayang kepada umatnya. (Lihat at Taubah : 128). 
8. Beramal dengan riya' adalah ciri-ciri orang munafiq (an Nisaa` : 142). 
9. Allah sangat murka kepada orang-orang yang berbuat riya'. 
10. Allah Maha Kaya dan tidak butuh kepada hambaNya
11. Allah tidak ridha jika dalam ibadah yang semestinya ditujukan hanya 
kepadaNya, lalu Dia dipersekutukan dengan makhlukNya. 
12. Amal yang dilakukan dengan riya’ akan dibatalkan oleh Allah dan tidak 
diberi pahala.
13. Neraka dipanaskan pertama kali untuk orang-orang yang berbuat riya’. 
14. Orang yang berbuat riya' akan dihinakan dengan diseret wajahnya dan 
dilemparkan ke neraka. 
15. Orang yang beramal dengan riya' mengambil pahala di dunia dari manusia, 
yaitu berupa pujian dan sanjungan. 
16. Orang yang berbuat riya', pada hari Kiamat tidak mendapatkan pahala, 
melainkan siksa yang sesuai dengan amal mereka. 
17. Riya' ada bermacam-macam, ada yang jelas dan ada yang tersembunyi. 
18. Wajib bagi setiap muslim berhati-hati dari riya', sum'ah dan 'ujub. 
19. Manusia senantiasa digoda oleh setan hingga merusak keikhlasannya. Dan 
setan berjalan di dalam tubuh anak Adam seperti aliran darah. 
20. Wajib ikhlas karena Allah dalam mengerjakan seluruh amal. 
21. Seseorang tidak boleh meninggalkan amal yang wajib atau sunah yang rutin 
karena takut riya'. 
22. Amal yang dilakukan dengan ikhlas, lalu mendapatkan pujian tidak termasuk 
riya'. 
23. Penetapan bahwa Allah berkata atau bercakap-cakap menurut kehendakNya. 
24. Selalu berdoa agar dijauhkan dari riya'. 

Wallahu a'lam.

Maraji':
1. Tafsir Ibnu Katsir, Cet. Maktabah Daarus Salaam, Th. 1413 H.
2. Tafsir Qurthubi, Cet. Daarul Kutub al Ilmiyyah, Th. 1420 H
3. Kutubus Sittah 
4. Musnad Imam Ahmad 
5. Sunan ad Darimi
6. Shahih Ibnu Khuzaimah 
7. Mawariduz Zham’an 
8. Mustadrak Hakim.
9. Syarah Muslim oleh Imam an Nawawi dan Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari oleh 
Ibnu Hajar al Asqalani.
10. Syarah Sunnah Imam al Baghawi
11. Riyadhush Shalihin, oleh Imam an Nawawi.
12. Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhush Shalihin, Juz III, oleh Salim bin Id al 
Hilali, Cet. I, Daar Ibnu Jauzy, Th. 1415 H.
13. Syarah Arbain oleh Imam an Nawawi.
14. Shahih at Targhib wat Tarhib, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani.
15. Shahih Jami'ush Shaghir, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani.
16. Shahih Sunan an Nasa-i, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani.
17. Mukhtashar Minhajil Qashidin, oleh Ibnu Qudamah al Maqdisi, tahqiq Syaikh 
Ali Hasan bin Ali bin Abdul Hamid, Cet II, Daar Ammar, Th. 1415H.
18. Majmu' Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
19. Maqashidul Mukallafiin, 2 –al Ikhlas-, Dr. Umar Sulaiman al Asyqar, Cet. 
III, Daarun Nafais, Th. 1415 H.
20. Ar Riya', Dzammuhu wa Atsaruhu as Sayi’ fil Ummah, Salim bin 'Id al Hilali, 
Cet II, Dar Ibnu Jauzi, Th. 1413 H.
21. Al Ikhlas, Husain al 'Awayisyah, Cet. VII, Maktabah al Islamiyah, Th. 1413 
H.
22 .Al Ikhlas wa Syirkul Ashghar, Abdul Aziz Abdul Lathif, Cet. I, 1412 H.
23. Al Kaba-ir, Imam adz Dzahabi, hlm. 212, Tahqiq Abu Khalid al Husein bin 
Muhammad as Sa'idi, Cet. Darul Fikr.
24. Kitabut Tauhid, Muhammad bin Abdul Wahhab.
25. Al Qaulul Mufid 'ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih al 
'Utsaimin, Darul Ashimah.
26. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, oleh Penulis, hlm. 84-96, Cet II 
Pustaka at Takwa, April 2005.
27. Taujihat Nabawiyah 'ala Thariq, Dr. Sayyid Muhammad Nuh, Cet. Darul Wafa'.
28. Mu’jamul Wasith
29. Dan lain-lainnya

Ditulis tanggal 4 Ramadhan 1426H / 8 Oktober 2005M

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183, Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Diringkas dari ar Riya', hlm. 61-72; al Ikhlas, hlm. 67-102 oleh Syaikh 
Husain al ‘Awayisyah; al Ikhlas wa Syirkul Ashghar, hlm. 13-17 oleh Syaikh 
Abdul Aziz Abdul Latif.
[2]. Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah 
Subhanahu wa Ta'ala, baik mencipta, memberi rizki menghidupkan dan mematikan 
serta bahwasanya Dia adalah Raja, Penguasa dan Yang mengatur segala sesuatu. 
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ 
أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ 
حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَلَهُ 
الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ 

"Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, 
Rabb semesta alam". [al A’raaf : 54]

Tauhid Uluhiyah, artinya, mengesakan Allah l melalui segala pekerjaan hamba, 
yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa 
Ta'ala apabila hal itu disyari’atkan olehNya, seperti berdoa, khauf (takut), 
raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah 
(minta pertolongan), isthighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah 
(meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan 
Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. 
Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan 
ikhlas karenaNya. Dan tidak boleh ibadah tersebut dipalingkan kepada selain 
Allah. [al Jiin : 18].

Sungguh Allah tidak akan ridha bila dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Bila 
ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada 
syirkun akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya. [Lihat an Nisaa` 
: 48, 116].

Tauhid Asma ‘ Wa Shifat, maksudnya adalah menetapkan apa-apa yang Allah Azza wa 
Jalla dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam telah tetapkan atas diriNya, 
baik itu dengan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan 
mensucikanNya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah 
disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa 
sallam. Kita wajib menetapkan Sifat Allah sebagaimana yang terdapat di dalam al 
Qur`an dan as Sunnah dan tidak boleh dita’wil. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala 
: 

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya. Dan Dia-lah Yang Maha mendengar 
lagi Maha melihat". [asy Syuura’: 11].

Lihat keterangan selengkapnya di dalam kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal 
Jama’ah oleh penulis, hlm. 84-96, Cet. II, Pustaka at Taqwa, April 2005.

[3]. Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhush Shalihin, Iqadhul Himam min Jami'il 
'Ulum wal Hikam, al Kabair, Fiqhul Islam dan Taudhihul Ahkam Syarah Bulughul 
Maram, al Qaulul Mufid 'ala Kitabit Tauhid.
[4]. Perbedaan 'syirik akbar dan syirik ashgar (kecil):
• Syirik akbar menghapuskan seluruh amal. Sedangkan syirik ashghar hanya 
menghapuskan amal yang disertai riya' 
• Syirik akbar mengakibatkap pelakunya kekal di dalam neraka, sedangkan syirik 
ashghar tidak sampai demikian. 
• Syirik akbar menjadikan pelakunya keluar dari Islam, sedangkan syirik ashghar 
tidak menyebabkan keluar dari Islam.
(Aqidatut Tauhid, oleh Dr. Shalih Fauzan, hlm. 80).                             
          
_________________________________________________________________
New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.
http://windows.microsoft.com/shop

Kirim email ke