KEUTAMAAN PUASA RAMADHAN
Oleh
Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
http://www.almanhaj.or.id/content/1069/slash/0


Ramadhan adalah bulan kebaikan dan barokah, Allah memberkahinya dengan banyak 
keutamaan sebagaimana dalam penjelasan berikut ini.


[1]. Bulan Al-Qur'an
Allah menurunkan kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk bagi manusia, obat bagi 
kaum mukminin, membimbing kepada yang lebih lurus, menjelaskan jalan petunjuk. 
(Al-Qur'an) diturunkan pada malam Lailatul Qadar, suatu malam di bulan 
Ramadhan. Allah berfirman.

"Artinya : (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang 
di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan 
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan 
yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat 
tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan 
barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah 
baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang 
lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran 
bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu 
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu 
bersyukur" [Al-Baqarah : 185]

Ketahuilah saudaraku -mudah-mudahan Allah meberkatimu- sesungguhnya sifat bulan 
Ramadhan adalah sebagai bulan yang diturunkan padanya Al-Qur'an, dan kalimat 
sesudahnya dengan huruf (fa) yang menyatakan illat dan sebab : "Barangsiapa 
yang melihatnya hendaklah berpuasa" Memberikan isyarat illat (penjelas sebab) 
yakni sebab dipilihnya Ramadhan adalah karena bulan tersebut adalah bulan yang 
diturunkan padanya Al-Qur'an.

[2]. Dibelengunya Syaithan, Ditutupnya Pintu-Pintu Neraka dan Dibukanya 
Pintu-Pintu Surga
Pada bulan ini kejelekan menjadi sedikit, karena dibelenggu dan diikatnya 
jin-jin jahat dengan salasil (rantai), belenggu dan ashfad. Mereka tidak bisa 
bebas merusak manusia sebagaimana bebasnya di bulan yang lain, karena kaum 
muslimin sibuk dengan puasa hingga hancurlah syahwat, dan juga karena bacaan 
Al-Qur'an serta seluruh ibadah yang mengatur dan mebersihkan jiwa. Allah 
berfirman.

"Artinya : Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas 
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" [Al-Baqarah : 183]

Maka dari itu ditutupnya pintu-pintu jahannam dan dibukanya pintu-pintu surga, 
(disebabkan) karena (pada bulan itu) amal-amal shaleh banyak dilakukan dan 
ucapan-ucapan yang baik berlimpah ruah (yakni ucapan-ucapan yang mengandung 
kebaikan banyak dilafadzkan oleh kaum mukminin-ed).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Jika datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga [dalam 
riwayat Muslim : 'Dibukalah pintu-pintu rahmat"] dan ditutup pintu-pintu neraka 
dan dibelenggu syetan" [Hadits Riwayat Bukhari 4/97 dan Muslim 1079]

Semuanya itu sempurna di awal bulan Ramadhan yang diberkahi, berdasarkan sabda 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Jika telah datang awal malam bulan Ramadhan, diikatlah para syetan 
dan jin-jin yang jahat, ditutup pintu-pintu neraka, tidak ada satu pintu-pintu 
yang dibuka dan dibukalah pintu-pintu surga, tidak ada satu pintu-pun yang 
tertutup, berseru seorang penyeru ; "Wahai orang yang ingin kebaikan 
lakukanlah, wahai orang yang ingin kejelekan kurangilah. Dan bagi Allah 
mempunyai orang-orang yang dibebaskan dari neraka, itu terjadi pada setiap 
malam" [Diriwayatkan oleh Tirmidzi 682 dan Ibnu Khuzaimah 3/188 dari jalan Abi 
Bakar bin Ayyasy dari Al-A'masy dari Abu Hurairah. Dan sanad hadits ini Hasan]

[3]. Malam Lailatul Qadar

Engkau telah mengetahui, wahai hamba yang mukmin bahwa Allah Jalla Jallaluhu 
memilih bulan Ramadhan karena diturunkan padanya Al-Qur'an, dan mungkin untuk 
mengetahui hal ini dibantu qiyas dengan berbagai cara, diantaranya.

[a] Hari yang paling mulia di sisi Allah adalah pada bulan diturunkannya 
Al-Qur'an hingga harus dikhususkan dengan berbagai macam amalan. Hal ini akan 
dijelaskan secara terperinci dalam pembahasan malam Lailatul Qadar, Insya Allah.

[b] Sesungguhnya jika satu nikmat dicapai oleh kaum muslimin, mengharuskan 
adanya tambahan amal sebagai wujud dari rasa syukur kepada Allah. Hal ini 
berdasarkan firman Allah setelah menceritakan sempurnanya nikmat bulan Ramadhan.

"Artinya : Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu 
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu 
bersyukur" [Al-Baqarah : 185]

Firman Allah Tabaraka wa Ta'ala setelah selesai (menyebutkan) nikmat haji.

"Artinya : Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah 
(dengan menyebut) Allah. Sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) 
nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikir lebih banyak dari itu" [Al-Baqarah : 
200]

 

WAJIBNYA PUASA RAMADHAN
http://www.almanhaj.or.id/content/1077/slash/0


[1]. Barangsiapa Berbuat Kebajikan Dengan Kerelaan Hati, Lebih Baik Baginya
Karena keutamaan-keutamaan di atas, maka Allah mewajibkan kaum muslimin (untuk 
melakukan ibadah) puasa Ramadhan, karena puasa memutuskan jiwa dari syahwatnya 
dan menghalangi dari apa yang biasa dilakukan. (Puasa Ramadhan) termasuk 
perkara yang paling sulit, karena itu kewajibannya-pun diundur sampai tahun 
kedua hijriyah, setelah hati kaum muslimin kokoh dalam bertauhid dan dalam 
mengangungkan syiar-syiar Allah, maka Allah membimbing mereka untuk melakukan 
puasa dengan bertahap. Pada awalnya mereka diberikan pilihan untuk berbuka atau 
puasa serta diberi semangat untuk puasa, karena puasa masih terasa berat bagi 
para shahabat -semoga Allah meridhai mereka semuanya-. Barangsiapa yang ingin 
berbuka kemudian membayar fidyah diperbolehkan, Allah berfirman.

"Artinya : Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka 
itu lebih baik baginya" [Al-Baqarah : 184]

[2]. Barangsiapa yang Mendapatkan Bulan Ramadhan, Hendaknya Berpuasa
Kemudian turunlah kelanjutan ayat tersebut yang menghapuskan hukum di atas, hal 
ini dikhabarkan oleh dua orang sahabat yang mulia : Abdullah bin Umar dan 
Salamah bin Al-Akwa' Radhiyallahu anhuma, keduanya berkata : "Kemudian dihapus 
oleh ayat :

"Artinya : (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang 
di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan 
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan 
yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat 
tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan 
barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah 
baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang 
lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran 
bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu 
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu 
bersyukur" [1] [Al-Baqarah : 185]

Dan dari Ibnu Abi Laila, dia berkata : "Sahabat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa 
sallam telah menyampaikan kepada kami : 'Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan 
terasa memberatkan mereka (para sahabat), maka barangsiapa yang tidak mampu 
diperbolehkan meninggalkan puasa dan memberi makan seorang miskin sebagai 
keringanan bagi mereka, kemudian hukum ini dihapus oleh ayat : "Berpuasa itu 
labih baik bagi kalian", akhirnya mereka disuruh berpuasa"[2] 

Sejak itu jadilah puasa salah satu simpanan Islam dan menjadi salah satu rukun 
agama berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Islam dibangun atas lima perkara : Syahadat an la ilaha illallah wa 
anna Muhamamad rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakatm dan naik haji 
ke Baitul Haram serta puasa Ramadhan" [Diriwayatkan oleh Bukhari 1/47, Muslim 
16 dari Ibnu Umar]

[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii 
Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh 
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka 
Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]
_________
Foote Note
[1] Hadits dari Ibnu Umar dikeluarkan oleh Bukhari 4/188, dan hadits dari 
Salamah dikeluarkan oleh Bukhar8/181, Muslim 1145
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu'allaq (8/181 -Fath), dimausulkan oleh 
Baihaqi dalam Sunan 4/200, sanadnya Hasan.
Diriwayatkan pula -dengan lafadz yang hampir sama namun panjang- oleh Abu Daud 
no. 507 dari jalan lain dengan sanad yang Hasan sebagai syawahid.
Juga diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Al-Mustakhraj sebagaimana dalam 
Taghliqut Ta'liq 3/185 dari jalan yang ketiga dengan sanaad yang hasan juga. 

                                          

Kirim email ke