Wa'alaykumussalam,
 
Biasanya, anak laki-laki dan perempuan yang berusia delapan tahun menempatkan 
orang dewasa di kelasnya, yaitu guru sebagai model dalam menggapai kemampuan 
diri. Jika pada masa sebelumnya ia cenderung menganggap orang tuanya sebagai 
orang yang "serba bisa" di dunia ini, sejak bersekolah, ia akan mulai belajar 
membandingkan antara orang tua dengan 'pendatang baru', yaitu orang-orang lain 
yang baru dikenalnya. Pada akhirnya, akan ada kemungkinan bahwa ia akan 
cenderung melakukan apa yang diajarkan atau diperintahkan oleh gurunya 
dibandingkan dengan orang tuanya.
 
Oleh karena itu, komunikasi yang baik antara anak dan orang tua, penting bagi 
perkembangan anak. Yang perlu diingat, komunikasi ini tidak hanya melibatkan 
kualitas, tetapi juga kuantitas. 
 
Untuk info pembuka: 
Hal menyenangkan memiliki anak-anak usia ini adalah:
1. Kemampuan anak dalam berbicara, memahami, dan berpikir sudah lebih baik 
sehingga kita bisa  menjalin pemahaman lewat lisan untuk tau 'mau'-nya 
tiap-tiap pihak apa (orang tua dan anak). --dengan tanya jawab yang singkat dan 
jelas (bukan panjang lebar, kalo pake kalimat-kalimat panjang, mereka masih 
belum ngerti)--
2. Kepercayaan diri mereka pun bisa lebih berkembang dengan dukungan/ motivasi 
melangkah ke hal-hal baik dari orang tua
3. Mereka suka sekali coba-coba, sehingga memungkinkan orang tua untuk menggali 
kebiasaan baru, dan bakat dengan mudah.
 
Hal yang harus diperhatikan:
1. Bagaimanapun, anak masih kecil sehingga sangat membutuhkan keberadaan orang 
tuanya dan pengungkapan rasa cinta yang eksplisit.
2. Anak membutuhkan lebih banyak kesabaran, arahan, motivasi orang tua karena 
mereka belum terlalu kuat dan berani menghadapi dunianya sendirian. 
 
Jadi, 
1. Coba buat waktu bersama anak untuk membahas pelajaran di sekolahnya.
TIdak hanya dibahas tentang agama 'yang ingin diluruskan' jika ada hal yang 
menyimpang di sekolah, tetapi bisa dibuka dengan menanyakan pelajaran lain yang 
dianggapnya mudah, atau sulit, atau sekedar minta anak bercerita tentang 
kegiatannya hari itu. (Sebenarnya, anak juga memiliki kecenderungan untuk bosan 
jika ditanya tentang sekolah/ kegiatan di sekolahnya, jadi untuk topik pembuka, 
sangat baik untuk ditanyakan mengenai hobi, atau teman atau kegiatan anak 
lainnya di luar sekolah terlebih dahulu)
 
2. Setelah anak bercerita, lakukan tanya jawab, beri pujian, komentar, dll.
Contoh: Wah, Ummi senang sekali mendengar ceritamu... 
 
3. Lakukan evaluasi.. yang dimulai dengan kalimat positif.. (jangan katakan 
bahwa gurunya salah, tapi katakan bahwa "Abi/Ummi tau hal yang lebih dicintai 
Alloh yang sesuai dengan ajaran Rosul, daripada yang disampaikan oleh guru 
tentang..) -karena kalo gurunya dibilang 'salah' ada kemungkinan anak akan 
marah karena tokoh yang mungkin dikaguminya juga dihina/ bisa jadi anak malah 
akan tidak menghormati gurunya..-
Contoh: Oo, jadi di sekolah diajarkan tentang melafadzkan niat sholat ya.. Abi 
baru tau kalau ada hal seperti itu. Tapi kayaknya Abi tau hal yang lebih 
dicintai Alloh yang sesuai dengan ajaran Rosul... yaitu kalau niat, tidak 
dilafazkan.. karena.. dst..
 
4. Gali pendapatnya anak.
Tanyakan pendapatnya.... anak setuju atau tidak.. atau apa yang akan ia 
lakukan..
 
>Seperti yang telah saya sebutkan di atas, 'sesi'  ini membutuhkan kuantitas, 
>setidaknya 30-60 menit SETIAP hari lakukan sesi ini dengan anak.
Untuk apa?
Untuk membangun attachment yang baik dengan anak. Agar kita tau bagaimana 
perkembangan anak dan apa-apa saja kebutuhannya- setiap hari dalam 
kehidupannya. Jangan sampai kita menyesal karena terlambat memberikan basic 
yang kuat dan benar pada anak ketika ia kecil sehingga ketika beranjak ke masa 
perkembangan selanjutnya, misalnya pubertas, anak sudah tidak dapat 'dipegang' 
oleh orang tua lagi. Naudzubillah.
 
Percayalah, anak-anak itu juga bisa diajak berbicara dengan dewasa.. Asal 
mereka tau alasan dari sesuatu yang dibahas itu apa dan manfaatnya apa.. Jadi 
ia 'senang' untuk melakukan atau meninggalkan suatu hal yang diajarkan oleh 
orang tua. 
 
Oiya, biasanya, kebiasaan berkata-kata dengan lemah lembut juga akan 
berpengaruh dalam penerimaan nasehat orang tua kepada anak. Jadi, jauh-jauhkan 
diri kita dari ucapan yang menyakitkan hatinya dan orang lain yang disayanginya.
 
 
Bagaimanapun, setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tergantung orang 
tuanya apakah kemudian menjadikannya Yahudi, Nasrani, Majusi (HR. Al Bukhori)
 
dan sudah menjadi kewajiban orang tua untuk memberikan pendidikan yang baik dan 
menyampaikan ilmu dan kebenaran bagi anak.
 
Wallohu' alam.

--- On Mon, 8/2/10, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [assunnah] Tanya: Cara Mengajarkan Niat pada anak-anak
To: [email protected]
Date: Monday, August 2, 2010, 8:29 PM


Assalaamu'alaykum, 
Ana punya anak yang masih kecil, ditempatnya sekolah dlm pelajaran agama sang 
guru mengajarkan niat shalat dengan melafazkan dalam hati "ushalli 
fardhol.....dst" saya akan meluruskan hal ini pada anak saya bhw hal tersebut 
keliru.... Tapi bagaimana cara memberikan pengertian dgn bahasa yang mudah 
dicerna untuk anak yang masih berumur 8 tahun.... 

Mohon pencerahan ustadz...
Barakallaahu fiikum.

Abu Dzakwan, Batam


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke