Malam kemaren, ana dapat SMS dari sebuah nomor yang tidak dikenal. Kurang
lebih isinya mengenai ringkasan hadits ketika rasulullah mengamini do'a
jibril yang terdiri dari 3 hal ketika beliau akan menyampaikan khutbah
jum'ah. Anehnya ketika ditanya rujukkannya (karena tidak disertakan), sang
pengirim tidak bisa menyebutkan rujukan dari hadits tsb.

Setelah sedikit diskusi, ada rekan yang share link berikut

https://kangaswad.wordpress.com/2009/08/16/bermaafan-sebelum-ramadhan/

<https://kangaswad.wordpress.com/2009/08/16/bermaafan-sebelum-ramadhan/>Kurang
lebih menjelaskan keanehan hadits yang sepertinya dijadikan dalil untuk
bermaafan jelang ramadhan.

Berikut ana cuplikkan untuk dibaca langsung

*Bermaafan Sebelum Ramadhan*

Kali ini akan kita bahas mengenai sebuah tradisi yang banyak dilestarikan
oleh masyarakat, terutama di kalangan aktifis da’wah yang beramal tanpa
didasari ilmu, tradisi tersebut adalah tradisi bermaaf-maafan sebelum
Ramadhan. Ya, saya katakan demikian karena tradisi ini pun pertama kali saya
kenal dari para aktifis da’wah kampus dahulu, dan ketika itu saya amati
banyak masyarakat awam malah tidak tahu tradisi ini. Dengan kata lain, bisa
jadi tradisi ini disebarluaskan oleh mereka para aktifis da’wah yang kurang
mengilmu apa yang mereka da’wahkan bukan disebarluaskan oleh masyarakat
awam. Dan perlu diketahui, bahwa tradisi ini tidak pernah diajarkan oleh
Islam.

Mereka yang melestarikan tradisi ini beralasan dengan hadits yang
terjemahannya sebagai berikut:

Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan
Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu
mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut
mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin
sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada
Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah,
datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku
ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril itu adalah:

*

“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki
bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

*

1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih
ada);

*

2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;

3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

*

Namun anehnya, hampir semua orang yang menuliskan hadits ini tidak ada yang
menyebutkan periwayat hadits. Setelah dicari, hadits ini pun tidak ada di
kitab-kitab hadits. Setelah berusaha mencari-cari lagi, saya menemukan ada
orang yang menuliskan hadits ini kemudian menyebutkan bahwa hadits ini
diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (3/192) dan Ahmad (2/246, 254). Ternyata
pada kitab Shahih Ibnu Khuzaimah (3/192) juga pada kitab Musnad Imam
Ahmad (2/246,
254) ditemukan hadits berikut:

عن أبي هريرة  أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين
آمين فقيل له : يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم
الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد
أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف
عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين  قال الأعظمي : إسناده جيد

“Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu
bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata
demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril
berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa
mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi,
‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih
hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada
mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi.
‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut
namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.” Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini
jayyid”.

Hadits ini dishahihkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/114,
406, 407, 3/295), juga oleh Adz Dzahabi dalam Al Madzhab (4/1682),
dihasankan oleh Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (8/142), juga oleh Ibnu
Hajar Al Asqalani dalam Al Qaulul Badi‘ (212), juga oleh Al Albani di Shahih
At Targhib (1679).

Dari sini jelaslah bahwa kedua hadits tersebut di atas adalah dua hadits
yang berbeda. Entah siapa orang iseng yang membuat hadits pertama. Atau
mungkin bisa jadi pembuat hadits tersebut mendengar hadits kedua, lalu
menyebarkannya kepada orang banyak dengan ingatannya yang rusak, sehingga
berubahlah makna hadits. Atau bisa jadi juga, pembuat hadits ini berinovasi
membuat tradisi bermaaf-maafan sebelum Ramadhan, lalu sengaja menyelewengkan
hadits kedua ini untuk mengesahkan tradisi tersebut. Yang jelas, hadits yang
tidak ada asal-usulnya, kita pun tidak tahu siapa yang mengatakan hal itu,
sebenarnya itu bukan hadits dan tidak perlu kita hiraukan, apalagi
diamalkan.

Meminta maaf itu disyariatkan dalam Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون
دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات
أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

“Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia
wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum
datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang
tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk
melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka
ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari
no.2449)

Dari hadits ini jelas bahwa Islam mengajarkan untuk meminta maaf, jika
berbuat kesalahan kepada orang lain. Adapun meminta maaf tanpa sebab dan
dilakukan kepada semua orang yang ditemui, tidak pernah diajarkan oleh
Islam. Jika ada yang berkata: “Manusia khan tempat salah dan dosa, mungkin
saja kita berbuat salah kepada semua orang tanpa disadari”. Yang dikatakan
itu memang benar, namun apakah serta merta kita meminta maaf kepada semua
orang yang kita temui? Mengapa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan
para sahabat tidak pernah berbuat demikian? Padahal mereka orang-orang yang
paling khawatir akan dosa. Selain itu, kesalahan yang tidak sengaja atau
tidak disadari tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana
sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

إن الله تجاوز لي عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan ummatku yang berbuat salah karena tidak
sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa” (HR Ibnu Majah, 1675, Al
Baihaqi, 7/356, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 4/4, di shahihkan Al Albani
dalam Shahih Ibni Majah)

Sehingga, perbuatan meminta maaf kepada semua orang tanpa sebab bisa
terjerumus padaghuluw (berlebihan) dalam beragama.

Dan kata اليوم (hari ini) menunjukkan bahwa meminta maaf itu dapat dilakukan
kapan saja dan yang paling baik adalah meminta maaf dengan segera, karena
kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Sehingga mengkhususkan suatu waktu
untuk meminta maaf dan dikerjakan secara rutin setiap tahun tidak dibenarkan
dalam Islam dan bukan ajaran Islam.

Namun bagi seseorang yang memang memiliki kesalahan kepada saudaranya dan
belum menemukan momen yang tepat untuk meminta maaf, dan menganggap momen
datangnya Ramadhan adalah momen yang tepat, tidak ada larangan memanfaatkan
momen ini untuk meminta maaf kepada orang yang pernah dizhaliminya tersebut.
Asalkan tidak dijadikan kebiasaan sehingga menjadi ritual rutin yang
dilakukan setiap tahun.

Wallahu’alam.


-- 
Kurnia Adhiwibowo
web : http://camagenta.web.id
ym : kurniaadhiwibowo

~ Remind Me!

Kirim email ke